Fenomena Plastik Sekali Pakai

Plastik merupakan salah satu material yang membantu pekerjaan manusia pada era saat ini. Bagaimana tidak? Plastik hampir dimanfaatkan untuk memfasilitasi hampir setiap kebutuhan manusia, seperti penggunaan untuk botol minuman, box makanan, maupun pembungkus barang elektronik, buku, dan pakaian. Hal ini dikarenakan plastik memiliki beberapa keunggulan, diantaranya ringan, fleksibel, tahan air dan kelembaban, kuat, relatif murah, dan serbaguna.

Pada tahun 2012, World Bank menyatakan bahwa 2,9 miliar penduduk perkotaan menghasilkan masing-masing sekitar 0,64 kg per hari (0,68 ton per tahun) dan pada tahun 2012 jumlah ini meningkat menjadi 3 miliar penduduk masing-masing menghasilkan 1,2 kg per hari (1,3 miliar ton pertahun), bahkan diperkirakan meningkat pada tahun 2025, yakni 4,3 miliar masing-masing penduduk menghasilkan sekitar 1,42 kg per hari (2,2 miliar ton per tahun)[1].

Sampah plastik juga menjadi salah satu sumber pencemaran laut Indonesia, dimana 75% berkategori sangat tercemar, 20% tercemar tingkat sedang, dan 5 persen tercemar tingkat ringan[2]. Sampah plastik memiliki beberapa bahaya, diantaranya mengganggu rantai makanan, pencemaran tanah, menyebabkan polusi udara jika dibakar, membunuh hewan, dan beracun[2].

Menurut penelitian dari Lamb et.al (2018), sampah plastik dapat menyebabkan wabah penyakit di lautan dan meningkat mulai dari 4% hingga 89% ketika terumbu karang di lautan kontak dengan plastik, bahkan dalam penelitian tersebut di optimasikan bahwa 11,1 miliar item plastik terjerat di dalam terumbu karang yang melintasi asia pasifik dan akan meningkat 40% di tahun 2025[3].


Lima negara bertanggung jawab atas lebih dari 50% keseluruhan sampah plastik di lautan, yaitu China, Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Thailand[4]. Butuh 100 hingga 500 tahun lamanya sampah plastik di urai oleh mikroorganisme dan mencemari air tanah jika ditimbun di dalam tanah, sedangkan membakar sampah plastik hanya akan menghasilkan masalah baru yaitu gas hasil pembakaran yang berbahaya dan mencemari udara[5]. Ketika dibakar, plastik akan menghasilkan gas beracun seperti Hidrogen Sianida (HCN) dan Karbon Monoksida (CO)[6]. Meledaknya populasi sampah plastik dapat mengganggu kelestaran lingkungan dan kesehatan.

Plastik sendiri memiliki beberapa kode, diantaranya[5]:
1. Polyethylene Terephthalate (PET)
• Biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya.
• Botol jenis ini hanya direkomendasikan untuk sekali pakai. Karena jika terlalu sering, apalagi digunakan untuk menyimpan air panas, lapisan polimer tersebut akan meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik.
• Pada proses pembuatannya, PET menggunakan Antimoni Trioksida yang berbahaya bagi kesehatan.

2. High Density Polyethylene (HDPE)
• Biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, galonair minum, kursi lipat, dan lain-lain.
• Memiliki kemampuan mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya.
• HDPE lebih kuat, keras, dan lebih tahan terhadap suhu tinggi jika dibandingkan dengan PET.
• Aman digunakan lebih dari sekali.

3. Polyvinyl Chlorida (PVC)
• Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol botol, pipa, konstruksi bangunan.
• PVC mengandung DEHA yang dapat bereaksi dengan makanan/minuman yang dikemas.
• PVC yang paling sulit didaur ulang.


4. Low Density Polyethylene (LDPE)
• Biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek.
• Memiliki sifat mekanis kuat, tembuh cahaya, dan fleksible.
• Resisten pada senyawa kimia di bawah suhu 60oC.
• Dapat di daur ulang.
• Aman digunakan untuk wadah makanan atau minuman.


5. Polypropilene (PP)
• Biasanya dipakai untuk tempat menyimpan makanan, botol minum khususnya botol minum untuk bayi, kantong plastik, film, automotif, mainan, dan ember.
• Memiliki sifat mekanik yang kuat dan ringan.
• Stabil pada suhu tinggi.
• Aman untuk menyimpan makanan dan minuman.

6. Polystirine (PS)

• PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat CD, karton tempat telor, dan lain-lain.
• Dapat mengeluarkan bahan Styrine ketika bersentuhan dengan makanan.
• Bahan ini harus dihindari dalam pengemasan makanan atau minuman karena berbahaya bagi kesehatan.

7. Other (O)
• Bahan dengan tulisan Other berarti dapat berbahan Styerene Acrylonitrile (SAN), Acrylonitrile Butadiene Styrene (ABS), atau Polycarbonate (PC).
• PC dapat mengeluarkan bahan utama yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan atau minuman yang berbahaya bagi kesehatan.
• SAN dan ABS adalah plastik yang cukup aman digunakan karena memiliki resistensi yang tinggi terhadap suhu dan reaksi kimia.

Untuk menjaga kesehatan, ada baiknya kita menyelidiki kode plastik terlebih dahulu sebelum digunakan untuk mengemas makanan dan minuman. Pada umumnya, plastik yang aman digunakan adalah plastik yang memiliki kode 2, 4, 5, dan 7 (SAN dan ABS).

blank

Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa plastik dapat dikonversi menjadi bahan bakar. Namun karena memerlukan energi yang besar pada proses pirolisis dan produk bahan bakar dari plastik yang dihasilkan belum memiliki struktur yang sama dengan minyak bumi, hal ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Maka dari itu, ada beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat dalam mengulangi populasi sampah plastik, diantaranya:
– Membawa tas belanja sendiri jika hendak membeli sesuatu dan jangan menerima kantung sekali pakai (kresek) dari penjual yang hanya akan berakhir di tempat sampah.
– Membawa botol minuman dan wadah makanan sendiri ketika membeli minuman atau makanan di luar.
– Mengutamakan makan di tempat, sehingga tidak memerlukan proses pengemasan makanan yang umumnya menggunakan plastik.
– Membawa air minum sendiri sehingga tidak perlu membeli air minum kemasan sekali pakai.
– Menyimpan plastik hasil belanja jika sudah terlanjur, kemudian dipergunakan kembali.
– Mempergunakan plastik-plastik bekas menjadi barang-barang yang lebih berguna. Misalnya memanfaatkan bekas botol sabun menjadi wadah pensil.
– Tidak menggunakan sedotan sekali pakai ketika minum. Jika terbiasa menggunakan sedotan, maka sebaiknya menggunakan stainless straw yang dapat digunakan berulang kali.


Referensi:
[1]Statistik Lingkungan Hidup. 2018. Pengelolaan Sampah di Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
[2]Anonim. 2016. Masalah Sampah Plastik di Indonesia. https://lingkunganhidup.co/sampah-plastik-indonesia-dunia/. Diakses pada 04 Desember 2019.
[3] B. Lamb, Joleah., Bette L. Willis., Evan A. Fiorenza., Courtney S. Couch.,Robert Howard., Douglas N. Rader., James D. True., Lisa A. Kelly.,Awaludinnoer Ahmad., Jamaluddin Jompa., C. Drew Harvell1. 2018. Plastic Waste Associated with Disease on Coral Reefs. Science. Vol 359. Hal 460-462. Diakses pada 04 Desember 2019. http://science.sciencemag.org/.
[4] Anonim. 2018. Sampah Laut Indonesia. Jakarta: Laporan Sintesis World Bank Document.
[5] Karuniastuti, Nurhenu. 2013. Bahaya Plastik Terhadap Kesehatan dan Lingkungan. Forum Teknologi. Vol.3(1): 6-14.
[6] Purwaningrum, Pramiati. 2016. Upaya Menanggulangi Timbulan Sampah Plastik di Lingkungan. Jurnal Teknik Lingkungan. Vol.8(2): 141-147.

Baca juga:
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *