Hasil Penelitian 10 Tahun Buktikan Bahwa Buaya adalah Hewan yang Sangat Setia pada Pasangan, Bukan Sebaliknya!

blank
blank

Buaya menunjukkan kesetiaan yang sama kepada pasangan kawinnya seperti halnya burung. Penelitian selama sepuluh tahun yang terbit di jurnal Molecular Ecology mengungkapkan bahwa 70% buaya betina memilih untuk tetap bersama pasangan mereka, seringkali selama bertahun-tahun. Di Indonesia sendiri khususnya di Betawi, masyarakat telah mengetahui sejak lama mengenai kesetiaan buaya. Oleh karena itu, roti buaya menjadi sajian wajib dalam acara pernikahan tradisional Betawi hingga saat ini.

Penelitian tersebut dilakukan oleh tim ilmuwan dari Laboratorium Ekologi Sungai Savannah Universitas Georgia Amerika Serikat. Paper yang dipublikasikan berjudul “Multi-year multiple paternity and mate fidelity in the American alligator, Alligator mississippiensis” yang terbit di jurnal terkemuka Molecular Ecology (Q1) pada tahun 2009. Tim yang dipimpin oleh Stacey Lance tersebut menghabiskan waktu 10 tahun untuk meneliti sistem perkawinan buaya yang tinggal di Rockefeller Wildlife Refuge (RWR) di Louisiana. Rockefeller Wildlife Refuge (RWR) sendiri adalah rawa yang cukup luas yang digunakan sebagai suaka margasatwa. Banyak penelitian dilakukan di RWR untuk pengelolaan lahan rawa dan penelitian mengenai buaya.

“Mengingat betapa sangat terbuka dan padatnya populasi buaya di RWR, kami tidak berharap menemukan kesetiaan,” kata Lance. “Untuk benar-benar menemukan bahwa 70% dari buaya betina menunjukkan kesetiaan kepada pasangan adalah sungguh luar biasa. Saya rasa tidak ada dari kita yang menyangka bahwa pasangan buaya yang sama yang berkembang biak bersama pada tahun 1997 akan tetap berkembang biak secara bersama pada tahun 2005 dan mungkin masih bersama hingga hari ini.” Penemuan tersebut memberikan wawasan baru tentang sistem perkawinan buaya yang kompleks. 

blank

Meskipun buaya betina di RWR bergerak bebas melalui wilayah buaya jantan sehingga menyebabkan tingginya peluang kawin, penelitian ini mengungkapkan bahwa banyak buaya memilih untuk kawin dengan pasangan yang sama selama banyak musim kawin yang diamati hingga 10 tahun. Ini merupakan bukti pertama untuk kesetiaan pasangan pada spesies buaya dan mengungkapkan kesamaan dalam pola kawin antara spesies buaya dan burung yang sama-sama setia.

Masyarakat Indonesia utamanya masyarakat Betawi telah mengetahui kesetiaan buaya pada pasangannnya sejak dahulu kala. Itulah sebabnya, dalam budaya Betawi, buaya justru dijadikan simbol kesetiaan dan kelanggengan dalam sebuah hubungan. Roti buaya menjadi sajian wajib dalam acara pernikahan tradisional Betawi.

blank
Roti buaya, sajian wajib dalam acara pernikahan tradisional Betawi hingga saat ini.

Kehadiran roti buaya yang biasanya sepanjang 50 sentimeter selalu menempati posisi penting yang wajib ada didalam setiap acara pernikahan tradisional Betawi. Secara historis, tradisi pemberian roti buaya sudah dilakukan sejak jaman dahulu kala. Uniknya, tradisi ini hadir untuk bersaing dengan orang Eropa di Batavia (Jakarta) yang saat itu menunjukkan rasa cinta dengan memberikan bunga kepada lawan jenis sebagai simbol kasih sayang. Masyarakat Betawi pun tak mau kalah, mereka lantas menjadikan roti buaya sebagai lambang kesetiaan. Tradisi itu bertahan hingga hari ini.

Menurut Tokoh Muda Betawi yakni Masykur Isnan, baginya roti buaya juga memiliki nilai sosiologis dan filosofis bagi masyarakat Betawi. Apalagi etnis Betawi selalu tinggal di dekat sungai dan rawa. Oleh karena itu, suku Betawi sangat erat kaitannya dengan habitat buaya. “Bagi masyarakat Betawi, kesetiaan buaya hanyalah bentuk keteladanan. Sebab, dalam roti buaya juga melambangkan hal-hal lain seperti kejantanan, kekuatan penuh, dan kesabaran saat berburu mangsa. Jadi, di roti buaya yang dibuat-buat, semua kualitas bagus buaya bisa terwakili dalam roti buaya, ”ujar Masykur pada voi.id.

Roti buaya juga telah dikaji secara mendalam oleh Herra Herryani dkk pada papernya yang berjudul “Crocodile Bread As A Ceremonial Marriage Food: Symbolism For The Betawi Ethnic Group (Study Case In Setu Babakan)“. Di dalam abstrak papernya dijelaskan sebagai berikut:

Roti buaya merupakan lambang kesetiaan karena buaya merupakan reptilia yang bersifat monogami: betina berpasangan dengan pasangan hidup yang sama, dan memiliki sarang yang tetap. Makna filosofis yang terkandung dalam roti buaya adalah kesetiaan pasangan, melalui generasi anak dan cucu, serta memiliki tempat tinggal tetap. Buaya adalah hewan pemberani, dan mereka dapat hidup di dua dunia (di darat dan di air). Roti digunakan sebagai simbol harapan agar rumah tangga menjadi tangguh dan mampu bertahan hidup dimana saja. Buaya dibuat dari roti dimulai pada zaman penjajahan Belanda. Saat ini, seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, roti buaya semakin banyak dibuat dari adonan roti yang manis, dan juga cenderung mengandung coklat, keju atau strawberry; sekarang dapat langsung dikonsumsi oleh keluarga mempelai wanita. Dengan berjalannya waktu, terjadi pergeseran; Semakin berkembang pengertian bahwa roti buaya merupakan lambang kekayaan karena roti dianggap makanan yang mahal. Biasanya roti berbentuk buaya itu panjangnya sekitar 50 centimeter, meski terkadang sampai satu meter, dan dibawa oleh mempelai pria pada acara pernikahan. Roti tersebut dibuat menjadi sepasang buaya, melambangkan kedua mempelai. Roti pengantin melambangkan buaya betina dan termasuk buaya kecil yang diletakkan di punggung atau samping buaya betina. Buaya kecil ini dimaksudkan untuk menandakan bahwa keluarga yang baru menikah akan dikaruniai seorang anak sebagai penerus keluarga. Di akhir upacara pernikahan, roti buaya biasanya diberikan kepada saudara perempuan yang belum menikah, dengan harapan mereka akan segera menikah. Kita harus melestarikan dan memelihara budaya kita, dan membiarkannya diketahui oleh bangsa lain. Roti melambangkan buaya betina dan termasuk buaya kecil yang diletakkan di punggung atau samping buaya betina. Buaya kecil ini dimaksudkan untuk menandakan bahwa keluarga yang baru menikah akan dikaruniai seorang anak sebagai penerus keluarga. Di akhir upacara pernikahan, roti buaya biasanya diberikan kepada saudara perempuan yang belum menikah, dengan harapan mereka akan segera menikah. Kita harus melestarikan dan memelihara budaya kita, dan membiarkannya diketahui oleh bangsa lain. Roti melambangkan buaya betina dan termasuk buaya kecil yang diletakkan di punggung atau samping buaya betina. Buaya kecil ini dimaksudkan untuk menandakan bahwa keluarga yang baru menikah akan dikaruniai seorang anak sebagai penerus keluarga. Di akhir upacara pernikahan, roti buaya biasanya diberikan kepada saudara perempuan yang belum menikah, dengan harapan mereka akan segera menikah. Kita harus melestarikan dan memelihara budaya kita, dan membiarkannya diketahui oleh bangsa lain.

blank

blank
. Roti buaya. Kiri roti buaya jantan dan kanan roti buaya betina (termasuk buaya kecil yang diletakkan di punggung atau samping buaya betina)

Mungkin sahabat Warstek bertanya-tanya, Lalu berasal dari manakah istilah ‘buaya darat’ itu?

Dilansir dari brillio.id, munculnya istilah buaya darat tidak lepas dari legenda yang berkembang di kalangan masyarakat Indonesia. Dahulu kala, di daerah Soronganyit, Jember, tinggal sekelompok buaya yang hidup di tambak. Dalam kesehariannya, mereka mempunyai jadwal yang rutin, kapan harus berada di darat dan kapan harus di air. Rupanya, buaya-buaya tersebut memang dipelihara oleh sang pemilik tambak. Suatu ketika, pemilik tambak itu merasa kehilangan seekor buaya jantan. Peristiwa itu sontak membuat seluruh isi desa gempar. Mereka takut jika buaya tambak itu masuk ke rumah warga dan membahayakan keselamatan mereka.

Memasuki bulan ketiga, buaya misterius itu akhirnya ditemukan di desa sebelah dengan kondisi lingkungan yang tandus dan kering. Kendati demikian, buaya itu mampu bertahan hidup. Konon buaya itu dapat bertahan hidup dengan berselingkuh dengan buaya betina yang bukan pasangannya. Ironisnya, buaya betina tersebut masih seumuran dengan anak buaya jantan itu sendiri. Seketika, cerita perilaku abnormal buaya jantan itu menyebar luas dari mulut ke mulut. Berkaca dari kisah perselingkungan buaya itu, banyak orang kemudian menjuluki pria hidung belang dengan sebutan ‘lelaki buaya darat’.

Referensi:

Warung Sains Teknologi
Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar