Romantisasi Gangguan Mental: Ketika Gangguan Mental Menjadi Trend Kekinian

Ditulis oleh Rima Hariati

Akhir-akhir ini isu terkait gangguan mental serta kesehatan mental menjadi semakin booming. Trend ini secara umum menggambarkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya masalah mental itu sendiri. Akan tetapi, pernahkah kalian menemui orang yang mengklaim dirinya memiliki gangguan mental tanpa diagnosis dari profesional? Sebagai contohnya, pernahkah kalian menemukan orang yang suka kebersihan mengklaim dirinya mengidap (obsessive compulsive disorder) OCD? Atau orang yang memiliki nafsu makan tidak teratur mengaku mengidap eating disorder? Sebagai orang yang memiliki latar belakang pendidikan psikologi, kadang sering mendapat curhatan teman atau konseli yang berujung pada pertanyaan: ‘Apakah saya mengidap gangguan mental?’

Self-diagnosis

Saat ada yang datang kepada saya untuk menjalani sesi konseling dan mengatakan bahwa dia mengalami gangguan mental, saya akan bertanya seperti ini: “Kalau boleh tahu dari mana kamu tahu tentang gangguan mental tersebut?” Jawaban yang sering saya dapatkan adalah: “Dari internet.”

Akhir-akhir ini masyarakat memang semakin melek dengan isu kesehatan mental. Mereka dapat dengan mudah mengakses informasi terkait gangguan mental melalui internet. Tidak bisa dipungkiri bahwa internet dan media sosial memberikan sumbangsih yang cukup besar dalam membangun kesadaran masyarakat terkait isu kesehatan mental. Mengubah persepsi masyarakat tentang gangguan mental yang tabu, menghapus stigma dan menghapus diskriminasi terhadap orang-orang dengan gangguan mental adalah poin penting penyampaian isu kesehatan mental melalui media (Jadayel & Medlej, 2017). Tetapi, sayangnya, informasi-informasi yang dapat dengan mudah diakses masyarakat melalui internet membawa pada pengaruh yang lain; romantisasi gangguan mental.

Gangguan Mental sebagai Trend Kekinian

Romantisasi gangguan mental bukan suatu hal yang baru, walaupun belum banyak karya tulis ilmiah yang mengangkat topik ini. Beberapa artikel, berita dan opini di internet pun beberapa sudah ada yang menuliskan tentang bahaya romantisasi gangguan mental. Merujuk pada Shrestha (2018) definisi romantisasi gangguan mental adalah: “The romanticization of mental illness is the depiction of mental illness as more glamorous, attractive, or alluring than it truly is.” Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kira-kira seperti ini: ‘romantisasi gangguan mental adalah kondisi di mana individu menganggap bahwa gangguan mental adalah sesuatu yang kekinian dan menarik’.

Ada beberapa artikel menunjukkan bahwa media seperti televisi, film, berita dan media sosial dapat membentuk konsep yang keliru terkait gangguan mental (Jadayel et al. 2017; Waqas et al. 2017; Shresrtha, 2018; Yu, 2019; West, 2016). Adanya gambaran gangguan mental yang keliru inilah kemudian memicu munculnya romantisasi gangguan mental. Menurut Shrestha (2018) adanya miskonsepsi terkait gangguan mental ini memiliki sejarah. Sebelumnya, dalam media tradisional, tokoh dengan gangguan mental sering kali digambarkan sebagai sesuatu yang buruk dan menakutkan. Mereka sering digambarkan sebagai sosok yang jahat, bengis dan kriminal, sehingga masyarakat melihatgangguan mental’ sebagai sesuatu yang menakutkan (Shrestha, 2018; Yu, 2019). Namun, baru-baru ini, terjadi perubahan perspektif. Gangguan mental yang awalnya terlihat menakutkan, kini mulai digambarkan sebagai sesuatu yang lumrah, menarik dan kekinian. Perspektif inilah yang kemudian mengarahkan kepada romantisasi gangguan mental.

Perspektif Tentang Romantisasi Gangguan Mental dalam Film dan Media Sosial

blank
Sumber ilustrasi: https://www.collegian.psu.edu/opinion/increased-online-romanticization-of-mental-illness-threatens-credibility-of-those-needing-serious-treatment-my-view/article_57c6cdba-8217-11eb-b9a6-17ab0bed861d.html

Gambaran baru tentang gangguan mental oleh media membentuk perspektif baru yang tidak kalah menakutkan. Misalnya sebuah film berjudul ’13 Reasons Why’ yang dianggap meromantisasi tindakan bunuh diri (Shrestha, 2018; LM Psikologi UGM, 2021). Pada kasus media sosial misalnya, sebagaimana yang ditulis oleh Bine (2013) dalam artikelnya, seorang gadis remaja berinisial L yang menggunakan sebuah platform media sosial T. Melalui media sosial T, L dapat melihat gambar-gambar terkait gangguan mental yang ia deskripsikan sebagaimisteriusdanmenarikdalam warna hitam putih. Namun, kemudian L mengakui bahwa sebenarnya dia tidak mengalami depresi, tetapi karena melihat gambar-gambar di media sosialnya tersebutlah yang membuatnya jadiingin mengalami depresi’. Hal ini menunjukkan bahwa romantisasi gangguan mental di sosial media juga dapat membentuk budaya baru: munculnya perspektif bahwa gangguan mental adalah hal yang ‘menarik’. Apa yang dialami L sejalan dengan hasil penelitian Jadayel et al. (2017) yang mencoba melihat respons orang akan gambar hitam putih yang berisiromantisasi self harmdan beberapa responden berkomentar: ‘very artistic’, ‘aestheticdanvery poetic but gross’. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah gambar bisa membentuk miskonsepsi terkait gangguan mental.

Media sosial selain dapat menjadi media untuk menyebarkan informasi yang tujuannya adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat terkait kesehatan mental, tetapi juga dapat menjadi media yang menyuburukanromantisasi gangguan mental’ (Jadayel et al, 2017). Romantisasi gangguan mental tidak hanya berdampak dalam membangun persepsi bahwa gangguan mental menarik, sebagaimana yang terjadi pada L yang tertarik untuk mengalami depresi karena foto-foto yang ia lihat melalui media sosial T, tetapi juga bisa menyebabkan emotional contagion’ (Shrestha, 2018). Misalnya, suatu hari kamu pernah merasa sedih saat membaca status temanmu di media sosial, maka kamu mengalami emotional contagion. Hal ini sudah dibuktikan oleh penelitian Kramer et al. (2014) bahwa perasaan negatif yang diekspresikan melalui status di media sosial bisa menular kepada perasaan orang lain yang membacanya.

Romantisasi Gangguan Mental sebagai Masalah Baru dalam Dunia Psikologi

Akhir-akhir ini, romantisasi gangguan mental menjadi medan perjuangan yang baru bagi para pejuang kesehatan mental. Di tengah masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya kesehatan mental, media seharusnya bisa kita gunakan untuk menyampaikan informasi-informasi yang tepercaya, berdasarkan riset dan sains agar tidak memunculkan miskonsepsi yang berbahaya. Media memiliki peranan penting untuk menjembatani konsep yang keliru. Media dan pejuang kesehatan mental hendaknya dapat menggiring pada pola pikir yang baru di masyarakat; bagaimana cara memandang gangguan mental dengan bijaksana di tengah pola pikir yang menganggap gangguan mental ‘menarikatauberbahaya’.

Masalah mental bukanlah sesuatu yang tabu dan menakutkan sebagaimana yang sudah digambarkan oleh media terdahulu. Akan tetapi, isu gangguan mental juga bukan untuk diromantisasi. Individu tidak jadi menakutkan ataupun keren hanya karena gangguan mental yang ia miliki. Apakah bisa individu mengklaim dirinya mengidap gangguan mental tanpa diagnosa profesional? Gangguan mental adalah kondisi serius di mana individu memerlukan perhatian dan penanganan yang benar oleh profesional dan lingkungannya..

Referensi

  • Bine, A. (2013). Social media is redefining depression. The Atlantic. Dikutip dari https://www.theatlantic.com/health/archive/2013/10/social-media-is-redefining-depression/280818/
  • Jadayel, R., Medlej, K., Jadayel, J. J. (2017). Mental disorder: A glamorous attraction on social media. Journal of Teaching and Education, 07(01), 465-476.
  • Kramer, A. D. I., Guillory, J. E., Hancock, J. T. (2014). Experimental evidence of massive-scale emotional contagion through social networks. Proceedings of the National Academy of Science. www.pnas.org/cgi/doi/10.1073/pnas/1320040111
  • LM Psikologi UGM. Glorifying Mental Illness: Perihal Estetik atau Masalah Pelik? Lembaga Mahasiswa Psikologi Universitas Gadjah Mada. Dikutip dari ”https://lm.psikologi.ugm.ac.id/2021/06/glorifying-mental-illness-perihal-estetik-atau-masalah-pelik/”
  • Shrestha, A. (2018). Echo: The romanticization of mental illness on Tumblr. The Undergraduate Research Journal of Psychology at UCLA, 5, 69-78.
  • Waqas, A., Majeed, M., Naveed, S. (2017). Adolescent suicide and media: an epidemic of romanticizing suicide and celebrity idealism. The British journal of psychiatry: the journal of mental science, 190(1):81. https://www.researchgate.net/publication/318276717_Adolescent_suicide_and_media_an_epidemic_of_romanticizing_suicide_and_celebrity_idealism
  • West, S. (2016). The glamorization of mental illness. The Crimson White. Dikutip dari https://cw.ua.edu/30404/opinion/the-glamorization-of-mental-illness
  • Yu, J. (2019). From stigmatized to sensationalized. National Alliance on Mental Illness. Dikutip dari https://www.nami.org/Blogs/NAMI-Blog/May-2019/From-Stigmatized-to-Sensationalized

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 4.9 / 5. Banyaknya vote: 68

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

1 tanggapan pada “Romantisasi Gangguan Mental: Ketika Gangguan Mental Menjadi Trend Kekinian”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *