Plastik membawa masalah?

Plastik membawa masalah?

Indonesia memiliki populasi pesisir sebesar 187,2 juta yang setiap tahunnya menghasilkan 3,22 juta ton sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik. Sekitar 0,48-1,29 juta ton dari sampah plastik tersebut diduga mencemari lautan. Persentase kontribusi sampah plastik di Indonesia tidak jauh berbeda dengan Malaysia (14%) dan Thailand (16%) namun lebih rendah dibandingkan Singapura (27,3%) (AOP, 2007). Namun secara riil, produksi sampah plastik di Indonesia sangat besar sebab secara total produksi sampah Indonesia mencapai 189 kilo ton/hari jauh lebih besar dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara (Kholidah dkk, 2018). Dampak untuk Indonesia, tentu saja polusi akan semakin meningkat. Kualitas lingkungan hidup sudah tentu akan terancam.


Semakin meningkatnya sampah plastik ini akan menjadi masalah serius bila tidak dicari penyelesaiannya. Penanganan sampah plastik yang populer selama ini adalah dengan 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Reuse adalah memakai berulang kali barang-barang yang terbuat dari plastik. Reduce adalah mengurangi pembelian atau penggunaan barang-barang dari plastik, terutama barang-barang yang sekali pakai. Recycle adalah mendaur ulang barang-barang yang terbuat dari plastik.

Berdasarkan yang dilakukan oleh Jenna R. Jambeck dari University of Georgia, pada tahun 2010 terdapat 275 juta ton sampah plastik yang dihasilkan di seluruh dunia. Sekitar 4,8-12,7 juta ton diantaranya terbuang dan mencemari laut. Sedangkan Jumlah Polusi Laut atas Sampah Plastik (juta ton/tahun), Indonesia menempati urutan kedua di dunia dengan pencemaran sampah plastik ke laut terbesar.

Meningkatnya jumlah sampah saat ini disebabkan oleh tingkat populasi dan standar gaya hidup, yaitu semakin maju dan sejahtera kehidupan seseorang maka semakin tinggi jumlah sampah yang dihasilkan. Peningkatan jumlah sampah terjadi seiring deret ukur sedangkan ketersedian lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah mengikuti deret hitung. Hal ini mengakibatkan lahan TPA memiliki umur yang pendek karena tidak mampu lagi menampung sampah yang ada. Rendahnya teknologi yang dimiliki dan lemahnya infrastruktur menimbulkan permasalahan sampah yang cukup rumit terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Pemerintah selaku stakeholder mempunyai kewajiban untuk menerapkan sistem pengelolaan sampah yang efektif dalam mengatasi permasalahan sampah. Selain itu, peran serta masyarakat juga diharapkan dapat membantu mengatasi masalah tersebut karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap masalah akibat keberadaan sampah mempunyai andil besar dalam memperburuk tata kelola sampah.

Sampah plastik dapat bertahan hingga bertahun-tahun sehingga menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan. Sampah plastik tidaklah bijak jika dibakar karena akan menghasilkan gas yang akan mencemari udara dan membahayakan pernafasan manusia, dan jika sampah plastik ditimbun dalam tanah maka akan mencemari tanah, air tanah. Plastik sendiri dikonsumsi sekitar 100 juta ton/tahun di seluruh dunia. Satu tes membuktikan 95% orang pernah memakai barang mengandung Bisphenol-A. Oleh karena itu pemakaian plastik yang jumlahnya sangat besar tentunya akan berdampak siqnifikan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan karena plastik mempunyai sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable), plastik diperkirakan membutuhkan 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna.

Dengan demikian pemakaian plastik baik plastik yang masih baru maupun sampah plastik haruslah menurut persyaratan yang berlaku agar tidak berbahaya terhadap kesehatan dan lingkungan. Penggunaan plastik dalam kehidupan modern ini terlihat sangat pesat sehingga menyebabkan tingkat ketergantungan manusia pada plastik semakin tinggi. Hal tersebut disebabkan plastik merupakan bahan pembungkus ataupun wadah yang praktis dan kelihatan bersih, mudah didapat, tahan lama, juga murah harganya. Tetapi dibalik itu, banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahaya dari plastik, dan cara penggunaan yang benar.

