Lidah buaya telah menjadi bagian dari kehidupan manusia selama ribuan tahun. Banyak orang memanfaatkan tanaman ini untuk meredakan kulit yang terbakar matahari, mempercepat penyembuhan luka ringan, mengurangi iritasi, hingga menjaga kelembapan kulit. Hampir setiap toko kosmetik maupun apotek menjual produk yang mengandung ekstrak lidah buaya karena tanaman ini memiliki reputasi sebagai bahan alami yang menenangkan kulit. Meskipun manfaat tersebut sudah dikenal luas, para ilmuwan masih terus meneliti bagaimana sebenarnya lidah buaya bekerja di dalam tubuh. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tanaman ini tidak hanya memberikan efek menenangkan pada permukaan kulit, tetapi juga mampu melindungi sel kulit dari kerusakan akibat radikal bebas. Temuan tersebut memberikan penjelasan ilmiah mengenai salah satu alasan mengapa lidah buaya selama ini banyak digunakan dalam dunia dermatologi.
Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada
Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2026 dalam jurnal Annals of Agricultural and Environmental Medicine membandingkan aktivitas antioksidan empat tanaman yang selama bertahun tahun digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit kulit. Keempat tanaman tersebut adalah lidah buaya, Bryophyllum pinnatum, Callisia fragrans, dan Pelargonium graveolens. Para peneliti ingin mengetahui apakah tanaman tanaman tersebut benar benar mampu melindungi sel kulit dari kerusakan akibat stres oksidatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lidah buaya termasuk tanaman yang memberikan perlindungan paling baik terhadap sel fibroblas, yaitu sel yang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan dan memperbaiki jaringan kulit.
Untuk memahami pentingnya hasil penelitian ini, kita perlu mengenal terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan radikal bebas. Radikal bebas merupakan molekul yang sangat reaktif karena memiliki elektron yang tidak berpasangan. Molekul ini sebenarnya selalu terbentuk di dalam tubuh sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Selain berasal dari dalam tubuh, radikal bebas juga muncul akibat paparan sinar ultraviolet, polusi udara, asap rokok, bahan kimia, pola makan yang kurang sehat, hingga stres berkepanjangan.
Jumlah radikal bebas yang sedikit sebenarnya tidak selalu merugikan. Tubuh bahkan memanfaatkan molekul tersebut untuk membantu melawan mikroorganisme penyebab penyakit dan mengatur berbagai proses biologis. Namun, masalah mulai muncul ketika jumlah radikal bebas meningkat secara berlebihan. Kondisi tersebut menyebabkan radikal bebas mulai menyerang berbagai komponen penting di dalam sel, seperti lemak, protein, dan materi genetik. Akibatnya, sel mengalami kerusakan yang dapat mengganggu fungsi normal jaringan.
Tubuh manusia sebenarnya memiliki sistem pertahanan alami berupa antioksidan. Senyawa ini bekerja dengan cara menangkap radikal bebas sebelum sempat merusak sel. Ketika jumlah antioksidan lebih rendah daripada jumlah radikal bebas, tubuh mengalami kondisi yang disebut stres oksidatif. Banyak penelitian mengaitkan stres oksidatif dengan proses penuaan kulit, munculnya keriput, peradangan kronis, penyembuhan luka yang lebih lambat, hingga meningkatnya risiko berbagai penyakit.
Untuk mempelajari kondisi tersebut, para peneliti menggunakan sel fibroblas sebagai model penelitian. Fibroblas merupakan salah satu jenis sel yang paling penting di dalam kulit karena bertugas menghasilkan kolagen, elastin, dan berbagai komponen jaringan ikat lainnya. Kolagen memberikan kekuatan pada kulit, sedangkan elastin menjaga kulit tetap lentur. Fibroblas juga berperan besar dalam memperbaiki jaringan ketika terjadi luka. Jika sel ini mengalami kerusakan, proses penyembuhan kulit dapat berjalan lebih lambat.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menciptakan kondisi stres oksidatif dengan memberikan hidrogen peroksida pada sel fibroblas. Hidrogen peroksida sering digunakan dalam penelitian laboratorium karena mampu menghasilkan radikal bebas sehingga menyerupai kondisi ketika sel mengalami tekanan oksidatif. Setelah itu, para peneliti memberikan ekstrak dari masing masing tanaman untuk melihat apakah sel memperoleh perlindungan dari kerusakan tersebut.
Para peneliti kemudian mengukur beberapa indikator biologis yang dapat menunjukkan tingkat kerusakan sel. Salah satu indikator yang digunakan adalah Ferric Reducing Antioxidant Power atau FRAP. Pengujian ini menggambarkan kemampuan antioksidan dalam mereduksi ion besi sehingga memberikan gambaran mengenai kapasitas antioksidan suatu sampel. Semakin baik kemampuan antioksidan suatu bahan, semakin besar kemampuannya membantu melindungi sel dari serangan radikal bebas.
