Penarikan Besar-besaran Telur di Amerika (207 Juta Butir Telur) Akibat Tercemar Salmonella sp. Bagaimana dengan Indonesia?

Pada The 1992 FAO/WHO International Conference on Nutrition dunia merasa prihatin karena ratusan juta manusia diketahui menderita penyakit menular maupun […]

blank

Pada The 1992 FAO/WHO International Conference on Nutrition dunia merasa prihatin karena ratusan juta manusia diketahui menderita penyakit menular maupun tidak menular karena pangan yang tercemar. Oleh karena itu pada pertemuan tersebut dideklarasikan bahwa memperoleh pangan yang cukup, bergizi, dan aman dikonsumsi adalah hak setiap orang. Saat ini, setelah hampir 26 tahun, isu keamanan pangan masih menjadi masalah penting di dunia.

Baca juga Pengembangan Kemasan “Sugar Glass” Terbuat dari Virus untuk Mencegah Kontaminasi Produk Pangan

Kejadian yang paling baru adalah pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa hampir 207 juta telur ayam konsumsi telah ditarik dari peredaran karena dikhawatirkan telah terkontaminasi dengan Salmonella. Rose Acre Farms menarik produknya setelah adanya temuan cemaran di tempat produksi perusahaan di North Carolina. Dua puluh tiga orang dari sembilan negara telah terinfeksi dengan Salmonella braenderup. Walaupun demikian, belum ada korban jiwa.

blank
Tampilan berita tentang penarikan telur besar-besaran di Amerika akibat tercemar bakteri Salmonella pada website washingtonpost.com

Rose Acre Farms adalah perusahaan milik keluarga yang berkantor pusat di Seymour, Negara Bagian Indiana. Perusahaan ini memiliki 17 tempat produksi di delapan negara bagian AS. Telur yang ditarik kembali tersebut dijual di bawah nama-nama merek seperti Great Value, Country Daybreak, dan Crystal Farms[1].

Apakah Bakteri Salmonella berbahaya?

blank
Bakteri Salmonella, bakteri gram negatif berbentuk tongkat

Bakteri Salmonella dinamai dari Daniel Edward Salmon, ahli patologi Amerika. bakteri ini termasuk dalam anggota family Enterobacteriaceae gram negatif. Bakteri Salmonella berbentuk tongkat yang dapat menyebabkan tifoid, paratifod, dan penyakit yang ditularkan melalui makanan.

Spesies-spesies Salmonella dapat bergerak bebas dan menghasilkan H2S (hidrogen sulfida) dari hasil fermentasi glukosa dan manosa. Salmonella dapat hidup di dalam air maupun di tempat yang kering, bahkan dalam suhu beku untuk jangka waktu yang cukup lama, serta resisten terhadap zat-zat kimia tertentu. Beberapa spesies Salmonella dapat menyebabkan infeksi makanan diantaranya Salmonella enteritidisSalmonella choleraesuis, dan Salmonella typhi[2]. Penyakit yang paling sering ditemukan akibat bakteri Salmonella antara lain adalah tifus (tipes) dan salmonellosis

Bakteri penyebab tifus (tipes), Salmonella typhi, masuk ke usus melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi untuk kemudian berkembang biak di dalam saluran pencernaan. Demam tinggi, sakit perut, sembelit, atau diare akan timbul ketika bakteri ini telah berkembang biak.

Penularannya dapat berasal dari kontak dengan orang lain yang terkontaminasi. Oleh karena itu, sebaiknya mencuci tangan sebelum menyantap makanan. Selain itu, sebaiknya menghindari makanan seperti seafood, sayuran, daging, susu, dan telur yang belum dimasak[3].

Bagaimanakah dengan telur di Indonesia?

Distribusi telur produksi Rose Acre Farms tidak sampai ke Indonesia. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa masih ditemukan kasus kontaminasi Salmonella pada telur di dalam negeri, baik telur ayam, itik, dan telur lainnya. Kontaminasi Salmonella sp. pada kerabang telur (kulit telur) dapat terjadi pada saat oviposisi dimana saluran reproduksi bagian bawah ayam telah terinfeksi Salmonella sp. Kontaminasi pada kerabang juga dapat berasal dari luar baik kontaminasi dari feses maupun dari lingkungan luar. Kontaminasi Salmonella dapat masuk ke dalam telur melalui pori-pori pada kulit telur[4],[5].

Sebaiknya menghindari konsumsi telur mentah atau setengah matang karena bentuk fisik telur tidak dapat dijadikan indikator tercemar atau tidaknya oleh Salmonella[6]. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia, telur konsumsi harus negatif dari bakteri Salmonella[7].

Bagaimanakah Cara Mengindari infeksi Salmonella?

Pengendalian Salmonella pada tingkat produksi di peternakan dapat dilakukan dengan menggunakan bibit ayam dan bahan pakan  yang bebas Salmonella, karena jalur cemarannya dapat terjadi secara vertikal yaitu melalui induknya. Selain itu, penerapan biosecurity dan sanitasi lingkungan peternakan (termasuk kandang, peralatan kandang, lantai, dan air) sangat penting untuk diperhatikan.

Manusia yang terlibat dalam produksi harus mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja. Selanjutnya, yang harus diperhatikan adalah monitoring Salmonella pada proses penanganan pascapanen dan distribusinya sampai kepada retail dan konsumen. Pada dasarnya peternakan di Indonesia sebagian besar masih dilakukan secara ekstensif, sehingga sangat berpeluang untuk tercemar, termasuk oleh Salmonella. Namun, melakukan berbagai usaha di atas dapat mengurangi resiko terjadinya pencemaran. Penanganan yang tepat terhadap ternak dan produk olahannya berguna untuk menunjang keberhasilan penyediaan bahan pangan asal ternak yang ASUH.

Pada tingkat konsumen, sebaiknya daging atau telur dimasak matang sebelum dikonsumsi. Salmonella sp. berkembang sangat baik pada suhu 35°-43°C dan tidak dapat hidup pada suhu di bawah 5,2°C dan di atas 46,2 C

Secara umum, kunci menuju pangan aman antara lain dengan cara menjaga kebersihan, memisahkan pangan mentah dari pangan matang, memasak dengan benar,menjaga pangan pada suhu aman, dan menggunakan air dan bahan baku yang aman. Berikut ini adalah upaya prefentif agar pangan tidak tercemar oleh bakteri patogen,

  1. Menjaga kebersihan dapat dilakukan dengan mencuci tangan sebelum dan selama mengolah makanan, mencuci alat dan dapur/tempat pengolahan, mencuci tangan sesudah dari toilet, dan menjaga area dapur dan pangan dari serangga, hama, dan binatang lainnya.
  2. Memisahkan pangan mentah dari pangan matang contohnya adalah memisahkan daging sapi, daging unggas, dan seafood dari pangan lain, menggunakan peralatan yang terpisah, seperti pisau dan talenan untuk mengolah pangan mentah, dan menyimpan pangan dalam wadah untuk menghindari kontak antara pangan mentah dan pangan matang
  3. Memasak dengan benar terutama daging sapi, daging unggas, telur dan seafood. Rebuslah pangan sampai mendidih dan usahakan suhu internalnya mencapai 70°C atau lebih. Panaskan kembali pangan secara benar
  4. Menjaga pangan pada suhu aman dilakukan dengan menyimpan segera semua pangan yang cepat rusak dalam lemari pendingin, sebaiknya disimpan di bawah suhu 5°C. Pertahankan suhu makanan Iebih dari 60°C sebelum disajikan. Jangan menyimpan makanan terlalu lama dalam lemari pendingin. makanan beku yang telah mencair pada suhu ruang harus segera dimasak dan dikonsumsi.
  5. Menggunakan air dan bahan baku yang aman contohnya mendidihkan air terlebih dahulu, memilih pangan segar dan bermutu, dan menghindari pangan yang hampir busuk. Selain itu, pilihlah cara pengolahan pangan yang aman, seperti susu pasteurisasi yaitu dimasak pada 63°C selama 30 menit atau 72°-75°C selama 15 detik. Cucilah buah-buahan atau sayuran secara benar jika perlu dengan air panas,terutama yang dimakan mentah, karena Salmonella dapat hidup pada sayuran yang ditanamam di tempat yang tercemar[8],[9],[10],[11].

Referensi

[1] Kristine Phillips. 2018. 200 million eggs recalled after nearly two dozen were sickened with Salmonella, officials say. https://www.washingtonpost.com/news/business/wp/2018/04/15/200-million-eggs-recalled-after-nearly-two-dozen-were-sickened-with-Salmonella-officials-say/?noredirect=on&utm_term=.5eba1c886345 diakses 22 April 2018

[2] Putra, H. P. 2015. Deteksi Bakteri Salmonella Sp Pada Es Kelapa Muda Yang Dijual Di Wilayah Kecamatan Sekarbela Kota Mataram. Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Kesehatan. 1(2):51-55.

[3] Alo Dokter. 2018. Pengertian tifus. https://www.alodokter.com/tifus diakses 22 April 2018

[4] Nugroho, S., T. Purnawarman, dan A. Indrawati. 2016. Deteksi Salmonella spp. pada Telur Ayam Konsumsi yang Dilalulintaskan melalui Pelabuhan Tenau Kupang. Acta VETERINARIA Indonesiana. 3(1):16-22.

[5] Nugroho, W. S. 2005. Tingkat cemaran Salmonella sp. pada telur ayam ras di tingkat peternakan Kabupaten Sleman Yogyakarta.Prosiding Lokakarya Nasional Keamanan Pangan Produk Peternakan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. 160-165.

[6] Afifah, N. 2014. Uji Salmonella-shigella pada telur ayam yang disimpan pada suhu dan waktu yang berbeda. Edu Research. 2(1):35-46.

[7] Badan Standarisasi Nasional. 2008. Telur Ayam Konsumsi. Standar Nasional Indonesia 3926-2008.

[8] Sahara, E., T. Widjastuti, dan R. L. Balia. 2017. Pengaruh Pemberian Kitosan dalam Ransum untuk Mendapatkan Telur Bebas Salmonella (SPF). Jurnal Peternakan Sriwijaya. 6(2):52-59.

[9] Ariyanti, T dan Supar. 2005.Peranan Salmonella enteritidis pada Ayam dan Produknya. Indonesian Bulletin of Animal and Veterinary Sciences. 15(2):57-65.

[10] Murdiati, T., B. dan I. Sendow. 2006. Zoonosis yang ditularkan melalui pangan. Indonesian Bulletin of Animal and Veterinary Sciences 16(1):14-20.

[11] The Food Safety Authority of Ireland. Salmonella species. 2011. Microbial Factsheet Series. Issue 1. 1-5

10 komentar untuk “Penarikan Besar-besaran Telur di Amerika (207 Juta Butir Telur) Akibat Tercemar Salmonella sp. Bagaimana dengan Indonesia?”

  1. faktor yang menyebabkan adanya kontaminasi pada telur oleh bakteri salmonella sp antara lai dari bibit ayam yang bermasalah atau sudah terkea salmonella sp ,bisa terjadi saat oviposisi dimana saluran reproduksi bagian bawah ayam telah terinfeksi Salmonella sp. Kontaminasi pada kerabang juga dapat berasal dari luar baik kontaminasi dari feses maupun dari lingkungan luar. Kontaminasi Salmonella dapat masuk ke dalam telur melalui pori-pori pada kulit telur,kontaminasi tersebut dipicu dari perawatan kandang yang kurang intensif , baik kebersihan lingkungan maupun anak kandang dan kurangnya biosecutiy dalam kandang sehingga bakteri penimbul penyakt mudah meyerang ,

  2. Demi melindungi kesehatan
    masyarakat dari kemungkinan penularan
    penyakit melalui makanan dan minuman
    serta menjamin kesehatan masyarakat yang
    baik, pengelolaan makanan dan minuman
    yang aman bagi kesehatan merupakan
    faktor yang amat penting. Keamanan
    makanan dan minuman untuk umum,
    keluarga maupun perseorangan amat
    bergantung pada pengolahan dan
    penyediaan makanan dan minuman sampai
    menjadi makanan siap santap dan minuman
    siap diminum. (Depkes RI, 2004)
    Salah satu sumber magnesium
    adalah telur. Telur merupakan produk
    peternakan yang memberikan sumbangan
    terbesar bagi tercapainya kecukupan gizi
    masyarakat, karena mengandung zat-zat
    gizi yang lengkap dan mudah dicerna. Oleh
    karenanya, telur merupakan bahan pangan
    yang sangat baik untuk anak-anak yang
    sedang tumbuh dan memerlukan protein
    dan mineral dalam jumlah banyak
    (Sudaryani, 2003).
    Telur mengandung berbagai
    vitamin, antara lain vitamin A, riboflavin,
    asam folat, vitamin B6, vitamin B12, kolin,
    vitamin E, dan juga merupakan bahan
    pangan sumber mineral. Beberapa mineral
    yang terkandung dalam telur di antaranya
    besi, fosfor kalsium, kalium, natrium ,
    magnesium, tembaga, yodium, mangan, dan
    zink. (Almetsier, 2006)
    Menurut Syamsir (2010), dibalik
    penampilan kulit telur yang mulus telur
    ternyata mudah rusak akibat bakteri,
    Jumlah mikroba pada kulit telur sekitar
    102–107 koloni/gram (dinyatakan sebagai
    angka lempeng total). Beberapa bakteri
    patogen yang mungkin terdapat pada kulit
    telur adalah Salmonella, Campylobacter
    dan Listeria. Dari berbagai jenis patogen
    tersebut, Salmonella merupakan patogen
    utama yang mengontaminasi telur dan produk olahan telur. Genus Salmonella
    termasuk dalam famili Enterobacteriaceae,
    adalah bakteri gram negatif berbentuk
    batang langsing (0.7– 1.5×2-5 μm),
    fakultatif anaerobik, oxidase negatif, dan
    katalase positif. Ini merupakan alasan
    utama, mengapa telur mentah atau setengah
    matang tidak baik untuk dikonsumsi,
    karena pada telur terdapat bakteri
    Salmonella sp.
    Kerusakan telur oleh bakteri terjadi
    karena bakteri masuk ke dalam telur sejak
    telur berada di dalam maupun telur sudah
    berada di luar tubuh induknya. Kerusakan
    telur oleh bakteri sejak berada di dalam
    tubuh induknya terjadi misalnya induk
    menderita Salmonellosis sehingga telur
    mengandung bakteri Salmonella sp.
    Sedangkan masuknya bakteri ke dalam telur
    setelah telur berada di luar tubuh induknya
    misalnya berasal dari kotoran yang
    menempel pada kulit telur. Kotoran tersebut
    diantaranya adalah tinja, tanah atau suatu
    bahan yang banyak mengandung bakteri
    perusak. Bakteri ini masuk ke dalam telur
    melalui kulit telur yang retak atau
    menembus kulit ketika lapisan tipis protein
    yang menutupi kulit telur telah rusak dan
    lubang-lubang kecil yang terdapat pada
    permukaan telur yang disebut pori-pori.
    Kerusakan pada telur umumnya disebabkan
    oleh bakteri yang masuk melalui kulit yang
    retak atau menembus kulit ketika lapisan
    tipis protein yang menutupi kulit telur telah
    rusak. Telur yang terkontaminasi oleh
    bakteri Salmonella sp baik itu kontaminasi
    langsung yakni dari induk ayam ke embrio
    telur, maupun kontaminasi tidak langsung
    yakni dari pori-pori telur yang
    terkontaminasi salmonella sp atau
    berdasarkan lama penyimpanan telur
    tersebut.

  3. Kerusakan telur oleh bakteri terjadi
    karena bakteri masuk ke dalam telur sejak
    telur berada di dalam maupun telur sudah
    berada di luar tubuh induknya. Kerusakan
    telur oleh bakteri sejak berada di dalam
    tubuh induknya terjadi misalnya induk
    menderita Salmonellosis sehingga telur
    mengandung bakteri Salmonella sp.
    Sedangkan masuknya bakteri ke dalam telur
    setelah telur berada di luar tubuh induknya
    misalnya berasal dari kotoran yang
    menempel pada kulit telur. Kotoran tersebut
    diantaranya adalah tinja, tanah atau suatu
    bahan yang banyak mengandung bakteri
    perusak. Bakteri ini masuk ke dalam telur
    melalui kulit telur yang retak atau
    menembus kulit ketika lapisan tipis protein
    yang menutupi kulit telur telah rusak dan
    lubang-lubang kecil yang terdapat pada
    permukaan telur yang disebut pori-pori.
    Kerusakan pada telur umumnya disebabkan
    oleh bakteri yang masuk melalui kulit yang
    retak atau menembus kulit ketika lapisan
    tipis protein yang menutupi kulit telur telah
    rusak. Telur yang terkontaminasi oleh
    bakteri Salmonella sp baik itu kontaminasi
    langsung yakni dari induk ayam ke embrio
    telur, maupun kontaminasi tidak langsung
    yakni dari pori-pori telur yang
    terkontaminasi salmonella sp atau
    berdasarkan lama penyimpanan telur
    tersebut

  4. 1) Telur yang terkontaminasi oleh bakteri Salmonella sp baik itu kontaminasi langsung yakni dari induk ayam ke embrio telur. Kontaminasi pada telur oleh bakteri patogen dapat mempengaruhi pertumbuhan embrio ayam dan kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Kontaminasi dapat terjadi selama telur masih berada pada tubuh induk atau ketika sudah berada di luar tubuh induk. Jika Induk ayam petelur yang terinfeksi Salmonella enteritidis secara transovarial dapat menularkan bakteri tersebut melalui produk telurnya. Faktor internal infeksi Salmonella spp. dalam telur adalah kemampuan transovarian (vertikal transmisi) yang dimiliki oleh serovar Salmonella spp. tertentu untuk menginfeksi ke dalam kuning atau putih telur melalui ovarium atau oviduk.
    2) Kontaminasi tidak langsung yakni dari pori-pori telur yang terkontaminasi Pada cangkang telur ayam sering terdapat tinja ayam yang merupakan habitat bakteri koliform fekal atau kontaminasi udara kotor akibat cangkang telur yang pecah. Spesies-spesies bakteri koliform dapat masuk ke dalam cangkang secara difusi osmosis. Beberapa spesies bakteri koliform fekal, contohnya Escherichia coli dan Salmonella typhimurium merupakan mikroba patogen yang banyak menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia. Spesies-spesies bakteri koliform fekal dapat menembus pori-pori cangkang dan masuk ke dalam telur. Telur ayam memiliki cangkang yang berpori dan mudah retak atau pecah, sehingga sering terjadi kontaminasi oleh bakteri. Berdasarkan hal tersebut, maka kebersihan telur perlu mendapat perhatian
    3) Berdasarkan lama penyimpanan telur tersebut masa aman dan terbaik telur untuk dikonsumsi adalah maksimal 28 hari dari waktu bertelur. Oleh karenanya, penting untuk menyimpan telur dalam lemari pendingin. Jika tidak dalam kulkas, sebaiknya pastikan suhu tempat penyimpanan telur di bawah 5 derajat Celcius. Jika akan mengonsumsi telur maka liat dengan baik fisik telur tersebut. Jika ada pecahan atau retakan sebaiknya tidak di konsumsi.

  5. blank
    Andre Triandoyo

    Beberapa bakteri patogen yang mungkin terdapat pada kulit telur adalah Salmonella, Campylobacter
    dan Listeria. Dari berbagai jenis patogen tersebut, Salmonella merupakan patogen utama yang mengontaminasi telur dan produk olahan telur. Genus Salmonella termasuk dalam famili Enterobacteriaceae, adalah bakteri gram negatif berbentuk batang langsing (0.7– 1.5×2-5 μm), fakultatif anaerobik, oxidase negatif, dan katalase positif. Ini merupakan alasan utama, mengapa telur mentah atau setengah matang tidak baik untuk dikonsumsi, karena pada telur terdapat bakteri Salmonella sp.
    Kerusakan telur oleh bakteri terjadi karena bakteri masuk ke dalam telur sejak telur berada di dalam maupun telur sudah berada di luar tubuh induknya. Kerusakan telur oleh bakteri sejak berada di dalam tubuh induknya terjadi misalnya induk menderita Salmonellosis sehingga telur mengandung bakteri Salmonella sp. Sedangkan masuknya bakteri ke dalam telur setelah telur berada di luar tubuh induknya misalnya berasal dari kotoran yang menempel pada kulit telur. Kotoran tersebut diantaranya adalah tinja, tanah atau suatu bahan yang banyak mengandung bakteri perusak. Bakteri ini masuk ke dalam telur melalui kulit telur yang retak atau menembus kulit ketika lapisan tipis protein yang menutupi kulit telur telah rusak dan lubang-lubang kecil yang terdapat pada permukaan telur yang disebut pori-pori.
    Kerusakan pada telur umumnya disebabkan oleh bakteri yang masuk melalui kulit yang retak atau menembus kulit ketika lapisan tipis protein yang menutupi kulit telur telah rusak. Telur yang terkontaminasi oleh bakteri Salmonella sp baik itu kontaminasi langsung yakni dari induk ayam ke embrio telur, maupun kontaminasi tidak langsung yakni dari pori-pori telur yang terkontaminasi salmonella sp atau berdasarkan lama penyimpanan telur tersebut.

  6. blank
    Rd Maulid In Jamil

    Menurut saya faktor utama yang menyebabkan adanya kontaminasi pada telur yaitu kurangnya higiene dan sanitasi di peternakan. baik kebersihan minum pada ayam, tempat pakan, anak kandang yang bekerja, dan juga kebersihan telur pada saat pengumpulan dan penyimpanan yang kurang diperhatikan. Oleh karena itu kebersihan (telur) pada saat distribusi dan penyimpan-annya perlu diperhatikan dengan baik agar tidak terinfeksi oleh bakteri maupun oleh berbagai jenis kapang atau khamir.

  7. blank
    muhammad fahri

    Kerusakan telur oleh bakteri terjadi
    karena bakteri masuk ke dalam telur sejak
    telur berada di dalam maupun telur sudah
    berada di luar tubuh induknya. Kerusakan
    telur oleh bakteri sejak berada di dalam
    tubuh induknya terjadi misalnya induk
    menderita Salmonellosis sehingga telur
    mengandung bakteri Salmonella sp.
    Sedangkan masuknya bakteri ke dalam telur
    setelah telur berada di luar tubuh induknya
    misalnya berasal dari kotoran yang
    menempel pada kulit telur. Kotoran tersebut
    diantaranya adalah tinja, tanah atau suatu
    bahan yang banyak mengandung bakteri
    perusak. Bakteri ini masuk ke dalam telur
    melalui kulit telur yang retak atau
    menembus kulit ketika lapisan tipis protein
    yang menutupi kulit telur telah rusak dan
    lubang-lubang kecil yang terdapat pada
    permukaan telur yang disebut pori-pori.
    Kerusakan pada telur umumnya disebabkan
    oleh bakteri yang masuk melalui kulit yang
    retak atau menembus kulit ketika lapisan
    tipis protein yang menutupi kulit telur telah
    rusak. Telur yang terkontaminasi oleh
    bakteri Salmonella sp baik itu kontaminasi
    langsung yakni dari induk ayam ke embrio
    telur, maupun kontaminasi tidak langsung
    yakni dari pori-pori telur yang
    terkontaminasi salmonella sp atau
    berdasarkan lama penyimpanan telur
    tersebut. (Harianto, 2002)
    Kerusakan telur secara fisik berupa
    keretakan dapat terjadi pada saat
    pengepakan, pengangkutan, dan
    penyimpanan di setiap pedagang. Pedagang
    yang biasa berhubungan dengan telur salah
    satunya adalah pedagang warung kopi yang
    menjual menu telur pada masakannya.

  8. blank
    muhammad fahri

    wabah salmonelosis berasal dari
    makanan yang mengandung telur dengan kualitas
    terbaik (grade A) yang terkontaminasi secara vertikal (Ariyanti & Supar, 2005). Cemaran Salmonella
    spp. pada telur dapat terjadi pada proses produksi
    dan pascaproduksi apabila higiene dan sanitasi
    di peternakan dan pada saat pengumpulan dan
    penyimpanan kurang diperhatikan. Oleh karena itu
    kebersihan telur dalam distribusi dan penyimpanannya perlu diperhatikan dengan baik agar tidak
    terinfeksi oleh bakteri maupun oleh berbagai jenis
    kapang atau khamir. Cemaran berbagai serotype
    Salmonella spp. pada produk-produk asal ternak
    di Indonesia cukup memprihatinkan karena jumlah
    Salmonella spp. yang dapat diisolasi cukup banyak
    sehingga berpotensi untuk mengganggu kesehatan
    masyarakat (Bahri, 2002).
    Salmonella spp. merupakan penyebab salmonelosis dengan kasus klinis yang berbeda seperti:
    typhoid like disease, dengan agen infeksinya Salmonella Typhi dan Salmonella Paratyphi, dan dapat
    menyebabkan kematian manusia. Non-typhoid
    disease terbatas pada infeksi pada lapisan usus kecil
    yang menyebabkan gastroenteritis terutama oleh
    Salmonella Enteritidis dan Salmonella Typhimurium
    (Raffatellu et al., 2008). Salmonelosis non-typhoid
    adalah penyebab utama infeksi asal makanan yang
    mematikan di Amerika Serikat. Media yang paling
    umum dalam menginfeksi manusia adalah produk
    asal hewan termasuk daging, produk daging, telur
    dan produk telur. Makanan dan penyedia makanan
    berperan penting sebagai faktor yang berpengaruh
    terjadinya kontaminasi silang dari sumber hewan
    seperti unggas (Nutt et al., 2003).
    Infeksi Salmonella spp. dari pangan asal hewan
    memiliki peranan penting dalam kesehatan masyarakat dan khususnya pada keamanan pangan
    sehingga produk pangan asal hewan menjadi
    sumber utama infeksi Salmonella spp.

  9. blank
    Syarif Hidayatullah

    1. Faktor faktor yang menyebabkan adanya kontaminasi bakteri salmonela antara lain adalah karena kurang seterilnya sanitasi dalam kandang peternakan (lingkungan) Termasuk kandang, peralatan kandang, lantai, dan perlakuan terhadap telur.
    kontaminasi salmonela pada kerabat telur dapat terjadi pada saat oviposisi pada saat saluran bawah ayam terjadi infeksi salmonela. kontaminasi bakteri salmonella ini tidak serta merta dari ayam yang terinfeksi bakteri salmonella saja akan tetapi juga kontaminasi dari luar yaitu lingkungan yang kurang terjaga kebersihannya.

  10. blank
    Hasna nisa salma aliyah

    faktor penyebab Kontaminasi bakteri sanmonella sp pada telur yaitu :
    1. Kontaminasi langsung dari induk ayam
    2.kontaminasi tidak langsung, melalui pori-pori kerabang telur kurangnya kebersihan kandang.
    untuk mencegah adanya bakteri sanmonella sp harus meningkatkan sanitasi dan higienisan kandang maupun saat penyimpangan telur

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *