Bayangkan sebuah pesawat ruang angkasa perlahan mendarat di permukaan Mars. Planet Merah yang dulunya tandus dan tidak berpenghuni kini berubah menjadi hijau dan subur. Kota-kota modern berdiri megah, orang-orang berjalan santai di taman, dan udara Mars yang kaya oksigen menjadi bagian dari keseharian mereka. Gambaran ini terdengar seperti cerita fiksi ilmiah, namun inilah impian besar yang sedang diupayakan oleh para ilmuwan: menjadikan Mars layak huni bagi manusia.
Namun, perjalanan menuju impian ini tidaklah mudah. Membuat Mars menyerupai Bumi, atau yang disebut dengan “terraforming,” adalah tantangan besar yang melibatkan berbagai aspek ilmiah, teknologis, dan bahkan etika. Salah satu tantangan terbesar adalah menciptakan atmosfer yang cukup tebal dan kaya oksigen untuk mendukung kehidupan manusia.

Mengapa Atmosfer Mars Tidak Cukup?
Atmosfer Mars saat ini sebagian besar terdiri dari karbon dioksida (CO₂), tetapi jumlahnya terlalu sedikit untuk menjebak panas matahari dan menciptakan efek rumah kaca yang diperlukan agar air dapat tetap dalam bentuk cair. Selain itu, Mars memiliki gravitasi yang lebih lemah dibandingkan Bumi karena ukurannya yang hanya setengah dari Bumi. Hal ini membuat Mars sulit mempertahankan atmosfer yang stabil.
Menurut Paul Byrne, seorang ilmuwan planet dari Washington University di St. Louis, langkah pertama dalam proses terraformasi adalah menghasilkan cukup CO₂ untuk mengentalkan atmosfer dan memulai efek rumah kaca. Salah satu idenya adalah mengekstraksi CO₂ dari sumber-sumber di Mars, seperti mineral yang mengandung karbon dan oksigen, atau lapisan es di kutub Mars yang menyimpan CO₂. Namun, penelitian menunjukkan bahwa jumlah CO₂ di seluruh planet Mars hanya cukup untuk menebalkan atmosfer hingga sekitar 7 persen dari atmosfer Bumi—jauh dari cukup untuk mendukung kehidupan.
Solusi Ambisius: Mengaktifkan Vulkanisme dan Mengarahkan Asteroid
Beberapa ilmuwan memiliki ide lebih radikal, seperti memicu letusan gunung berapi di Mars untuk melepaskan CO₂ ke atmosfer. Salah satu cara yang diusulkan adalah mengarahkan asteroid ke Mars untuk menciptakan tekanan yang cukup besar agar gunung berapi aktif. Meskipun secara teori hal ini mungkin dilakukan, tantangan teknisnya sangat besar. Kecepatan asteroid yang masuk dapat menyebabkan dampak yang merusak secara katastrofik.
Sebagai referensi, NASA telah menunjukkan kemampuan manusia untuk mengubah jalur asteroid melalui misi DART pada tahun 2022. Pesawat ruang angkasa DART berhasil menabrakkan dirinya ke asteroid Dimorphos untuk mengubah orbitnya. Namun, Byrne memperingatkan bahwa dibutuhkan banyak asteroid untuk menghasilkan cukup CO₂ bagi atmosfer Mars.
Membuat Udara Layak Dihirup: Tantangan Oksigen
Jika atmosfer Mars berhasil dibuat lebih tebal dan hangat, langkah berikutnya adalah menciptakan udara yang dapat dihirup manusia. Oksigen bebas, yaitu oksigen yang tidak terikat secara kimia dengan elemen lain, harus mencapai sekitar 21 persen dari komposisi atmosfer agar manusia dapat bernapas dengan nyaman. Sisanya sebagian besar terdiri dari nitrogen.
Salah satu solusi potensial adalah menggunakan mikroba penghasil oksigen, seperti cyanobacteria. Mikroba ini diyakini telah memicu peningkatan oksigen bebas di Bumi lebih dari 2 miliar tahun yang lalu melalui proses fotosintesis. Dengan memodifikasi genetik cyanobacteria agar tahan terhadap kondisi ekstrem di Mars, mereka dapat digunakan untuk mengubah CO₂ menjadi oksigen bebas secara alami.
Pendekatan biologis ini dianggap lebih aman dibandingkan menggunakan mesin pembuat oksigen. Menurut Sara Seager, astrofisikawan dari MIT, ketergantungan pada mesin sangat berisiko karena kegagalan kecil dapat berakibat fatal bagi koloni manusia di Mars.
Hambatan Lain: Radiasi dan Permukaan Beracun
Terraformasi bukan hanya soal atmosfer. Permukaan Mars mengandung garam beracun yang disebut perchlorates, yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Selain itu, tidak adanya medan magnet di Mars membuat planet ini rentan terhadap radiasi mematikan dari matahari dan ruang angkasa. Perlindungan terhadap radiasi menjadi prioritas utama bagi para insinyur dan ilmuwan yang merancang habitat di Mars.
Jangka Waktu dan Realitas Terraformasi
Meskipun banyak ide brilian telah diajukan, proses terraformasi Mars diperkirakan akan memakan waktu ratusan hingga ribuan tahun untuk mencapai hasil yang optimal. Teknologi yang diperlukan masih dalam tahap awal pengembangan, dan tantangan teknis maupun logistik sangat besar. Byrne menegaskan bahwa terraformasi Mars adalah proyek jangka panjang yang tidak mungkin terwujud dalam waktu dekat.
Namun demikian, langkah awal menuju eksplorasi Mars sudah mulai dilakukan. Beberapa badan antariksa, termasuk NASA dan SpaceX, sedang bekerja keras untuk mengirim astronot pertama ke Mars dalam dekade mendatang. Misi ini akan menjadi batu loncatan penting untuk memahami kondisi Mars secara lebih mendalam dan menguji teknologi yang mungkin digunakan dalam terraformasi.
Risiko Besar, Hadiah Besar
Proses terraformasi membawa risiko besar. Malfungsi kecil pada teknologi terraformasi dapat berakibat fatal bagi koloni manusia di Mars. “Kita sangat rapuh,” kata Seager. “Itulah sebabnya pertanyaan tentang terraformasi sangat menantang.”
Namun, jika berhasil, terraformasi Mars akan menjadi pencapaian luar biasa bagi umat manusia. Tidak hanya membuka peluang baru untuk eksplorasi ruang angkasa, tetapi juga memberikan alternatif bagi keberlangsungan hidup manusia jika Bumi menghadapi krisis besar di masa depan.
Kesimpulan
Mengubah Mars menjadi planet layak huni adalah salah satu tantangan terbesar dalam sejarah manusia. Dari menciptakan atmosfer tebal hingga menghasilkan oksigen bebas dan melindungi koloni dari radiasi mematikan, setiap langkah membutuhkan inovasi ilmiah yang luar biasa. Meskipun perjalanan ini masih jauh dari selesai, semangat eksplorasi dan tekad manusia untuk menjelajahi batas-batas baru terus mendorong kita maju.
Mars mungkin terlihat seperti mimpi jauh saat ini, tetapi siapa tahu? Dalam beberapa abad mendatang, kita mungkin benar-benar melihat kota-kota hijau tumbuh subur di permukaan Planet Merah—dan manusia bernapas lega di bawah langit Mars.
Referensi
- Inventory of CO₂ available for terraforming Mars (LASP, University of Colorado) — Membahas jumlah CO₂ yang ada di Mars, termasuk reservoir non-atmosferik seperti es kutub, karbonat, dan adsorpsi tanah, serta apakah CO₂ tersebut bisa dilepaskan kembali untuk mengentalkan atmosfer. lasp.colorado.edu
- Cyanobacteria as Candidates to Support Mars Colonization — Studi tentang beberapa spesies cyanobacteria dan microalga yang “ditanam” menggunakan material dari Mars (tanah simulasi + air) untuk melihat kemampuan mereka menghasilkan oksigen dan bertahan hidup dalam kondisi ala Mars. PMC
- Enabling deep-space experimentations on cyanobacteria — Meneliti bagaimana cyanobacteria dapat mendukung sistem pendukung kehidupan di ruang angkasa untuk misi jangka panjang, termasuk di Mars. PMC
- Survival of Filamentous Cyanobacteria Through Martian ISRU — Eksperimen menunjukkan cyanobacteria dapat bertahan (setelah kondisi pengeringan) dan pulih dalam beberapa waktu ketika berada di tanah simulasi Mars dengan eksposur radiasi / kondisi ekstrem. PMC
- Perchlorate on Mars – overview and implications (NASA) — Menjelaskan distribusi perchlorate di permukaan Mars, dampaknya terhadap kesehatan manusia (contohnya pengaruhnya terhadap tiroid karena mengganggu penyerapan iodida), dan perannya dalam utilisasi sumber daya di Mars. NASA Technical Reports Server
- Mars’ Curiosity Rover finds evidence for long-ago CO₂ atmosphere — Penemuan mineral siderit di Gale Crater yang menunjukkan bahwa Mars pernah punya atmosfer CO₂ lebih tebal dan cukup untuk menopang air cair di permukaan. University of Chicago News

