Selama bertahun-tahun, dunia sains dan kedokteran berjuang untuk memahami autisme, sebuah spektrum kondisi yang memengaruhi cara seseorang berpikir, berkomunikasi, dan berinteraksi sosial. Namun ada satu hal yang lama terabaikan: perempuan autistik.
Di banyak penelitian dan diagnosis medis, autisme sering diidentifikasi berdasarkan pola perilaku laki-laki, padahal otak perempuan bekerja dengan cara yang berbeda. Akibatnya, banyak perempuan autistik tidak terdiagnosis hingga dewasa, atau bahkan salah didiagnosis sebagai gangguan kecemasan, depresi, atau ADHD.
Kini, sekelompok ilmuwan dari Pakistan dan Tiongkok mencoba memperbaikinya, bukan dengan stetoskop atau tes perilaku, melainkan dengan kecerdasan buatan (AI).
Dalam penelitian yang terbit di Computers in Biology and Medicine (2025), tim yang dipimpin Adnan Ashraf memperkenalkan sistem bernama NeuroNet57, sebuah jaringan saraf tiruan (neural network) yang dirancang khusus untuk mengenali pola otak perempuan autistik.
Dan hasilnya mengejutkan: sistem ini mencapai akurasi lebih dari 93% dalam membedakan otak perempuan autistik dari otak perempuan neurotipikal (non-autistik).
Mengapa Autisme pada Perempuan Sering Terlewat?
Autisme memang lebih sering terdiagnosis pada laki-laki, sekitar empat kali lebih banyak. Tapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa angka ini bisa menipu. Bukan berarti autisme lebih jarang pada perempuan, melainkan karena kita tidak pandai mengenalinya.
Perempuan autistik sering kali “menyembunyikan” gejalanya atau camouflaging mereka belajar meniru ekspresi sosial, menatap mata, atau tersenyum dalam situasi sosial, bahkan ketika hal itu membuat mereka lelah secara emosional. Selain itu, perbedaan hormon dan genetik memengaruhi bagaimana otak perempuan berkembang, sehingga pola autisme mereka tidak selalu sama dengan laki-laki.
Sayangnya, sebagian besar penelitian otak autistik selama ini berbasis data laki-laki.
Artinya, model diagnostik yang digunakan dokter dan ilmuwan pun bias sejak awal. Disinilah AI seperti NeuroNet57 masuk, untuk membantu mengisi celah pengetahuan itu.
Baca juga artikel tentang: Misteri DNA Terpecahkan: Kode Tak Terlihat yang Mengatur Hidup Kita
Bagaimana AI “Melihat” Otak Manusia
Untuk memahami bagaimana sistem ini bekerja, mari bayangkan otak seperti peta kota raksasa. Setiap area otak adalah “bangunan” dengan fungsi berbeda, ada yang menangani bahasa, emosi, memori, dan sebagainya. Koneksi antar area otak ibarat “jalan raya” yang menghubungkan bangunan-bangunan itu. Ketika seseorang memiliki autisme, sebagian jalannya mungkin lebih sibuk atau lebih sepi dari biasanya, tidak rusak, tapi berbeda pola lalu lintasnya.
Peneliti menggunakan fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging), yaitu pemindaian otak yang merekam aktivitas otak saat bekerja, bukan hanya bentuk fisiknya.
Data dari ratusan perempuan ini kemudian diolah menggunakan algoritme deep learning, sistem komputer yang meniru cara otak manusia belajar dari pola.
Model yang dikembangkan, NeuroNet57, adalah Convolutional Neural Network (CNN) berlapis 57 tingkat, seperti otak digital dengan 57 lapisan analisis. Setiap lapisan mengekstrak pola berbeda dari data otak: dari bentuk jaringan, konektivitas, hingga sinyal aktivitas. Tujuannya: menemukan pola khas yang membedakan otak perempuan autistik dari yang neurotipikal.
Koloni Semut dan Otak Manusia, Apa Hubungannya?
Menariknya, sistem ini tak hanya mengandalkan CNN. Para peneliti juga menggunakan pendekatan yang disebut “ant colony optimization” (ACO) inspirasi yang datang dari perilaku koloni semut di alam.
Bayangkan sekumpulan semut mencari jalan tercepat menuju makanan. Mereka meninggalkan jejak feromon; semakin banyak semut melewati jalur tertentu, semakin kuat jejaknya, dan makin besar peluang semut lain mengikuti jalan itu. Dalam dunia komputer, prinsip ini digunakan untuk menemukan solusi optimal di antara jutaan kemungkinan.
Dalam konteks penelitian ini, ACO membantu menyaring dan memilih fitur otak yang paling relevan dari ribuan data pemindaian. Dengan cara ini, sistem AI tidak “kebanjiran” informasi, melainkan hanya fokus pada sinyal otak yang paling penting untuk mengenali autisme.
Hasilnya luar biasa: setelah dilatih dengan data dari proyek internasional ABIDE I dan II (Autism Brain Imaging Data Exchange), sistem ini mencapai akurasi 92,21% dan 93,49%. Dengan tingkat keandalan setinggi ini, AI mulai menunjukkan potensinya sebagai alat bantu diagnosis medis yang lebih cepat dan objektif.

Sains yang Memperbaiki Bias Gender
Lebih dari sekadar pencapaian teknologi, penelitian ini juga menegur bias lama dalam sains medis. Selama puluhan tahun, perempuan autistik diabaikan karena data tentang mereka terlalu sedikit dan alat diagnosis tidak sensitif terhadap perbedaan gender.
Otak perempuan dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron, yang turut membentuk konektivitas saraf. Penelitian juga menunjukkan bahwa perempuan autistik memiliki perbedaan pada area otak yang mengatur empati dan persepsi sosial, berbeda dari pola khas pada laki-laki. Namun, tanpa data dan model analisis yang cukup, hal ini sulit diidentifikasi secara klinis.
Dengan bantuan AI, ilmuwan kini dapat mendeteksi variasi halus dalam aktivitas otak yang sebelumnya tak terlihat mata manusia.
NeuroNet57 bukan hanya alat baru, tapi juga simbol dari pergeseran paradigma dalam riset autisme: dari bias menuju keadilan ilmiah.
Apa Artinya untuk Masa Depan Diagnosis Autisme
Penemuan ini membuka peluang besar bagi dunia medis dan psikologi. Bayangkan suatu hari nanti, diagnosis autisme bisa dilakukan lebih cepat dan akurat, tanpa perlu observasi berbulan-bulan. Pemindaian otak sederhana bisa memberikan gambaran yang lebih obyektif, bahkan membantu dokter membedakan autisme dari gangguan lain yang serupa gejalanya.
Namun, para peneliti juga berhati-hati: sistem seperti ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan dokter atau psikolog, melainkan mendukung mereka dengan analisis berbasis data. Selain itu, masih ada tantangan etika, seperti perlindungan data otak pasien dan keadilan akses terhadap teknologi ini di berbagai negara.
Menuju Era “Neuro-Equality”
Riset ini bukan hanya tentang mesin, tapi tentang manusia dan keadilan ilmiah. Autisme pada perempuan selama ini seperti sisi tersembunyi dari spektrum. Kini, teknologi memberi kita alat untuk melihatnya dengan lebih jelas.
Ketika AI digunakan bukan untuk menilai, tapi memahami keragaman otak manusia, maka teknologi benar-benar menjadi alat kemanusiaan. Dan mungkin, itulah makna sejati dari kemajuan sains: bukan hanya membuat mesin lebih pintar, tapi membuat manusia lebih bijaksana.
Baca juga artikel tentang: Pengembangan Bahasa dan Literasi di antara Anak-anak Penderita Autism Spectrum Disorder (ASD)
REFERENSI:
Ashraf, Adnan dkk. 2025. Female autism categorization using CNN based NeuroNet57 and ant colony optimization. Computers in Biology and Medicine 189, 109926.

