Ketika penonton menyaksikan film A Simple Favor, banyak yang segera tertarik oleh pesona dingin dan misterius Emily Nelson. Ia tampil elegan, cerdas, dan sulit ditebak. Namun di balik gaya hidup glamor dan tutur kata yang tajam, tersembunyi pola kepribadian yang jauh lebih rumit. Penelitian yang dilakukan oleh Theresia Mundi Astuti, Hema Saoumi, dan Bayu Andika Prasatyo menelusuri lebih dalam karakter Emily, khususnya ciri ciri sosiopatik yang muncul dalam film tersebut.
Hasil penelitian ini bukan hanya membantu memahami karakter fiksi, tetapi juga memberikan perspektif baru tentang bagaimana sifat sosiopatik muncul, bekerja, dan mengapa sering kali memikat sekaligus menakutkan.
Baca juga artikel tentang: Efek Psikologis dari Balasan Singkat: Ketika “Oke” Menjadi Sumber Stres Sosial Digital
Mengapa Emily Nelson Menarik untuk Diteliti?
Emily bukan tokoh antagonis biasa. Ia bukan sosok jahat yang melakukan tindakan kekerasan secara membabi buta. Sebaliknya, ia manipulatif, penuh percaya diri hingga ke titik berlebihan, dan sering kali menggunakan daya tarik serta kecerdasannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Inilah yang membuatnya relevan sebagai bahan studi psikologi. Karakter seperti Emily mewakili gambaran yang sering muncul di budaya populer tentang sosok sosiopat: menawan, ekspresif, cerdas, tetapi tidak memiliki empati mendalam. Penelitian ini mencoba memilah mana ciri yang benar benar sesuai literatur psikologis dan mana yang lebih merupakan bumbu dramatis film.
Apa Itu Sosiopati?
Sosiopati sering diasosiasikan dengan istilah antisocial personality disorder atau gangguan kepribadian antisosial. Individu dengan kondisi ini biasanya memiliki tiga ciri utama.
Pertama, mereka kesulitan mengikuti norma sosial dan aturan moral.
Kedua, mereka kurang memiliki empati serta merasa sedikit sekali atau bahkan tidak merasa bersalah atas tindakan yang merugikan orang lain.
Ketiga, mereka cenderung manipulatif, impulsif, dan agresif.
Namun, penting dipahami bahwa sosiopati bukan hanya tentang menjadi “orang jahat.” Banyak faktor seperti pengalaman masa kecil, pola asuh, situasi sosial, dan trauma berperan dalam pembentukannya.
Tiga Dimensi Sosiopati pada Emily Nelson
Penelitian tersebut menemukan bahwa karakter Emily menunjukkan kombinasi tiga ciri utama yang sering muncul pada sosok sosiopat, yaitu sifat narsistik, amoral, dan agresif.
Sifat Narsistik: Merasa Paling Penting
Sifat narsistik Emily terlihat jelas sejak awal film. Ia menunjukkan kepercayaan diri berlebihan dan selalu berada di pusat perhatian. Bagi Emily, segala sesuatu berputar mengelilinginya. Ia merasa berhak atas perlakuan istimewa dan tidak ragu menggunakan pesonanya untuk mengendalikan orang lain.
Narsisme seperti ini bukan sekadar rasa percaya diri. Pada tingkat ekstrem, individu seperti Emily melihat orang lain sebagai alat. Hubungan pribadi pun menjadi sarana mencapai tujuan, bukan ikatan emosional tulus.
Sifat Amoral: Tidak Ada Rasa Bersalah
Ciri kedua yang muncul adalah amoralitas. Dalam banyak adegan, Emily mampu melakukan tindakan ekstrem tanpa rasa bersalah. Ia memanipulasi, berbohong, dan mengambil keputusan berisiko tinggi, tetapi tetap tampil tenang.
Sifat amoral ini muncul ketika seseorang tidak memiliki mekanisme internal untuk menilai benar dan salah secara emosional. Mereka dapat memahami konsep moral secara intelektual, tetapi tidak merasakan beban emosional ketika melanggarnya.
Emily menggambarkan ini dengan sempurna. Ia melihat tindakan merugikan sebagai strategi cerdas, bukan masalah etika.
Agresivitas: Baik Fisik maupun Psikologis
Sosiopati sering dikaitkan dengan bentuk agresivitas yang tidak selalu berupa kekerasan fisik. Agresivitas Emily bersifat utilitarian. Ia menggunakan ancaman, tekanan psikologis, dan manipulasi untuk mengontrol situasi.
Agresivitas ini bergerak secara halus dan terencana, berbeda dari karakter yang sekadar impulsif. Emily menunjukkan bahwa agresi juga bisa berupa strategi yang didorong oleh perhitungan matang.
Mengapa Kita Sering Terpikat oleh Tokoh Sosiopat?
Karakter fiksi seperti Emily Nelson memiliki daya tarik kuat karena mereka menggabungkan kecerdasan, keberanian, dan kemampuan melampaui batas moral yang biasanya membatasi orang lain. Mereka bertindak bebas, tanpa hambatan emosional, dan sering kali tampil penuh pesona.
Penonton menikmati sensasi menyaksikan seseorang melakukan hal hal yang tidak dapat mereka lakukan dalam kehidupan nyata. Meski demikian, film sering kali mengabaikan penderitaan nyata yang dialami orang di sekitar individu seperti ini dalam dunia nyata.
Keterbatasan Studi: Karakter Fiksi Bukan Gambaran Lengkap
Para peneliti menekankan bahwa temuan mereka berlaku dalam konteks film. Emily adalah karakter yang dirancang untuk menciptakan drama, ketegangan, dan daya kejutan. Ia bukan representasi ilmiah dari seluruh spektrum gangguan kepribadian antisosial.
Dalam dunia nyata, individu dengan kondisi ini memiliki latar belakang dan pengalaman berbeda. Mereka tidak selalu glamor, tidak selalu berbahaya, dan tidak selalu ekstrem seperti penggambaran di film.
Mengapa Penting Mempelajari Representasi Sosiopati di Media?
Film dan karya sastra sering membentuk cara masyarakat memahami gangguan psikologis. Ketika sebuah film menggambarkan sosiopati secara berlebihan, penonton bisa memiliki persepsi salah tentang kondisi ini.
Studi seperti milik Astuti dan rekan rekannya membantu menjembatani kesenjangan tersebut. Dengan menganalisis karakter fiksi melalui kerangka psikologi yang lebih jelas, masyarakat bisa mendapatkan pemahaman lebih seimbang.
Kita bisa menikmati drama dalam film, tetapi tetap mampu membedakan mana representasi artistik dan mana realitas psikologis.
Emily Nelson dalam A Simple Favor bukan sekadar karakter antagonis. Ia menjadi cermin yang memperlihatkan bagaimana sifat sosiopatik bekerja, bagaimana manipulasi dapat berjalan halus, dan bagaimana seseorang dapat tampak sempurna sambil menyembunyikan kekacauan batin.
Penelitian ini menegaskan bahwa memahami gangguan kepribadian, bahkan melalui karakter fiksi, dapat membantu masyarakat melihat bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi kombinasi emosi, pengalaman hidup, dan kondisi psikologis.
Pada akhirnya, film seperti A Simple Favor menawarkan kesempatan untuk merenungkan bahwa tidak semua yang tampak memesona benar benar aman. Di balik senyum dan kecerdasan seseorang, kadang terdapat pola kepribadian yang jauh lebih gelap dan rumit.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kita Suka Mendengarkan Lagu Sedih Saat Galau? Jawaban dari Psikologi, Biologi, dan Ilmu Otak
REFERENSI:
Astuti, Theresia Mundi dkk. 2025. Behind the Mask: A Psychological Exploration of Emily Nelson’s Sociopathic Traits in A Simple Favor Movie. JETAL: Journal of English Teaching & Applied Linguistic 6 (2), 165-170.

