Alasan Kenapa Berita Hoax Saat Pandemi COVID-19 Cepat Tersebar

Akhir-akhir ini, banyak bermunculan berita hoax, terlebih saat pandemi COVID-19 merebak. Berita hoax cepat menyebar di berbagai platform. Berita hoax […]

Mengapa berita hoax cepat menyebar?

Akhir-akhir ini, banyak bermunculan berita hoax, terlebih saat pandemi COVID-19 merebak. Berita hoax cepat menyebar di berbagai platform. Berita hoax sangat mudah untuk ditemukan. Cukup dengan membaca grup WhatsApp keluarga, berita hoax akan dengan mudah ditemukan. Mulai dari informasi pengobatan alternatif COVID-19 dengan berbagai macam ramuan yang belum teruji klinis, hingga berbagai teori konspirasi mengenai COVID-19. Mereka yang mendapat informasi tersebut langsung menelannya mentah-mentah tanpa cross check atau bertanya pada ahlinya. Terlebih jika informasi yang diberikan cenderung menyepelekan COVID-19.

Mengapa Berita Hoax Cepat Menyebar?

Pernahkah anda bertanya-tanya, mengapa berita hoax di masa pandemi cepat tersebar? Berita hoax di masa pandemi cepat tersebar karena didasari oleh motif altruisme. Altruisme merupakan perilaku memberi seseorang tanpa mengharap imbalan. Altruisme pada penyebaran berita hoax terjadi ketika seseorang merasa harus menyebarkan informasi hoax. Para altruis penyebar berita hoax merasa informasi yang disebarkannya bermanfaat . Menurut penelitian Ma dan Chan (2014), altruisme berkorelasi positif dengan penyebaran informasi. Hal ini menunjukkan bahwa, pengguna media sosial akan membantu penyebaran informasi hoax ini tanpa mengharap imbalan sehingga penyebaran berita hoax menjadi sangat cepat [1].

Mengapa banyak orang yang percaya berita hoax di masa pandemi?

Jennifer Lerner, Seorang Ilmuwan Perilaku di Universitas Harvard dalam wawancaranya dengan Science News menyatakan bahwa kondisi emosi saat sesuatu terjadi mempengaruhi pengambilan keputusan. Orang-orang stress saat pandemi COVID-19 sehingga mereka tidak dapat mempertimbangkan apa manfaat dan risiko dari keputusan yang mereka ambil. Emosi manusia dapat dimanipulasi sehingga orang-orang yang mengalami ketakutan dan kemudian dihadapkan oleh berita hoax yang seakan-akan melindungi mereka dari bahaya [2], seperti ajakan minum minyak kayu putih yang diklaim dapat menyembuhkan COVID-19 serta ramuan herbal Bapak Hadi Pranoto yang beberapa waktu lalu sempat viral, akan mudah mempercayai berita hoax semacam itu. Sementara itu, orang yang menghadapi pandemi ini dengan kemarahan, cenderung menyepelekan bahaya pandemi ini [3][4]

Berita hoax memiliki efek manipulatif yang lebih kuat dari berita sesungguhnya. Pembuat berita hoax sengaja menulis berita tersebut dengan tujuan mempengaruhi emosi pembaca. Terlebih pada kondisi pandemi COVID-19, fakta akurat yang didapatkan mengenai virus ini seperti tingkat mortalitas COVID-19, bagaimana gejala spesifik yang ditimbulkan oleh COVID-19, dan bagaimana cara mengobati COVID-19 masih belum jelas. Oleh karena itu, peran emosi mendominasi pengambilan keputusan. Orang-orang dapat memilih untuk melakukan segala langkah antisipasi yang bersumber dari berita hoax seperti lebih memilih minum jamu saat merasakan gejala mirip COVID-19 dan tidak mau ke fasilitas kesehatan karena takut terjangkit COVID-19, atau tidak mematuhi protokol kesehatan karena sudah terlalu stres dengan pandemi sehingga memilih berita hoax yang menyatakan bahwa SARS-CoV 2 tidak berbahaya atau COVID-19 sebenarnya tidak ada [5].

Bagaimana cara mencegah penyebaran berita hoax?

Kita dapat memulai untuk mencegah penyebaran berita hoax. Pengendalian emosi sangat penting di masa pandemi agar dapat membuat keputusan yang benar terhadap berita hoax. Kemudian, kita harus melakukan cross-check terhadap semua informasi yang beredar menggunakan sumber yang valid seperti jurnal ilmiah dan berita ilmiah. Pemerintah juga memiliki tanggung jawab agar warganya tidak terkena manipulasi emosi dari berita hoax dengan cara mengkomunikasikan risiko COVID-19 dan langkah pencegahan kepada warganya dengan jelas.


[1] P. Moravec, R. Minas, dan A. Dennis, “Fake News on Social Media: People Believe What They Want to Believe When it Makes No Sense at All,” SSRN Electronic Journal, (2018).

[2] S. Gupta, “How fear and anger change our perception of coronavirus risk,” (2020).

[3] Gupta, ‘How fear and anger change our perception of coronavirus risk’.

[4] Tim Cek Fakta, “[KLARIFIKASI] Minyak Kayu Putih Dapat Membunuh Covid-19,” (2020).

[5] Gupta, ‘How fear and anger change our perception of coronavirus risk’.

1 komentar untuk “Alasan Kenapa Berita Hoax Saat Pandemi COVID-19 Cepat Tersebar”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *