Ketika Aspal Bercampur dengan Limbah Plastik untuk Dipakai di Jalan Raya, Emang Bisa?

Penambahan jumlah limbah plastik meningkat sejak 1950 sampai 2015 dengan rata-rata 0,7% per tahun. Bahkan, sebanyak 55% limbah plastik dibuang […]

blank

Penambahan jumlah limbah plastik meningkat sejak 1950 sampai 2015 dengan rata-rata 0,7% per tahun. Bahkan, sebanyak 55% limbah plastik dibuang tanpa diolah. Limbah plastik ini bisa kita temukan di beberapa barang, seperti kemasan botol plastik, sedotan, plastik kresek, dan sebagainya (Ritchie & Rose, 2018).

Hal itu menunjukkan kalau plastik sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Meskipun saat ini sudah dikembangkan plastik yang dapat diurai oleh tanah (biodegradable plastics), plastik yang tak bisa diurai masih banyak, lho (Anonim, 2016). Hal ini memang karena biayanya yang murah dan mudah dipakai. Akan tetapi, tahu nggak kalau ternyata limbah plastik yang nonbiodegradable itu masih bisa dimanfaatkan sebagai zat tambahan dalam campuran aspal? Kok bisa?

Lagi, Kementerian PUPR Uji Coba Campuran Aspal-Limbah Plastik
Uji coba inovasi campuran aspal dengan limbah plastik (sumber: suara.com)

Bagaimana Bisa?

Menurut penelitian Ali dkk (2017), masalah limbah plastik yang berdampak negatif pada lingkungan dalam jangka waktu lama ternyata bisa diatasi dengan memanfaatkannya sebagai zat tambahan pada campuran aspal. Bindu (2010) juga meneliti bahwa penambahan 10% limbah plastik dapat meningkatkan beban maksimum aspal 64%, daya tarik ganda 18%, dan daya tekan 75% dibandingkan dengan tanpa tambahan limbah plastik (Bindu, 2010). Artinya, campuran aspal dengan limbah plastik dapat meningkatkan performa atau sifat-sifat fisik aspal (Suhardi, 2016). Bahkan, kadar limbah plastik sebesar 7,43% dapat meningkatkan kekuatan aspal 13,54%. Peningkatan ini berpengaruh pada ketahanan aspal di jalan raya (Naghawi, et al., 2018).

Ada beberapa metode untuk membuat campuran aspal. Metode yang pertama adalah cara kering (dry process), dan yang kedua cara basah (wet process) (Suroso, 2008). Cara kering adalah metode pembuatan aspal dengan cara memanaskan campuran agregat, aspal, dan zat aditif dalam satu wadah. Proses ini punya keuntungan temperatur yang dibutuhkan untuk pelapisan zat aditif sama seperti suhu pada permukaan jalan, penggunaan plastik sangat memungkinkan di atas 15%, hingga rendah toksik. Kalau dibandingkan dengan cara kering, cara ini membutuhkan banyak energi dan waktu yang lama (Gawande, Zamare, Renge, Tayde, & Bharsakale, 2012).

Plastik Apa Aja sih?

Limbah plastik bisa kita temukan di botol plastik, kemasan makanan, sampai tutup botol. Di tiap limbah tersebut terdapat kandungan polistirena, polietilena, dan polipropilena sebagai polimer yang potensial untuk dicampur ke dalam campuran aspal. Prosesnya juga ramah lingkungan, pencampuran aspal dengan limbah plastik mampu menghasilkan peningkatan umur Panjang serta kinerja pengerasan jalan  (Gawande, Zamare, Renge, Tayde, & Bharsakale, 2012).

Kalau dari kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari, jenis plastik dibagi menjadi dua: termoplas dan termoset. Termoplas ini jenis plastik yang masuk ke dalam kelas polimer yang mempertahankan struktur kimianya pada kondisi cair ataupun padat, sehingga memungkinkan terbentuknya plastik padat ataupun leleh saat diberi perlakuan panas. Plastik jenis termoplas mempertahankan struktur dan bentuknya setelah dipanaskan, serta tidak mengalami perubahan kembali ke bentuk asalnya (Freudenrich, 2020).

Bagaimana Aplikasinya di Indonesia?

Di Indonesia, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah menetapkan standar sifat-sifat campuran aspal dengan limbah plastik yang bisa dijadikan acuan untuk pengerasan jalan. aspal yang dicampuri limbah plastik dikategorikan sebagai aspal modifikasi (modified-asphalt). Nah, di situ bisa kelihatan parameter-parameter mekanik yang menentukan sifat campuran aspal modifikasi.

Dilansir dari website balitbang.pu.go.id, pengujian inovasi campuran aspal dengan limbah plastik dilakukan di Universitas Udayana, Bali, Bekasi, Solo, Makassar dan Pasuruan, pada akhir tahun 2017. Uji gelar aspal plastik berlokasi di rest area 43A Tol Jakarta-Merak, Tangerang (Banten) yang sudah ke-6 kalinya (nd, 2017).

Tantangan dan Proyeksi ke Depan

Ya, walaupun standarnya sudah ada, kenyataannya aplikasi aspal modifikasi tersebut masih memiliki kelemahan, di antaranya penggunaan polietilena berdensitas rendah dan tinggi yang dimanfaatkan untuk campuran aspal, ternyata lebih berharga jika didaur ulang. Di sisi lain, prosesnya juga melibatkan plastik berlapis yang terbatas, serta hanya bisa berlaku bagi kemasan berlaminasi 60 mikron. Belum lagi adanya polusi mikroplasstik yang dihasilkan (Suriyani, 2017).

Penelitian terkait aspal modifikasi masih berlanjut agar performanya bisa optimal. Meskipun demikian, dengan penggunaan aspal modifikasi pada pengerasan jalan secara masif, secara langsung bisa mengatasi dua permasalahan sekaligus: masalah plastik dan peningkatan performa aspal. Gimana, kamu tertarik nggak untuk andil dalam riset ini lebih lanjut?

Daftar Pustaka

  • Anonim. (2016). Retrieved from Bioplastics Guide: http://www.bioplastics.guide/ref/fossil-based/non-biodegradable
  • Bindu, K. (2010). Waste plastic as a stabilizing additive in Stone Mastic Asphalt. International Journal of Engineering and Technology, 379-387.
  • Freudenrich, C. (2020). howstuffworks. Retrieved from https://science.howstuffworks.com/plastic4.htm
  • Gawande, A., Zamare, G., Renge, V., Tayde, S., & Bharsakale, G. (2012). An overview on waste plastic utilization in asphalting of roads. Journal of Engineering Research and Studies, 1-5.
  • Naghawi, H., Al-Ajarmeh, R., Allouzi, R., AlKlub, A., Masarwah, K., Al-Quraini, A., & Abu-Sarhan, M. (2018). Plastic waste utilization as asphalt binder modifier in asphalt concrete pavement. International Journal of Civil and Environmental Engineering, 12(5), 557-562.
  • nd. (2017, Desember 14). Retrieved from Balitbang: http://litbang.pu.go.id/pkpt/berita/view/60/aspal-campur-plastik-digelar-di-rest-area-tol-merak
  • Ritchie, H., & Rose, M. (2018, September). Our World in Data. Retrieved from https://ourworldindata.org/plastic-pollution
  • Suhardi. (2016). Studi karakteristik Marshall pada campuran aspal dengan penambahan limbah botol plastik. Jurnal Rekayasa Sipil dan Desain, 4(2), 284-293.
  • Suriyani, L. D. (2017, Agustus 2). Mongabay: Situs Berita Lingkungan. Retrieved from https://www.mongabay.co.id/2017/08/02/limbah-plastik-digunakan-untuk-aspal-jalan-ternyata-berisiko-kenapa/
  • Suroso. (2008). Pengaruh penambahan plastik LDPE (Low Density Polyethilen)cara basah dan cara kering terhadap kinerja campuran aspal. Media Komunikasi Teknik Sipil, 16(3), 208-222.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *