Air bersih menjadi salah satu tantangan terbesar abad ini. Di banyak wilayah pesisir dan daerah kering, air laut melimpah tetapi tidak bisa langsung diminum. Proses mengubah air laut menjadi air tawar membutuhkan teknologi yang sering kali mahal, rumit, dan bergantung pada listrik. Bagi masyarakat terpencil, solusi semacam ini sulit dijangkau. Karena itu, para ilmuwan terus mencari pendekatan sederhana, murah, dan berkelanjutan untuk menyediakan air layak minum.
Sebuah penelitian terbaru pada tahun 2025 menawarkan pendekatan menarik dengan memanfaatkan bahan lokal yang selama ini dikenal sebagai tanaman obat tradisional, yaitu kayu secang. Penelitian ini menunjukkan bahwa kayu secang dapat diubah menjadi karbon aktif yang sangat efektif untuk membantu proses pemurnian air laut menggunakan alat sederhana bernama solar still.
Solar still adalah alat penyuling air yang bekerja dengan memanfaatkan panas matahari. Prinsipnya sederhana. Air laut dipanaskan oleh sinar matahari hingga menguap, lalu uap air tersebut didinginkan dan dikumpulkan kembali sebagai air tawar. Garam dan zat berbahaya tertinggal di wadah awal. Teknologi ini ramah lingkungan karena tidak membutuhkan listrik, tetapi efisiensinya sering kali rendah.
Baca juga artikel tentang: Jangan-jangan Gorengan yang Anda Beli Mengandung Plastik
Masalah utama air laut bukan hanya garam, tetapi juga kandungan logam berat seperti arsenik dan timbal. Logam berat ini berbahaya bagi kesehatan dan tidak sepenuhnya terpisah hanya dengan proses penguapan sederhana. Di sinilah karbon aktif berperan penting sebagai penyerap atau adsorben.
Karbon aktif adalah material berpori yang memiliki luas permukaan sangat besar. Luas permukaan ini membuat karbon aktif mampu menangkap berbagai zat berbahaya dari air. Karbon aktif biasanya dibuat dari bahan kaya karbon seperti tempurung kelapa atau kayu tertentu. Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan kayu secang sebagai bahan baku.
Kayu secang dipilih karena mudah diperoleh, murah, dan memiliki struktur yang cocok untuk diubah menjadi karbon aktif. Namun, kualitas karbon aktif sangat dipengaruhi oleh cara pembuatannya. Salah satu tahap penting adalah aktivasi kimia, yaitu proses pembentukan pori pori kecil di dalam karbon agar daya serapnya meningkat.
Penelitian ini membandingkan tiga bahan kimia aktivator yang berbeda, yaitu seng klorida, kalsium klorida, dan natrium karbonat. Setiap bahan aktivator menghasilkan karakteristik karbon aktif yang berbeda, terutama dalam ukuran dan jumlah pori.
Para peneliti kemudian menguji karbon aktif yang dihasilkan dengan berbagai metode laboratorium. Mereka mengamati struktur pori menggunakan mikroskop elektron dan mengukur luas permukaan dengan teknik fisika material. Selain itu, kemampuan karbon aktif dalam menyerap logam berat diuji menggunakan air laut buatan yang mengandung arsenik dan timbal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karbon aktif dari kayu secang yang diaktivasi dengan seng klorida memberikan hasil terbaik. Karbon aktif ini memiliki pori pori yang lebih banyak dan lebih teratur, sehingga mampu menyerap logam berat dengan lebih efektif dibandingkan dua aktivator lainnya.
Ketika karbon aktif ini dimasukkan ke dalam sistem solar still, hasilnya menjadi lebih menarik. Produksi air tawar meningkat hingga sekitar tiga setengah liter per meter persegi per hari. Angka ini lebih tinggi dibandingkan sistem tanpa karbon aktif atau dengan karbon aktif dari aktivator lain. Efisiensi sistem juga mencapai sekitar lima puluh delapan persen, angka yang tergolong tinggi untuk teknologi sederhana berbasis matahari.
Selain meningkatkan jumlah air tawar yang dihasilkan, karbon aktif dari kayu secang juga secara signifikan menurunkan kadar arsenik dan timbal dalam air hasil penyulingan. Ini berarti air yang dihasilkan tidak hanya tawar, tetapi juga lebih aman untuk dikonsumsi.
Keunggulan lain dari karbon aktif ini adalah kemampuannya meningkatkan kinerja termal solar still. Struktur pori yang baik membantu menyerap panas dan meningkatkan interaksi antara air laut dan permukaan penyerap. Akibatnya, proses penguapan menjadi lebih efisien.
Dari sudut pandang praktis, teknologi ini sangat menjanjikan untuk daerah pesisir, pulau kecil, dan wilayah kering yang memiliki akses terbatas terhadap air bersih dan listrik. Sistem solar still dengan karbon aktif kayu secang dapat dibuat dalam skala kecil, tidak memerlukan peralatan rumit, dan dapat dioperasikan secara mandiri oleh masyarakat.
Penelitian ini juga menunjukkan bagaimana pendekatan sains modern dapat memaksimalkan potensi bahan lokal. Kayu secang yang selama ini dikenal sebagai bahan minuman herbal dan pewarna alami ternyata memiliki nilai tambah besar dalam bidang teknik lingkungan. Dengan proses yang tepat, bahan tradisional dapat berperan dalam solusi masalah global.
Namun, para peneliti juga menekankan bahwa masih ada tantangan yang perlu diatasi. Daya tahan karbon aktif dalam penggunaan jangka panjang, kemudahan regenerasi atau penggantian material, serta keamanan residu bahan kimia aktivator perlu dikaji lebih lanjut. Meski demikian, hasil awal penelitian ini sangat menjanjikan.
Penelitian ini mencerminkan tren penting dalam sains dan teknologi, yaitu pengembangan solusi berbasis alam yang sederhana namun efektif. Di tengah krisis air global dan perubahan iklim, pendekatan seperti ini menjadi semakin relevan. Solusi tidak selalu harus mahal atau berteknologi tinggi. Kadang, jawabannya justru datang dari pemahaman mendalam terhadap bahan yang sudah lama ada di sekitar kita.
Bagi masyarakat awam, kisah ini menunjukkan bahwa inovasi bisa lahir dari kombinasi pengetahuan tradisional dan riset ilmiah. Kayu secang tidak kehilangan identitasnya sebagai tanaman budaya, tetapi justru memperoleh peran baru sebagai bagian dari teknologi penyedia air bersih.
Pada akhirnya, penelitian ini memberi harapan bahwa akses terhadap air minum yang aman dan berkelanjutan dapat dicapai dengan cara yang lebih inklusif. Dengan memanfaatkan energi matahari dan bahan alami lokal, teknologi sederhana seperti solar still berbasis karbon aktif kayu secang dapat menjadi salah satu jawaban atas tantangan air bersih di masa depan.
Baca juga artikel tentang: Dari Jagung Jadi Plastik: Revolusi Material Ramah Lingkungan
REFERENSI:
Ismail, Nova Risdiyanto dkk. 2025. The influence of chemical activators on adsorptive properties and solar still performance of activated carbon from Caesalpinia sappan wood. EUREKA: Physics and Engineering, 154-170.







