Pemanasan Global yang Menjadi Penyebab Penyakit DBD dan Malaria

blank

Pemanasan global (global warming) dapat memicu penyebarluasan berbagai macam penyakit yang dibawa oleh vektor serangga yaitu nyamuk dan lalat, misalnya penyakit malaria dan demam berdarah dengue (DBD). Arbovirus (virus Arbo) adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada sekelompok virus dari berbagai family, yang ditularkan oleh vektor arthropoda atau serangga. Kata virus Arbo merupakan singkatan kata dari arthropod-borne virus (ARthropod BOrne virus: Arbovirus).

Penyakit Arbovirus disebabkan oleh berbagai macam virus RNA, serangga menularkan virus ke tubuh manusia. Di dalam tubuh serangga, virus menginfeksi dan mereplikasi diri pada kelenjar air liur sehingga menyebabkan viremia, dimana virus berada dalam aliran darah serangga (Gubler, 2009). Serangga menularkan virusnya pada saat menggigit tubuh manusia sehingga virus masuk ke sistem peredaran darah manusia.

Nyamuk sebagai vektor penular virus penyakit DBD dan Malaria
Nyamuk sebagai vektor penular virus penyakit DBD dan Malaria.

Seorang peneliti yang bernama Robert Shope dari Laboratorium Arbovirus di Universitas Yale, Amerika Serikat melakukan penelitian tentang Arbovirus selama 40 tahun. Hasilnya menyatakan bahwa ada hubungan secara langsung dan erat kaitannya antara pemanasan global dengan semakin menyebarnya arbovirus seperti virus dengue dan parasit Protozoa, misalnya malaria dan DBD ke daerah-daerah yang sebelumnya dijumpai.

blank

Jenis Nyamuk yang Menjadi Penyebab Penyakit DBD dan Malaria

Jenis nyamuk yang menjadi vektor utama penyakit DBD dan malaria adalah Aedes aegypti  dan Anopheles. Nyamuk ini yang semula ditemukan dan mampu berkembang biak di daerah-daerah tropis dengan suhu udara 16-20°C atau pada daerah dengan ketinggian di bawah 1000 mdpl (meter di atas permukaan laut). Tetapi, karena pemanasan global, sekarang nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles ditemukan di daerah-daerah subtropis dan pada ketinggian di mana nyamuk tidak ditemukan sebelumnya, misalnya di Afrika Tengah, Ethiopia dan beberapa daerah Asia lainnya.

Unsur Iklim yang Berpengaruh Terhadap Penyakit DBD dan Malaria

Perubahan suhu udara disertai dengan air yang cukup merupakan faktor utama perkembangbiakan jenis-jenis nyamuk. Pemanasan global cenderung meningkatkan suhu sehingga semakin banyak daerah yang kondusif terhadap perkembangan nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles. Nyamuk sebagai vektor atau perantara pembawa penyakit di daerah yang sebelumnya dianggap terlalu dingin sehingga tidak bisa bertahan, ternyata dapat menyesuaikan diri untuk bertahan hidup dan berkembang biak.  Akibatnya, semakin banyak penduduk yang berisiko terserang penyakit DBD dan malaria. Siklus perkawinan dan pertumbuhan nyamuk dari telur menjadi larva dan nyamuk dewasa akan menjadi lebih singkat, sehingga jumlah populasinya cepat bertambah. Dengan demikian, angka kematian akibat penyakit DBD dan malaria juga akan bertambah.

Penyakit DBD dan Malaria Meluas karena Terjadinya Pemanasan Global

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) dana malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang disebarluaskan terutama oleh nyamuk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkannya ke dalam penyakit infeksi baru yang sedang muncul. DBD semakin meluas sebaran geografisnya dan semakin meningkat jumlah korbannya. Sekurang-kurangnya 2/5 penduduk Bumi berisiko terancam infeksi DBD.

Lebih dari 100 negara di dunia terutama yang berada di tropis dan sebagian subtropis melaporkan wabah penyakit DBD dengan angka kematian mencapai 1000 kasus per tahun. Pemanasan global menyebabkan daerah subtropis menjadi relatif lebih hangat, sehingga nyamuk yang pada awalnya hanya berada dan berkembang biak di tropis akan bermigrasi dan bertahan di daerah beriklim subtropis. Akibatnya, sekarang mulai ditemukan dan dilaporkan adanya penyakit DBD dan malaria di daerah-daerah yang dulunya dinyatakan bebas dari wabah tersebut.

Dibawah ini disajikan video tentang penyakit DBD yang semakin meluas dan mengancam dunia.

Baca juga:

Upaya Untuk Meminimalisir Meluasnya DBD dan Malaria

Perubahan iklim menyebabkan terjadinya perubahan curah hujan berdampak pada kenaikan kejadian demam beradarah dan malaria. Sebagai upaya untuk melindungi masyarakat dari dampak perubahan iklim terhadap kejadian demam berdarah dan malaria ini, diperlukan berbagai upaya seperti upaya mitigasi (minimalisasi penyebab dan dampak) dan adaptasi (menanggulangi risiko kesehatan). Early warning system terhadap kejadian luar biasa DBD harus dilaksanakan di setiap daerah dengan memperhatikan kecenderungan perubahan faktor iklim. Selain itu diperlukan perbaikan lingkungan yang harus disertai dengan perubahan faktor lain seperti perilaku dan pelayanan kesehatan.

Referensi:

Bayong TjHK. (2019). 555 Tanya Jawab Cuaca Iklim Lingkungan dan Bioklimatologi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ekawasti, F., & Martindah, E. (2018). Vector Control of Zoonotic Arbovirus Disease in Indonesia.

Rinawan, F. (2015). Dampak Perubahan Iklim Terhadap Kejadian Demam Berdarah di Jawa Barat. Jurnal Sistem Kesehatan, 1(1).

https://m.medcom.id/tag/9596/malaria diakses tanggal 15 November 2020.

Artikel Lainnya:

https://youtu.be/Jh1BDnl4q4w diakses tanggal 15 November 2020.

Muhammad Abil Nurjani
Latest posts by Muhammad Abil Nurjani (see all)
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar