“Disaster Aid” Untuk Literasi Mitigasi Bencana

C:\Users\asri0\Downloads\WhatsApp Image 2021-06-12 at 13.20.21.jpeg

Indonesia merupakan wilayah yang sangat rawan bencana dan memiliki tingkat kegempaan tinggi. Di Indonesia, gempa yang mengakibatkan kerusakan terjadi tiga sampai lima kali dalam setahun. Oleh karena itu, penting dilakukan clustering pada dampak gempa di Indonesia, sebagai upaya mitigasi bencana. (Ninda nurul halim, Edi Widodo, 2017).

Saat ini, program mitigasi bencana dilakukan oleh BPBD meliputi struktural dan non struktural. Di masa depan, mitigasi akan difokuskan pada pendidikan publik. Pemerintah harus menerapkan peta bahaya, perbaikan lingkungan, rute evakuasi, pemasangan EWS murah di semua lokasi, dan relokasi. Selain itu, seluruh desa harus menjadi desa tanggap bencana. (A. Rahman, 2015).

Pengetahuan tanggap bencana sangat tepat untuk memberikan pemahaman akan kondisi geologi Indonesia kepada masyarakat, termasuk proses terjadi dan mitigasi bencana menjadi sangat penting.

Literasi bencana mitigasi bencana merupakan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan seseorang tentang upaya dalam pengurangan risiko bencana. Kerangka konseptual literasi pencegahan bencana dan dimensi literasi bencana terdiri dari dimensi pengetahuan, pengurangan, dimensi  sikap pengurangan bencana, dimensi Ketrampilan pencegahan bencana. (Ajeng Prihantini, 2020).

Oleh karena itu, perlu dibuat alat peraga berupa “Disaster Aid” dan mendemonstrasikannya, yang bertujuan agar masyarakat memahami proses terjadinya bencana dan memahami langkah-langkah untuk melakukan mitigasi terhadap bencana.

“Disaster Aid diharapkan memberikan pemahaman terhadap warga masyarakat tentang urgensi perilaku manusia yang berhubungan dengan upaya memahami proses terjadinya bencana geologi dan upaya menyelamatkan diri (mitigasi) ketika terjadi gempa bumi. Dengan memahami proses terjadi dan mengetahui upaya mitigasi, maka diharapkan dapat meminimalkan korban dan kerugian.

Kesiapsiagaan bencana merupakan upaya untuk mengantisipasi sebelum terjadi bencana dengan melibatkan multisektoral (individu, keluarga, masyarakat, LSM, swasta hingga pemerintah. Seperti ketersediaan mobil pemadam kebakaran untuk potensi bencana kebakaran, kapal karet untuk evakuasi bencana banjir dan tsunami, sikap tidak panik saat terjadi bencana kebakaran, dll (Yura Witsqa Firmansyah, 2020)

Literasi mitigasi bencana melalui “Disaster Aid”

Salah satu upaya untuk mendorong literasi mitigasi bencana dalah melalui pendidikan. Penelitian terhadap peningkatan literasi mitigas bencana dilakukan dengan menggunakan “Disaster Aid” yaitu alat peraga yang terdiri dari dua tahapan kegiatan literasi yaitu:

A. Garbage in atau memasukkan “sampah”. “Sampah” disini artinya pengetahuan kebencanaan dari pemanfaatan “Disaster Aid” dan literasi melalui study pustaka.Kegiatannya meliputi:

1. Literasi lempeng bumi
a. Rancangan model lempeng bumi

blank
Gambar 1. Model lempeng bumi
blank
Gambar 2. Model rancangan gabungan antar lempeng

.

Hasil gambar untuk gambar lempeng bumi
Gambar 3. Penampang lempeng bumi

b. Alat peraga lempeng bumi

E:\DCIM\100CANON\IMG_6476.JPG
Gambar 4. Alat peraga lempeng bumi

c. Penggunaan alat peraga lempeng bumi.

E:\DCIM\101NIKON\IMG_6559.JPG
Gambar 5. Penggunaan alat peraga lempeng bumi

2. Literasi relief muka bumi

a. Rancangan relief muka bumi

.

Hasil gambar untuk gambar lipatan sesar sungkup
Gambar 6. Rancangan relief muka bumi

b. Relief muka bumi

E:\DCIM\101NIKON\DSCN6577.JPG
Gambar 7. Peraga relief muka bumi

3. Literasi gempa bumi

a. Rancangan peraga gempa bumi

Hasil gambar untuk gambar patahan
Gambar 8. Rancangan peraga gempa bumi

b. Penggunaan alat peraga gempa bumi

C:\Users\asri0\Downloads\WhatsApp Image 2021-06-12 at 13.20.21.jpeg
Gambar 9. Literasi menggunakan alat peraga gempa

4. Pemanfaatan perpustakaan untuk literasi mitigasi

D:\dr Nugrah Dokumentasi bwt Bu Asri\IMG_0052.JPG
Gambar 10. Literasi kebencanaan dari berbagai sumber terpercaya

Literasi melalui virtual “Disaster Aids” melalui konten youtube berikut

Setelah melakukan literasi mitigasi melalui garbage in, selanjutnya dilakukan kegiatan garbage out atau membuang sampah hasil literasi mitigasi bencana, melalui stoty telling.

Story telling diharapkan dapat menjadi garbage out untuk menyampaikan pesan literasi mitigasi bencana. Kita dapat menceritakan kisah data bencana dengan tepat dan berbagi, melalui perangkat seluler. Saat ini dan kedepannya, seluler menjadi perangkat untuk memvisualisasikan data ke dalam banyak hal, menyangkut kebencanaan.

Dengan memiliki literasi mitigasi bencana, akan membuat kita menjadi manusia yang lebih peka , peduli lingkungan dan berempati terhadap sesama. Karena itu semua akan membuat hidup kita lebih bahagia. Why not?

Referensi:

  • Ajeng Prihantini. Henita Rahmayanti, Samadi, 2020. Literasi mitigasi bencana, Prosiding seminar nasional pasca sarjana UNJ.
  • A.Rahman, 2015. Kajian mitigasi bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara, Jurnal Manajemen dan Kebijakan Publik, 1, pp 1-4
  • Halim, Ninda Nurul Widodo, Edi.2017. Clustering dampak gempa bumi di Indonesia menggunakan kohonen self organizing map, Jurnal Prosiding Si Ma Nis, 1, pp 188-194.
  • Yura Witsqa Firmansyah (https://warstek.com/manajemen-bencana).

.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *