Kamu adalah Mikrobamu: Bagaimana Korelasi antara Mikroba dan Psikologis Manusia?

blank

Kamu merasa sendirian? Tenang, karena pada kenyataannya kamu selalu ditemani. Ada makhluk halus yang selalu ada di sekitarmu. Tapi makhluk halus ini bukan hantu atau jelly ya, melainkan makhluk tak kasat mata yang selalu dijelaskan dalam sains, yaitu mikroba. Faktanya, jumlah mikroba di tubuh adalah sama dengan jumlah sel yang ada di tubuh[1].

Mikroba itu jahat? Dan kamu ingin mandi dengan desinfektan untuk menyingkirkan semua mikroba? niatnya ditahan dulu ya. Faktanya, tidak selamanya mikroba di tubuh itu jahat, dan justru malah membantu meningkatkan imunitas [1]. Mikroba-mikroba di tubuh memiliki fungsi penting yang tidak dihasilkan oleh tubuh itu sendiri, bahkan dalam penelitian terbaru, ilmuwan berhasil mengkorelasikan antara peptidoglikan -yaitu bagian terluar sel bakteri- dengan perkembangan saraf dan perilaku manusia. Bahkan penelitian ini mengklaim bahwa Austime bisa jadi salah satunya disebabkan oleh komponen mikroba[2]. Kok bisa? Yuk sama-sama kita simak artikel berikut.

Penelitian terkait pengaruh mikroba terhadap saraf dan perilaku telah dilakukan sejak tahun 2004 oleh Sudo et al., dimana dalam penelitiannya, Sudo dan rekannya menguji coba perilaku dari mencit higienis (sangat bersih dari mikroba) dengan mencit biasa pada umumnya. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa mencit higienis akan menghasilkan hormon adrenokortikotropik (ACTH) dan kortikosteron yang berlebih jika dibandingkan mencit normal. Kortikosteron berlebih dapat memiliki efek samping berupa hipertensi, peningkatan gula darah diabetes, dll[5].

Penelitian tersebut terus berkembang, sampai ke penelitian terbaru bahwa mikroba dapat mempengaruhi perilaku dan patologi otak beberapa hewan model. Salah satu penyakit yang dikorelasikan dengan mikroba tersebut adalah Autisme (ASD). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kelainan austisme dengan kelainan pada usus (seperti diare, sembelit, dll). Ilmuwan juga menduga perilaku orang tua sebelum atau ketika kelahiran, seperti tempat kelahiran, proses kelahiran, dll., dapat menentukan sifat dan perilaku bayi melalui mikrobanya[2].

blank
Bagaimana PGN masuk dan mempengaruhi otak manusia, sumber : Gonzales-Santana, 2020.

Apakah kunci utama dari hubungan mikroba dengan perilaku manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kunci utama tersebut adalah PRR (Reseptor pengenalan pola) dan PGN (Peptidoglikan). PRR adalah komponen penting dalam sistem imun yang mendeteksi kehadiran PGN, komponen penyusun dinding sel bakteri. Kehadiran PGN dapat memberikan sinyal kepada ekpresi protein yang berhubungan dengan perkembangan otak hewan model, seperti PGRP, NOD1, dll. PGN inilah yang berperan penting dalam mengatur perilaku dan kecemasan pada inangnya [4,6].

blank
PGN (Peptidoglikan) dan strukturnya, Sumber : Gonzales-Santana, 2020.

Walaupun demikian, Penelitian terkait hubungan PGN dengan perilaku manusia saat ini masih memiliki banyak kekurangan. Masih perlu diidentifikasi jenis-jenis PGN apa saja yang mempengaruhi perilaku manusia, karena pada dasarnya bakteri memiliki komposisi PGN yang berbeda-beda. Namun, penemuan ini adalah pintu pembuka terbaru untuk terapi atau pengobatan terbaru terkait perilaku mental, seperti autism. Namun satu hal yang penting, bersahabatlah dengan mikroba baik-mu.

blank

Sumber :

[1] Al Nabhani, Z. and Eberl, G. (2020) Imprinting of the immune system by the microbiota early in life. Mucosal Immunol. 13, 183–189

[2] Gonzalez-Santana A dan Diaz Heijtz R. 2020. Bacterial Peptidoglycans from Microbiota in Neurodevelopment and Behavior. Trends Mol Med. 26(8):729-743.

[3] Lynch, J.B. and Hsiao, E.Y. (2019) Microbiomes as sources of emergent host phenotypes. Science 365, 1405–1409.

[4] Rehman, A. et al. (2001) The cloning of a rat peptidoglycan recognition protein (PGRP) and its induction in brain by sleep deprivation. Cytokine 13, 8–17

[5] Sudo, N. et al. (2004) Postnatal microbial colonization programs the hypothalamic–pituitary–adrenal system for stress response in mice. J. Physiol. 558, 263–275.

[6] Tosoni, G. et al. (2019) Bacterial peptidoglycans as novel signaling molecules from microbiota to brain. Curr. Opin. Pharmacol. 48, 107–113.

Baca juga:
Putera Rakhmat
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *