Herbivora: Kelompok Hewan yang Rentan akan Kepunahan

blank

Intervensi manusia telah mengambil peran dalam penurunan keanekaragaman dan kelimpahan spesies di bumi. Sekitar 368 spesies vertebrata punah selama 500 tahun terakhir yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Peningkatan jumlah populasi dan faktor-faktor lain yang disebabkannya seperti kemiskinan, logging (pembalakan hutan), kebakaran, dan perburuan yang berlebihan (overhunting) menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan hidup spesies lain

Kepunahan suatu populasi/spesies dapat menimbulkan perubahan drastis pada vegetasi, keanekaragaman hayati, dan bahkan keruntuhan ekosistem. Kepunahan juga diprediksikan berkorelasi dengan posisi trofik, sehingga spesies lain akan terpengaruh dan mengalami peningkatan atau penurunan jumlah populasi (Trophic Group Hypothesis) (Atwood, dkk 2020).

blank
Burung Dodo, vertebrata yang termasuk herbivora dan telah punah di abad ke 17 akibat perilaku manusia

Secara historis dapat dilihat bahwa kepunahan dapat berdampak pada substansi ekologi, proses evolusi, dan hilangnya keanekaragaman. Kepunahan herbivora bahkan dapat berdampak lebih buruk lagi pada spesies lainnya, seperti karnivora, binatang pemakan bangkai (scavenger), meso herbivora, mamalia kecil, dan proses ekologi yang meliputi vegetasi, siklus hidrologi, siklus nutrisi, dan lain-lain (Ripple, dkk 2015).

Menurut Carbone dan Gittleman, dibutuhkan sekitar 10.000 kg mangsa untuk mendukung keberlangsungan hidup 90 kg karnivora. Besarnya tingkat kebutuhan mangsa pada hewan karnivora yaitu herbivora, berakibat pada risiko kepunahan yang paling besar pada herbivora dibandingkan dengan kelompok hewan lainnya (Atwood, dkk 2020; Carbone & Gittleman 2002). Bahkan, jika dilkalkulasikan berdasarkan ekosistemnya, tingkat risiko kepunahan kelompok herbivora lebih tinggi dibandingkan kelompok omnivora dan karnivora pada wilayah daratan (85%) maupun lautan (80%).

Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), terdapat 44 dari 74 spesies herbivora daratan (~64%) yang terdaftar sebagai hewan terancam punah. Selain disebabkan oleh posisi trofik, kepunahan herbivora juga dipengaruhi oleh ukuran tubuh, yaitu herbivora berukuran besar memiliki risiko kepunahan yang lebih tinggi dibandingkan herbivora berukuran kecil (Atwood, dkk 2020).

Herbivora berukuran besar lebih rentan dibandingkan herbivora berukuran kecil karena perburuan untuk pemenuhan pangan manusia dan rendahnya tingkat pemulihan kembali ukuran populasi akibat perburuan (generation time). Herbivora berukuran besar umumnya memiliki masa gestasi dan penyapihan yang cukup lama. Oleh karena itu, perburuan secara besar-besaran dapat berakibat fatal bagi kelangsungan spesies atau populasi herbivora berukuran besar di alam.

Kehilangan habitat juga menjadi penyebab penurunan ukuran populasi herbivora. Habitat yang terbatas akibat adanya pembangunan jalan, pertanian, dan pemukiman secara langsung berdampak pada kemampuan habitat dalam menampung jumlah suatu populasi (Ripple dkk, 2015). Adapun lahan yang tersisa umumnya memiliki kualitas rendah (kurang produktif) dan kurang mendukung kelangsungan hidup spesies/populasi di alam.

Shape, polygon Description automatically generated
Hubungan antara ukuran tubuh, tingkat trofik, dan aktivitas manusia. Grafik tersebut menjadi representasi adanya pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap kepunahan. (sumber: Atwood, dkk 2020).

Kepunahan hewan herbivora yang akhir-akhir ini mengejutkan adalah kepunahan badak putih utara. Badak putih utara resmi punah pada 5 Juni 2021 dan diumumkan oleh Mongabay.id. Melalui akun instagramnya, Mongabay.id menjelaskan,

“Badak putih utara (Ceratotherium simum cottoni) bertahan 55 juta tahun di planet bumi, mengalami dan bertahan dari keganasan jaman es, gempa bumi besar, hantaman meteor, dan saksi hidup perubahan-perubahan di bumi. mamalia raksasa ini tak bisa bertahan pada keganasan manusia, dan sudah resmi punah.”

blank
Badak putih utara yang punah karena (lagi-lagi) perilaku manusia

Seperti kita ketahui, badak makan bermacam-macam spesies tumbuhan, terutama tunas, ranting, daun-daunan muda dan buah yang jatuh sehingga dikelompokkan sebagai herbivora.

Manajemen Konservasi Terhadap Kepunahan Herbivora

Manajemen konservasi dibutuhkan untuk mengatasi risiko kepunahan yang cukup tinggi pada herbivora. Salah satu manajemen konservasi yang dapat dilakukan adalah evaluasi probabilitas kepunahan populasi secara berkala. Evaluasi probabilitas kepunahan herbivora pernah dilakukan pada penelitian yang dilakukan oleh Knight, dkk (2015) di Taman Nasional Addo Elephant, Afrika Selatan.

Penelitian tersebut memperkirakan seberapa besar kemungkinan populasi hewan yang hampir punah. Hasil perkiraan tersebut adalah kepunahan secara lokal dalam sepuluh tahun mendapatang pada grysbok (Raphicerus melanotis) dan bushpig (Potamochoerus porcus). Begitu pula spesies lainnya seperti duiker (Sylvicapra grimmia), eland (Taurotragus oryx), buffalo (Syncerus caffer), dan burung unta (Struthio camelus) akan punah secara lokal dalam 60 tahun mendatang.

Setelah dievaluasi lebih jauh, terdapat tekanan ekologis yang dialami oleh herbivora yang terancam punah di Addo pada tahun 1978-1993 yang mengakibatkan adanya peningkatan populasi spesies lain. Hal tersebut berkaitan dengan Tropic Group Hypothesis, yang mana kepunahan ataupun penurunan suatu populasi/spesies diprediksikan berkorelasi dengan posisi trofik dan dapat merusak jaring-jaring makanan pada suatu ekosistem, sehingga spesies lain akan terpengaruh dan mengalami peningkatan atau penurunan jumlah populasi. Data hasil evaluasi tersebut dapat menjadi landasan untuk mengambil langkah konservasi selanjutnya di Taman Nasional Addo Elephant.

Konservasi pada herbivora, khususnya herbivora yang berukuran besar menjadi urgensi mengingat populasi manusia yang terus meningkat dan mengancam keberlangsungan habitat dan herbivora itu sendiri. Peningkatan kebutuhan konsumsi pangan juga menjadi salah satu penyebab kepunahan pada herbivora.

Manajemen utama dalam penanganan hewan yang terancam punah adalah menekan laju kepunahan dan meningkatkan jumlah populasi herbivora. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya kepunahan adalah mengurangi konsumsi herbivora di alam liar (wild herbivore), implementasi strategi pengelolaan satwa liar, seperti panen-khusus jantan, panen berdasarkan usia yang spesifik, dan kuota potensial untuk meningkatkan konservasi dan juga ketahanan pangan dengan tata kelola yang lebih baik.

blank
Rusa besar Irlandia (Megaloceros giganteus) Hewan jenis ini punah 7.700 tahun lalu, diduga akibat perpaduan antara perburuan dan perubahan iklim.

Adapun tindakan urgent atau mendesak yang dapat diambil berupa penangkaran pada populasi spesies yang sudah sangat rendah (terancam punah). Namun, implementasi langkah konservasi tetap harus diiringi dengan adaptasi regulasi yang tepat pula untuk mendukung pelaksanaan konservasi hewan yang terancam punah (Ripple, dkk 2015).

Daftar Pustaka

  • Knight, M. H., Kshatriya, M., Van Jaarsveld, A. S., Nicholls, A. O., & Hall-Martin, A. J. 2001. Evaluating herbivore extinction probabilities in Addo Elephant National Park, South Africa. African Zoology, 36(1), 13–22.
  • Ripple, W. J.. 2015. Collapse of the world’s largest herbivores. Science Advances, 1(4), e1400103–e1400103.
  • Atwood, T. B., S. A. Valentine, E. Hammill, D. J. McCauley, E. M. P. Madin, K. H. Beard, W. D. Pearse. 2020. Herbivores at the highest risk of extinction among mammals, birds, and reptiles. Science Advances 6, eabb8458.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 5 / 5. Banyaknya vote: 1

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *