Bagi manusia, mengupil sering dianggap kebiasaan kecil, sepele, bahkan memalukan. Namun, ternyata perilaku ini tidak hanya dimiliki manusia. Ketika para ilmuwan mendokumentasikan hal serupa pada aye-aye, seekor primata langka dari Madagaskar, temuan tersebut justru menjadi bahan penelitian serius.
Untuk pertama kalinya, aye-aye berhasil direkam sedang memasukkan jari panjang dan rampingnya ke dalam hidung, lalu menjilati lendir yang berhasil diambil. Perilaku ini bukan hanya anekdot lucu, tetapi cukup penting karena memberikan bukti bahwa kebiasaan mengupil dan memakan lendir bukan monopoli manusia.
Temuan tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, dan menambah daftar panjang spesies yang diketahui melakukan mucophagy, istilah ilmiah untuk kebiasaan memakan lendir hidung. Dengan penemuan ini, aye-aye menjadi spesies primata ke-12 yang tercatat melakukan perilaku tersebut.
Anatomi Unik: Jari Ajaib Sang Aye-Aye
Aye-aye (Daubentonia madagascariensis) terkenal karena anatomi anehnya:
- Jari tengah super panjang (±8 cm), kurus, lentur, dan memiliki sendi khusus (ball-and-socket joint) yang jarang ditemukan pada mamalia.
- Biasanya jari ini dipakai untuk mengetuk batang kayu, mendeteksi rongga berisi larva, lalu mencungkil mangsanya.
Pada aye-aye, jari tengahnya yang sangat panjang ternyata bukan hanya unik, tetapi juga luar biasa serbaguna. Saat digunakan untuk mengupil, penelitian menunjukkan bahwa jari ini mampu menjangkau hingga ke nasofaring yaitu bagian terdalam dari rongga hidung yang terletak di belakang, dekat dengan jalur menuju tenggorokan.
Hal ini dibuktikan lewat pencitraan CT-scan, semacam foto rontgen canggih yang bisa memperlihatkan struktur dalam tubuh dengan detail tiga dimensi. Dari hasil visualisasi itu, terlihat jelas bahwa jari aye-aye dapat masuk jauh melewati rongga hidung, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan jari manusia biasa.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa jari panjang aye-aye bukan sekadar aneh, melainkan benar-benar sebuah “alat serbaguna” alami. Selain dipakai untuk mencari serangga di balik kulit kayu (fungsi utamanya), jari ini juga digunakan untuk menjangkau lendir hidung hingga bagian yang paling dalam. Dengan kata lain, evolusi telah membentuk aye-aye memiliki semacam “peralatan multitool biologis” yang melekat langsung di tubuhnya.
Baca juga artikel tentang: Peran Hiasan Warna-warni pada Primata dalam Meredakan Ketegangan Antar Kelompok
Perilaku Mengupil: Bukan Manusia Saja
Dari berbagai studi literatur, para ilmuwan menemukan bahwa perilaku mengupil dan menjilati lendir hidung ternyata bukan hal yang langka di dunia primata. Setidaknya sudah ada 11 spesies primata lain yang tercatat melakukannya, mulai dari kerabat dekat manusia seperti simpanse, gorila, dan orangutan, hingga spesies monyet yang lebih kecil seperti capuchin.
Dengan ditemukannya perilaku serupa pada aye-aye, daftar tersebut kini semakin panjang. Artinya, kebiasaan yang mungkin terlihat aneh atau memalukan bagi manusia ini ternyata lebih umum dalam evolusi primata daripada yang selama ini kita bayangkan.
Temuan ini juga membuka pertanyaan baru bagi para ilmuwan: apakah ada manfaat biologis tersembunyi dari kebiasaan tersebut, misalnya terkait sistem kekebalan tubuh, nutrisi, atau sekadar perilaku sosial yang membuatnya muncul berulang kali pada berbagai cabang keluarga primata? Jika iya, maka mucophagy bukanlah kebiasaan sepele, melainkan bagian dari strategi adaptasi yang diwariskan sepanjang evolusi.
Dengan kata lain, mengupil bukanlah kebiasaan “aneh manusia”, melainkan perilaku biologis yang muncul berulang kali pada kerabat dekat kita.
Kenapa Mengupil dan Memakan Lendir?
Ilmuwan masih meneliti fungsinya, tapi ada beberapa hipotesis:
- Membersihkan saluran pernapasan – mengangkat lendir yang mengganggu pernapasan atau mengandung debu/parasite.
- Mendapatkan manfaat imunologis – beberapa studi pada manusia menyebut bahwa menelan lendir bisa “melatih” sistem kekebalan tubuh dengan paparan mikroba dalam dosis kecil.
- Aspek sensorik – lendir bisa saja memberikan rasa asin atau tekstur tertentu yang “disukai”.
- Kebiasaan yang muncul dari anatomi – jari panjang aye-aye mungkin membuat perilaku ini sekadar “efek samping” anatomi, tanpa tujuan biologis khusus.
Signifikansi Ilmiah: Dari Evolusi ke Konservasi
Perilaku aye-aye ini punya arti penting:
- Evolusi & Biomekanika: menunjukkan bagaimana anatomi unik bisa dimanfaatkan untuk fungsi tak terduga. Evolusi tidak hanya membentuk struktur, tetapi juga membuka peluang perilaku baru.
- Primatologi & Etologi: menambah daftar perilaku kompleks pada primata, memperluas pemahaman tentang variasi tingkah laku antarspesies.
- Konservasi: aye-aye sering dianggap “pembawa sial” oleh masyarakat lokal dan diburu. Studi yang memperlihatkan sisi unik mereka dapat meningkatkan kepedulian publik terhadap perlindungan spesies ini.
Sekilas, melihat seekor primata mengupil lalu menjilat jarinya mungkin terlihat konyol atau bahkan menjijikkan. Namun, di balik perilaku sederhana itu ternyata tersimpan wawasan ilmiah yang besar.
Dari sudut pandang biologi, temuan ini menunjukkan bahwa manusia tidak sendirian, kebiasaan kita sering kali memiliki cerminannya pada primata lain, kerabat dekat kita dalam pohon evolusi. Fakta bahwa mucophagy (memakan lendir hidung) juga muncul pada berbagai spesies primata mengisyaratkan adanya benang merah perilaku yang diwariskan atau berkembang secara paralel selama jutaan tahun.
Lebih jauh, perilaku ini membuka pertanyaan ilmiah baru: apakah mucophagy memiliki fungsi biologis tertentu? Bisa jadi terkait pertahanan tubuh, mikrobiota (bakteri baik) dalam tubuh, atau bahkan sekadar perilaku adaptif yang memberikan keuntungan kecil bagi kesehatan.
Yang jelas, kasus ini mengingatkan kita bahwa setiap detail perilaku hewan, sekecil apa pun bisa membawa makna evolusi yang dalam. Bahkan hal yang tampak sepele dan lucu, jika diteliti dengan serius, dapat memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana kehidupan berevolusi dan bagaimana manusia terhubung dengan makhluk lain.
Siapa sangka, mengupil ternyata bukan hanya soal kebiasaan malu-malu, melainkan juga jendela menuju pemahaman tentang otak, tubuh, dan sejarah evolusi primata.
Baca juga artikel tentang: Bekantan: Primata Endemik Kalimantan dan Upaya Konservasinya
REFERENSI:
Ilmuwan Selidiki Perilaku Hewan Primata yang Ketahuan Mengupil di Alam Liar. Butota Media: https://butota.id/teknologi/68191-ilmuwan-selidiki-perilaku-hewan-primata-yang-ketahuan-mengupil-di-alam-liar/ diakses pada tanggal 30 Agustus 2025.
Versoza, Cyril J dkk. 2025. Characterizing the Rates and Patterns of De Novo Germline Mutations in the Aye-Aye (Daubentonia madagascariensis). Molecular biology and evolution 42 (3), msaf034.
Wang, Richard J dkk. 2025. Unprecedented female mutation bias in the aye-aye, a highly unusual lemur from Madagascar. PLoS biology 23 (2), e3003015.

