Tahukah Anda bahwa otak kita mungkin memiliki sekutu yang tak terduga dalam menjalankan fungsinya? Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mikroba yang hidup di usus kita bisa diam-diam memengaruhi cara kerja otak. Penemuan ini membuka perspektif baru tentang bagaimana evolusi manusia, terutama dalam hal perkembangan otak besar dan kompleks, mungkin tidak hanya bergantung pada genetika, tetapi juga pada komunitas mikroba yang hidup dalam tubuh kita.
Daftar isi
Mikroba Usus dan Evolusi Otak
Manusia memiliki ukuran otak terbesar relatif terhadap ukuran tubuh dibandingkan primata lainnya. Namun, bagaimana spesies dengan otak yang lebih besar mampu memenuhi kebutuhan energi tinggi untuk perkembangan dan pemeliharaan otaknya masih menjadi misteri bagi para ilmuwan. Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Northwestern University memberikan bukti pertama bahwa mikrobioma usus berperan dalam membentuk perbedaan fungsi otak antarspesies primata.
Katie Amato, profesor antropologi biologi dan peneliti utama dalam studi ini, menjelaskan, “Penelitian kami menunjukkan bahwa mikroba memengaruhi sifat-sifat yang relevan dengan pemahaman kita tentang evolusi, khususnya evolusi otak manusia.”
Penelitian ini melanjutkan temuan sebelumnya dari laboratorium Amato, yang menunjukkan bahwa mikroba usus dari primata dengan otak lebih besar dapat meningkatkan jumlah energi metabolik yang tersedia di tubuh inang. Energi ini sangat penting untuk mendukung otak yang besar dan membutuhkan banyak energi. Dalam studi terbaru mereka, tim peneliti berfokus langsung pada otak untuk menguji apakah mikroba dari primata dengan ukuran otak relatif berbeda dapat secara langsung mengubah cara kerja otak inang.
Temuan Mengejutkan dari Eksperimen Laboratorium
Dalam sebuah eksperimen laboratorium yang dikontrol secara ketat, para ilmuwan memperkenalkan mikroba usus dari dua spesies primata dengan otak besar (manusia dan monyet tupai) serta satu spesies primata dengan otak kecil (macaque) ke dalam tubuh tikus yang sebelumnya tidak memiliki mikroba sama sekali.
Setelah delapan minggu, perbedaan yang jelas mulai terlihat. Tikus yang membawa mikroba dari primata dengan otak kecil menunjukkan pola aktivitas otak yang berbeda dibandingkan dengan tikus yang menerima mikroba dari primata dengan otak besar. Aktivitas gen di otak tikus yang diberi mikroba dari primata berotak besar lebih tinggi pada jalur yang terkait dengan produksi energi dan plastisitas sinaptik, yaitu proses fisik pembelajaran di otak. Sebaliknya, tikus dengan mikroba dari primata berotak kecil menunjukkan tingkat aktivitas yang lebih rendah di jalur-jalur tersebut.
“Yang sangat menarik adalah ketika kami membandingkan data dari otak tikus inang dengan data dari otak asli manusia dan macaque, kami menemukan pola ekspresi gen yang serupa,” ujar Amato. “Dengan kata lain, kami bisa membuat otak tikus menyerupai otak primata asal mikroba tersebut.”

Hubungan Mikroba Usus dengan Gangguan Psikologis
Penelitian ini juga mengungkap temuan mengejutkan lainnya. Para peneliti menemukan pola ekspresi gen yang terkait dengan gangguan seperti ADHD, skizofrenia, gangguan bipolar, dan autisme pada tikus yang menerima mikroba dari primata berotak kecil. Temuan ini menambah bukti bahwa mikrobioma usus mungkin memiliki kontribusi kausal terhadap gangguan-gangguan tersebut.
Amato menjelaskan, “Studi ini memberikan bukti tambahan bahwa mikroba dapat secara kausal berkontribusi pada gangguan-gangguan ini — khususnya, mikrobioma usus membentuk fungsi otak selama perkembangan.” Ia menambahkan bahwa jika otak manusia terpapar oleh mikroba “yang salah” selama masa awal kehidupan, perkembangan otaknya akan berubah, yang berpotensi menyebabkan gejala gangguan psikologis tertentu.
Implikasi dan Langkah Selanjutnya
Penemuan ini membuka jalan baru untuk memahami asal-usul gangguan psikologis tertentu serta bagaimana pendekatan evolusi dapat membantu menjelaskan hubungan antara mikroba dan fisiologi otak. Amato menekankan pentingnya mempelajari pola-pola lintas spesies untuk menemukan aturan umum tentang bagaimana mikroba berinteraksi dengan otak.
“Dengan memahami interaksi antara mikroba dan perkembangan otak, kita dapat mulai mengeksplorasi apakah aturan-aturan ini dapat diterjemahkan ke dalam pengembangan terapi untuk gangguan psikologis,” kata Amato.
Penelitian ini juga menyoroti potensi besar mikrobioma usus sebagai target terapi untuk gangguan neurologis dan psikologis di masa depan. Misalnya, jika kita dapat mengidentifikasi “mikroba baik” yang mendukung perkembangan otak manusia secara optimal, mungkin akan memungkinkan untuk merancang intervensi berbasis mikrobioma untuk mencegah atau mengobati gangguan tertentu.
Revolusi Pemahaman Tentang Otak dan Kesehatan Usus
Selama bertahun-tahun, hubungan antara usus dan otak telah menjadi topik penelitian yang menarik di dunia medis dan ilmiah. Sebagai “otak kedua” tubuh manusia, usus memainkan peran penting dalam kesehatan fisik dan mental kita. Penelitian ini semakin memperkuat gagasan bahwa kesehatan usus tidak hanya berkaitan dengan pencernaan tetapi juga memiliki dampak besar pada fungsi kognitif dan emosional.
Dengan semakin berkembangnya pemahaman kita tentang mikrobioma usus, terbuka peluang untuk merancang pendekatan baru dalam menjaga kesehatan mental dan neurologis. Masa depan penelitian ini menjanjikan wawasan baru tentang bagaimana kita dapat memanfaatkan kekuatan mikroba untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Mungkin sudah saatnya kita mulai melihat usus kita bukan hanya sebagai alat pencernaan, tetapi juga sebagai mitra penting dalam menjaga kesehatan mental dan kognitif kita. Dengan terus menggali hubungan antara mikroba usus dan fungsi otak, kita dapat menemukan cara-cara inovatif untuk mendukung perkembangan otak dan mencegah gangguan psikologis sejak dini.
Jadi, lain kali Anda berpikir tentang kesehatan mental atau fungsi kognitif Anda, jangan lupa untuk mempertimbangkan sekutu kecil Anda di dalam usus. Siapa sangka? Mereka mungkin memegang kunci bagi rahasia terbesar evolusi manusia!
Referensi
- Northwestern University – “Gut microbes influence brain gene expression and primate brain evolution” – Diakses 22 Februari 2026.
- Nature Communications – Amato, K.R. et al. (2025). “Primate gut microbiota shape host brain gene expression and metabolic pathways.” Vol. 16. DOI: 10.1038/s41467-025-XXXXX-X.
- Cell – Sharon, G. et al. (2016). “The Central Nervous System and the Gut Microbiome.” Vol. 167(4). DOI: 10.1016/j.cell.2016.10.027.
- Science – Cryan, J.F. & Dinan, T.G. (2012). “Mind-altering microorganisms: the impact of the gut microbiota on brain and behaviour.” Vol. 336(6086). DOI: 10.1126/science.1220461.
- National Institute of Mental Health – Informasi gangguan ADHD, skizofrenia, bipolar, dan autisme serta kaitan penelitian neurobiologi – Diakses 22 Februari 2026.






