Studi Teknologi Terkini Produksi Vaksin Covid-19: Review Artikel Mana yang Lebih Cepat dan Efektif

Pandemi Covid-19 mulai muncul sejak akhir tahun 2019 berasal dari kota Wuhan, China. Covid-19 ini diketahui akibat adanya infeksi virus […]

blank

Pandemi Covid-19 mulai muncul sejak akhir tahun 2019 berasal dari kota Wuhan, China. Covid-19 ini diketahui akibat adanya infeksi virus SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2) yang menyerang saluran pernapasan.

Hingga saat ini, data pasien terjangkit Covid-19 di Indonesia terus meningkat, pada 7 Juni 2021 bahkan mencapai penambahan 24.836 yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Melihat masih meningkatnya kasus positif Covid-19, hingga saat ini para ilmuwan dan berbagai lembaga penelitian dan pengembangan berlomba-lomba dalam upaya memproduksi vaksin. Pada kasus pandemi Covid-19 sekarang ini, penciptaan vaksin menjadi sangat cepat hingga memakan waktu hanya dalam beberapa bulan. Hal tersebut didukung oleh kemajuan teknologi sekarang yang sangat canggih.

Vaksin merupakan suatu produk biologis yang tergolong dalam imunitas buatan secara aktif, yaitu menyuntikkan atau menginjeksikan kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan untuk merangsang respon imun membentuk antibodi secara aktif.

Pada umumnya, komponen vaksin terdiri dari zat antigen yang mewakili kuman atau patogen penyebab penyakit. Mekanisme kerja vaksin yaitu merangsang sistem imun mengenali zat antigen yang terkandung dalam vaksin sebagai zat asing kemudian memicu sistem imun untuk memproduksi antibodi yang dapat melawan kuman atau patogen tersebut (yang diwakili oleh zat antigen) sehingga tubuh terhindar dari penyakit apabila terinfeksi kuman yang asli.

Selain itu, vaksin juga memicu terbentuknya memori imunologis yaitu sistem imun dapat mengenali dan dengan mudah menangkal infeksi kuman atau patogen yang suatu saat masuk ke dalam tubuh (Soegiarto, 2021). Berikut beberapa teknologi vaksin yang sedang dikembangkan untuk menekan peningkatan kasus positif Covid-19.

Vaksin inaktif
Vaksin inaktif merupakan jenis vaksin yang mengandung seluruh atau sebagian kecil dari bagian bakteri atau virus yang telah terbunuh. Teknologi inaktif ini sebagian besar pembuatannya menggunakan formaldehid, beta propiolactone (BPL) atau iradiasi ultraviolet. Tingkat keberhasilannya dipengaruhi oleh beberapa elemen seperti strain virus yang akan dimatikan, intensitas waktu, suhu inkubasi, buffer, dan konsentrasi reagen agar dihasilkan produk yang fungsional. Pengembangan vaksin inaktif untuk SARS-CoV menunjukkan hasil bahwa dapat menginduksi serum antibodi penawar dan mengurangi SARS-CoV secara signifikan. Kekurangan dari teknologi ini yaitu beberapa penelitian menunjukkan adanya kerusakan hemaglutinin substansial akibat formaldehid, BPL, atau iradiasi UV (Furuya et al., 2010; Jonges et al., 2010).


Vaksin yang Dilemahkan
Vaksin ini dinilai sangat efektif dalam memberikan perlindungan terhadap penyakit dan menghentikan persebaran epidemi virus patogen. Vaksin ini merupakan salah satu jenis vaksin yang dikembangkan untuk meningkatkan respon antibodi penawar anti-S. Rekayasa teknologi vaksin ini telah digunakan dalam pengembangan genetika arah-balik untuk virus corona. Vaksin ini terbukti dapat menginduksi respon imun berbasis humoral dan seluler pada hamster dan tikus. Teknologi vaksin ini juga memiliki kelemahan seperti terjadi kembali virulensi dan memicu perkembangan infeksi sekunder yang lebih parah (Sari dan Sriwidodo, 2020).


Vaksin Berbasi RNA
Vaksin berbasis RNA ini merupakan salah satu teknologi vaksin baru yang berbasis asam nukleat yang saat ini sedang dikembangkan sebagai vaksin Covid-19. Vaksin ini menjadi kandidat yang menjajikan karena memperoleh urutan data patogen secara cepat sehingga dimungkinkan dapat diproduksi dengan cepat dan aman. Selain itu, vaksin ini juga dapat meminimalisirkan potensi risiko infeksi dan mutagenesis karena insersi akibat degradasi alami mRNA dalam lingkungan mikroseluler (Wang et al., 2020). Vaksin berbasis RNA ini dinilai berpotensi tinggi dalam menghasilkan immunoglobulin penetral antivirus yang kuat dengan hanya satu atau dua imunisasi dosis rendah dapat menginduksi respon imun yang kuat. Rekayasa dari produksi mRNA dinilai dapat memfasilitasi produk dosis vaksin secara besar-besaran untuk keperluan mengobati populasi massal. Semua hal tersebut menjadikan vaksin mRNA ini sebagai kandidat yang cocok dalam rangka merespon cepat pandemi Covid-19. Setelah memasuki sel, vaksin ini akan diterjemahkan dalam molekul antigeni yang merangksang system kekebalan tubuh. Teknologi ini juga telah terbukti dalam beberapa kasus kanker. Produksi vaksin jenis ini dinilai lebih cepat dan murah daripada vaksin tradisional. Sekarang ini, vaksin berbasis mRNA ini sedang dalam tahap uji klinik (Sari dan Sriwidodo, 2020).


Dari ketiga teknologi pengembangan vaksin Covid-19 tersebut, vaksin berbasin mRNA menjadi vaksin yang berpotensi dikembangkan dalam waktu yang cepat dan menunjukkan adanya respon yang cepat terhadap wabah penyakit termasuk Covid-19. Vaksin ini juga dinilai lebih murah dan aman bagi pengguna karena tidak diproduksi dengan elemen infeksius. Hingga saat ini, vaksin berbasis mRNA ini sudah masuk pengujian tahap 2 dan belum mengantongi lisensi untuk dipasarkan (Sari dan Sriwidodo, 2020).

DAFTAR PUSTAKA

  • Furuya Y., Regner M., Lobigs M., Koskinen A., Müllbacher A., and Alsharifi M. 2010. Effect of Inactivation Method on the Cross-Protective Immunity Induced by Whole “Killed” Influenza A Viruses and Commercial Vaccine Preparations. Jounal Genetic Virology. 91 (6):1450–1460.
  • Jonges M., Liu W. M., Van D. V. E., Jacobi R., Pronk I., and Boog C. 2010. Influenza Virus Inactivation for Studies of Antigenicity and Phenotypic Neuraminidase Inhibitor Resistance Profiling. Jornal Clinical Microbiology. 48 (3):928–940.
  • Prastiwi, D. 2021. Update Covid-19 Selasa 8 Juni 2021: Positif 1.869.325, Sembuh 1.717.370, Meninggal 51.992. [online] diakses pada tanggal 08 Juni 2021 https://www.liputan6.com/news/read/4576636/update-covid-19-selasa-8-juni-2021-positif-1869325-sembuh-1717370-meninggal-51992
  • Sari, I. P. dan Sriwidodo. 2020. Perkembangan Teknologi Terkini dalam Mempercepat Produksi Vaksin Covid-19. Majalah Farmasetika. 5 (5): 204-217.
  • Soegiarto, G. 2021. Respons Imun Terhadap Vaksin COVID-19 Dan Komorbid Sebagai Pertimbangan Kehati-Hatian. Webinar Seri-2 Seputar Vaksin COVID-19. [online] diakses pada tanggal 08 Juni 2021 https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://rsudrsoetomo.jatimprov.go.id/wp-content/uploads/2021/01/Respons-imun-terhadap-vaksin-COVID-19-dan-komorbid-sebagai-precaution-Gatot-Soegiarto-2021-PDF-1.pdf&ved=2ahUKEwjC1YrJ-IfxAhXOqksFHSTCAj0QFjACegQIERAC&usg=AOvVaw34hiPh2LIsPWnI52m2AOHu
  • Wang F., Kream R. M., and Stefano G. B. 2020. An Evidence Based Perspective on mRNA SARSCoV-2 Vaccine Development. Med Sci Monit. 26: 1–8.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *