Proyek “Jurassic Park”, Tahap Awal Kehancuran Ekosistem Komodo?

Akhir-akhir ini ramai isu soal proyek “Jurassic Park” yang sedang dibangun oleh pemerintah di Pulau Rinca. Proyek ini dibangun oleh […]

foto komodo menghalau truk pengangkut material

Akhir-akhir ini ramai isu soal proyek “Jurassic Park” yang sedang dibangun oleh pemerintah di Pulau Rinca. Proyek ini dibangun oleh pemerintah semenjak penutupan resort Loh Buaya di Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur pada 26 Oktober 2020.

Apa itu proyek “Jurassic Park”?

Proyek ini adalah proyek pembangungan yang dibangun oleh pemerintah dengan tujuan untuk mendongkrak sektor pariwisata di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK). Kini proyek tersebut mulai disorot oleh publik ketika foto komodo yang menghadang sebuah truk yang mengangkut material pembangunan tersebar di sosial media.

Dilansir dari idntimes.com beberapa proyek yang dibangun di Pulau Rinca ini diantaranya:

  1. Pembangunan penginapan
  2. Bangunan pusat informasi
  3. Peningkatan dermaga Loh Buaya
  4. Bangunan Elevated Deck (untuk menghubungkan bangunan-bangunan lainya)
  5. Bangunan Pengaman pantai

Selain itu terdapat juga proyek pembangunan hotel berbintang di Pulau Padar seperti yang dikatakan oleh Ketua Adat Desa Komodo kepada cnnindonesia.com

Komodo terancam punah

Sudah Kita ketahui bahwa Komodo merupakan hewan endemik asal NTT, Indonesia. Hewan ini hanya bisa ditemui di Indonesia dan jumlahnya yang kurang dari 5000 ekor membuatnya berstatus terancam punah. Hal ini diperparah dengan kondisi pemanasan global yang semakin parah disertai dengan kegiatan perburuan liar hewan Komodo.

Peneliti Australia memprediksikan bahwa Komodo dapat mengalami kepunahan pada tahun 2050 akibat perubahan iklim yang terus terjadi. Hal ini saja sudah menjadi sebuah ancaman yang cukup besar bagi keberlangsungan Komodo. Tetapi, ancaman kepunahan Komodo bukan hanya datang dari perubahan iklim yang ekstrim saja tetapi juga datang dari perburuan liar Komodo.

Dilansir dari tirto.id, pada tahun 2019 Kepolisian Daerah Jawa Timur berhasil menangkap komplotan pelaku penjual Komodo di pasar gelap internasional. Para pelaku menghargai Rp 20 juta per ekor anakan Komodo. Pelaku tersebut mengaku telah menjual 41 ekor komodo dalam 7 kali pengiriman terhitung sejak 2016 hingga 2019.

Dua kondisi ini membuat eksistensi Komodo benar-benar terancam. Tapi sayang, ancaman terhadap Komodo masih terus bertambah lagi dengan dibangunya proyek “Jurassic Park” oleh pemerintah pusat dengan dalih pembangunan sektor pariwisata.

Pemerintah pusat mengharapkan proyek wisata yang memakan biaya tidak kurang dari Rp69 miliar ini dapat meningkatkan sektor pariwista Indonesia dan mendongkrak ekonomi masyarakat sekitar.

Tapi apakah tujuan dan harapan itu tepat?

Masyarakat di kawasan TNK masih kesulitan mendapatkan air

Masyarakat di kawasan TNK saja masih kesulitan mendapatkan air bersih padahal itu merupakan kebutuhan dasar manusia.

Dilansir dari kumparan.com Masyarakat Pulau Papagarang dan Pulau Messah yang terletak di dalam kawasan Taman Nasional Komodo harus menghabiskan uang hingga Rp300-Rp500 ribu untuk kebutuhan air bersih mereka selama dua hari. Hal ini disebabkan karena tidak adanya sumber air tawar, sehingga diperlukan sumur bor untuk mendapatkan air di dalam tanah.

Bukankah seharusnya akan lebih baik apabila pemerintah dapat menyelesaikan masalah kebutuhan dasar masyarakat lokal terlebih dahulu ketimbang proyek ambisius pemerintah pusat?

Kemudian dibangunnya proyek ini jelas akan mempengaruhi keutuhan ekosistem Komodo yang telah hidup di pulau tersebut selama ribuan tahun lamanya. Dilansir dari merdeka.com Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan bahwa pembangunan sarana dan prasarana dibangun dengan menaati kaidah konservasi. Tapi bila kita melihat kasus tempat-tempat wisata lainya yang dibanjiri turis, kebanyakan lingkunganya menjadi rusak. Maka kecil kemungkinanya pembangunan proyek wisata ini dapat tetap mempertahankan ekosistem Komodo.

Contoh tempat wisata yang rusak akibat banyaknya turis berkunjung

Kita bisa mengambil contoh kasus Kota Prague di Republik Ceko yang menjadi salah satu destinasi wisata terkenal di Eropa ini yang terkena dampak negatif “over tourism” atau turis yang membludak berupa rusaknya tempat-tempat wisata.

Akibat banyaknya turis yang datang di salah satu tempat wisata di Kota Prague, salah satu tempat wisata di Kota tersebut rusak akibat terlalu banyak orang yang ingin mengambil foto.

Foto diatas merupakan foto saat turis belum banyak datang ke tempat tersebut.

Kemudian foto diatas adalah foto yang menunjukan kondisi saat sudah banyak turis datang ke tempat tersebut. Dapat dilihat bahwa rumput taman tersebut menjadi rusak dan mati akibat diinjak-injak oleh para turis yang ingin mengambil gambar di tempat tersebut. Hal ini di tunjukan oleh salah satu channel youtube bernama “Honest Guide” yang menunjukan bagaimana Kota Prague dirusak oleh para turis.

Di Indonesia sendiri terdapat kasus serupa, salah satunya adalah masalah sampah yang menumpuk di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Lombok. Beberapa tahun terakhir populartias destinasi wisata Gunung Rinjani memang sedang naik tajam. Banyak wisatawan lokal maupun asing mendaki gunung ini untuk mendapatkan pemandangan yang indah. Tetapi, karena banyaknya turis itulah Gunung Rinjani dijangkiti masalah sampah yang cukup parah.

Banyaknya turis yang datang ke tempat wisata sering kali membuat lingkungan tempat itu menjadi rusak akibat ulah para turis. Jika hal-hal ini tidak bisa ditangani dengan serius oleh pemerintah, kemudian masyarakat dan turis tidak bisa menjaga lingkungan dengan baik. Maka, proyek ini hanya akan menjadi awal dari kehancuran Komodo.

Referensi:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *