Ditulis oleh Rista Fitria Anggraini (Praktisi Bidang Ketahanan Pangan)
Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengingatkan kembali kepada kita tentang urgensi pengiriman bahan pangan saat kondisi darurat, khususnya bencana alam. Pangan adalah yang pertama dicari, krusial, dan bisa berpotensi menyebabkan korban yang lebih banyak apabila ditangani dengan lambat dan tak tepat. Sayangnya, sampai dengan saat ini kita hanya menganggap kalau bantuan berupa beras yang dikirimkan ber-ton ton ataupun tumpukan kardus mie instan itu sudah cukup. Padahal korban bencana alam, tetaplah manusia biasa pada umumnya. Metabolisme tubuhnya berjalan normal, tidak di pause atau di switch mode sehingga sudah cukup hanya dengan mengkonsumsi karbohidrat saja. Mereka tetap perlu konsumsi pangan yang beragam dan bergizi seimbang, sesuai kelompok usia dan kondisinya.
Mengapa Bantuan Pangan Harus Sehat dan Bergizi?
Bayangkan keluarga yang kehilangan tempat tinggal, balita yang harus tetap tumbuh, atau ibu hamil yang butuh nutrisi ekstra. Dalam kondisi darurat, tubuh juga bekerja lebih keras menghadapi stres, tumpukan puing dan lumpur, atau antrean panjang di dapur umum. Dalam guideline berjudul Food and Nutrition Needs in Emergencies yang dikeluarkan oleh WHO bersama lembaga bantuan kemanusiaan internasional lainnya, menekankan pentingnya pemetaan kondisi demografi korban terdampak bencana agar bisa memastikan nutrisi apa yang dibutuhkan mereka. Bahkan, ada guidelinekhusus untuk para bayi 0-6 bulan, 1-2 tahun, ibu hamil, menyusui, dan lansia.
Apakah kita pernah membayangkan saat terjadi bencana alam sekalipun, saudara saudara kita tetap bisa menikmati makanan sehari hari mereka? Saudaura kita di Aceh tetap bisa mengkonsumsi sie reuboh, kuah beulangong, atau ayam tangkap? Saudara kita di Sumatera utara menikmati arsik dan yang di Sumatera Barat dengan rendangnya? Ternyata hal itu bukan khayalan biasa. Teknologi Pangan modern telah menghasilkan Solusi Bernama Retort Pouch.
Teknologi Retort Pouch
Retort pouch adalah kemasan fleksibel berlapis khusus yang dirancang untuk menyimpan makanan siap makan (ready-to-eat) yang telah disterilisasi secara termal. Dengan proses ini, makanan menjadi aman secara mikrobiologis, tahan lama pada suhu ruang, dan langsung bisa dimakan tanpa perlu pemanasan lagi. Teknologi retort pouch banyak dipakai di industri makanan siap saji, makanan ransum militer, hingga produk camping. Namun potensinya jauh lebih besar lagi,bisa menjadi solusi bantuan pangan saat bencana terlebih saat bahan bakar dan dapur umum sangat terbatas.

Gambar 1. Bahan Kemasan Retort Pouch (sunkeypackaging.com, 2025)
Bagaimana Teknologi ini Bekerja?
Secara sederhana, proses retort pouch terdiri dari tiga langkah utama:
- Pengisian & Penyegelan: Makanan yang sudah dimasak dimasukkan ke dalam pouch dan kemudian disegel dengan rapat.
- Sterilisasi Termal (Retorting): Pouch yang telah disegel dimasukkan ke dalam mesin steril (autoclave/retort) di mana makanan dipanaskan pada suhu tinggi dengan tekanan tertentu sehingga semua mikroba patogen (termasuk spora berbahaya seperti Clostridium botulinum) dimatikan.
- Pendinginan & Penyimpanan: Setelah diproses, pouch didinginkan dan makanan siap untuk disimpan di suhu ruang dengan umur simpan yang panjang.
Teknologi retort pouch jelas memiliki keunggulan dibandingkan dengan kemasan tradisional diantaranya :
- Umur simpan lebih panjang (bahkan bisa lebih dari satu tahun) di suhu ruang, tentu ini sangat cocok digunakan sebagai pangan saat kondisi bencana yang minim lemari pendingin.
- Nutrisi pangan lebih terjaga, minimal jika dibandingkan dengan kemasan kaleng karena waktu sterilisasi yang lebih singkat karena kemasan yang lebih tipis.
- Betuknya yang ringan meningkatkan efisiensi dalam penyimpanan dan pengangkutan, sehingga sangat cocok untuk kondisi darurat dengan sumberdaya yang terbatas.
Percaya atau tidak, masakan Indonesia yang kaya rempah dan penuh gizi seperti rendang, soto, pecel, gudeg, atau lodho ayam bisa diproduksi dalam bentuk retort pouch. Dengan formulasi yang tepat dan proses sterilisasi yang terkontrol, makanan-makanan ini tetap aman dikonsumsi setelah diproses, praktis dibawa, dan siap dimakan kapan saja. Bayangkan seorang ibu yang terdampak banjir belum punya dapur umum tetapi dia bisa membuka pouch soto ayam, lengkap dengan daging dan sayuran. Makanan semacam ini tidak hanya mengenyangkan tapi juga mengandung protein, vitamin, mineral, dan zat gizi penting lainnya. Kabar gembiranya saat ini, sudah ada beberapa kelompok UMKM yang memang mengembangkan usaha pangan dengan kemasan retort pouch ini membagikan makanan makanan sehat kepada saudara saudara kita di Aceh, Sumatera utara, dan Sumatera Barat dengan menggunakan pengemasan retort pouch.
Teknologi retort pouch bukan sekadar tren pangan modern — ini merupakan solusi praktis, aman, dan bergizi untuk kebutuhan bantuan pangan saat bencana. Dengan kemampuan menghasilkan makanan siap saji, tahan lama tanpa pendinginan, dan aman secara mikrobiologis, retort pouch dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi korban bencana yang sering kali terabaikan. Lebih dari itu, dengan dukungan UMKM dan kolaborasi industri, teknologi ini juga membuka peluang pengembangan produk lokal yang bernilai tinggi dan bermanfaat secara sosial.
Daftar Pustaka
Food and Nutrition Needs in Emergencies. UNHCR, UNICEF, WFP, WHO. https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/c6f336b9-0c36-4431-80fd-840c05344817/content .
Apa Saja Kantong Retortnya? Artikel Untuk Membantu Anda Memahaminya Dari 7 Bagian Dengan Jelas!.https://www.sunkeypackaging.com/id/What-Are-The-Retort-Pouches-An-Article-To-Help-You-Make-Sense-of-It-From-7-Part-Clearly-id46883516.html .
Murniyati, Murniyati. (2009). PENGGUNAAN RETORT POUCH UNTUK PRODUK PANGAN SIAP SAJI. Squalen Bulletin of Marine and Fisheries Postharvest and Biotechnology. 4. 55. 10.15578/squalen.v4i2.148.

