Artikel Sains, Doktrin Logika Sesat, dan Menyesatkan

Ditulis oleh Gigin Ginanjar

.

C:\Users\ACER\Desktop\IMG_20210623_091410.jpg
Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi

Pandemi yang merebak setahun lebih ini merubah anggapan kebanyakan manusia tentang cara belajar. Semula, belajar adalah pertemuan fisik secara langsung dengan buku-buku sebagai media transformasi ilmu, sekarang ia tidak terbatas pada ruang dan waktu. Kita kemudian menyebutnya sebagai pembelajaran daring. Sebuah cara belajar nirkertas yang mulai digandrungi umat manusia diseluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia. Mahasiswa/siswa hanya perlu mengecek saja gawai mereka setiap waktu, tugas apa gerangan yang akan mengisi hari-harinya beberapa waktu ke depan?

Sengkarut Belajar Daring

Pilihan belajar secara daring masih dianggap pilihan terbaik ditengah peningkatan jumlah kasus COVID-19 yang angkanya semakin mengkhawatirkan. Selain karena alasan kesehatan, belajar daring dipilih karena kepraktisannya. Tugas dapat dikerjakan dengan mudah dalam kondisi apapun. Mahasiswa/siswa hanya perlu mengklik saja pilihan jawaban jika soal itu pilihan ganda, jika ia tak tahu, maka sangat mudah pula mencari jawabannya di internet, soal-soal yang tipenya sama banyak terserak di sana, beberapa bahkan sama persis. Sekali waktu mahasiswa dapat bertanya kepada sahabat daringnya tentang tugas yang mungkin terlalu sulit untuk dipecahkan, apa salahnya? Sekalian silaturahmisekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Proses belajar secara daring memang membatasi pertemuan secara langsung, hal ini tentu memicu benih kerinduan kepada sahabat di kampus/sekolah dulu. Ada semacam rindu yang harus dituntaskan, ada interaksi dan sosialisasi yang harusnya mereka lakukan. Alasan bertukar kabar melalui gawai sembari berlaku culas dengan meminta jawaban dari tugas belajar adalah hal yang mungkin saja terjadi, lagipula dosen/guru tidak memiliki akses mengenai aktivitas mahasiswa di dunia daring. Tidak ada benar dan salah disana, karena teknologi memang tercipta dari dua sisi, sisi yang baik dan sisi buruk, tinggal kembali saja kepada penggunanya. Dosen/guru hanya bisa percaya bahwa tugas itu mereka kerjakan dengan usaha mereka sendiri.

Peran Artikel Sains Saat Belajar Daring

Kesulitan mengontrol mahasiswa/siswa ketika belajar secara daring ini tentu tidak bisa dianggap sepele, ada hal berbahaya dan mengancam pengetahuan mahasiswa/siswa jika dosen/guru abai dan bergeming saja dengan aktivitas mereka ketika belajar daring. Satu dari sekian bahaya itu adalah saat mereka mencari sumber dari internet. Jika mereka salah memilih sumber informasi bersumber dari internet, kemudian informasi itu diyakini sebagai sebuah kebenaran yang mutlak, maka ia mengancam bangunan pengetahuan umat manusia di masa yang mendatang.

Pengetahuan yang dangkal dan tidak berdasar sangat banyak tersebar di internet, website, dan lainnya. Mahasiswa yang dimudahkan belajar secara daring, sangat mungkin mencari sumber dari internet, sementara tidak sedikit mahasiswa yang belum dapat membedakan kredibilitas informasi disana, apalagi mahasiswa baru. Sangat mudah bagi siapapun melakukan pelintiran informasi di internet, mudah pula berita hoaks dibagikan oleh orang tidak bertanggung jawab. Mereka yang malas untuk bersentuhan dengan buku, artikel ilmiah, dan jurnal-jurnal terpercaya tentu sangat mudah dibodoh-bodohi, karena disana para pemalas akan menyantap ilmu sesat dengan mudah dan cepat sekali.

Pernah, suatu waktu saya bertanya kepada mahasiswa perihal cara replikasi virus, jawaban mereka rata-rata sama dan sangat banyak bersumber dari internet, salah satunya dari laman seperti wikipedia, blog, dan brainly (brainly.co.id). Brainly sendiri merupakan platform atau web belajar yang memungkinkan penggunanya untuk saling bertanya dan menjawab pertanyaan terkait dengan pelajaran sekolah/kampus secara terbuka ke pengguna lainnya.

Celakanya adalah jawaban di web belajar itu kebetulan tidak tepat, karena siapapun boleh menuliskan jawaban dari pertanyaan yang diajukan, termasuk jawaban yang asbun (asal bunyi). Kesalahan tersebut sangat mungkin terjadi karena tidak ada proses validasi ahli disana. Berbekal jawaban dari sumber web belajar tersebut, mahasiswa bersikukuh tentang kebenaran jawaban yang diyakininya karena berasal dari sumber kredibel (internet). mahasiswa memang mudah mencari sesuatu di internet, tetapi kemudahan telah banyak menipunya.

Berbeda halnya ketika mahasiswa belajar secara langsung di kelas. Informasi yang diberikan oleh dosen bersumber dari buku-buku, artikel sains, jurnal, dan sumber kredibel lainnya yang telah melewati verifikasi yang sangat panjang. Ia melewati kajian dari berbagai sumber yang dapat dibuktikan kebenarannya. Telah disiapkan dan direncanakan secara matang. Sangat kecil potensi terjadinya kekeliruan karena kesalahan mengambil sumber informasi, karena informasi yang disajikan bersumber pada bukti ilmiah yang telah melewati seleksi ketat di tangan para penerbit buku dan reviewer artikel yang telah banyak makan asam garam kehidupan dalam menulis dan meneliti.

Kesesatan Berpikir yang Menyesatkan

Perjuangan belajar selama pandemi tidak hanya tentang kesulitan belajar saja, ada juga pemikiran menyesatkan orang tua siswa ditengah masyarakat yang mesti di ubah paradigmanya. Semakin meresahkan, jika pemikiran yang keliru ini di wariskan ke anak keturunannya, kemudian dianggap sebagai kebenaran yang hakiki, maka akan sangat sulit bagi pengajarnya merubah pemikiran tersebut. Hal ini penting, karena masih banyak orang diluar sana yang tidak percaya adanya virus. Ketidakpercayaan mengenai berdampak buruk terhadap protokol kesehatan yang seharusnya mereka jalani dengan benar, kekeliruan-kekeliruan ini dapat mempengaruhi keputusan kesehatan tiap individu (Brotherton et al., 2013).

Mereka yang cemas dan berpikir negatif terhadap pemerintah sehingga berpikir bahwa fenomena ini tidak lebih dari konspirasi para elit (Georgiou et al., 2020; Madalina, 2015). Mereka yang percaya dengan teori konspirasi-konspirasi macam ini beranggapan bahwa pandemi ini telah dirancang oleh pihak yang memiliki kuasa (Mancosu et al., 2017). Ketidakpercayaan akan adanya pandemi yang disebabakan COVID-19 dan lebih meyakini teori konspirasi adalah kesalahan dan kesesatan dalam berpikir. Apalagi kekeuh memaksa lembaga pendidikan seperti kampus untuk belajar tatap muka secara langsung, memaksa prosesi wisuda agar dilakukan seperti biasa, atau kegiatan lain yang potensial membuat kerumunan tentu tidaklah tepat dan bijak.

Jika masih ada sekelompok masyarakat yang menganggap bahwa pandemi adalah sebuah kebohongan yang direkayasa, memuat kampanye untuk menakut-nakuti maka tentu kita tidak dapat berharap banyak akan adanya perubahan paradigma berpikir mereka. Keyakinan mereka terhadap konspirasi tidak akan berubah dalam waktu dekat, hal itu malah menjadikan mereka anti terhadap kebenaran ilmu pengetahuan serta lunturnya kepercayaan terhadap lembaga negara (Mancosu et al., 2017). Kita bisa berharap kepada mahasiswa/siswa yang saat ini pengetahuannya sedang dibentuk dengan informasi yang benar. Sebuah cara untuk mengarahkan mereka ke jalan kebenaran bahwa keberadaan wabah ini nyata, bukan sebuah isu konspirasi. Persepsi, argumentasi, dan pemahaman sebagian masyarakat tentang wabah ini yang mengarah ke konspirasi berpotensi menimbulkan kerusakan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara (Usman et al, 2020).

Mengharapkan adanya perubahan cara berpikir tentu tidak cukup dilakukan dengan hanya sekali saja, dia memakan waktu yang berulang-ulang. Paradigma berpikir ini merupakan akumulasi pengetahuan yang akan mengerak menjadi sebuah kebiasaan, dan kebiasaan itu pada akhirnya akan membentuk sebuah perilaku. Apa jadinya jika masyarakat di sebuah bangsa yang besar ini lebih percaya teori konspirasi dari pada adanya virus itu sendiri? maka zaman tentu akan kembali ke masa kegelapan, saat ilmu pengetahuan dianggap sebagai kebohongan sementara takhayul dan mitos dianggap sebagai kebenaran-kebenaran yang tidak bisa dibantah dengan apapun.

DAFTAR PUSTAKA

Brotherton, R., French, C. C., & Pickering, A. D. (2013). Measuring belief in conspiracy theories: The generic conspiracist beliefs scale. Frontiers in Psychology, 4(May). https://doi.org/10.3389/fpsyg.2013.00279

Georgiou, N., Delfabbro, P., & Balzan, R. (2020). COVID-19-related conspiracy beliefs and their relationship with perceived stress and pre-existing conspiracy beliefs. Personality and Individual Differences, 166(June), 110201. https://doi.org/10.1016/j.paid.2020.110201

Madalina, C. (2015). Globalization and the Conspiracy Theory. Procedia Economics and Finance, 23(October 2014), 677–681. https://doi.org/10.1016/s2212-5671(15)00474-8.

Mancosu, M., Vassallo, S., & Vezzoni, C. (2017). Believing in Conspiracy Theories: Evidence from an Exploratory Analysis of Italian Survey Data.

South European Society and Politics, 22(3), 327–344. https://doi.org/10.1080/13608746.2017.1359894.

Usman, M. H., Iskandar, A., & Aswar. (2020) COVID-19: Menguji Kebenaran Konspirasi Global. Jurnal Studi agama dan Masyarakat, 16 (2), 122-131.http://e-journal.iain-palangkaraya.ac.id/index.php/jsam

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 4.5 / 5. Banyaknya vote: 2

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *