Biologi

Dampak Tersembunyi Badai Tropis: Ancaman Kematian yang Mengintai Setelah Bencana Berlalu

Badai tropis, yang dikenal dengan berbagai nama seperti topan, siklon, atau badai tergantung pada wilayahnya, adalah salah satu bencana alam paling merusak di dunia. Dampak langsungnya terhadap infrastruktur dan kehidupan manusia sudah banyak diketahui. Namun, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan…

Bagikan artikel ini
WhatsApp Email

Badai tropis, yang dikenal dengan berbagai nama seperti topan, siklon, atau badai tergantung pada wilayahnya, adalah salah satu bencana alam paling merusak di dunia. Dampak langsungnya terhadap infrastruktur dan kehidupan manusia sudah banyak diketahui. Namun, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal The BMJ mengungkapkan fakta mengejutkan: ancaman kematian akibat badai tropis tidak hanya terjadi saat bencana berlangsung, tetapi juga terus berlanjut jauh setelah badai berlalu.

Daftar isi

Studi Baru Mengungkap Fakta Mengejutkan

Penelitian ini menganalisis data dari 14,8 juta kematian yang terjadi di 1.356 komunitas di berbagai negara, termasuk Australia, Brasil, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Selandia Baru, Filipina, Taiwan, dan Thailand. Studi ini mencakup periode antara tahun 2000 hingga 2019 serta melibatkan 217 badai tropis. Dengan menggabungkan data kematian dengan model pola angin dan curah hujan dari setiap siklon, para peneliti berhasil mengidentifikasi hubungan antara kecepatan angin, intensitas hujan, dan risiko kematian akibat berbagai penyebab setelah badai.

Hasilnya menunjukkan bahwa badai tropis tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik langsung tetapi juga meningkatkan risiko kematian akibat berbagai penyakit. Penyebabnya meliputi gagal ginjal, gangguan jantung, gangguan mental, diabetes, penyakit infeksi, hingga kanker. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh terganggunya sistem kesehatan akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana tersebut.

Lonjakan Kematian dalam Dua Minggu Setelah Badai

Risiko kematian tertinggi tercatat dalam dua minggu pertama setelah badai tropis berlalu. Selama periode ini, terjadi peningkatan signifikan pada angka kematian akibat penyakit ginjal dan cedera fisik. Selain itu, peningkatan yang lebih moderat juga terlihat pada kematian akibat diabetes, gangguan neuropsikiatri, penyakit infeksi, gangguan pencernaan, penyakit pernapasan, penyakit kardiovaskular, dan kanker.

Yang menarik adalah bahwa curah hujan yang tinggi selama badai tropis ternyata memiliki dampak yang lebih besar terhadap angka kematian dibandingkan dengan kecepatan angin. Khususnya untuk penyakit kardiovaskular, pernapasan, dan infeksi, hujan deras menjadi faktor utama yang memicu peningkatan risiko kematian.

Negara Miskin dan Minim Pengalaman Lebih Rentan

Studi ini juga menemukan bahwa negara-negara dengan tingkat ekonomi rendah dan pengalaman terbatas dalam menghadapi siklon mengalami dampak yang jauh lebih parah setelah bencana. Infrastruktur kesehatan di negara-negara ini sering kali tidak memadai untuk menangani lonjakan kebutuhan medis yang muncul setelah badai.

Pemadaman listrik, banjir besar, dan gangguan transportasi menjadi penyebab utama terganggunya akses terhadap layanan kesehatan penting seperti dialisis rutin atau pengobatan untuk penyakit kronis. Akibatnya, banyak pasien yang mengalami komplikasi kesehatan yang mengancam nyawa. Selain itu, tekanan fisik dan psikologis akibat bencana juga memperburuk kondisi kesehatan masyarakat di wilayah-wilayah terdampak.

Perubahan Iklim Memperparah Ancaman

Dalam satu dekade terakhir, badai tropis telah memengaruhi rata-rata 20,4 juta orang per tahun dan menyebabkan kerugian ekonomi langsung sebesar $51,5 miliar setiap tahunnya. Namun angka-angka ini hanya mencerminkan dampak langsung dari badai. Studi ini menunjukkan bahwa beban sebenarnya jauh lebih besar jika memperhitungkan dampak kesehatan jangka panjang.

Dengan perubahan iklim yang memanaskan lautan, frekuensi dan intensitas badai tropis diperkirakan akan terus meningkat di masa depan. Ini berarti jumlah korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat badai tropis kemungkinan besar akan semakin besar.

Pentingnya Strategi Respons Bencana Berbasis Data

Hasil studi ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan data epidemiologi badai tropis ke dalam strategi respons bencana. Dengan memahami pola risiko kesehatan yang muncul setelah bencana seperti ini, pemerintah dan organisasi internasional dapat merancang langkah-langkah mitigasi yang lebih efektif.

Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan meliputi:

  1. Penguatan Sistem Kesehatan: Memastikan bahwa fasilitas kesehatan memiliki sumber daya yang cukup untuk menangani lonjakan kebutuhan medis setelah bencana.
  2. Peningkatan Infrastruktur: Membangun infrastruktur yang tahan terhadap badai untuk meminimalkan gangguan pada layanan penting seperti listrik dan transportasi.
  3. Pendidikan dan Pelatihan: Memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang cara menghadapi dampak jangka panjang dari badai tropis.
  4. Peningkatan Kerjasama Internasional: Negara-negara dengan pengalaman lebih baik dalam menghadapi badai dapat berbagi pengetahuan dan sumber daya mereka dengan negara-negara yang lebih rentan.

Kesimpulan

Badai tropis bukan hanya ancaman sesaat; dampaknya dapat dirasakan jauh setelah angin berhenti bertiup dan hujan reda. Lonjakan angka kematian akibat berbagai penyakit di minggu-minggu setelah badai menunjukkan betapa pentingnya kesiapan sistem kesehatan dalam menghadapi bencana alam seperti ini. Dengan perubahan iklim yang terus memperburuk intensitas badai tropis di seluruh dunia, kebutuhan akan strategi mitigasi berbasis bukti menjadi semakin mendesak.

Melalui penelitian seperti ini, kita dapat memahami kompleksitas dampak bencana alam dan mengambil langkah-langkah konkret untuk melindungi kehidupan manusia. Sebab pada akhirnya, kesiapan kita dalam menghadapi bencana tidak hanya menentukan seberapa baik kita bertahan dari badai tetapi juga seberapa cepat kita pulih setelahnya.

Referensi

Chen, K., et al. (2024). Mortality risks associated with tropical cyclones: a multicountry analysis. The BMJ, Vol. 384.

World Health Organization (WHO). (2023). Health impacts of climate-related extreme weather events. Diakses: 2 Februari 2026.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2022). Sixth Assessment Report: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Diakses: 2 Februari 2026.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). (2024). Tropical cyclone trends and climate change. Diakses: 2 Februari 2026.

The Lancet Planetary Health. (2023). Health system resilience to extreme weather and climate events. Vol. 7, Issue 9.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

✳ SAINS DALAM GAMBAR

Warstek di Instagram

@warstek_com ↗
Negara lain berlomba membelah atom. Kita berlomba membelah anggaran untuk kopdes dan dapur MBG. Ada typo, Sinkroton bukan sinklotron #sainstertinggal

Negara lain berlomba membelah atom. Kita berlomba membelah anggaran untuk kopdes dan dapur MBG. Ada typo, Sinkroton bukan sinklotron #sainstertinggal

Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Paper ke 7 JOKOWI telah terbit! Abstrak: ndonesia memiliki batas administrasi yang digunakan untuk menentukan kewenangan pemerintahan, anggaran, pelayanan publik, dan tanggung…▧ Carousel

Paper ke 7 JOKOWI telah terbit! Abstrak: ndonesia memiliki batas administrasi yang digunakan untuk menentukan kewenangan pemerintahan, anggaran, pelayanan publik, dan tanggung jawab antarwilayah.…