Jejak Kerusakan di Pesisir: Cerita Mangrove yang Kehilangan Lebih dari Setengah Karbonnya

Keberadaan hutan mangrove memegang peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan iklim dunia. Hutan ini tidak hanya menjadi tempat hidup […]

Keberadaan hutan mangrove memegang peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan iklim dunia. Hutan ini tidak hanya menjadi tempat hidup berbagai organisme, tetapi juga berfungsi sebagai penyimpan karbon yang sangat efektif. Akar mangrove yang rapat dan tanah berlumpur di sekitarnya mampu mengunci karbon dalam jumlah besar selama ratusan tahun. Ketika mangrove ditebang secara ilegal, karbon yang tersimpan tersebut dapat terlepas kembali ke atmosfer dan memperburuk perubahan iklim.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan tahun dua ribu dua puluh lima dalam Global Journal of Environmental Science memaparkan bagaimana pembalakan liar di hutan mangrove menyebabkan penurunan besar pada jumlah karbon yang tersimpan. Penelitian ini dilakukan di Desa Lubuk Kertang, Sumatra Utara. Para peneliti menggabungkan teknologi pencitraan dari kendaraan udara tak berawak atau unmanned aerial vehicle dengan survei lapangan untuk menghitung perubahan stok karbon dalam dua tahun terakhir.

Baca juga artikel tentang: Polandia Terendam, Dunia Terancam: Pelajaran dari Riset Sungai Warta tentang Krisis Iklim

Hutan mangrove selalu menjadi perhatian para ilmuwan karena kemampuannya menyerap karbon jauh lebih tinggi dibandingkan hutan daratan. Banyak negara menggunakan data tentang stok karbon mangrove sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan lingkungan. Informasi ini juga menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Namun, kerusakan akibat pembalakan liar sering kali tidak terdeteksi secara cepat sehingga kerugian lingkungan menjadi semakin besar.

Penelitian ini mencoba mengatasi kendala tersebut dengan memanfaatkan foto satelit, drone, serta analisis fotometri yang mampu menghasilkan citra permukaan bumi dalam resolusi tinggi. Para peneliti menggunakan drone dengan kamera berkualitas tinggi yang diterbangkan pada ketinggian sekitar seratus lima puluh meter. Penerbangan dilakukan dengan rute yang telah diperhitungkan sebelumnya sehingga gambar yang terekam saling tumpang tindih dan menghasilkan citra tiga dimensi yang akurat. Proses ini berlangsung dari awal Agustus hingga awal September dua ribu dua puluh tiga.

Gambar peta degradasi hutan mangrove di Desa Lubuk Kertang pada tahun 2023, dengan peta (a) menggambarkan model permukaan digital (DSM) dalam meter, dan peta (b) menunjukkan degradasi biomassa di atas tanah (AGB) dalam megagram per hektar (Mg/Ha).

Tim peneliti kemudian menggabungkan hasil pemotretan drone dengan survei lapangan. Pengukuran dilakukan untuk mengetahui jenis pohon, diameter batang, tinggi pohon, serta kepadatan vegetasi. Data lapangan ini penting sebagai acuan untuk menghitung biomassa atau jumlah materi hidup yang ada pada pohon mangrove. Biomassa inilah yang menjadi dasar perhitungan stok karbon. Dengan menggabungkan dua jenis data ini, hasil yang diperoleh menjadi lebih akurat dibandingkan jika hanya mengandalkan satu metode saja.

Hasil penelitian menunjukkan perubahan yang sangat mencolok dalam kurun waktu satu tahun. Pada tahun dua ribu dua puluh dua, hutan mangrove di lokasi penelitian memiliki total karbon sebesar lebih dari lima belas megagram per hektare. Satu tahun kemudian, nilainya turun drastis menjadi sekitar delapan megagram per hektare. Penurunan ini berarti kehilangan sekitar lima puluh enam persen dari total karbon yang sebelumnya tersimpan. Angka tersebut menggambarkan betapa cepatnya kerusakan lingkungan terjadi ketika pembalakan liar tidak dapat dikendalikan.

Penelitian juga menemukan bahwa area mangrove yang dicuri atau ditebang secara ilegal semakin meluas. Hutan mangrove yang semula mencakup wilayah seluas dua ratus lima puluh tiga hektare kini menyisakan area biomassa yang jauh berkurang. Dampak kehilangan ini tidak hanya terkait karbon. Hilangnya pohon mangrove menyebabkan kerusakan pada habitat berbagai spesies laut dan darat. Akar mangrove yang berfungsi sebagai pemecah ombak juga berkurang sehingga wilayah pesisir menjadi lebih rentan terhadap erosi. Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan mangrove turut merasakan akibatnya karena ikan dan udang yang biasanya berkembang biak di antara akar mangrove mulai berkurang.

Penurunan karbon yang terdeteksi melalui teknologi udara tak berawak memberikan bukti bahwa pengawasan konvensional tidak lagi cukup. Wilayah hutan yang luas dan sulit dijangkau membuat patroli manual menjadi tidak efisien. Penggunaan drone memberikan peluang pemantauan yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih akurat. Teknologi ini dapat diterapkan secara berkala sehingga perubahan kecil sekalipun dapat terdeteksi lebih dini. Selain itu, hasil pencitraan dapat digunakan sebagai bukti visual yang kuat dalam proses penegakan hukum terhadap para pelaku pembalakan liar.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya kombinasi antara citra udara dan survei lapangan. Data udara memberikan gambaran luas dan menyeluruh. Survei lapangan memberikan informasi mendalam mengenai karakteristik vegetasi. Penggabungan keduanya menciptakan metode perhitungan karbon yang jauh lebih akurat. Pendekatan ini dapat menjadi model bagi berbagai wilayah pesisir lain yang menghadapi ancaman serupa.

Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pembalakan liar merupakan ancaman serius terhadap kemampuan hutan mangrove dalam menyimpan karbon. Dampak lingkungan yang ditimbulkan tidak hanya mengurangi stok karbon, tetapi juga mengganggu fungsi ekologis yang sangat penting seperti perlindungan pantai, habitat biodiversitas, dan sumber daya ekonomi masyarakat pesisir. Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan hutan mangrove memerlukan strategi pemantauan yang lebih baik, termasuk penggunaan teknologi modern.

Teknologi drone dan pencitraan satelit membuka peluang besar dalam upaya konservasi mangrove. Data yang dihasilkan dapat membantu pemerintah merencanakan langkah penyelamatan, menentukan area prioritas restorasi, dan memetakan tingkatan kerusakan secara akurat. Teknologi ini juga memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi penyusunan kebijakan iklim, terutama yang berkaitan dengan upaya penyimpanan karbon atau blue carbon.

Perlindungan mangrove menjadi tanggung jawab bersama karena keberadaannya berhubungan langsung dengan kestabilan iklim global. Ketika hutan mangrove hilang, bukan hanya wilayah pesisir yang terdampak. Seluruh planet ikut merasakan akibatnya. Penelitian ini memberikan gambaran nyata bahwa kerusakan dapat terjadi dengan cepat, tetapi juga menunjukkan bahwa pemantauan yang cermat mampu memberikan peluang untuk mencegah kerugian yang lebih besar. Masa depan hutan mangrove membutuhkan perpaduan antara sains, teknologi, kebijakan, dan kesadaran masyarakat.

Baca juga artikel tentang: Dari Zaman Es ke Era Pemanasan Global: Pelajaran Berharga bagi Keanekaragaman Flora

REFERENSI:

Basyuni, M dkk. 2025. Reduction of mangrove carbon stock ecosystems due to illegal logging using a combination of unmanned aerial vehicle imagery and field surveys. Global J. Environ. Sci. Manage 11 (1), 225-242.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top