Gangguan Kepribadian Ganda (Dissociative Identity Disorder)

blank
Print Friendly, PDF & Email

.Ditulis oleh Mhd. Fauzan Azhari*

Gangguan kepribadian ganda (Dissociative Identity Disorder) merupakan kondisisi dimana di dalam satu individu terdapat dua atau lebih kepribadian . kepribadian berbeda tersebut dikenal juga dengan istilah Alter-Ego atau singkatnya “Alter”. Sementara kepribadian yang original atau kepribadian utama di kenal sebagai “host”.

Ciri-ciri utama kepribadian ganda (DID) adalah “Dissociation” atau rasa terlepas dari pikiran sendiri. Seorang penyandang DID akan mengalami ini ketika dirinya di ambil alih oleh Alter nya, Fenomena ini lebih di kenal dengan istilah “switch”. Ketika berada di bawah kendali salah satu Alternya, seorang penyandang DID biasanya tidak sadar sehingga ketika ia bangun kembali dirinya tidak akan ingat apapun yang terjadi. Meskipun demikian terkadang ada situasi penyandang DID dapat melihat apa yang terjadi saat tubuhnya di ambil alih, namun ini hanya dapat terjadi jika di izinkan oleh Alternya.

Seorang penyandang DID dapat memiliki puluhan bahkan ratusan Alter. Namun, jumlah rata-rata Alter bagi penyandang DID adalah kurang dari sepuluh setiap Alteer memiliki kesadarannya sendiri. Mereka memiliki nama serta kepribadain unik yang berbeda dari Hostnya. Ketika Alter mengambil alih seorang Host tingkah laku, cara bicara, lagak, postur dan banyak aspek kepribadian lainnya dari Host berubah total. Seperti contoh seorang penyandang DID yang dominan menggunakan tangan kanan, dapat berubah menjadi kidal ketika di ambil alih oleh Alternya. Alter-Alter yang ada dapat berbeda jenis kelamin dan berbeda umur dari Hostnya. Beberapa penyandang DID bahkan memiliki Alter yang tidak berwujud manusia. Setiap alter memiliki perannya sendiri, oleh karena itu meraka memiliki wujud yang berbeda-beda, misalnya Alter dalam wujud  robot mungkin saja timbul untuk menekan emosi dalam situasi-situasi yang penuh stress.

DID diperkirakan timbul akibat trauma berat yang di alami berulang kali saat masih kecil seperti pelecehan seksual. Teorinya adalah bahwa Alter timbul untuk melindungi anak yang sedang mengalami kejadian traumatis, dengan cara menampung trauma dan ingatan-ingatan pahitnya.

Contoh kasus DID yang paling suram adalah Jeni Haynes, yang memiliki lebih dari 2000 Alter akibat pelecehan seksual yang di lakukan oleh ayahnya saat dia masih kecil. Alter pertamanya yang timbul adalah anak kecil bernama “Symphony” yang mengambil alih saat Jeni dilecehkan. Fakta yang mengejutkan dari kasus Jeni adalah, Symphony bersama 5 Alter lainnya Jeni dijadikan saksi dalam persidangan yang akhirnya menjatuhkan hukuman kepada ayahnya Jeni.

Yang diketahui secara pasti adalah bahwa DID tidak dapat di sembuhkan, seorang penyandang DID harus belajar menjalani hidup bersama dengan Alter-alternya.menempatkan diri disituasi atau hubungan yang traumatis akan membuat alter muncul lebih sering. Maka ada pentingnya untuk menjalani terapi supaya penyandang DID dapat menghadapi situasi-situasi tegang tanpa terus-menerus “switching” ke Alternya.

Mungkin beberapa orang merasa bahwa DID adalah kondisi yang di buat-buat, hanya untuk menarik perhatian. Jika berpikir demikian, coba kita pikirkan lagi, buat apa seseorang susah payah mengecap dirinya sebagai orang yang memiliki kelainan mental yang hanya akan mempersusah hidupnya sendiri?. DID itu nyata, dan banyak pakar psikologi juga berkata demikian. Para penyandang DID adalh korban. Korban dari pelecehan dan trauma yang berkepanjangan. Kita semua memerlukan bantuan orang lain ketika menghadapi waktu-waktu yang sulit. Dan bagi penyandang DID, bantuan tersebut datang dari diri sendiri.

*Penulis dapat dihubungi di surel 210901016[at]student.ar-raniry.ac.id

Referensi:

  • https://www.bbc.com/indonesia/majalah-49770826 diakses 10 Desember 2021
  • National Alliance Onmentallines
  • Ross, C. A. (1997). Dissociative identity disorder: diagnosis, clinical features, and treatment of multiple personality. New York: Wiley
  • Merckelbach, H., Devilly, G. J., & Rassin, E. (2002). Alters in dissociative identity disorder. Clinical Psychology Review, 22(4), 481–497.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *