Banyak orang menganggap matematika sebagai ilmu abstrak yang lahir di ruang kelas atau buku teks. Anggapan ini membuat kita sering lupa bahwa matematika juga tumbuh dari pengalaman hidup, kerja fisik, dan pengetahuan budaya masyarakat. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa tambang emas, khususnya yang dibangun pada masa kolonial, menyimpan warisan matematika yang kaya dan jarang dibahas. Penelitian ini mengajak kita melihat kembali bagaimana pengetahuan matematika masyarakat Afrika yang diperbudak berperan penting dalam pembangunan tambang emas, sekaligus menawarkan cara baru untuk mengajarkan matematika di sekolah.
Penelitian ini berfokus pada tambang emas bersejarah di Vila Rica, yang kini dikenal sebagai Ouro Preto, di negara bagian Minas Gerais, Brasil. Pada abad ke 17 dan 18, wilayah ini menjadi pusat pertambangan emas kolonial Portugis. Tambang tambang tersebut dibangun dan dioperasikan oleh orang orang Afrika yang diperbudak. Selama ini, sejarah tambang emas lebih sering menyoroti hasil ekonomi dan kekuasaan kolonial, sementara kontribusi intelektual para pekerja Afrika hampir tidak pernah dibicarakan.
Baca juga artikel tentang: Simulasi 3D Ungkap Cara Air Menyebar dan Memantul di Permukaan Mikro
Para peneliti mengangkat konsep zigzag sebagai metafora utama. Dalam matematika, garis zigzag jarang menjadi jalur terpendek antara dua titik. Namun, dalam kehidupan nyata, terutama di dalam tambang emas, jalur zigzag justru sering menjadi pilihan paling aman dan efektif. Terowongan tambang tidak digali lurus begitu saja, tetapi mengikuti struktur batuan, aliran air, dan faktor keselamatan. Pola zigzag ini mencerminkan pengambilan keputusan matematis yang kompleks, meskipun tidak pernah dituliskan dalam rumus formal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan etnomodelling, yaitu metode yang menghubungkan pengetahuan matematika formal dengan praktik matematika yang hidup dalam budaya tertentu. Dalam penelitian ini, para peneliti melibatkan delapan guru matematika, dua pemilik tambang emas, dan dua pemandu tambang. Mereka juga mengunjungi dua tambang emas yang dibangun pada abad ke 17 untuk mengamati langsung struktur dan teknik konstruksinya.
Melalui wawancara, observasi, dan analisis mendalam, para peneliti menemukan bahwa orang orang Afrika yang diperbudak memiliki pengetahuan matematika praktis yang sangat maju. Mereka memahami konsep kemiringan, sudut, keseimbangan, dan efisiensi ruang. Pengetahuan ini digunakan untuk menggali terowongan yang stabil, mengatur aliran air, dan mencegah runtuhan. Semua keputusan ini melibatkan penalaran matematis, meskipun tidak pernah diajarkan di sekolah formal.
Penelitian ini juga menyoroti perbedaan sudut pandang antara orang dalam dan orang luar. Orang dalam, yaitu para pekerja dan keturunannya, memahami tambang sebagai ruang hidup dan kerja yang penuh makna. Sementara itu, orang luar, seperti administrator kolonial atau peneliti modern, sering melihat tambang hanya sebagai objek teknis atau ekonomi. Etnomodelling berfungsi sebagai jembatan untuk mempertemukan kedua cara pandang ini.

Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah bagaimana pengetahuan matematika Afrika tersebut diwariskan secara lisan dan melalui praktik langsung. Para pekerja belajar dengan mengamati, meniru, dan mengalami langsung kondisi tambang. Proses ini sangat berbeda dengan pembelajaran matematika di sekolah yang sering menekankan rumus dan jawaban benar atau salah. Namun, kedua bentuk pengetahuan ini sama sama valid dan bernilai.
Penelitian ini tidak berhenti pada pengungkapan sejarah. Para peneliti juga mengembangkan tindakan pedagogis, yaitu strategi pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah. Dengan menggunakan contoh nyata dari tambang emas, guru dapat mengajarkan konsep matematika seperti geometri, pengukuran, dan optimasi secara lebih kontekstual. Misalnya, siswa dapat diajak menganalisis mengapa jalur zigzag lebih aman daripada jalur lurus dalam kondisi tertentu.
Pendekatan ini memiliki dampak penting bagi pendidikan. Dengan mengaitkan matematika dengan sejarah dan budaya, siswa dapat melihat matematika sebagai ilmu yang hidup dan relevan. Selain itu, pendekatan ini membantu mengakui kontribusi masyarakat Afrika yang selama ini terpinggirkan dalam narasi sejarah ilmu pengetahuan. Matematika tidak lagi dipandang sebagai milik satu budaya atau bangsa, melainkan sebagai hasil kolektif umat manusia.
Penelitian ini juga memberikan refleksi tentang keadilan sosial dalam pendidikan. Selama berabad abad, pengetahuan orang orang Afrika yang diperbudak dieksploitasi tanpa pengakuan. Dengan membawa pengetahuan tersebut ke ruang kelas, pendidikan dapat berperan dalam proses pemulihan sejarah. Siswa tidak hanya belajar matematika, tetapi juga belajar menghargai keberagaman budaya dan pengalaman manusia.
Para peneliti menggunakan metode yang diadaptasi dari Grounded Theory untuk menganalisis data. Mereka mengidentifikasi pola pola pemikiran dan praktik yang kemudian dirangkum dalam dua kategori konseptual utama. Hasil analisis menunjukkan bahwa etnomodelling mampu membangun dialog antara matematika sekolah dan matematika yang dipraktikkan dalam kehidupan nyata masyarakat Afrika pada masa kolonial.
Penelitian ini juga menantang gagasan bahwa matematika selalu berkembang secara linier dan lurus. Seperti jalur zigzag di tambang emas, perkembangan pengetahuan sering kali berliku, dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan sejarah. Memahami hal ini membantu kita melihat ilmu pengetahuan secara lebih manusiawi.
Dalam konteks pendidikan modern, penelitian ini menawarkan alternatif pendekatan pembelajaran yang lebih inklusif. Guru tidak hanya menyampaikan rumus, tetapi juga mengajak siswa mengeksplorasi bagaimana matematika digunakan dalam berbagai konteks kehidupan. Pendekatan ini dapat meningkatkan minat belajar dan pemahaman konsep secara mendalam.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa tambang emas bukan hanya tempat ekstraksi sumber daya alam, tetapi juga ruang lahirnya pengetahuan matematika yang kaya. Dengan menggali kembali warisan ini, kita dapat memperkaya cara kita memahami sejarah, budaya, dan pendidikan. Matematika tidak lagi sekadar angka di papan tulis, tetapi cerita tentang manusia, kerja, dan kecerdasan yang tumbuh dari pengalaman hidup.
Penelitian ini mengingatkan kita bahwa untuk memahami masa depan pendidikan, kita juga perlu menengok masa lalu dan mendengarkan suara suara yang lama terabaikan. Di balik jalur zigzag tambang emas, tersimpan pelajaran penting tentang bagaimana manusia berpikir, bertahan, dan mencipta pengetahuan dalam kondisi yang paling menantang.
Baca juga artikel tentang: Bisulfida dan Emas: Menguak Rahasia Transportasi Logam Mulia dari Perut Bumi
REFERENSI:
Orey, Daniel Clark dkk. 2025. The ZIGZAG: Contributions of African Mathematical Knowledge on Gold Mines to Develop a Pedagogical Action for Ethnomodelling Through the Elaboration of Ethnomodels. ZDM–Mathematics Education, 1-14.







