Benarkah Kentut Sapi Menyebabkan Pemanasan Global?

Sapi adalah hewan ternak anggota suku Bovidae dan anak suku Bovinae. Sapi yang telah dikebiri (lembu) biasanya digunakan untuk membajak sawah. Masyarakat memelihara hewan tersebut untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai pangan. Kulit, jeroan, tanduk, dan kotorannya digunakan untuk berbagai keperluan manusia.

Manfaat lainnya sebagai penggerak alat transportasi, pengolahan lahan tanam (bajak), dan alat industri lain (seperti peremas tebu). Karena banyak kegunaan ini, sapi telah menjadi bagian dari berbagai kebudayaan manusia sejak lama.

Kebanyakan sapi ternak merupakan keturunan dari jenis liar yang kita kenal sebagai aurochs (dalam bahasa Jerman berarti “sapi kuno”, nama ilmiah: Bos primigenius), yang sudah punah di Eropa sejak 1627. Namun, terdapat beberapa spesies sapi liar lain yang keturunannya didomestikasi, termasuk sapi bali yang juga diternakkan di Indonesia.

Sendawa dan kentut sapi menyumbang 14% dari gas pemanasan global. Karenanya, para ilmuwan berpikir untuk mengurangi kentut sapi agar lebih ramah lingkungan.

Hewan ternak seperti sapi, domba, dan kambing, adalah hewan ruminansia atau pemamah biak dengan perut multi-bilik. Perut mereka membantu mencerna makanan melalui fermentasi dan penuh dengan bakteri penghasil gas metana.

Dikutip dari The Sun, Senin (13/9/2021) setiap harinya, seekor sapi dapat menghasilkan 160 liter hingga 320 liter gas, yang memiliki 28 kali potensi pemanasan global CO2.

Saat ini para ilmuwan sedang mencari sapi-sapi yang menghasilkan metana paling sedikit dan mereka akan membiakkannya menjadi kawanan yang ada. Para ahli juga menguji pakan yang bisa mengurangi kentut hewan.

“Kami telah mengerjakan ini sejak 2015. Saat ini kami sedang membangun profil genomik untuk memilih ternak paling ramah karbon yang akan membuat perbedaan dalam jangka panjang,” ujar Barrie Turner, dari Aberdeen Angus Cattle Society.

Selain kentut dan kotorannya yang menghasilkan metana, daging ternak sendiri sudah menyumbang masalah terkait pemanasan global. Pasalnya, dengan mengonsumsi lebih banyak protein hewani dan olahannya, kita menyumbang masalah yang berdampak pada kesehatan serta kerusakan lingkungan.

Sumber protein hewani, terutama daging merah dari sapi, memiliki jejak karbon sangat tinggi yang berdampak pada peningkatan emisi gas rumah kaca, hingga perubahan iklim.

Bagaimana bisa? Peternakan memerlukan lahan yang luas, sehingga pembangunannya sering mengakibatkan penggundulan lahan. Selain itu, hewan ternak memerlukan pakan dari tumbuhan dan menghabiskan banyak air. Berdasarkan data EAT, pertanian dunia saat ini menempati hampir 40% dari lahan global.

Konversi lahan untuk produksi makanan menjadi penyebab hilangnya keanekaragaman hayati. Produksi makanan hewani juga bertanggung jawab atas 30% emisi gas rumah kaca global dan 70% penggunaan air tawar.

Semua itu memperparah pemanasan global dan berkurangnya cadangan air tanah. Kerusakan planet akan sulit diatasi selama kita masih mengandalkan daging hewan ternak.

Karenanya, mengurangi konsumsi daging akan membantu mengurangi permintaan produksi hewan ternak. Ini juga berarti akan ada lebih banyak lahan yang dapat digunakan untuk meredam gas rumah kaca, sehingga berkontribusi membuat Bumi lebih sehat.

REFERENSI:

ITIS Standard Report Page: Bos taurusItis. Diakses tanggal 14 September 2021.

“Beef cattle: weaning of calves”nda.agric.za. Diakses tanggal 14 September 2021.

Organisasi Pangan dan Pertanian (2007). The State of the World’s Animal Genetic Resources for Food and Agriculture-in brief (PDF). Roma: Organisasi Pangan dan Pertanian. hlm. 12.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 5 / 5. Banyaknya vote: 1

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Maratus Sholikah
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *