Mengenal Kebencian Melalui Sains

Ilustrasi Kebencian

Otak manusia mempunyai kemampuan untuk merasakan berbagai emosi, salah satunya adalah rasa benci. Emosi kebencian yang kuat dapat mendorong manusia untuk menghancurkan sumber kebencian tersebut. Bagaimana sains memandang kebencian ini?

Kebencian (dalam bahasa Inggris, merujuk kepada hatred), adalah emosi negatif dalam diri manusia terhadap suatu objek. Orang yang menyimpan rasa benci ini memandang objek tersebut sebagai sesuatu yang buruk, tidak mempunyai moral, berbahaya, atau perpaduan dari segala hal tersebut (Staub, 2003). Kebencian adalah emosi alamiah dari diri manusia. Alasan manusia membenci suatu objek memang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor.

Salah satu faktornya adalah mekanisme survival, dalam hal ini, kebencian berperan sebagai insting manusia untuk menyelamatkan diri dari ancaman yang masuk dalam kehidupannya. Kebencian mempunyai hubungan yang kuat dengan hubungan antara diri manusia itu sendiri, riwayat pribadi, dan menimbulkan efek pada kepribadian, perasaan, ide, kepercayaan dan identitas. Peneliti tingkah laku manusia, Patrick Wanis, mengungkapkan bahwa ketika manusia merasa terancam dengan kehadiran akan sesuatu atau seseorang yang dianggap sebagai sosok “asing”, secara insting manusia akan mencari perlindungan ke dalam kelompoknya. Upaya ini adalah wujud dari mekanisme survival. Kebencian ini, dengan kata lain, bisa disebabkan oleh “cinta” dan “agresi”. Manusia akan melindungi hal-hal yang dianggap sejalan dengannya (in-group) dan cenderung melakukan tindakan agresi pada hal-hal yang dianggap berbeda (out-group), berbahaya dan mengancam kelangsungan diri dan kelompoknya.

Selain mekanisme survival atas ancaman pihak luar, kebencian dapat lahir karena “projeksi”. Dalam istilah psikologi klinis, “projeksi” ini adalah penggambaran kebencian orang lain yang sebenarnya terdapat dalam orang itu sendiri. Contohnya, pernah kah Anda mendengar seorang siswa populer di sekolah, mempunyai wajah rupawan, pintar, berprestasi, akan tetapi mendapat banyak omongan tidak mengenakkan dari orang-orang sekitarnya? Hal ini, secara sederhana, terjadi karena para pembenci tidak mempunyai nilai lebih yang dimiliki oleh orang yang mereka benci.

Setelah agresi terhadap objek yang dibenci berlangsung, apakah kebencian berhenti begitu saja? Ternyata tidak. Sekali tindakan kebencian itu dilakukan, justru rasa benci itu berkembang. Karakter dari rasa benci itu adalah kebutuhan untuk semakin mencederai korban secara terus-menerus, sampai korban kehilangan nilai moral dan kemanusiaan di mata pembenci. Pembenci akan sering menanamkan rasa benci itu melalui ujaran kebencian, propaganda, dan segala upaya untuk mengajak orang yang lebih banyak untuk menambah jumlah pembenci objek tersebut. Tidak jarang, tindakan kekerasan juga dilakukan untuk menyingkirkan secara fisik korban tersebut. Sejarah banyak mencatat penghapusan secara paksa etnis di dunia, dan beberapa kasus kekerasan di lingkungan masyarakat yang berujung pada hilangnya nyawa korban.

Ilustrasi Pengungsi Rohingya, Myanmar. Foto oleh Fred Dufour (Getty Images, AFP)

Rasa benci juga bisa menjadi sesuatu yang sangat personal. Kita tentu saja pernah mengalami beberapa hal yang tidak mengenakkan yang dilakukan oleh seseorang kepada kita. Perasaan negatif yang ditimbulkan oleh trauma masa lalu turut berkontribusi dalam memicu perasaan benci. Dalam sebuah observasi, sebuah gagasan otomatis yang terdapat pada sistem otak manusia banyak berperan dalam menciptakan permasalahan emosional. Terdapat dua faktor yang membiaskan atau melebih-lebihkan interpretasi pemikiran kita dalam menerima sebuah informasi.

  1. Manusia berpeluang besar mengalami distorsi kognitif, sehingga semua informasi yang kita terima menjadi hal yang tidak sebenarnya, sehingga hal ini berpengaruh kepada bagaimana seseorang menerjemahkan sesuatu yang terjadi pada dirinya. Contohnya, orang yang mempunyai kecenderungan pemarah, akan memandang hal yang terjadi di lingkungannya dengan cara yang egosentris. Kecenderungan ini menimbulkan pertanyaan seperti “Mengapa hal ini terjadi pada saya?” dan terkadang menimbulkan asumsi berlebihan terhadap orang lain, contohnya dengan pertanyaan, “Teman-teman saya tidak pernah ada untuk saya”
  2. Faktor kedua yaitu kecenderungan untuk menerjemahkan peristiwa yang terjadi dengan kepercayaan pribadi kita dan asumsi yang didapatkan berdasarkan pengalaman yang didapat sebelumnya. Hal ini juga berkaitan dengan pertanyaan kepada diri sendiri yang sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak tentu terjadi, seperti “saya tidak dihargai orang lain” serta beberapa pengandaian yang sebenarnya tidak diperlukan, seperti “jika saya tidak ikut A, maka saya akan terkucilkan”.

Faktor kepercayaan ini lama-lama akan tertanam dalam diri dan pada akhirnya akan membentuk kepribadian manusia. Lalu, apakah ada cara untuk mengecilkan rasa benci di dalam diri manusia? Tentu saja ada. Berikut ini adalah beberapa cara menurut ilmu Psikologi untuk mengecilkan (atau bahkan menghilangkan) rasa benci.

  1. Selalu mencari kebenaran informasi yang diterima.
  2. Memaklumi proses yang terjadi di kehidupan orang di sekitar, sebab semua orang terlahir dengan keadaan yang baik, akan tetapi berada di lingkungan dan perjalanan hidup yang berbeda dengan diri kita.
  3. Mengendalikan diri apabila emosi menguasai.
  4. Memaklumi diri sendiri dan menghargai proses yang ditempuh diri dalam perjalan hidup.
  5. Apabila tidak sanggup melakukan beberapa hal di atas, Anda bisa menjauh sejenak untuk menjernihkan pikiran agar Anda tetap bisa berpikir tenang menyaring informasi terhadap lingkungan tersebut.

Rasa benci merupakan reaksi naluriah otak yang bermula dari rasa tidak suka. Tentu saja, sebagai manusia yang dianugerahi kemampuan untuk beremosi, rasa benci merupakan suatu hal yang alamiah dan tidak dapat dihindari. Akan tetapi, rasa benci dapat dikendalikan, atau bahkan dikecilkan. Selamat mencoba!

Sumber:

  1. John Kim (2017) How to Not Hate People, Available at: https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-angry-therapist/201701/how-not-hate-people (Diakses  24 November 2019).
  2. Jose I.N., et al. (2013) ‘The Psychology of Hatred ‘, The Open Criminology Journal, 6(1874-9178/13 ), pp. 10-17.
  3. Allison A. (2017) The Psychology of Hate, Available at: https://www.psychologytoday.com/us/blog/nurturing-self-compassion/201703/the-psychology-hate (Diakses 20 November 2019).

Menulis Sebagai Alternatif Mengurangi Depresi

Menulis sebagai alternatif mengurangi depresi

Depresi merupakan salah satu gangguan kesehatan yang mudah menyerang manusia dari berbagai rentang umur, usia dan gender. Kondisi medis ini berwujud perasaan sedih, namun berdampak negatif terhadap pikiran manusia, sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Depresi sangat mempengaruhi kemampuan berpikir, di antaranya kemampuan berkonsentrasi, nafsu makan, dan juga berpengaruh pada jam tidur.

Depresi dan kesedihan adalah dua hal yang berbeda. Depresi dirasakan setiap hari dan berlangsung selama atau lebih dari dua minggu. Depresi mengganggu produktivitas hidup penderitanya, karena depresi dapat menyebabkan kinerja turun dalam karir, peran dalam keluarga, atau bahkan menyebabkan penderitanya pada kehilangan minat pada hal-hal yang disukai.

Terdapat banyak faktor penyebab depresi. Trauma masa lalu, penyalahgunaan obat-obatan terlarang serta minuman beralkohol, efek samping penggunaan obat dan beberapa penyakit juga berpotensi menyebabkan depresi. Gangguan ini menjadi perhatian di berbagai negara, sehingga diterapkan beberapa kebijakan kesehatan masyarakat untuk menangani khusus depresi, seperti konseling dan pengobatan khusus. Orang dengan gejala depresi sangat disarankan untuk segera mencari pertolongan dengan mengunjungi psikiater yang berada di jangkauan wilayah masing-masing.

Emosi yang tidak tersalurkan melalui tutur kata juga dapat menumpuk dan menimbulkan stres pada diri manusia. Dalam beberapa kasus, penderita depresi memerlukan teman untuk sekedar mencurahkan emosinya dan mendengarkan dengan baik mengenai keadannya.

Potensi depresi dapat dikurangi dengan mengenal emosi diri masing-masing, salah satunya dengan menulis. Dalam penelitian yang dilakukan oleh tim National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine, Amerika Serikat, di antara empat puluh orang yang didiagnosis menderita gangguan depresi berat (Major Depressive Disorder, disingkat MDD) diuji dengan beberapa kuisioner dan menjalani waktu menulis sepanjang dua puluh menit ketika menginjak hari kedua hingga keempat. Dalam penelitian ini, peserta diminta untuk menuliskan pemikiran mengenai hal yang terjadi, perasaan mereka serta cara mereka mengatur keseharian mereka. Secara singkat, peneliti menerapkan aktivitas menulis sebagai media alternatif mengurangi depresi para peserta.

Hasil signifikan menunjukkan bahwa penderita depresi berat dalam penelitian tersebut mengalami penurunan tingkat depresi yang mereka alami. Menulis, terutama menulis ekspresif dalam penelitian ini, berkontribusi mengurangi tumpukan emosi dan stres yang dialami oleh penderita depresi, sehingga mereka dapat menata tindakan yang mereka lakukan untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari mereka. Menulis juga telah saran psikiater sebagai media alternatif untuk mengurangi diagnosis depresi bagi pasien.

Salah satu contoh menulis untuk melampiaskan emosi ini adalah pada latihan yang disebut “Cognitive Writing Example”, yaitu latihan menulis untuk mengenali emosi. Menulis dalam hal ini tidak hanya sekedar meluapkan emosi, tetapi juga mengenali berbagai prasangka negatif untuk mengatasi kecemasan dalam diri penulis. Salah satu contoh tulisan tersebut adalah sebagai berikut:

Depresiku sangat buruk sampai aku tidak bisa bergaul dengan orang lain. Akan tetapi, aku harus menelepon temanku. Temanku akan berpikir bahwa aku adalah teman yang jahat karena tidak menjawab panggilannya. Aku sangat malas dan lemah karena bahkan tidak bisa menelepon temanku.

Cognitive Writing ini mempunyai beberapa unsur untuk menyaring emosi yang tertuang. Yang pertama, keyakinan irasional yang ditandai dengan kata “harus”. Penderita tidak bisa memutuskan, menelepon teman adalah hal yang merupakan sebuah keharusan atau keinginan. Berikutnya, adalah pelabelan terhadap diri sendiri. Kata-kata “Aku jahat, lemah, malas” adalah pelabelan sendiri terkait dengan depresi yang dideritanya. Penderita merasa tidak berguna dengan memvonis diri sendiri dengan label negatif. Selain itu, pemikiran negatif yang sering timbul ke dalam diri sendiri juga direfleksikan dengan pemikiran yang seolah-olah membaca pikiran orang lain (“temanku akan berpikir bahwa…”). Penderita akan percaya bahwa orang lain akan berpikiran negatif sama seperti dirinya. Dengan mengenali ketiga unsur kecil ini, diharapkan penderita depresi dapat lebih mengenali pemikirannya sehingga cara ini dapat membantu mengurangi kecemasan pada diri penderita.

Bagi Anda yang perlu aktivitas untuk meminimalisir stres, menulis dapat dilakukan sebagai sarana penyaluran emosi untuk lebih mengenali diri sendiri. Anda dapat menulis di selembar kertas atau buku, kemudian menuliskan pemikiran Anda mengenai hal-hal yang terjadi pada diri Anda. Apabila sudah terbiasa menulis, Anda juga bisa mempublikasikan tulisan Anda dalam bentuk posting blog, atau bahkan buku. Selain sebagai sarana mengenali diri sendiri, menulis juga dapat membuat Anda produktif dan menghasilkan karya. Selamat mencoba!

Referensi:

  1. Ackerman, Courtney. 2018. 83 Benefits of Journaling for Depression, Anxiety, and Stress. PositivePsychology.com. Tautan: https://positivepsychology.com/benefits-of-journaling/#research-journaling. Diakses tanggal 13 Oktober 2019.
  2. Krpan, Katherine M et al. “An everyday activity as a treatment for depression: the benefits of expressive writing for people diagnosed with major depressive disorder.” Journal of affective disorders vol. 150,3 (2013): 1148-51. doi:10.1016/j.jad.2013.05.065
  3. Cognitive Diary Example, https://www.excelatlife.com/cbttraining/12.htm

Ketika Hantu Ditinjau Secara Fisika

Ketika Hantu Ditinjau Secara Fisika

Video penampakan kuntilanak kembali menghebohkan jagat maya pada 19 September 2019, diunggah oleh akun instagram @lambe_turah dan ditonton oleh lebih dari 2 juta orang. Penampakan hantu paling populer di Indonesia itu diduga berasal dari Kecamatan Campang Raya, Bandar Lampung. Tapi kalian tau gak sih bagaimana fisika berusaha menjelaskan apa itu hantu?

Kuntilanak, salah satu hantu yang paling populer di Indonesia

Pertama-tama untuk membahas dari sisi sains fisika kita harus tahu dulu hantu itu terbuat dari apa. Ada banyak orang awam yang bilang kalau hantu itu adalah energi. Tapi, pemahaman awam tentang “energi” yang biasanya dikaitkan dengan keberadaan makhluk halus tentu beda dengan pengertian fisikanya.

Menurut paham awam, terutama yang mempercayai hal-hal ghaib, bagi mereka energi adalah sesuatu kekuatan yang dapat mempengaruhi situasi, perasaan, dan keadaan seseorang bersangkutan yang dikenai “energi” itu. Dalam konteks hantu, energi yang dimaksud adalah energi negatif, karena keberadaan makhluk halus yang satu ini disinyalir dapat menciptakan rasa takut, cemas, tidak enak, bagi yang “merasakannya” / melihatnya. Padahal, dalam dunia sains fisika, energi sendiri adalah suatu ukuran kemampuan dalam melakukan kerja, diukur dalam satuan Joule. Pemahaman ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan hantu. Bahkan dalam fisika, tidak ada yang disebut energi negatif.

Bayangan yang biasanya muncul dalam pikiran orang ketika mendengar kata energi

Meskipun begitu, tetap saja ada pemahaman yang mencoba menghubungkan hantu dengan energi yang didefinisikan dalam dunia fisika.

Jika ditanyakan apa alasannya, banyak dari antara mereka mengaitkan keberadaan hantu dengan hukum kekekalan energi, yaitu hukum yang mengatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, tapi dapat diubah bentuknya.

Mereka berpendapat jika ada seseorang yang meninggal, energi yang tersimpan dalam tubuhnya akan langsung terkonversikan menjadi “energi” yang mereka sebut sebagai hantu.

Padahal proses perubahan energi tidaklah seperti itu. Energi yang tersimpan di tubuh kita nyatanya akan diterima oleh hewan yang mengurai tubuh kita. Selain oleh hewan pengurai (dekomposer), sisa nutrisi dan mineral dalam tubuh kita pun akan diserap oleh tumbuhan yang hidup di sekitar jasad, menyediakan energi bagi tumbuhan untuk hidup.

Salah satu contoh hewan dekomposer, yaitu hewan yang mengurai tubuh manusia yang sudah meninggal

Selain dikatakan energi, banyak juga orang yang berkata bahwa hantu adalah suatu materi yang tidak kelihatan. Tapi, apakah ada bukti untuk pernyataan tersebut? Jawaban singkatnya, tidak.

Dalam sains fisika, materi adalah suatu hal yang menempati ruang dan memiliki massa. Hingga sekarang tidak dikenal satu pun partikel yang dapat menyusun hantu. Tak ada pula seorang pun yang dapat menimbang massa dari hantu.

Secara tidak langsung misteri keberadaan hantu dipatahkan melalui eksperimen fisika partikel terbesar di CERN dengan Large Hadron Collider. LHC sendiri adalah mesin akselerator partikel tercepat dan terbesar di dunia. Dengan menumbukkan partikel yang memiliki kecepatan tinggi, para peneliti dapat mengetahui bagaimana partikel saling berinteraksi. Selain itu, mereka juga dapat mengetahui apa saja penyusun suatu partikel.

Large Hadron Collider (LHC)

Profesor Brian Cox mengatakan jika hantu memang bisa dijelaskan secara fisika, seharusnya materi yang menyusun hantu itu dapat ditemukan setelah atom terpecah menjadi beberapa bagian subatomik.

Secara logika sederhananya, jika hantu adalah suatu materi, harusnya hantu ini dapat berinteraksi dengan materi sekitar yang jelas-jelas dapat kita lihat. Selain itu, harusnya semua orang dapat melihatnya. Tapi kenyataannya tidak semua orang dapat melihatnya, bahkan ketika beberapa orang itu berkumpul di tempat yang sama dan pada waktu yang sama. Hal ini karena hantu bukanlah suatu materi.

Seperi yang kita tahu, alam semesta tersusun atas materi dan energi. Jadi, jika hantu bukan keduanya, maka hantu dapat dikatakan tidak ada.

Lalu, kenapa ada beberapa orang yang dapat melihat atau sekadar merasakan keberadaan hantu?

Sebenarnya ada banyak faktor ilmiah yang dapat membuat seseorang melihat hantu, namun penyebab yang paling umum adalah sebagai berikut :

1. Efek psikologis

Efek psikologis yang dimaksud disini adalah efek yang akan dirasakan seseorang akibat pemikirannya sendiri atau akibat apa yang ia dengar dari orang lain. Contohnya, rumor yang beredar dapat mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap sesuatu melalui alam bawah sadarnya. Jika seseorang diberi tahu bahwa tempat A adalah tempat berhantu, ia akan memikirkan hal tersebut secara terus menerus dan akhirnya otak akan menciptakan suatu ilusi yang kemudian ia sebut hantu.

2. Efek Neurologis

Seseorang yang mengidap suatu gangguan neurologis/kejiwaan tertentu seperti skizofrenia seringkali mengalami halusinasi. Halusinasi inilah yang menyebabkan penderitanya melihat atau mendengar hal-hal yang aneh. Penyakit yang disebabkan oleh perpaduan dari genetik, lingkungan, dan ketidakseimbangan senyawa kimia di otak ini membuat otak seseorang tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Akibatnya, penderita kesulitan membedakan mana yang realita dan khayalan. Hal ini membuat penderita seringkali salah mempersepsikan khayalannya sendiri sebagai suatu kenyataan.

Selain karena adanya penyakit skizofrenia, ternyata halusinasi juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor lainnya. Yang paling umum di antaranya adalah akibat kurang tidur. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tidur cukup untuk menjaga kesehatan otak kita.

Berdasarkan apa yang sudah dijelaskan di artikel ini, bisa kita simpulkan bahwa fisika tidak dapat menjelaskan keberadaan hantu. Itulah kenapa untuk kajian hantu dll ada bidang sendiri bernama “Metafisika” atau bahasa kerennya adalah “Beyond Physics”.

Eeferensi
[1] Radford, Benjamin. 2011. Do Einstein’s Laws Prove Ghosts Exist?. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

[2] Hamer, Ashley. 2019. Curiosity. According To Professor Brian Cox, Particle Physics Proves Ghosts Don’t Exist. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

[3] Griffin, Andrew. 2017. Ghosts definitely don’t exist because otherwise the Large Hadron Collider would have found them, claims Brian Cox. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

[4] Tremblay, Sylvie. 2018.This Is Probably Why You’ve Seen a Ghost, According to Science. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

[5] Dagnall, Neil. 2016. The top three scientific explanations for ghost sightings. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

[6] Sandy. 2014. Ilmuwan: Hantu Hanyalah Ilusi Pikiran Manusia. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

[7] Swari, Risky Candra. 2018.Skizofrenia. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

[8] Mayo Clinic. 2018. Schizophrenia. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

Agar Anggota Timmu Merasa Pekerjaannya Bermakna

Agar Anggota Timmu Merasa Pekerjaannya Bermakna

Oleh: Lewis Garrad dan Tomas Chamorro-Premuzic

Sudah banyak diketahui cerita tentang seorang cleaning service di NASA yang, ketika ditanya oleh JFK (John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat) apa pekerjaan dia, jawabnya “aku membantu mengantarkan manusia ke bulan“. Anekdot ini sering dipakai untuk menunjukkan bagaimana pekerjaan paling biasa bisa dilihat penuh makna dengan cara pandang yang tepat dibawah kepemimpinan yang baik.

Hari ini, makin hari makin banyak pekerja membutuhkan lebih dari sekedar gaji yang baik. Uang mungkin menarik masyarakat untuk bekerja, tapi tujuan, makna, harapan dan nilai dari pekerjaan menentukan baik jabatan dan seberapa keras mereka akan bekerja selama mereka menjadi karyawan. Menemukan makna dalam pekerjaan telah menjadi sesuatu yang sangat penting sampai-sampai terdapat peringkat untuk pekerjaan paling bermakna. Meskipun ada banyak faktor yang menentukan daya tarik suatu pekerjaan, namun yang memiliki sumbangsih terhadap perbaikan orang lain berada pada peringkat teratas (contohnya kesehatan dan kegiatan sosial). Menariknya, studi meta analisis mengindikasikan hanya terdapat hubungan kecil antara gaji dan kepuasan pekerjaan. Seorang pengacara yang bergaji 500 juta rupiah setahun tidak lebih menarik dari desainer freelance yang menghasilkan 110 juta rupiah setahun.

Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa mereka yang merasa pekerjaannya bermakna lebih baik dalam kesehatan, kesejahteraan, kerja tim dan minat. Mereka menjadikan halangan sebagai lompatan dan cenderung melihat kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar dibandingkan melihatnya sebagai kegagalan. Dengan kata lain, ketika mereka di tempat kerja cenderung tumbuh dan berkembang ketika mereka merasa pekerjaan mereka bermakna. Itulah mengapa bisnis dengan tujuan yang jelas dan kuat cenderung memiliki performa keuangan yang lebih baik. Bukan sebuah kejutan lagi bahwa perusahaan-perusahaan paling sukses juga merupakan tempat terbaik untuk bekerja.

Beberapa dekade terakhir, penelitian menunjukkan bahwa para pemimpin berperan secara signifikan dalam membantu karyawannya agar paham mengapa keberadaan mereka penting. Lebih jauh, karakteristik kepemimpinan yang dapat membuat lingkungan bermakna dan bertujuan untuk menarik karyawan adalah cerminan dari kepribadian pemimpin – yang mana telah terbukti berdampak kuat terhadap performa tim dan organisasi

Lebih detail, hasil penelitian menyarankan bahwa ada empat karakteristik kepribadian yang menjadi kunci dalam menentukan kemampuan seorang pemimpin membuat pekerjaan menjadi lebih bermakna yaitu:

Mereka orang yang penuh penasaran dan ingin tahu. Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat cenderung untuk merasa pekerjaannya bermakna ketika mereka merasa seperti sedang berkontribusi untuk membuat sesuatu yang baru – khususnya ketika mereka merasa dapat mengeksplor, menghubungkan dan memiliki sebuah dampak. Para pemimpin ini membantu mereka menemukan makna dalam pekerjaan melalui eksplorasi, pertanyaan, dan mengikutsertakan anak buahnya dalam ide-ide masa depan. Disatu sisi, pemimpin ini membantu para karyawan menemukan sesuatu yang bermakna dengan menyediakan segala kemungkinan yang lebih besar bagaimana suatu pekerjaan dapat diselesaikan, kebalikannya terlalu memberi petunjuk dan mengatur segala hal. Pemimpin ini juga cenderung merasa bosan dan benci akan hal-hal yang monoton, sehingga mereka akan selalu mencari orang-orang dengan ide-ide baru dan membuat pengalaman kerja mereka lebih menarik.

Mereka penuh tantangan dan tekun. Salah satu masalah terbesar organisasi yang harus diselesaikan adalah stagnasi dan rasa nyaman yang mengikuti kesuksesan, meskipun telah diantisipasi. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang optimis yang menyangka melakukan dengan baik tidak mencoba sekeras orang yang menyangka untuk gagal atau terhambat. Para pemimpin yang menyisakan ambisi di depan wajah kegagalan dan kesuksesan sekaligus, dan mereka yang mendorong orang-orangnya untuk tetap tidak puas dengan semua pencapaian mereka, menancapkan tujuan dengan lebih dalam pada tim dan organisasi mereka. Sebagai hasilnya para karyawan merasakan kemajuan, penemuan dan perkembangan, yang mana melahirkan pengalaman kerja yang lebih positif dan bermakna.

Mereka merekrut nilai dan kecocokan budaya. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang hanya menemukan sesuatu yang bernilai jika berkaitan dengan kebutuhan dan motivasi utama mereka. Inilah mengapa kecocokan nilai antar individu personal dan budaya organisasi tempat mereka bekerja adalah gaya dorong penting dari performa mereka. Faktanya, kamu lebih baik tidak merekrut orang terbaik, melainkan mereka yang benar-benar cocok dengan organisasimu. Nilai berperan seperti kompas internal atau lensa yang meneruskan arti ke seluruh dunia. Para memimpin yang menaruh perhatian pada nilai masing-masing individu umumnya lebih merekrut orang-orang yang akan lebih mudah terhubung dengan para kolega dan organisasi mereka, semua yang membantu menggerakkan kepada sebuah makna.

Mereka dapat mendelegasikan. Kebanyakan orang benci micro managing. Bos yang terlalu berkuasa dan mengatur adalah problem serius tidak berperannya para karyawan. Hal ini menyebabkan tak terlihatnya dampak kerja dan membuat mereka merasa tidak bernilai. Kebalikannya, para pemimpin yang tahu bagaimana memberikan tanggung jawab umumnya lebih memberikan ruang untuk bereksperimen dan tumbuh. Lebih spesifik, mereka membantu orang-orangnya mencetak aturannya sendiri-sesuatu yang para peneliti juluki “job crafting“. Karyawan yang menyesuaikan sendiri pekerjaan mereka cenderung lebih merasa penting dan bernilai karena mereka merasa bahwa manager mereka mempercayainya.

Catat bahwa keempat karakteristik kepribadian diatas semuanya harus ada. Seorang bos yang penuh rasa ingin tahu tetapi tidak mewakilkan tanggung jawab mungkin terus akan membuat karyawannya bersiap siaga karena ketidak tentuan dan ketidak terdugaannya – sebuah cara pasti menyakiti performa dan moral. Seorang bos yang penuh tantangan tetapi tanpa rasa ingin tahu mungkin datang sebagai perundung (tukang bully), sedangkan seorang bos yang mendelegasikan tetapi tidak memberikan tantangan akan terlihat seperti seorang gampangan. Singkatnya, ada perbedaan antara membuat pekerjaan bermakna dan membuatnya menyenangkan atau mudah, seperti perbedaan besar antara karyawan yang tertarik dan bahagia. Sedangkan ketertarikan menghasilkan antusiasme, gairah, dan motivasi-semuanya meningkatkan performa sehingga sangat bernilai untuk organisasi-kebahagiaan cenderung membawa kepada kepuasan. Untuk menjadi pemimpin yang baik, fokus untuk membantu para karyawan menemukan arti dari pencapaiannya, dari pada hanya membuat mereka menikmati waktunya di kantor.

Sumber: Garrad, L. dan Chamorro-Premuzic, T. How to Make Work More Meaningful for Your Team, Harvard Business Review, 9 Agustus 2017.

Lewis Garrad, Seorang psikolog organisasi bersertifikat, spesialis di Sirota, bekerja di perusahaan psikologi dari Mercer. Spesialis bidang desain dan program penelitian perilaku karyawan dan intervensi. Hubungi dia di Twitter: @lewisgarrad

Tomas Chamorro-Premuzic adalah CEO dari Hogan Assessment Systems, Seorang Profesor Psikologi Bisnis di University College London, dan dosen di Columbia University. Hubungi dia di Twitter: @drtcp atau at www.drtomascp.com. Buku terbarunya, The Talent Delusion, diterbitkan pada bulan Februari 2017.

Penerjemah: Abdul Halim

Bagian otak ini mempengaruhi kita saat mengambil keputusan

Bagian otak ini mempengaruhi kita saat mengambil keputusan

Gambar 1. Pengambilan Keputusan [Image: Pexels.com]
 

Manusia dengan segala keunikannya dikaruniai banyak kelebihan dibanding makhluk lainnya. Salah satunya, kemampuan yang telah diketahui melibatkan otak, termasuk saat manusia mempelajari situasi yang dapat membantunya mengambil sebuah keputusan. Proses ini melibatkan pertimbangan  berdasarkan pada pengalaman atau informasi yang telah tersimpan dalam otak;  apakah harus mengambil resiko atau memilih aman, tetap berpegang pada keadaan atau  membuat perubahan, akan jadi untung atau rugi. Sikap-sikap tersebut ternyata melibatkan  bagian otak tertentu dan sejumlah protein  hingga mempengaruhi  bagaimana seseorang mengambil keputusan. Hal tersebut dipelajari oleh peneliti behavioral neuroscience dari UCLA  dengan melakukan pengamatan melalui perilaku hewan uji tikus.

Laporan penelitian yang dirilis oleh salah satu peneliti sekaligus ketua tim, Dr. Alicia Izquierdo, menunjukkan bahwa akan adanya keterkaitan pada daerah orbitofrontal cortex dan basolateral amygdala, dimana masing-masing daerah tersebut diketahui saling berperan dalam proses pengambilan-keputusan seseorang. Pada orbitofrontal cortex, daerah otak tersebut telah dilaporkan berperan untuk hal-hal yang bersifat motivasi bagi seseorang, seperti keinginan makan/ minum, perilaku emosi seseorang dan interaksi sosial. Kedua daerah itu diamati untuk mempelajari bagaimana daerah otak tersebut bekerja, apakah aktif atau tidak,  selama proses pengambilan keputusan terjadi.

Gambar 2. Foto hasil pengamatan bagian otak yang aktif ditandai dengan penanda warna neuronal nuclei yang diamati secara photomicrograph A. Penampakan bagian Orbitofrontal cortex; B. Penampakan bagian Basolateral amygdala [1. Izquierdo, dkk., 2017/ eLIFE]

Sekelompok tikus yang telah dilatih mengikuti pola perilaku tertentu, kemudian diamati perilaku dan perubahannya selama studi. Tikus tanpa fungsi basolateral amygdala yang aktif dengan baik ditemukan lebih lambat dalam mempelajari perubahan lingkungan yang terjadi. Selanjutnya, tikus dengan orbitofrontal cortex yang tidak berfungsi aktif,  sama sekali tidak mampu mempelajari perubahan situasi lingkungan yang terjadi. Namun, dalam percobaan tidak terdapat pengulangan situasi untuk mengetahui apakah dengan tidak berfungsi secara aktif kedua daerah  tersebut membuat tikus benar-benar tidak mampu mempelajari situasi lingkungannya.

Gambar 3. Orbitofrontal cortex [Gambar: Wikipedia]
Gambar 4. Basolateral amygdala [Gambar: Wikipedia]

Dr. Izquierdo menyatakan kepada media massa UCLA bahwa peran basolateral amygdala tidak kalah dibanding orbitofrontal cortex selama studi dilakukan. Bagaimana kedua daerah tersebut saling berkaitan secara anatomi dan keduanya berperan pada saat pengambilan-keputusan, khususnya dalam keadaan  penuh ketidakpastian yang menyebabkan tikus uji cenderung memilih untuk tidak mengambil resiko karena dapat kehilangan rewards sesuai pola yang telah diatur oleh tim peneliti. Tikus memilih tidak mengambil resiko agar mendapat rewards, pada keadaan tersebut didapati basolateral amygdala tikus aktif dengan baik dan berdampak pada meningkatnya kadar protein GluN1 yang muncul karena dipicu oleh pengalaman atas ketidakpastian, suatu mekanisme adaptasi neuron (neuroadaptation). Pengetahuan tentang aktif/ tidak aktif dan keterkaitan dua daerah spesifik ini, menurut dr. Izquierdo, di masa depan dapat membantu pengobatan secara tepat dengan menarget daerah otak yang menderita gangguan tertentu secara spesifik, salah satunya autisme. Namun demikian, dr. Izquierdo menyatakan bahwa penelitian lebih jauh pada otak manusia tetap harus dilakukan, karena bagaimanapun otak manusia memiliki orbitofrontal cortex dan basolateral amygdala yang berbeda dengan ekspresi protein yang berbeda pula.

Sumber:

[1] Izquierdo, Alicia. Stolyarova, Alexandra. “Complementary contributions of basolateral amygdala and orbitofrontal cortex to value learning under uncertainty”. eLife 2017;6:e27483 doi: 10.7554/eLife.27483

[2] Rolls ET. “The functions of the orbitofrontal cortex”. Brain Cogn. 2004 Jun;55(1):11-29.

[3] UCLA Newsroom. “Changes in brain regions may explain why some prefer oder and certainty, UCLA behavioral neuroscientists report”. http://newsroom.ucla.edu/releases/changes-in-brain-regions-may-explain-why-some-prefer-order-and-certainty (diakses pada 28 Juli 2017)