Hidup Berdampingan dengan Tambang Emas: Seberapa Paham Warga akan Bahaya Merkuri

Masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah tambang emas sering berada di garis depan dampak lingkungan dan kesehatan, namun suara dan […]

Masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah tambang emas sering berada di garis depan dampak lingkungan dan kesehatan, namun suara dan pemahaman mereka kerap luput dari perhatian. Aktivitas penambangan emas skala kecil, terutama yang menggunakan merkuri, tidak hanya soal ekonomi dan produksi logam mulia, tetapi juga menyentuh aspek pengetahuan, persepsi, dan kesadaran masyarakat tentang keberlanjutan lingkungan. Inilah fokus utama sebuah studi ilmiah terbaru yang meneliti literasi keberlanjutan publik di sekitar kawasan tambang emas di Desa Tanjung Rambai, Kabupaten Sarolangun, Jambi.

Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa merkuri masih banyak digunakan dalam penambangan emas tradisional karena murah dan efektif untuk memisahkan emas dari batuan. Namun di balik kepraktisannya, merkuri merupakan logam berat beracun yang dapat mencemari air, tanah, ikan, dan pada akhirnya tubuh manusia. Paparan jangka panjang merkuri diketahui dapat merusak sistem saraf, ginjal, dan perkembangan anak. Sayangnya, bahaya ini sering kali tidak dipahami secara utuh oleh masyarakat yang hidup berdampingan dengan aktivitas tambang.

Baca juga artikel tentang: Jangan-jangan Gorengan yang Anda Beli Mengandung Plastik

Para peneliti mencoba menjawab pertanyaan sederhana tetapi penting: sejauh mana masyarakat memahami isu keberlanjutan dan risiko penggunaan merkuri di wilayah tambang emas. Mereka tidak hanya ingin mengetahui apakah warga setuju atau tidak dengan kegiatan tambang, tetapi juga bagaimana tingkat literasi keberlanjutan memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap lingkungan, kesehatan, dan masa depan wilayah mereka.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Data dikumpulkan langsung dari masyarakat sekitar Sungai Batanghari melalui kuesioner. Sungai ini merupakan urat nadi kehidupan warga, digunakan untuk mandi, mencuci, menangkap ikan, dan bahkan sumber air sehari hari. Lokasi ini dipilih karena aktivitas penambangan emas di sekitarnya berpotensi langsung memengaruhi kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Kuesioner yang digunakan terdiri dari sepuluh pernyataan yang dirancang untuk menggali persepsi masyarakat tentang penggunaan merkuri, dampak lingkungan, dan aspek keberlanjutan. Responden diminta memberikan jawaban dalam skala empat poin, mulai dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menangkap kecenderungan sikap masyarakat secara lebih jelas tanpa pilihan netral, sehingga sikap positif atau negatif dapat terlihat lebih tegas.

Hasil penelitian menunjukkan gambaran yang menarik sekaligus memprihatinkan. Sebagian besar masyarakat menyadari bahwa penambangan emas memberikan manfaat ekonomi, terutama sebagai sumber penghasilan di daerah dengan keterbatasan lapangan kerja. Banyak warga menggantungkan hidup dari aktivitas ini, baik sebagai penambang langsung maupun dari kegiatan pendukung seperti perdagangan dan jasa.

Namun ketika masuk ke aspek lingkungan dan kesehatan, pemahaman masyarakat terlihat belum merata. Sebagian responden mengakui bahwa merkuri berbahaya, tetapi tidak sepenuhnya memahami bagaimana zat ini menyebar di lingkungan dan masuk ke tubuh manusia. Ada anggapan bahwa bahaya merkuri hanya dirasakan oleh penambang, padahal kenyataannya dampak pencemaran bisa menjangkau masyarakat luas melalui air sungai dan rantai makanan.

Penelitian juga menemukan bahwa literasi keberlanjutan masyarakat masih berada pada tingkat dasar. Banyak warga belum mengaitkan aktivitas penambangan hari ini dengan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan generasi mendatang. Konsep keberlanjutan, yang mencakup keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial, belum sepenuhnya menjadi bagian dari cara berpikir sehari hari masyarakat sekitar tambang.

Menariknya, hasil analisis menunjukkan bahwa persepsi masyarakat tidak sepenuhnya menolak upaya pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Sebagian besar responden menyatakan keterbukaan terhadap edukasi dan informasi terkait bahaya merkuri dan alternatif penambangan yang lebih ramah lingkungan. Ini menjadi sinyal positif bahwa peningkatan literasi dapat menjadi kunci perubahan.

Peneliti menggunakan model Rasch untuk menganalisis data, sebuah metode statistik yang membantu memastikan bahwa pertanyaan dalam kuesioner benar benar mengukur persepsi dan literasi yang dimaksud. Pendekatan ini meningkatkan keandalan hasil penelitian dan memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kondisi pemahaman masyarakat.

Grafik ini menunjukkan perbedaan fungsi item (DIF) antara responden yang terlibat (P) dan tidak terlibat (B) dalam penambangan emas, yang menandakan adanya perbedaan tingkat kesulitan item pada beberapa butir soal di antara kedua kelompok.

Dari temuan ini, satu pesan penting muncul dengan jelas. Permasalahan penggunaan merkuri di tambang emas tidak bisa diselesaikan hanya dengan larangan atau pendekatan hukum semata. Tanpa pemahaman yang cukup, masyarakat cenderung mempertahankan praktik lama yang mereka anggap paling praktis dan menguntungkan. Edukasi publik menjadi fondasi utama untuk mendorong perubahan perilaku.

Literasi keberlanjutan bukan sekadar soal pengetahuan teknis, tetapi juga tentang kesadaran kritis. Masyarakat perlu memahami hubungan antara aktivitas ekonomi, kesehatan keluarga, dan kelestarian lingkungan. Ketika warga menyadari bahwa pencemaran sungai hari ini dapat berdampak pada kesehatan anak mereka di masa depan, keputusan yang diambil pun berpotensi berubah.

Penelitian ini juga memberikan pelajaran penting bagi pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan. Program pengendalian merkuri di sektor pertambangan emas rakyat perlu disertai pendekatan sosial dan edukatif. Penyuluhan yang bersifat satu arah sering kali tidak cukup. Dialog yang melibatkan masyarakat, menghargai pengalaman mereka, dan menawarkan solusi yang realistis akan jauh lebih efektif.

Selain itu, hasil studi ini menegaskan pentingnya peran institusi pendidikan, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat sipil dalam meningkatkan literasi keberlanjutan. Kampanye lingkungan yang menggunakan bahasa sederhana dan contoh nyata dari kehidupan sehari hari akan lebih mudah diterima oleh masyarakat awam dibandingkan istilah teknis yang abstrak.

Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau kebijakan, tetapi juga oleh cara manusia memahami dan memaknai lingkungannya. Di sekitar tambang emas, masa depan lingkungan dan kesehatan masyarakat sangat bergantung pada tingkat literasi dan kesadaran publik. Dengan pengetahuan yang tepat, masyarakat tidak hanya menjadi korban dampak lingkungan, tetapi juga bisa menjadi agen perubahan menuju praktik pertambangan yang lebih aman dan berkelanjutan.

Baca juga artikel tentang: Dari Jagung Jadi Plastik: Revolusi Material Ramah Lingkungan

REFERENSI:

Susbiyanto, Susbiyanto dkk. 2025. Preliminary study on public sustainability literacy: Publics’ perceptions around the gold mining area towards the use of mercury. AIP Conference Proceedings 3206 (1), 080018.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top