Daftar Pustaka

Asian Productivity Organization (AOP). (2007). Solid Waste Management: Issues and Challenges in Asia. Tokyo

Kholidah, N., Faizal, M., Said, M. (2018). Polystyrene P lastic Waste Conversion into Liquid Fuel with Catalytic Cracking Process Using Al2O3 as Catalyst. Science & Technology Indonesia, 3, 1- 6

Plastik Membawa Sejuta Masalah

Plastik Membawa Sejuta Masalah

 Ditulis oleh Ellisa Sukma

Permasalahan terkait sampah masih menjadi akar masalah yang sepanjang masa ini tetap membayangi keberlangsungan hidup manusia maupun makhluk hidup lainnya. Mirisnya, pada kenyataanya permasalahan sampah ini masih belum dapat dikelola secara maksimal. Salah satunya adalah sampah plastik karena butuh waktu ratusan tahun agar dapat terurai di alam, akibatnya sampah plastik akan sangat berpotensi untuk mencemari lingkungan, menganggu ekosistem yang ada dan pada akhirnya akan berdampak pada keberlangsungan makhluk hidup. Laporan Hendiarti (2018) menunjukkan bahwa peningkatan sampah di Indonesia mencapai 38 juta ton/tahun dan 30% dari sampah tersebut adalah plastik[2]. Berdasarkan data diatas maka dapat dikatakan bahwa tingkat konsumsi plastik oleh masyarakat kita masing tergolong tinggi.

Gambar Potret sampah yang ada di Indonesia[1]

Permasalahan terkait sampah tidak hanya terjadi di Indonesia namun juga terjadi di beberapa Negara besar lainnya. Kajian Laporan Sintetis yang diinisiasi Bank Dunia bersama sejumlah Lembaga peneliti di Indonesia pada 2018 menyebutkan, tidak kurang dari 150 juta ton plastik telah mencemari lautan dunia. Asia Timur ditenggarai sebagai wilayah dengan pertumbuhan produksi sampah tercepat di dunia. Penelitian yang dilakukan Jenna R. Jambeck pada 2015 menegaskan hal serupa. Dari total 192 negara yang dikaji, sebanyak lima negara di Kawasan Asia Timur bertanggung jawab atas lebih dari setengah sampah plastik yang ada di lautan. Mirisnya, dari kelima negara tersebut, Indonesia menempati urutan kedua setelah Tiongkok. Disusul dengan Vietnam, Filipina, dan Thailand. Total sampah plastik Indonesia yang berakhir ke laut diketahui mencapai 187,2 juta ton[3].

Celakanya, sangat tidak dapat dipungkiri kuantitas sampah kian hari terus meningkat. Data Bank Dunia pada 2012 menunjukkan, Indonesia menghasilkan 85 ribu ton sampah setiap harinya[3]. Jumlah ini diperkirakan terus naik hingga 150 ribu ton per hari pada 2025. Dari sampah yang dihasilkan tersebut, timbunan sampah di Indonesia pada 2016 diketahui mencapai 65,2 juta ton per tahun[3]. Dari jumlah itu, komposisi sampah plastik berkontribusi sebesar 16 persen, atau sekitar 10 juta ton. Menurut G Adventures, Ocean Conservancy, Plastic Oceans, dilaut 8 juta ton plastik berakhir di laut setiap tahun 22% lumba-lumba dan paus memakan plastik 100% ilmuwan menemukan sampah plastik di setiap habitat pantai dimana kura-kura diteliti 90% burung laut terdapat plastik di perutnya 1 dari 3 ikan laut terpapar sampah plastik[3].

Gambar Biota laut memakan sampah plastik[4]

Sampah plastik yang masuk ke laut lama-kelamaan akan mengalami degradasi dan akan terurai menjadi partikel-partikel kecil yang disebut plastik mikro)[5]. Studi hasil investigasi dari State University of New York yang didukung Orb Media, menemukan adanya mikroplastik pada sampel air minum kemasan yang beredar di Jakarta, Medan, dan Denpasar[5]. Dampak turunan dari mikroplastik ini sangat berbahaya jika terus dibiarkan. Meskipun ukuran plastik mikro yang kecil dan susah terlihat oleh mata, namun plastik mikro dapat berpotensi memberikan dampak negatif dan mencemari biota-biota yang ada di perairan. Efek samping dari mikro/nanoplastik dapat terjadi dari kombinasi toksisitas intrinsik plastik, komposisi kimia, dan kemampuan untuk menyerap, berkonsentrasi, dan melepaskan polutan lingkungan [6]. Selain itu plastik mikro dapat menjadi patogen yang berpotensi membawa spesies mikroba ke perairan. Biota diberbagai tingkat trofik dikhawatirkan terkontaminasi plastik mikro sehingga organisme tingkat trofik yang lebih rendah dikonsumsi, maka akan berpotensi mempengaruhi kesehatan manusia[7]. Plastik mikro dalam tubuh biota dapat merusak saluran pencernaan, mengurangi tingkat pertumbuhan, menghambat produksi enzim, menurunkan kadar hormon steroid, mempengaruhi reproduksi, dan paparan aditifnya bersifat toksik[8]. Berdasarkan pemaparan diatas maka sampah plastik dapat berdampak pada keberlangsungan makhluk hidup jika terus-menerus terjadi dan tidak ada penanganan secara maksimal dari pemerintah, yang kemudian memberikan arahan kepada para masyarakat terkait cara mengurangi permasalahan sampah tersebut.

Referensi:

[1] Anonim. 2019. Potret Sampah Plastik Di Indonesia Dari Impor Hingga Dana Hibah. (Online). https://fotokita.grid.id/read/111772764/potret-sampah-plastik-di-indonesia-dari-impor-sampah-hingga-dana-hibah?page=all

[2] Septiani, B. A., Arianie, D. M., Risman, V. F. A. A., Handayani, W., & Kawuryan, I. S. S. Pengelolaan Sampah Plastik Di Salatiga: Praktik, Dan Tantangan. Jurnal Ilmu Lingkungan, 17(1), 90-99.

[3] Kementrian Keuangan. 2019. Bumi Dalam Kantong Plastik. Media Keuangan. Vol XIV (144) [4] Hiar Hairil, 2018. Saat Laut Terpapar Sampah Plastik Jadi Pembahasan Global. (Online). https://kieraha.com/saat-laut-terpapar-sampah-plastik-jadi-pembahasan-global/

[5] Galgani, F. The Mediterranean Sea: From litter to microplastics. (2015) Micro 2015: Book of abstracts.

[6] Gregory, M.R., 1996).Gregory, 1996. M.R. GregoryPlastic ‘Scrubbers’ in Hand Cleansers: a further (and minor) source for Marine Pollution Identified. Marine Pollution Bulletin.

[7] Rochman, C.M.,Tahir,A.,Baxa, D.V.,Williamsm S., Werorilangi, S. And Teh, S.J.2015. Antropogenic Debris In Seafood: Plastic Debris And Fiber From Textiles In Fish And Shellfish Sold For Human Comsumprtion. Sci.Report5: DOI: 10.1038/Srp 14340.

[8] Wright, S.L., Thompson, R.C., Galloway, T.S., 2013. The Physical Impacts Of Microplasticson Marine Organisms: A Review. Environ. Pollut. 178, 483–492.

 

Sampah Plastik Ancaman Bagi Biota Akuatik

Sampah Plastik Ancaman Bagi Biota Akuatik

Seekor hiu paus memakan plastik yang mirip dengan makanannya. Sumber:  https://phys.org

Akhir-akhir ini isu pencemaran sampah plastik menjadi salah satu isu lingkungan yang menjadi perhatian hampir sebagian besar negara di dunia. Tak terkecuali Indonesia yang menjadi penyumbang sampah ke laut terbesar kedua di dunia setelah China. Terlebih saat ditemukan beberapa biota laut yang mati karena menelan sampah plastik. Yang terbaru, seekor paus di Thailand ditemukan mati akibat menelan ratusan sampah plastik. Belum lagi, di pantai-pantai Indonesia banyak dijumpai sampah plastik yang bertebaran di bibir pantai dan terbawa ke laut lepas.

Menurut seorang peneliti dari University of Georgia, Jenna R. Jambeck, menyebutkan bahwa sekitar 4.8-12.7 juta ton sampah di dunia terbuang dan mencemari laut. Untuk Indonesia sendiri sekitar 0,48-1,29 ton sampah plastik tersebut mencemari laut. Dan jumlah ini dipastikan akan terus bertambah seiring dengan semakin meningkatnya pesanan plastik. Banyaknya sampah plastic yang masuk ke perairan Indonesia tentunya akan berbahaya terhadap kelangsungan hidup biota laut. Pasalnya, sampah plastik yang terbawa arus akan terurai menjadi partikel plastik yang berukuran mikro (mikroplastik) yang berbahaya jika tertelan oleh biota laut.

Mikroplastik Masuk Ke Rantai Makanan Biota Laut

Mikroplastik merupakan fragmen plastik yang terdegradasi menjadi partikel dengan ukuran kurang dari 5 mm. Dan mikroplastik bisa terakumulasi dalam jumlah yang tidak terbatas dalam air atau mengendap di sedimen. Ukuran yang kecil dengan jumlah melimpah dan tersebar kemana-mana membuat mikroplastik bisa dengan mudah termakan oleh biota laut. Setelah masuk ke tubuh biota laut baik itu ikan ataupun bivalvia, mikroplastik bisa masuk ke dalam sistem rantai makanan. Dan ini tentunya sangat membahayakan, karena sebagian besar masyarakat Indonesia adalah penggemar seafood.

Sumber mikroplastik sebagian besar berasal dari sampah plastik dari daratan yang tidak tertangani dengan baik sehingga terbuang begitu saja ke lautan. Sehingga, perlu dilakukan kajian lebih mendalam tentang kadar mikroplastik dalam seafood. Khususnya pada kerang-kerangan yang sifatnya filter feeder. Dimana kerang menjadi salah satu seafood favorit masyarakat pesisir di Indonesia. Bahkan,menurut penelitian yang dilakukan oleh Fitri et al., menunjukkan bahwa kerang darah yang diambil dari pantai di Semarang memiliki kandungan mikroplastik sebesar 2,4-3,4 partikel tiap ekornya.

Mikroplastik Mengancam Keamanan Pangan Seafood

Menurut Kementerian Perikanan Dan Kelautan, 2015, penemuan mikroplastik dalam tubuh seafood menjadi salah satu ancaman bagi keamanan pangan dalam negeri. Apalagi, Indonesia adalah negara maritim yang memiliki potensi sumberdaya laut melimpah. Khususnya seafood yang menjadi salah satu komoditi ekspor terbesar. Dan juga menjadi sumber makanan favorit sebagian masyarakat Indonesia. Khususnya masyarakat di daerah kepulauan. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2015, total produksi hasil laut Indonesia mencapai mencapai 15 juta ton.

Hasil penelitian dari Rohman et al menunjukkan bahwa kandungan mikroplastik terbesar ditemukan dalam tubuh ikan dari family Carangidae. Seperti ikan baronang, ikan kembung, ikan layang dan ikan herring. Untuk total akumulasinya sendiri berkisar antara 5,1-5,9 partikel per ekor. Selain ikan, mikroplastik juga ditemukan di dalam tubuh udang. Berdasarkan penelitian dari Devriese et al menunjukkan bahwa sebanyak 63% dari udang yang diteliti ternyata mengandung partikel mikroplastik sebesar 0,99-1,23 per ekor.

Sedangkan pada bivalvia yang memiliki sifat filter feeder maka dapat dipastikan memiliki kandungan mikroplastik dengan jumlah yang bervariasi. Mulai dari 0,9-4,6 item/g hingga 1,5-7,6 item/individu. Baik itu bivalvia yang ditangkap dari laut ataupun yang dibudidayakan, keduanya sama-sama memiliki kandungan mikroplastik.

Informasi diatas menunjukkan bahwa mikroplastik jelas menjadi ancaman bagi keamanan sumber pangan dari laut. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam dan menyeluruh terkait kandungan dan kadar mikroplastik yang ada dalam seafood. Sehingga, dapat mengantisipasi masuknya seafood yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

Referensi:

[1] Widianarko Budi & Hantoro Inneke.(2018).Mikroplastik Dalam Seafood Di Pantai Utara Jawa. Universitas Katolik Soegijapranata: Semarang.

[2] Hiwari Hazman, dkk. (2019). Kondisi Sampah Mikroplastik Di Permukaan Air Laut Sekitar Kupang Dan Rote, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Prosiding Semnas Masyarakat Biodiversitas Indonesia.Universitas Padjajaran: Bandung.

Sampah Plastik Sahabat Baru Masyarakat?

Masalah sampah dalam kehidupan masyarakat yang meresahkan

 Sampah adalah satu hal yang tidak dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Sampah merupakan segala peralatan dan benda-benda disekitar kita yang telah dibuang karena dianggap tidak memiliki kegunaan lagi. Segala lini kehidupan masyarakat pasti sangat akrab dan sudah tidak asing dengan benda-benda tersebut. Tak terkecuali dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Dimana penggunaan plastik sekali pakai masih sangat lumrah digunakan, dan bahkan menjadi sahabat sehari-hari masyarakat Indonesia. Dikutip dari CNN Indonesia, bahwa berdasarkan data Jambeck (2015) Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton. Ini adalah suatu tamparan keras bagi Indonesia dimana Indonesia merupakan negara kelautan.

Kenapa sampah plastik ini menjadi sesuatu yang sangat menghawatirkan bagi keberlangsungan hidup manusia? Menurut Nurhenu Kariastuti bahwa plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui dihampir setiap barang. Dari hasil penelitian, penggunaan plastik tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, karena dapat mengakibatkan pemicu kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (kesinogenik). Selain itu plastik  pada umumnya sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme.

Dalam tulisan yang sama Nurhenu juga menjelaskan bahwa sampah plastik dapat bertahan hingga bertahun-tahun sehingga menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan. Sampah plastik tidaklah bijak jika dibakar karena akan menghasilkan gas yang akan mencemari udara dan membahayakan pernafasan manusia, dan jika sampah plastik ditimbun dalam tanah maka akan mencemari tanah, terkhusus air tanah. Oleh karena itu pemakaian plastik dalam jumlah yang besar maka akan sangat signifikan dampaknya terhadap lingkungan dan juga tentunya untuk kesehatan manusia.

Hal yang seperti inilah yag masih sangat kurang dipahami oleh sebahagian masyarakat. Seperti yang dikatakan oleh Hartutu Purnaweni dalam tulisannya bertajuk “Bom Waktu Sampah” bahwa masyarakat masih menganggap enteng masalah sampah,, hanya mengandalkan petugas sampah. Masyarakat masih lemah tanggung jawabnya terhadap sampah yang mereka hasilkan, minim usaha mengurangi dan mengelolanya.

Segala sampah plastik yang dihasilkan tentunya tidak dapat dibiarkan begitu saja. Sampah plastik memerlukan penanggulangan segera. Mengubur dan membakarnya bukanlah suatu solusi yang baik. Menurut Reni Silvia Nasution Selain mengubur dan membakar sampah plastik, terdapat cara lain untuk menanggulanginya. Yakni, mengganti plasyik dengan alat (kain) untuk membungkus barang atau dikenal dengan furoshiki ; pengolahan sampah plastik menggunakan metode fabrikasi; dan penggunaan plastik biodegradable yang mudah terurai dialam.

  1. Penggunaan Furoshiki untuk mengurangi limbah kantong plastik

Furoshiki merupakan teknik membungkus dan membawa barang dengan menggunakan sehelai kain persegi. Ukuran Furoshiki atau biasa disebut boenthelan oleh orang Jawa bervariasai tergantung pada ukuran barang yang akan dibungkus atau dibawa. Boenthelan ini dapat digunakan untuk membungkus atau membawa barang. Selain itu, dengan mengguakan boenthelan sebagai gaya hidup modern kita pun turut serta melestarikan bumi tercinta.

  1. Pengolahan limbah plastik mengguakan metode Fabrikasi

Penanggulangan limbah plastik dengan cara melakukan daur ulang merupakan salah satu solusi yang baik, dimana limbah plastik yang diolah selain meminimalkn penumpukannya di alam juga produk yang dihasilkan memiliki nilai ekonomis. Salah satu cara proses daur ulang limbah plastik yaitu dengan metode fabrikasi. Metode fabrikasi adalah metode pembuatan material plastik yang terdiri dari banyak teknik seperti pemotongan (cutting), pemanasan (heating), pelunakan (softening), pembengkokan (bending), pembentukan (forming), pengerjaan menggunakan mesin (maching), pencampuran (bonding), dan penghalusan (finishing) material plastik dengan atau tanpa bahan tambahan menjadi produk jadi. Semua teknik pembuatan material daur ulang menggunakan peralatan sederhana sehingga memungkinkan untuk diaplikasikan pada industry daur ulang sampah plastik berskala rumah tangga.

  1. Penggunaan plastik Biodegradable

Penggunaan plastik Biodegradable merupakan salah satu cara yang juga ampuh untuk menanggulangi limbah plastik, dimana sifat dari plastik Biodegradable yang ramah lingkungan menjadikannya pilihan yang tepat sebagai solusi untuk ketergantungan kita terhadap penggunaan kantong plastik.

Itulah beberapa solusi dari sekian solusi yang bisa ditawarkan. Penanggulanag sampah plastik harus segera ditangani dengan cepat dan benar. Sebelum penyebaran-penyebaran plastik itu tak bisa terkontrol lagi. Jadilah masyarakat cerdas yang mampu menjaga lingkungan meskipun itu hanya kesadaran akan pentingnya bagaimana penggunaaan dan pengolahan sampah plastik.

Apa yang Perlu Kamu Tahu tentang Mikroplastik

Apa yang Perlu Kamu Tahu tentang Mikroplastik

Mikroplastik merupakan jenis sampah plastik yang berukuran lebih kecil dari 5 mm yang dikelompokkan menjadi 2 jenis yaitu primer dan sekunder. Mikroplastik primer adalah hasil produksi plastik yang dibuat dalam bentuk mikro, seperti microbeads pada produk perawatan kulit yang masuk ke dalam saluran air. Mikroplastik sekunder adalah pecahan, bagian, atau hasil fragmentasi dari plastik yang lebih besar (Zhang et al., 2017). Plastik yang telah bermuara di perairan laut akan mengalami penyusutan ukuran, bermula dari plastik berukuran besar menjadi berukuran mikro. Penyusutan ukuran plastik ini disebabkan adanya aktivitas sinar UV yang bereaksi pada plastik, juga dapat disebabkan oleh adanya gelombang yang menyebabkan abrasi, sehingga plastik tersebut akan terakumulasi pada sedimen serta air laut (Hidalgo et al., 2012).

Mikroplastik di ujung jari telunjuk

Menurut Lusher dan Peter (2015) plastik merupakan bahan yang dibentuk pada suhu dan tekanan tertentu. Plastik terbagi menjadi 3 kategori yaitu termoplastik, termosets, dan elastomer. Termoplastik melunak saat dipanaskan dan mengeras saat didinginkan (contoh: polietilen (PE), polipropilen (PP), politetrafloro-etilen, poliamid (PA), polivinil klorid (PVC), dan polistirin (PSI)). Termoset tidak dapat melunak setelah dibentuk (contoh: resin epoksi, poliurettan (PU), resinpoliester, bakalit). Elastomer adalah polimer elastis yang dapat kembali ke bentuk awal setelah ditarik (contoh: karet, neopren).

Salah satu wilayah yang berpotensi tercemar mikroplastik yaitu bantaran Sungai Bengawan Solo. Sungai Bengawan Solo merupakan sungai panjang yang dalam prosesnya banyak terkumpul sampah-sampah plastik yang bersumber dari rumah tangga dan kegiatan masyarakat lainnya. Sampah-sampah tersebut terbawa oleh arus dan akan terkumpul pada perairan di Desa (Ayuningtyas, 2010).

Mikroplastik dapat berperan sebagai kontaminan. Sebagai kontaminan kimia, mikroplastik dapat menyerap senyawa seperti PCB (Polychlorinated biphenyls), PAHs (Polycylic Aromatic Hydrocarbon), serta DDt (1,1,1-ttrichloro – 2,2-bis (p-chlorophenyl) ethane dan DDE (1,1-dichloro-2,2 bis(chlorophenyl) ethylene (Hollman et al., 2013). PCB sangat berbahaya bagi kesehatan manusia karena mengandung toksik (Ahmad, 2012).

DAFTAR PUSTAKA

  •  Ahmad, E. 2012. Soil Cintamination, Nutritive Value, and Humn Health Risk Assesment of Heavy Metals: An Overview. Springer. 1(1): 1-10.
  • Ayuningtyas, P.2010. Eyewitnes Great Scientist (Jacqueline Fortey.) Jakarta: Penerbit Erlangga.
  • Hidalgo-Ruz, V., Gutow, L., Thompson, R.C., and Thiel, M. 2012. Microplastics in the marine environment: A review of the methods used for identification and quantification. Environ. Sci. Technology. 6, 3060–3075.
  • Hollman, P.C.H.,H.Boumeester,and R.J.B.Peters. 2013. Microplastic in the Aquatic Food Chain.Netherlands: Rikilt Wageningen UR.
  • Lusher, A. and Peter. 2015. Microplastics in teh Marine Environment: Distribution, Interaction and Effects, Mar Antrop Litt June 2015. 245-307.
  • Zhang, W., Zhang S., Wang J., Wang Y., Mu J., Wang P., Lin X., Ma, P. 2017. Microplastic Pollution in the Surface Waters of the Bohai Sea China. Environ Pollut. 231: 541-548.