Monogami sering dianggap sebagai salah satu ciri khas manusia, tetapi seberapa monogami sebenarnya kita jika dibandingkan dengan spesies mamalia lainnya? Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society B memberikan wawasan menarik tentang posisi manusia dalam hierarki monogami di dunia mamalia. Dalam daftar yang menganalisis 35 spesies mamalia, manusia berada di peringkat ketujuh sebagai spesies yang cenderung monogami. Namun, hasil ini juga menunjukkan bahwa meskipun manusia secara sosial dan budaya condong ke arah monogami, sifat biologis kita tidak sepenuhnya mendukung pola ini.
Studi Unik yang Mengungkap Pola Monogami Mamalia
Penelitian ini adalah yang pertama menggunakan perbandingan antara tingkat saudara kandung penuh (full siblings) dan saudara tiri (half siblings) untuk mengevaluasi tingkat monogami di berbagai spesies mamalia. Menurut Dr. Mark Dyble dari Departemen Arkeologi Universitas Cambridge, spesies yang monogami cenderung memiliki lebih banyak saudara kandung penuh karena pasangan induknya tetap bersama untuk membesarkan anak-anak mereka. Sebaliknya, spesies poligami biasanya memiliki lebih banyak saudara tiri karena pasangan sering berganti.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa manusia memiliki tingkat saudara kandung penuh sebesar 66%, menempatkan kita di atas meerkat (60%) tetapi di bawah berang-berang (73%). Berang-berang dikenal sebagai salah satu spesies yang sangat monogami, meskipun mereka masih menunjukkan sedikit fleksibilitas dalam pola perkawinan mereka.
Mengapa Monogami Penting?
Monogami dianggap memiliki peran penting dalam evolusi manusia. Salah satu teori populer menyebutkan bahwa adopsi monogami membantu manusia mendominasi planet ini. Dengan membangun unit keluarga kecil yang stabil, manusia dapat memastikan pengasuhan anak yang lebih baik dan pembagian sumber daya yang efisien. Namun, sejarah manusia juga menunjukkan bahwa poligami pernah menjadi norma di banyak masyarakat. Data etnografi mengungkapkan bahwa sekitar 85% masyarakat pra-industri mengizinkan pria untuk memiliki lebih dari satu istri.
Hal ini menunjukkan bahwa monogami tidak selalu menjadi pola utama dalam sejarah manusia. Meskipun demikian, tekanan sosial dan agama di banyak budaya modern telah mendorong penerapan monogami sebagai norma.
Perbandingan dengan Mamalia Lain
Dalam konteks mamalia lainnya, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manusia lebih dekat dengan spesies seperti meerkat dan berang-berang dalam hal monogami dibandingkan dengan primata lainnya seperti simpanse dan gorila. Simpanse, misalnya, hanya memiliki tingkat saudara kandung penuh sebesar 4%, sedangkan gorila hanya 6%. Hal ini menunjukkan bahwa kedua spesies tersebut lebih cenderung ke arah poligini atau poligynandri, di mana individu memiliki banyak pasangan selama masa hidup mereka.
Sebaliknya, beberapa mamalia lain seperti serigala dan rubah juga menunjukkan pola monogami yang mirip dengan manusia. Menariknya, nenek moyang serigala dan rubah dulunya adalah spesies poligami, menunjukkan bahwa transisi menuju monogami adalah perubahan evolusioner yang signifikan.

Faktor Budaya dan Biologis
Meskipun manusia secara biologis menunjukkan kecenderungan untuk monogami, budaya dan inovasi modern memainkan peran besar dalam membentuk pola perkawinan kita. Misalnya, penggunaan alat kontrasepsi memungkinkan manusia untuk memisahkan aktivitas seksual dari reproduksi, sesuatu yang jarang terjadi pada spesies mamalia lainnya. Selain itu, norma-norma sosial dan agama sering kali mendorong individu untuk tetap setia pada satu pasangan.
Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua populasi manusia sama dalam hal tingkat monogami. Penelitian ini menggunakan data genetik dari berbagai situs arkeologi di Eropa dan Anatolia serta data etnografi dari 94 masyarakat manusia modern, termasuk pemburu-pengumpul Hadza di Tanzania dan petani padi Toraja di Indonesia. Hasilnya menunjukkan adanya variasi besar dalam praktik perkawinan dan hubungan antarbudaya. Beberapa masyarakat menunjukkan tingkat hubungan monogami yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain.
Monogami vs Poligami: Pilihan Evolusi
Salah satu alasan utama mengapa suatu spesies memilih pola monogami atau poligami terletak pada strategi mereka untuk melindungi keturunan laki-laki mereka. Menurut Dr. Kit Opie, seorang antropolog evolusi dari Universitas Bristol, baik monogami maupun poligami adalah strategi untuk melawan infanticide (pembunuhan bayi) oleh jantan lain. Dalam sistem poligami, betina memastikan bahwa beberapa jantan melindungi anak mereka karena tidak ada yang tahu pasti siapa ayah biologisnya. Sebaliknya, dalam sistem monogami, betina memastikan bahwa satu jantan sepenuhnya berinvestasi dalam melindungi keturunannya.
Manusia dalam Spektrum Monogami
Penelitian ini memberikan perspektif baru tentang posisi manusia dalam spektrum monogami mamalia. Meskipun kita berada di peringkat ketujuh dalam daftar spesies mamalia yang cenderung monogami, kecenderungan ini tidak sepenuhnya ditentukan oleh biologi kita. Faktor budaya, inovasi modern seperti alat kontrasepsi, dan tekanan sosial memainkan peran besar dalam membentuk pola perkawinan kita.
Pada akhirnya, manusia adalah makhluk yang kompleks dengan kemampuan untuk membuat pilihan berdasarkan nilai-nilai sosial dan budaya mereka. Tidak seperti kebanyakan mamalia lainnya, kita memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan pola hubungan kita sesuai dengan kebutuhan individu dan masyarakat secara keseluruhan. Penelitian ini mengingatkan kita bahwa meskipun kita mungkin memiliki kecenderungan biologis tertentu, kita tetap memiliki kebebasan untuk menentukan cara hidup kita sendiri. Monogami mungkin dominan di banyak masyarakat manusia saat ini, tetapi sejarah dan data genetik mengingatkan kita bahwa pilihan itu tidak selalu menjadi satu-satunya jalan yang diambil oleh nenek moyang kita.
Referensi
- Dyble, M., Opie, C., dkk. (2024). Monogamy and reproductive skew inferred from full- and half-sibling relationships across mammals. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, Vol. 291, No. 2024.
- Opie, C., dkk. (2013). The evolution of monogamy in mammals. Science, Vol. 341, No. 6145.
- University of Cambridge. Humans rank seventh among mammals for monogamy, genetic study reveals. Diakses 30 Desember 2025.
- University of Bristol. Sexual selection, infanticide, and the evolution of mating systems. Diakses 30 Desember 2025.
- Encyclopaedia Britannica. Monogamy and mating systems in mammals. Diakses 30 Desember 2025.