Selain FRAP, penelitian ini juga mengukur kadar malondialdehida atau MDA. Senyawa ini terbentuk ketika radikal bebas merusak lemak penyusun membran sel. Oleh karena itu, kadar MDA sering digunakan sebagai penanda terjadinya kerusakan akibat proses oksidasi. Semakin rendah kadar MDA, semakin kecil tingkat kerusakan yang dialami sel.
Parameter lain yang diamati adalah kadar gugus karbonil pada protein. Protein yang mengalami oksidasi akan mengalami perubahan struktur sehingga membentuk gugus karbonil dalam jumlah lebih tinggi. Peningkatan kadar karbonil protein menunjukkan bahwa radikal bebas telah menyerang protein penting yang dibutuhkan sel untuk menjalankan berbagai fungsi biologis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak lidah buaya memberikan perlindungan yang cukup kuat terhadap sel fibroblas. Para peneliti menemukan penurunan kadar MDA setelah pemberian ekstrak lidah buaya. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kerusakan lemak penyusun membran sel menjadi lebih rendah. Penelitian juga menunjukkan penurunan kadar karbonil protein sehingga struktur protein di dalam sel tetap lebih terjaga dibandingkan kelompok yang tidak memperoleh perlindungan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa senyawa aktif di dalam lidah buaya mampu membantu mengurangi dampak stres oksidatif pada sel kulit. Dengan kata lain, ekstrak lidah buaya membantu menjaga sel tetap berada dalam kondisi yang lebih sehat ketika menghadapi paparan radikal bebas.
Penelitian ini juga membandingkan hasil lidah buaya dengan tiga tanaman obat lainnya. Ekstrak Bryophyllum pinnatum dan Pelargonium graveolens juga menunjukkan aktivitas antioksidan yang baik. Kedua tanaman tersebut membantu menurunkan beberapa indikator kerusakan akibat radikal bebas sehingga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan dalam produk perawatan kulit.
Sementara itu, hasil yang berbeda muncul pada Callisia fragrans. Tanaman ini tidak menunjukkan pola perlindungan yang sama. Pada beberapa pengujian bahkan terlihat peningkatan kadar karbonil protein yang mengindikasikan kemungkinan munculnya efek prooksidan pada kondisi tertentu. Efek prooksidan berarti suatu senyawa justru dapat meningkatkan proses oksidasi apabila digunakan dalam kondisi tertentu. Para peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut masih memerlukan penelitian lanjutan sehingga belum dapat dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan mengenai keamanan tanaman tersebut.
Mengapa lidah buaya mampu memberikan perlindungan seperti ini? Jawabannya kemungkinan berasal dari kandungan senyawa bioaktif yang sangat beragam. Lidah buaya mengandung berbagai vitamin seperti vitamin A, vitamin C, dan vitamin E yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan. Selain itu terdapat flavonoid, polisakarida seperti acemannan, enzim, mineral, sterol, serta berbagai senyawa fenolik yang bekerja melalui mekanisme yang saling melengkapi. Sebagian senyawa membantu menangkap radikal bebas secara langsung, sedangkan senyawa lainnya membantu mengurangi peradangan atau mendukung proses regenerasi jaringan.
Keberadaan berbagai senyawa tersebut membuat lidah buaya tidak hanya berfungsi sebagai pelembap alami. Tanaman ini juga membantu menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi proses penyembuhan kulit. Hal tersebut menjelaskan mengapa lidah buaya banyak dimanfaatkan pada produk gel setelah terkena sinar matahari, salep untuk luka ringan, masker wajah, hingga berbagai produk kosmetik modern.
Walaupun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, masyarakat tetap perlu memahami bahwa penelitian dilakukan menggunakan sel di laboratorium. Penelitian semacam ini sangat penting untuk memahami mekanisme kerja suatu bahan, tetapi belum dapat langsung membuktikan efektivitasnya pada manusia. Uji klinis masih diperlukan untuk mengetahui dosis yang paling efektif, keamanan penggunaan jangka panjang, serta manfaatnya pada berbagai jenis penyakit kulit.
Penelitian ini memberikan bukti ilmiah yang semakin memperkuat posisi lidah buaya sebagai salah satu tanaman dengan potensi besar dalam bidang kesehatan kulit. Kemampuannya membantu melindungi fibroblas dari kerusakan akibat radikal bebas memberikan penjelasan ilmiah mengapa tanaman ini sejak lama dipercaya mampu mendukung penyembuhan luka dan menjaga kesehatan kulit. Apabila penelitian lanjutan pada manusia menghasilkan temuan yang serupa, lidah buaya berpeluang semakin luas dimanfaatkan sebagai bahan aktif dalam produk dermatologi yang tidak hanya menenangkan kulit, tetapi juga membantu melindungi sel dari kerusakan akibat stres oksidatif.
Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya
REFERENSI:
Horecka, Anna dkk. 2026. Do Aloe vera, Bryophyllum pinnatum, Callisia fragrans, and Pelargonium graveolens, used in folk medicine to treat skin diseases, exhibit antioxidant activity?. Annals of Agricultural and Environmental Medicine.

