Ranitidin dan Degradannya

Organoleptis atau ciri fisik adalah hal termudah yang dapat diamati ketika suatu senyawa kimia mengalami perubahan. Biasanya kita akan mengamati hal yang bisa kita indra seperti warna, bau, rasa dan bentuk. Stabilitas akan cenderung dipertanyakan apabila ia tampak tidak biasa. Dalam formulasi obat, data stabilitas berguna untuk menghasilkan formula yg robust, kecocokan dengan packaging primer, penentuan expired date atau tanggal kadaluarsa dan kondisi yang cocok untuk penyimpanan obat.

Ranitidin dengan nama kimia 1,1-ethenediamine,N-[2-[[[5-[(dimethylamino)methyl]-2-furanyl]-methyl]thio]ethyl]-N-methyl-2-nitro) adalah antagonis selektif reseptor histamin-2. Reseptor histamin-2 (H2) salah satu reseptor di lambung yang berguna untuk produksi asam lambung. Penghambatan pada reseptor ini dapat mempengaruhi sekresi asam lambung.

Secara umum, range penerimaan tampak fisik injeksi ranitidin adalah jernih atau clear sampai berwarna kuning. Ranitidin merupakan senyawa kimia yang mudah mengalami degradasi pada keadaan lembab, suhu tinggi dan fotodegradasi UV bahkan teroksidasi oleh adanya oksigen. Stabilitas ranitidin dalam larutan juga dipengaruhi oleh pH lingkungannya. Sifat reaktif ranitidin terhadap hidrolisis dipengaruhi oleh gugus 2-nitro-1,1-vinyldiamino (lingkaran merah).

Kehadiran oksigen juga dapat membuat ranitidin mengalami degradasi. Produk hasil degradasi ranitidin dapat berupa N-oxide, S-oxide dan yang cukup terkenal karena ramai dibicarakan kemarin adalah NMDA (N-nitrosodimethylamine). NMDA dihasilkan karena putusnya salah satu bagian rantai ranitidin akibat degradasi. Produk degradan inilah yang memicu terjadinya perubahan penampakan fisik pada ranitidin injeksi tersebut. Dalam mencegah terjadinya oksidasi, saat proses manufacturing dilakukan penambahan aliran gas inert, contohnya nitrogen.

Hubungan degradasi ranitidin dengan penampakan fisik dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Penelitian menggunakan serbuk atau tablet ranitidin yang kemudian dilarutkan dalam pelarut yang sesuai dan dimasukkan ke dalam vial vacuum serta disimpan dalam suhu yang bervariasi (studi degradasi paksa) selama sepuluh menit.

Pada suhu 80°C NMDA yang terbentuk sangat sedikit dibanding dengan suhu diatas 100°C, sehingga dapat disimpulkan apabila produk disimpan pada suhu yang benar maka NMDA yang akan terbentuk akan menjadi sangat lambat. Masih menjadi perdebatan adalah NMDA yang terbentuk ketika obat ini ditelan, adanya nitrit pada saluran cerna dapat memicu ranitidin membentuk NMDA.

Injeksi ranitidin sebaiknya disimpan pada suhu tidak lebih dari 25°C untuk menghindari cepatnya laju degradasi. Tanda kerusakan dapat dilihat dari perubahan warna yang menjadi dark yellow.

Dalam produksi injeksi, gas inert seperti nitrogen harus digunakan untuk mencegah terjadinya kemungkinan oksidasi oleh oksigen bahkan degradasi. Karena self degradation ranitidin sendiri kemungkinan bisa menjadi pemicu terbentuknya NMDA. Pada pH netral (7,0) hidrolisis ranitidin terjadi sangat lambat.

Terakhir, ranitidin sebaiknya disimpan terlindung dari cahaya. Mungkin brown glass ampoule bisa menjadi pilihan untuk pengemasan. Namun, warna gelas yang gelap cenderung menyulitkan para pengguna dalam mendeteksi terjadinya perubahan warna dan kerusakan dari obat tersebut.

Sumber:

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Ririn Pratiwi
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *