Menjadi Seorang Poliglot, Bermanfaatkah?

Apa sih poliglot itu? Apakah orang yang dapat berbicara lebih dari dua bahasa adalah seorang poliglot? Bukankah hampir tiap orang […]

blank

Apa sih poliglot itu? Apakah orang yang dapat berbicara lebih dari dua bahasa adalah seorang poliglot? Bukankah hampir tiap orang Indonesia mampu berbicara setidaknya dua bahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa lokal tempat ia berasal?). Berdasarkan tanya jawab saya dengan seorang polyglot asal Amerika Serikat namun berkebangsaan Jepang bernama Tim Keeley, terdapat perbedaan antara seorang multilingual dan poliglot. Multilingual adalah seseorang yang mampu bercakap lebih dari dua bahasa dikarenakan faktor keturunan atau lingkungan tempat ia tinggal. Sehingga ia tidak memerlukan usaha ekstra untuk menguasai bahasa. Sedangkan seorang poliglot mendapatkan kemampuan berbahasanya lebih karena ia sengaja mempelajari berbagai bahasa tersebut.

Banyak sekali pihak yang mampu menguasai berbagai bahasa baik karena ia multilingual ataupun poliglot. Seorang poliglot dari Hungaria bernama Kato Lomb dalam sebuah bukunya ‘Polyglot: How I learn languages’ menjelaskan bahwa ia menjadi lebih mudah untuk mempelajari bahasa tatkala usianya menginjak 30 tahun. Ia menjadi seorang interpreter dan translator profesional dalam 16 bahasa. Hal inilah yang mengantarkannya untuk berkeliling dunia.

Indonesia juga memiliki sosok poliglot, yaitu Sosrokartono, kakak dari RA Kartini. Bahkan ia adalah orang Indonesia pertama yang berkuliah di Belanda pada masa itu. Ia tercatat menguasai lebih dari 30 bahasa, termasuk bahasa lokal. Ia adalah seorang wartawan perang di surat kabar ternama, dan menjadi saksi berakhirnya perang dunia pertama. Ia juga pernah menjadi penerjemah dalam teks panjang dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Rusia. Selama menjadi penerjemah, gaji Sosrokartono terbilang cukup fantantis saat itu US$ 1250 per bulan. Kartono sempat menjadi kepala penerjemah untuk Liga Bangsa-Bangsa tahun 1919-1921. Dan selama 25 tahun berkarir di Eropa.  

Bahkan Soekarno, Presiden Pertama Indonesia juga mampu menguasai berbagai bahasa selain Bahasa Indonesia dan Jawa, seperti Bahasa Sunda, Bali, Arab, Belanda, Jerman, Prancis, Inggris, dan Jepang.[1]

Kemudian, kenapa banyak orang memutuskan untuk mempelajari dan menguasai banyak bahasa? Tentu lain orang, lain alasan. Banyak keuntungan yang didapatkan oleh seorang poliglot, di antaranya[2]:

  1. Kesempatan mendapatkan banyak peluang kerja terutama di perusahaan multinasional. Baik sebagai translator maupun interpreter profesional.
  2. Kesempatan untuk berkeliliing dunia, dengan menjadi translator ataupun interpreter tersebut. Ataupun mampu memperluas bisnis hingga ke manca negara.
  3. Mampu berkomunikasi dengan banyak orang di dunia dengan bahasa asli mereka.
  4. Berkesempatan untuk mendapatkan akomodasi atau barang-barang dengan harga yang lebih karena mampu berbahasa lokal, sewaktu mengunjungi negara tertentu.
  5. Mendukung pekerjaan yang saat ini digelutinya dengan lebih berpikiran terbuka terhadap dunia internasional.

Nah, dari sekian keuntungan tersebut dan tentunya masih banyak keuntungan lain, apakah kalian berkeinginan untuk menjadi seorang poliglot juga? Bila iya, bahasa apa saja yang ingin kalian pelajari dan mengapa?

Sumber:

https://www.britannica.com/biography/Sukarno diakses 4 Juli 2021.

http://www.thelinguafile.com/2020/03/the-benefits-of-becoming-polyglot-by.html#.YN3BkugzZPY diakses 4 Juli 2021.

Lomb, Kato. 2008. Polyglot: How I learn languages. TESL:EJ.


[1] https://www.britannica.com/biography/Sukarno

[2] http://www.thelinguafile.com/2020/03/the-benefits-of-becoming-polyglot-by.html#.YN3BkugzZPY

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *