Tahukah Kamu Kulit Pisang dapat Meningkatkan Produktivitas Pertanian Indonesia?

Ditulis oleh Salmin R. Abd. Barri

Tahukah kamu, satu buah pisang terdiri dari 2/3 isinya dan 1/3 kulitnya, sehingga dapat dibayangkan jumlah kulit pisang yang dihasilkan jika setiap tahun produksi pisang sebanyak 7.299.275 ton [1, 2]. Diperparah lagi masih banyak masyarakat yang tidak melakukan pengolahan lanjutan terhadap kulit pisang, tetapi hanya dibuang begitu saja. Menurut Wirahadi (2017), bahwa sampah organik yang dibuang begitu saja, menimbulkan dampak negatif diantaranya menyebakan penurunan kualitas lingkungan dan menggangu estetika lingkungan serta dapat meningkatkan populasi serangga (nyamuk, kecoak dan lalat) dan menimbulkan bau dan penyakit.

Disisi lain, produktivitas pertanian Indonesia masih mengalami banyak masalah karena berbagai faktor salah satunya pemupukan yang kurang optimal. Menurut Isnain, (2005), bahwa proses pemupukan hanya 30% yang diserap oleh tanaman, sedangkan 70% terbuang sia-sia dan menimbulkan dampak negatif, diantarnya eutrofikasi, keracunan, dan pemanasan global. Gambar 1 menunjukan dampak negatif dari pemupukan yang tidak optimal.

blank
Gambar 1. Proses nitrifikasi dan dampak negatif proses tersebut

1.Eutrofikasi
Eutrofikasi merupakan suatu fenomena yang terjadi karena tidak terkontrolnya pertumbuhan tanaman air di danau/sungai, sehingga permukaan air tertutup dan menyebabkan hewan air yang hidup dibawahnya mengalami kematiann karena kekurangan cahaya dan oksigen. Eutrofikasi disebabkan karena menumpuknya unsur hara di air akibat dari proses pemupukan yang kurang optimal. Pupuk (misaknya urea) yang diberikan secara tidak optimal pada tanaman akan mengalami proses nitrifikasi oleh bakteri nitrifikasi. Hasil dari proses nitrifikasi yaitu nitrat yang bermuatan negatif dan tidak dapat diikat oleh koloid tanah yang bermuatan negatif juga. Sehingga ketika hujan, nitrat akan mengalami leaching (pencucian) dan ikut mengalir bersama hujan [5].

2.Keracunan
Penyebab keracunan sangat banyak, salah satunya mengkonsumsi makanan dari tanaman yang didalamnya terdapat nitrat. Nitrat termasuk senyawa toksin dalam tubuh manusia, karena hemoglobin dalam darah yang berfungsi mengikat oksigen lebih tertarik berikatan dengan nitrat dibandingkan oksigen, akibatnya proses peredaran darah terganggu. Keberadaan nitrat di dalam tanaman disebabkan karena di dalam tanah tidak tersedia unsur Molibdenum (Mo), sehingga nitrat terakumulasi dalam jaringan tanaman [6]. Unsur Mo berfungsi sebagai aktivator untuk mengaktivasi enzim nitrat reduktase yang berfungsi mengubah nitrat menjadi asam amino.

3.Pemanasan global
Secara umum, sektor pertanian berkontibusi besar dalam pemanasan global, salah satunya penggunaan pupuk kandang maupun sintetis. Pemupukan nitrogen yang kurang optimal menyebabkan terbentuknya Nitrat oksidatif (N20), yang merupakan senyawa terbesar penyebab pemanasan global. Senyawa N20 terbentuk melalui proses nitrifikasi-denitrifikasi oleh sekelompok bakteri denitrifikasi [7].

Ketiga dampak negatif diatas dapat menyebakan efisiensi nitrogen dalam tanah menurun akibatnya produktivitas pertanian juga ikut menurun. Untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya dengan cara menghambat proses nitrifikasi menggunakan limbah kulit pisang. Kulit pisang menganadung tannin sekitar 2,45% [8]. Tannin yang terkandung dalam limbah kulit pisang dapat mencegah terjadinya proses nitrifikasi dengan menghambat pertumbuhan bakteri nitifikasi. Nitrifikasi merupakan suatu proses pengubahan amonium menjadi nitrat oleh sekelompok bakteri yaitu Nitrococcus, Nitrobacter, dan Nitrosomonas.

Mekanisme kerja tannin dalam menghambat pertumbuhan bakteri yaitu berinteraksi dengan protein membran sel; berikatan dengan sisi aktif enzim sehingga enzim tidak berfungsi; mendegradasi protein sel bakteri; dan menginaktivasi fungsi materi genetik [9]. Jika pertumbuhan bakteri nitrifikasi terhambat maka proses nitrifikasi juga ikut terhambat. Sehingga amonium tetap terjaga dan tersedia dalam tanah seperti yang ditunjukan oleh Gambar 2.

blank

Gambar 2. Tannin menghambat proses nitrifikasi

Tannin telah dimanfaatkan di bidang pertanian sebagai zat tambahan dalam proses pemupukan, salah satu tujuannya agar nitrogen dalam tanah tidak hilang. Tanaman menyerap nitrogen dalam dua bentuk yaitu nitrat dan ammonium. Ammonium memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh nitrat diantaranya [10-12]:

  • Ammonium bersifat positif dan koloid tanah bersifat negatif, sehingga ammonium dalam tanah bersifat stabil (dapat berikatan dengan koloid tanah). Sedangkan nitrat bersifat negatif, maka tidak stabil dalam tanah (tidak berikatan dengan koloid tanah).
  • Pembentukan ammonium menjadi asam amino membutuhkan 5 ATP, sedangkan pembentukan nitrat menjadi asam amino membutuhkan 20 ATP.
  • Ammonium langsung digunakan oleh tanaman, sedangkan nitrat harus dikonversi/diubah ke dalam ammonium terlebih dahulu oleh enzim nitrat reduktase untuk menjadi asam amino.
  • Selain karena dampak negatif dari nitrat, kunggulan yang dimilki oleh ammonium juga menjadi alasan mengapa ammonium harus tetap ada atau terjaga di dalam tanah.

Referensi

  1. Anhwange, B., Ugye, T. & T. Nyiaatagher. 2009. Chemical Composition of Musa (Banana) Peels. Electronic Journal of Environmental, Agricultural, and Food Chemistry. 8(6): 437-442.
  2. PDSIP. 2016. Outlook; Komoditas Pertanian Sub Sektor Hortikultura. Pusat Data Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian
  3. Wirahadi, M. 2017. Elemen Interior Berbahan Baku Pengolahan Sampah Styrofoam dan Sampah Kulit Jeruk. Jurnal Intra. 5(2): 144-153
  4. Isnaini, S. 2005. Kandungan Amonium dan Kalium Tanah dan Serapannya serta Hasil Padi Akibat Perbedaan Pengolahan Tanah yang Dipupuk Nitrogen dan Kalium pada Tanah Sawah. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. 7(1): 23-24.
  5. Saptiningsih, E. dan Sri, H. 2015. Kandungan Selulosa dan Lignin Berbagai Sumber Bahan Organik Setelah Dekomposisi Pada Tanah Latosol. Buletin Anatomi dan Fisiologi. 23(2).
  6. Kartikawati, R., dan D., Nursyamsi. 2013. Effect of Irrigation, Fertilization, and Nitrification Inhibitoron Greenhouse Gases Emission at Rice Field of Mineral Soils. Ecolab. 7(2): 49-108.
  7. Wihaedjaka, A., S., Djalal Tandjung, B., H. S., Eko, S. 2015. Emisi Gas Dinitrogen Oksida pada Padi Gogorancah oleh Pemberian Jerami Padi dan Bahan Penghambat Nitrifikasi. Jurnal Pertanian Tanaman Pangan. 29(3).
  8. Ryanata, E. 2014. Penentuan Jenis Tanin dan Penetapan Kadar Tanin dari Kulit Buah Pisang Masak (Musa paradisiaca L.) secara Spektrofotometri dan Permanganometri. Jurnal Ilmiah Mahasiswa. 4(1).
  9. Rijayanti, R. P. 2014. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Mangga Bacang (Mangifera foetida L.) terhadap Staphylococcus aureus Secara In-Vitro. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura.
  10. Fi’liyah, Nurjaya, Syekhfani. 2016. Pengaruh Pemberian Pupuk K, Cl, Terhadapn P, K Tanah dan Serapan Tanaman pada Inceptisol untuk Tanaman Jagung Disitu Hilir, Cibungbulang, Bogor. Jurnal Tanahdan Sumberdaya Lahan. 3(2): 329-337.
  11. Fitriana, J., Krispinus, K. P., dan Lina, H. 2008. The Activity of Nitrate Reductase Enzymes of Soybean var. Burangrang in a Variety of Water Levels at The Commencement of the Pod Fill-up. FMIPA Universitas Negeri Semarang.
  12. Nainggolan, G. D., Suwardi, dan Darmawa. 2009. Pola Pelepasan Nitrogen dari Pupuk Tersedia Lambat (Slow Release Fertilizer) Urea-Zeolit-Asam Humat. Jurnal Zeolit Indonesia. 8(2).

.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *