Perbedaan Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Pada bab 3 suatu karya tulis, ada yang menggunakan kata “Metodologi Penelitian” dan ada pula yang menggunakan “Metode Penelitian”. Apakah dua hal tersebut sama?

Berdasarkan Somantri (2005), metodologi secara umum didefinisikan sebagai ”a body of methods and rules followed in science or discipline” sedangkan metode sendiri adalah ”a regular systematic plan for or way of doing something” [1].

Kata metode berasal dari istilah Yunani methodos (meta+bodos) yang artinya cara [2]. Jadi, metode penelitian adalah cara sistematik yang digunakan peneliti dalam pengumpulan data yang diperlukan dalam proses identifikasi dan penjelasan suatu fenomena yang tengah ditelisiknya. Secara dikotomis, dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dikenal dua jenis metode penelitian yaitu kuantitatif dan kualitatif [3]. Penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif oleh sebagian kalangan tidak boleh dicampuradukan, namun pemahaman ini dianggap keliru oleh para peneliti yang melihat bahwa masing-masing pendekatan penelitian mempunyai kelemahan, dan oleh karenanya dianggap perlu untuk melakukan kombinasi, agar masingmasing pendekatan saling melengkapi. Alasan pemilihan kedua pendekatan penelitian tersebut adalah bahwa kedua jenis penelitian tersebut saling memperkuat dan saling melengkapi sehingga akan dicapai hasil penelitian yang tidak hanya obyektif, terstruktur dan terukur namun akan dicapai juga hasil penelitian yang mendalam dan faktual [6].

Metode kuantitatif dan kualitatif berkembang terutama dari akar filosofis dan teori sosial abad ke-20. Kedua metode penelitian tersebut mempunyai paradigma teoritik, gaya, dan asumsi paradigmatik penelitian yang berbeda. Masing-masing memuat kekuataan dan keterbatasan, mempunyai topik dan isu penelitian sendiri, serta menggunakan cara pandang berbeda untuk melihat suatu realitas.

Metode Kuantitatif

Metode kuantitatif berakar pada paradigma tradisional, positivistik, eksperimental atau empiricist kemudian berkembang dari tradisi pemikiran empiris Comte, Mill, Durkeim, Newton dan John Locke. “Gaya” penelitian kuantitatif biasanya mengukur fakta objektif melalui konsep yang diturunkan pada variabel-variabel dan dijabarkan pada indikator-indikator dengan memperhatikan aspek reliabilitas. Penelitian kuantitatif bersifat bebas nilai dan konteks, mempunyai banyak “kasus” dan subjek yang diteliti, sehingga dapat ditampilkan dalam bentuk data statistik yang berarti. Hal penting untuk dicatat di sini adalah, peneliti “terpisah” dari subjek yang ditelitinya.

Penganut filsafat positivistik berpendapat bahwa keberadaan sesuatu merupakan besaran yang dapat diukur. Peneliti adalah pengamat yang objectif atas peristiwa yang terjadi di dunia. Mereka percaya bahwa variabel yang mereka teliti, merupakan suatu yang telah ada di dunia. Hubungan antara variabel yang mereka temukan, telah ada sebelumnya untuk dapat diungkap. Pengetahuan merupakan pernyataan atas fakta atau keyakinan yang dapat diuji secara empirik. Variabel dan pengetahuan tentang manusia, dapat dinyatakan dalam istilah fisika seperti halnya dalam pengetahuan eksakta. Misalnya peran/pengaruh Kepemimpinan Wali Kota dapat dijabarkan meliputi variabel kemampuan membujuk, kemampuan mengarahkan, dan kemampuan mengendalikan masyarakat Kota [6].

Metode Kualitatif

Sementara metode kualitatif dipengaruhi oleh paradigma naturalistik-interpretatif Weberian, perspektif post-positivistik kelompok teori kritis serta post-modernisme seperti dikembangkan oleh Baudrillard, Lyotard, dan Derrida [4]. “Gaya” penelitian kualitatif berusaha mengkonstruksi realitas dan memahami maknanya. Sehingga, penelitian kualitatif biasanya sangat memperhatikan proses, peristiwa dan otentisitas. Memang dalam penelitian kualitatif kehadiran nilai peneliti bersifat eksplisit dalam situasi yang terbatas, melibatkan subjek dengan jumlah relatif sedikit. Dengan demikian, hal yang umum dilakukan ia berkutat dengan analisa tematik. Peneliti kualitatif biasanya terlibat dalam interaksi dengan realitas yang ditelitinya. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, metode penelitian mempunyai pula asumsi paradigmatik.

Penelitian kualitatif lebih menekankan pada penggunaan diri si peneliti sebagai instrumen. Lincoln dan Guba mengemukakan bahwa dalam pendekatan kualitatif peneliti seyogianya memanfaatkan diri sebagai instrumen, karena instrumen nonmanusia sulit digunakan secara luwes untuk menangkap berbagai realitas dan interaksi yang terjadi. Peneliti harus mampu mengungkap gejala sosial di lapangan dengan mengerahkan segenap fungsi inderawinya [7] Dengan demikian, peneliti harus dapat diterima oleh informan dan lingkungannya agar mampu mengungkap data yang tersembunyi melalui bahasa tutur, bahasa tubuh, perilaku maupun ungkapan-ungkapan yang berkembang dalam dunia dan lingkungan informan [6].

Metode Kuantitatif vs Kualitatif

Perbedaan “gaya” penelitian kuantitatif dan kualitatif dijelaskan pada tabel berikut [5]:

blank

John W. Cresswell menilik beberapa dimensi asumsi paradigmatik yang membedakan penelitian kuantitatif dengan kualitatif. Dimensi-dimensi tersebut mencakup ontologis, epistemologis, axiologis, retorik, serta pendekatan metodologis.

  • Secara ontologis, peneliti kuantitatif memandang realitas sebagai “objektif” dan dalam kacamata “out there”, serta independen dari dirinya. Sementara itu, peneiliti kualitatif memandang realitas merupakan hasil rekonstruksi oleh individu yang terlibat dalam situasi sosial.
  • Secara epistemologis, peneliti kuantitatif bersikap independen dan menjaga jarak (detachment) dengan realitas yang diteliti. Sementara peneliti kualitatif, menjalin interaksi secara intens dengan realitas yang ditelitinya.
  • Secara retoris atau penggunaan bahasa, penelitian kuantitatif biasanya menggunakan bahasa-bahasa penelitian yang bersifat formal dan impersonal melalui angka atau data-data statistik. Dengan demikian, terminologi atau konsep-konsep yang jamak ditemukan dalam penelitian kuantitatif misalnya “relationship” dan ”comparison”. Sementara, penelitian kualitatif kerap ditandai penggunaan bahasa informal dan personal seperti “understanding”, “discover”, dan “meaning”.
  • Secara metodologis, penelitian kuantitatif lekat dengan penggunaan logika deduktif dimana teori dan hipotesis diuji dalam logika sebab akibat. Desain yang bersifat statis digunakan melalui penetapan konsep-konsep, variabel penelitian serta hipotesis. Sementara itu, penelitian kualitatif lebih mengutamakan penggunaan logika induktif dimana kategorisasi dilahirkan dari perjumpaan peneliti dengan informan di lapangan atau data-data yang ditemukan. Sehingga penelitian kualitatif bericirikan informasi yang berupa ikatan konteks yang akan menggiring pada pola-pola atau teori yang akan menjelaskan fenomena sosial [4].

Hal tersebut dirangkum dalam tabel berikut:

blank

Menggabungkan Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif

Sejak awal, dalam melakukan penelitian sudah harus ditentukan dengan jelas pendekatan atau desain penelitian apa yang akan diterapkan, hal ini dimaksudkan agar penelitian tersebut dapat benar-benar mempunyai landasan kokoh dilihat dari sudut metodologi penelitian, disamping pemahaman hasil penelitian yang akan lebih proporsional apabila pembaca mengetahui pendekatan atau desain yang diterapkan. Obyek dan masalah penelitian memang mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan mengenai pendekatan, desain ataupun metode penelitian yang akan diterapkan.

Tidak semua obyek dan masalah penelitian bisa didekati dengan pendekatan tunggal, sehingga diperlukan pemahaman pendekatan lain yang berbeda agar begitu obyek dan masalah yang akan diteliti tidak pas atau kurang sempurna dengan satu pendekatan maka pendekatan lain dapat digunakan, atau bahkan mungkin menggabungkannya.

Meskipun dalam tataran epistemologis/filosofis perbedaan antara keduanya tampak, karena paham positivistik merupakan pendekatan penelitian yang umumnya disamakan dengan penelitian kuantitatif, sementara itu paham naturalistik merupakan pendekatan penelitian yang mewakili penelitian kualitatif, namun pada tataran praktis sebenarnya keduanya dapat digunakan secara bersamaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Creswell bahwa : “In terms of mixing methods, in 1959 Campbell and Fisk sought to use more than one method to measure a psychological trait to ensure that the variance was reflected in the trait and not in the method (see Brewer & Hunter 1989, for a summary of Campbell and Fisk’s multimethod-multitrait approach)” [8].

Hampir semua penelitian sosial merupakan kombinasi antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif, hal ini di karenakan penelitian sosial yang hanya menggunakan pendekatan kuantitatif saja tidak akan mempunyai makna, karena hanya menghasilkan angka-angka. Begitupun sebaliknya jika penelitian itu hanya menggunakan pendekatan kualitatif saja, maka hasilnya hanya berupa narasi atas fakta empirik yang kemungkinan datanya berupa kalimat bisa direkayasa. Kedua pendekatan tersebut memang dapat dibedakan karena latar belakang filsafatnya; pendekatan kuantitatif digunakan bila seseorang memulainya dengan teori atau hipotesis dan berusaha membuktikan kebenarannya, sedangkan pendekatan kualitatif bila seseorang berusaha menafsirkan realitas dan berusaha membangun teori berdasarkan apa yang dialami.

Penelitian kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham positivisme, sementara itu penelitian kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham naturalistik (fenomenologis). Penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif oleh sebagian kalangan tidak boleh dicampuradukan, namun pemahaman ini dianggap keliru oleh para peneliti yang melihat bahwa masing-masing pendekatan penelitian mempunyai kelemahan, dan oleh karenanya dianggap perlu untuk melakukan kombinasi, agar masing-masing pendekatan saling melengkapi. Beberapa pertentangan itu, terungkap dari pemahaman peneliti bahwa kegiatan penelitian harus dilakukan dengan survei. Ditambah lagi ada pemahaman lain bahwa penelitian yang benar jika menggunakan sebuah kuesioner dan datanya dianalisa dengan menggunakan teknik statistik. Pemahaman ini berkembang karena kuatnya pengaruh aliran positivistik dengan metode penelitian kuantitatif.

Pada mulanya metode kuantitatif dianggap memenuhi syarat sebagai metode penilaian yang baik, karena menggunakan alat-alat atau instrumen untuk mengakur gejala-gejala tertentu dan diolah secara statistik. Tetapi dalam perkembangannya, data yang berupa angka dan pengolahan matematis tidak dapat menerangkan kebenaran secara meyakinkan. Oleh sebab itu digunakan metode kualitatif yang dianggap mampu menerangkan gejala atau fenomena secara lengkap dan menyeluruh.

Salah satu argumen yang dikedepankan oleh metode penelitian kualitatif adalah keunikan manusia atau gejala sosial yang tidak dapat dianalisa dengan metode statistik. Metode penelitian kualitatif menekankan pada metode penelitian observasi dan dialog (wawancara mendalam) di lapangan dan datanya dianalisa dengan cara non-statistik. Pendekatan kualitatif menekankan pada makna dan pemahaman dari dalam (verstehen), penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan kualitatif lebih mementingkan pada proses dibandingkan dengan hasil akhir; oleh karena itu urut-urutan kegiatan dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Hal ini sejalan dengan pendapat Strauss dan Corbin (1990) bahwa teknik analisis kuantitatif dapat dikombinasikan dengan teknik analisis kualitatif [9].

Referensi:

  1. Somantri, G. R. (2005). Memahami metode kualitatifMakara, Sosial Humaniora9(2), 57-65.
  2. Webster’s New Encyclopedic Dictionary , (New York: Black Dog and Leventhan Publ. Inc, 1994), hlm. 631
  3. Abbas Tashakkori & Charles Teddlie(eds), Handbook of Mixed Methods in Social & Behavioral Research, (Thousand Oaks, California: Sage Publ. Inc, 2003).
  4. Creswell, John W. 1994. Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches. California: Sage Publications, Inc.
  5. W. Lawrence Neuman, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, (Needham Heights, MA: Allyn& Bacon, 1997), hlm. 14.
  6. Mulyadi, M. (2011). Penelitian kuantitatif dan kualitatif serta pemikiran dasar menggabungkannya. Jurnal studi komunikasi dan media15(1), 128-137.
  7. Yvonna S. Lincoln & Egon G. Guba. Naturalistic Inquiry. Beverly Hills : Sage Publications. 1985, hal. 52
  8. Creswell, John W., Research Design, Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approachs, Second edition, London: Sage Publications, 1994.
  9. Strauss dan Corbin (1990) dalam NormanK. Denzin & Tvona S. Lincoln (Eds.) (1997) Handbook of Qualitative Research. Terjemahan Dariyatno dkk. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009, hal. 350

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Nur Abdillah Siddiq
Sosial Media
Artikel Berhubungan:

1 tanggapan pada “Perbedaan Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *