tinder dating agency

NANOTEKNOLOGI PERTANIAN : Dari Pupuk Nano Hingga Sensor Nano

Salah satu teknologi yang sangat berkembang saat ini adalah nanoteknologi. Teknologi dalam skala nano (ukurannya berkisar sepersemiliar meter) memungkinkan manusia menyusun atom demi atom untuk membentuk suatu material.  Kisaran ukuran material dalam skala nano yakni 1-100 nm. Sebagai perbandingannya, jika ukuran sebuah bola kasti berkisar 65 milimeter dan nanometer merupakan sepersejuta dari satu milimeter, maka untuk memperoleh bola tenis berukuran nano setara dengan membagi bola tenis tersebut ke dalam sepersejuta bagian!

Gambar 1. Perbandingan ukuran material nano dengan berbagai objek [1]

Nanoteknologi  kini telah diaplikasikan dalam berbagai bidang seperti IT, elektronik, kesehatan, pangan, hingga pertanian. Berbagai produk terkait nanoteknologi telah dikembangkan dan dikomersialkan. Khusus pada artikel ini, kita akan membahas apliaksi nanoteknologi dalam bidang pertanian.

  1. Pupuk Nano

Pupuk sebagai material utama di bidang pertanian terus mengalami peningkatan kualitas melalui berbagai riset. Di Indonesia, produksi pupuk dengan menggunakan teknologi nano telah dikembangkan oleh BPPT yang disebut sebagai pupuk lepas lambat atau SRF (Slow Release Fertilizer) [2]. Pembahasan lebih lanjut mengenai pupuk nano juga dapat dilihat pada artikel  warstek: Pupuk nano untuk masa depan[3].

Prinsip utama dari pupuk nano yaitu meningkatkan efisiensi pupuk melalui pengaturan pelepasan nutrisi sesuai dengan kebutuhan masing – masing tanaman. Daya serap tanaman terhadap pupuk dapat meningkat dikarenakan semakin kecil ukuran partikel pada pupuk, maka luas permukaan material pupuk tersebut semakin meningkat. Selain itu, pori – pori pada tanaman juga memiliki ukuran dalam skala nano sehingga ada kesesuaian antara ukuran partikel pupuk dengan pori pada tanaman. Penggunaan nanofertilizer juga dapat meminimalisir terjadinya leaching atau pencucian yang berpotensi menimbulkan pencemaran pada lingkungan [4].

Gambar 2. Beberapa Aplikasi Nanoteknologi di Bidang Pertanian [4]

  1. Pestisida Nano

Pestisida berbasis nanoteknologi juga telah dikembangkan dengan menggunakan Cu, SiO2, ZnO, dan TiO2 yang dibentuk menjadi partikel  nano besi-oksida. Partikel nano ini dapat melindungi tanaman dengan menghambat pertumbuhan patogen pada tanaman [5]. Sebagai contoh, penggunaan nano silika dapat membunuh serangga patogen tanaman apabila terserap ke dalam lapisan kutikula pada kulit serangga [4]. Hal ini dikarenakan sifat dari nano silika yang hidrofobik sehingga dapat dengan mudah menempel pada kulit serangga yang juga bersifat hidrofobik.

  1. Sensor Nano

Sensor nano sebagai salah satu teknologi nano yang berperan penting untuk mendeteksi dan memantau pertumbuhan tanaman, penyakit, toksisitas, kualitas tanah, serta mengontrol keseluruhan aspek keamanan dari tanaman budidaya tersebut [4],[5]. Sensor nano dibagi menjadi 2 bagian yakni elektrikal-sensor nano dan bio-sensor nano.

Salah satu model dari sensor nano ini yaitu sensor nano elektroda emas yang dimodifikasi dengan partikel nano tembaga. Sensor nano ini dapat mendeteksi serangan jamur patogen dengan menghitung total asam salisilat yang dihasilkan pada tanaman tersebut [6]. Asam salisilat merupakan salah satu senyawa yang dijadikan indikator dalam mengukur tingkat stress pada tanaman.

Tabel 1. Beberapa partikel nano yang telah diaplikasikan sebagai sensor nano dalam pertanian [5]

Nah, ketiga poin di atas merupakan bagian dari aplikasi nanoteknologi untuk dunia pertanian.  Selain itu, masih banyak material nano maupun partikel nano lainnya yang sedang dikembangkan sebagai upaya untuk peningkatan mutu tanah dan juga mampu meningkatkan kemampuan tanaman agar dapat bertahan dalam cekaman lingkungan [4]. Tentu kita semua berharap agar penelitian mengenai nanoteknologi untuk bidang pertanian semakin dikembangkan, khususnya di Indonesia. Sebagai negara agraris, sudah seharusnya kita segera  berupaya untuk dapat menghasilkan produk pertanian berbasis nanoteknologi ini agar dapat diaplikasikan ke petani – petani Indonesia.

Referensi:

[1] Bloemen, M. 2015. Immunomagnetic separation of bacteria by iron oxide nanoparticles. https://www.researchgate.net/publication/281278530_Immunomagnetic_separation_of_bacteria_by_iron_oxide_nanoparticles (diakses 2 Oktober 2019)

[2] BPPT. 2017. Inovasi Teknologi Pupuk Lepas Lambat (Slow Release Fertilizer, SRF). https://ptseik.bppt.go.id/berita-ptseik/14-inovasi-teknologi-pupuk-lepas-lambat-slow-release-fertilizer-srf (diakses 2 Oktober 2019)

[3] Izzah, N. 2017. Pupuk nano untuk masa depan. https://warstek.com/2017/06/12/pupuknano/ (diakses 2 Oktober 2019)

[4]  Shang, Y., Hasan, MK., Ahammed, GJ., Li, M., Yin, H., & Zhou, J. 2019. Applications of nanotechnology in plant growth and crop protection: A Review. Molecules 24 (2558): 1-23.

[5] Dubey, A. & Mailapalli, AR. 2016. Nanofertilisers, nanopesticides, nanosensors of pest and nanotoxicity in agriculture. Sustainable Agriculture Reviews 19 : 307 – 330.

[6] Wang, Z., Wei, F., Liu, S.Y., Xu, Q., Huang, J.Y., Dong, X.Y., Yu, J.H., Yang, Q., Zhao, Y.D., Chen, H. 2010. Electrocatalytic oxidation of phytohormone salicylic acid at copper nanoparticles-modified gold electrode and its detection in oilseed rape infected with fungal pathogen Sclerotinia sclerotiorum. Talanta 80: 1277–1281.

Pupuk nano untuk masa depan

Pupuk nano untuk masa depan
Gambar 1. Lahan Persawahan di Yala National Park Bangladesh [Dave Bouskill, 2010]

Miliaran orang di dunia mengkonsumsi nasi sebagai sumber karbohidrat, protein, mineral dan vitamin. Di sebagian besar negara di Asia, terutama di Indonesia, nasi menjadi makanan pokok. Di masyarakat kita, dikenal sebuah guyonan, jika belum mengkonsumsi nasi artinya belum dapat asupan makan yang layak, terlebih belum mengenyangkan. Penyediaan kebutuhan nasi (beras) berhubungan pula dengan kecukupan pemenuhan pupuk untuk menjamin keberhasilan panen. Kebutuhan akan pupuk oleh petani meningkat setiap tahunnya, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pupuk padi. Pemakaian pupuk untuk tanaman padi (gabah) dibutuhkan dalam jumlah yang terbilang besar. Menurut BB Padi (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi) Departemen Pertanian, kebutuhan pupuk untuk satu ton gabah padi di Indonesia setidaknya membutuhkan antara lain unsur hara Nitrogen (17,5 kg setara 39 kg Urea); unsur Fosfor (3 kg setara 9 kg SP-39) dan unsur Kalium (17 kg setara 34 kg KCl).

Kebutuhan yang cukup banyak untuk me-nutrisi satu ton gabah, utamanya unsur Nitrogen (N) yang berperan besar pada pertumbuhan tanaman, apabila diberikan terus-menerus, secara akumulatif dapat berdampak pada kualitas lingkungan, termasuk kualitas tanah dan padi itu sendiri tentunya. Terlebih Urea bersifat sangat mudah larut di dalam air. Demi mencegah dan mengatasi penurunan kualitas tanah dan tanaman akibat penggunaan pupuk, maka diperlukan suatu upaya solutif, salah satunya penggunaan teknologi pupuk tersedia lambat (slow-released fertilizer atau SRF) yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi karena pelepasan zat hara pada pupuk dapat dilepaskan secara berkala, sehingga tanaman dapat menyerap zat hara dari pupuk secara lebih optimal.

Di Indonesia, penggunaan pupuk jenis SRF sudah diperkenalkan dan mulai digunakan, salah satunya produk zeolite prima. BPPT, seperti yang dilansir dalam berita di website resminya, juga telah melakukan upaya pengembangan produksi SRF dan saat ini telah berhasil memproduksi pupuk SRF dengan ukuran granul 2-4 mm. Namun demikian, meskipun sudah tersedianya produk komersil SRF yang digunakan dan produksi SRF tengah diupayakan, pengembangan formulasi SRF terus selalu dilakukan untuk upaya ketahanan pangan yang lebih baik, salah satunya pengembangan yang dilakukan oleh para ilmuan di Sri Lanka yang melakukan hibrida skala nano pada senyawa hidroksiapatit-urea untuk penyediaan pupuk SRF yang dapat menyuplai kebutuhan unsur nitrogen, dengan harapan nutrien dari pupuk ke tanaman tersedia dan terserap secara lebih efisien.

Gambar 2. Nanohibrida Urea (U) dan Hidroksiapatit (HA) [Kottegoda dkk, 2017 –  dengan beberapa penyesuaian]

Mari kita telisik lebih lanjut teknologi pupuk tersedia lambat (slow-released fertilizer atau SRF), yaitu nanohibrida hidroksiapatit-urea (selanjutnya akan disebut pupuk nanohibrida U-HA) dan tahap uji coba aplikasi pupuk tersebut di lahan persawahan di Sri Lanka.

Urea yang mengandung sejumlah Nitrogen (N), seperti yang telah disebutkan sebelumnya merupakan zat hara utama bagi pertumbuhan tanaman.  Sementara, Hidroksiapatit (HA) sendiri merupakan senyawa kalsium fosfat yang bersifat stabil, memiliki bioactivity dan biocompatible yang secara luas telah diaplikasikan dalam dunia medis karena sifat morfologis dan komposisinya yang mirip dengan jaringan keras (gigi dan tulang) pada manusia. Demikianlah para ilmuan kemudian menggabungkan keunggulan dari urea yang dibungkus hidroksiapaptit untuk menghasilkan pupuk tersedia lambat (slow-released fertilizer atau SRF)  nanohibrida U-HA dengan ukuran ~18 nm yang dapat menutrisi tanaman dengan senyawa nitrogen yang mampu terlepas ke lingkungan dan menutrisi tanaman secara berkala.

Gambar 3. Hasil Uji Laju Kelarutan Pupuk didalam Air Mengalir [Kottegoda dkk, 2017 –  dengan beberapa penyesuaian]

Pupuk nanohibrida U-HA melalui serangkaian uji coba, salah satunya  uji laju kelarutan pupuk dalam media air mengalir, diketahui bahwa pupuk ini membutuhkan waktu lebih lama, 63 menit, untuk melepaskan senyawa Nitrogen dibandingkan dengan Urea murni yang membutuhkan waktu lebih cepat, 5 menit. Sisa Nitrogen yang belum terlepas dalam pupuk nanohibrida, masih akan terlepas selama kurun waktu satu minggu, kurun waktu yang tentu lebih lama dibanding dengan pelepasan Nitrogen pada Urea konvensional.

Gambar 4. Hasil Uji Coba pada Lahan Pertanian di Rice RND Institute Bangladesh [Kottegoda dkk, 2017 –  dengan beberapa penyesuaian]

Pupuk nanohibrida U-HA ini kemudian dievaluasi untuk menguji kemampuan nutriennya untuk dapat terserap oleh tanaman padi di lahan persawahan Rice Research and Development Institute Bangladesh, dan membandingkannya dengan pupuk urea konvensional yang sudah banyak digunakan petani di Sri Lanka. Hasil menunjukkan dengan menggunakan setengah dari kebutuhan urea yang disarankan, yaitu 50 kg nanohibrida U-HA (T3) dapat mempertahankan hasil tanaman padi sebanyak ~7,9 ton/ hektar, hasil yang diperoleh tersebut lebih banyak dibanding dengan pemberian 100 kg Urea murni (T2). Uji kandungan NPK pada batang padi juga menunjukkan bahwa penggunaan pupuk nanohibrida U-HA mampu memberikan asupan nutrisi berupa fosfor dan kalium tanpa perlu penambahan jenis pupuk lainnya, ini dikarenakan hidroksiapatit juga telah mengandung sejumlah fosfor yang mampu memberikan nutrisi tambahan yang cukup untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kottegoda dkk, pengaplikasian pupuk nanohibrida U-HA menunjukkan bahwa pelepasan nitrogen secara berkala menggunakan teknologi nano dapat dilakukan untuk menutrisi dan memperoleh hasil panen yang lebih banyak. Diharapkan kedepan hasil penelitian semacam ini akan mampu mengurangi jumlah kebutuhan pupuk kimia yang digunakan selama masa tanam, khususnya padi, serta sekaligus dapat berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan tanpa khawatir kekurangan suplai makanan pokok di masa mendatang.

Sumber:

[1] BB Padi Balitbangtan Kementerian Pertanian. “Pemupukan pada Tanaman Padi”. http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/info-teknologi/content/226-pemupukan-pada-tanaman-padi  (diakses pada 20 maret 2017)

[2] BPPT. “Inovasi Teknologi Pupuk Lepas Lambat (Slow Release Fertilizer, SRF)”. http://ptseik.bppt.go.id/berita-ptseik/14-inovasi-teknologi-pupuk-lepas-lambat-slow-release-fertilizer-srf (diakses pada 16 Mei 2017)

[3] Fluidinova. “Hydroxyapatite”. http://www.fluidinova.pt/hydroxyapatite-properties-uses-and-applications (diakses pada 16 Mei 2017)

[4] Kottegoda, Nilwala dkk.“Urea-Hydroxyapatite Nanohybrids for Slow Release of Nitrogen”. ACS Nano, 2017, 11 (2), pp 1214–1221

[/um_loggedin]

 

Memanfaatkan Magnet untuk Meningkatkan Produksi Pertanian Masa Depan

Memanfaatkan Magnet untuk Meningkatkan Produksi Pertanian Masa Depan
red_parand tomatoplanting
Foto: http://bigmyrtle.blogspot.jp

Pangan merupakan salah satu kebutuhan vital yang menunjang kehidupan manusia. Salah satu sumber penghasil pangan adalah sektor pertanian. Hasil dari sektor pertanian inilah yang mayoritas menyumbang untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun, global warming menimbulkan suatu permasalahan dalam sektor pertanian salah satunya adalah turunannya produktifitas hasil pertanian. penurunan produktifitas pertanian ini tentunya menimbulkan dampak terhadap ketersediaan pangan mengingat semakin bertambahnya penduduk tentu kebutuhan pangan juga meningkat. Sehingga diperlukan suatu inovasi atau terobosan dalam bidang pertanian guna memacu hasil pertanian.

Salah satu inovasi yang cukup potensial untuk memacu hasil pertanian di masa depan yaitu dengan penggunaan  paparan medan magnet. Metode ini secara umum dapat dibagi menjadi dua metode yaitu pemaparan pada bibit tanaman dan pemaparan pada air yang digunakan untuk pengairan tanaman atau yang lebih dikenal dengan air termagnetisasi (Magnetized Water). Kedua metode ini selain potensial juga aman karena paparan radiasi medan magnet ini bersifat non-ionizing. Radiasi non-ionizing merupakan radiasi dengan energi rendah yang tidak menyebabkan perubahan komponen kimia pada objek yang teradiasi sehingga tidak menimbulkan mutasi.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan medan magnet pada bibit tanaman memberikan dampak yang positif pada hasil pertanian. Penelitian Souza dkk (2005) menunjukkan bahwa pemaparan medan magnet sebesar  120 mT (mili Tesla) selama 10 menit dan 80 mT selama 5 menit pada bibit tomat memberikan pengaruh signifikan terhadap  hasil panen berupa jumlah , berat dan jumlah buah tiap tanaman lebih besar dibandingkan bibit tomat tanpa dipapar medan magnet.  Penelitian serupa juga dilakukan oleh Jedlicka dkk  (2014), pemaparan medan magnet sebesar 40 mT (mili Tesla)  dengan durasi 20 menit setiap hari selama 48 hari pada tanaman tomat mampu meningkatkan berat rata-rata buah tomat. Selain tomat medan magnet juga berpengaruh terhadap tanaman cabai dan bawang merah. Paparan medan magnet sebesar 67-60 mT (mili Tesla)  pada biji cabai merah mampu meningkatkan berat buah dan diameter buah cabai merah.  Medan magnet juga mampu meningkatkan hasil panen bawang merah  secara signifikan yang meliputi jumlah ubi, jumlah tunas per ubi, berat ubi dan diameter ubi bawang merah (Souza  et al, 2014). Selain berpengaruh terhadap hasil panen ternyata medan magnet juga mampu meningkatkan nutrisi dalam buah. Pemaparan medan magnet 12.5 mT(mili Tesla)  selama 5,10 dan 15 menit pada biji tomat dapat meningkatkan  kandungan Lycopene pada buah tomat walupun tidak signifikan.

1
 Tabel 1. Efek paparan medan magnet terhadap hasil panen tanaman tomat. T1= Perlakuan medan magnet 120 mT selama 10 menit  T2= Perlakuan medan magnet 80 mT selama 5 menit  CV= Coefficient of variaton (Koefisien varian)  Sumber: Souza dkk (2005)
2
Tabel 2.Efek paparan medan magnet terhadap hasil panen bawang merah. T1=perlakuan medan magnet 160 mT selama 15 menit T2= perlakuan medan magnet 160 mT selama 20 menit Sumber: Souza dkk ( 2014)

Selain pemaparan langsung terhadap bibit yang akan di tanam, pemaparan medan magnet dapat dilakukan pada media irrigasi yaitu pada air yang digunakan untuk irigasi. Metode ini juga memberikan dampak positif terhadap hasil panen beberapa tanaman.  Penggunaan air termagnetisasi  untuk irigasi penanaman kacang (Vicia faba L) mampu meningkatkan jumlah biji setiap pohonnya dan berat biji tanaman kacang.  Hasil serupa  juga diperoleh pada kacang buncis (Phaseolus vulgaris L.) yang menggunakan air termagnetisasi 30 mT(mili Tesla)  pada secara signifikan mampu meningkatkan berat biji  kacang buncis pada tiap pohonnya.  Selain  kacang-kacangan, air termagnetisasi ini juga memberikan dampak positif pada tanaman tomat.  Air termagnetisasi ini juga mampu meningkatan nutrisi dalam buah hasil panen.  Buah cabai hasil panen yang didapat dari perlakuan air termagnetisasi secara signifikan memiliki kandugan vitamin C lebih banyak didandingkan buah Cabai hasil panen yang didapat tanpa perlakuan air termagnetisasi.

4
Tabel 3. Dampak air termagnetisasi terhadap hasil panen Cabai Merah Sumber: Ahmed et al (2013)

Berdasarkan penjelasan diatas. Paparan Medan Magnet memberikan dampak postitif dan potensial memacu hasil pertanian. hal ini dapat digunakan sebagai solusi masa depan untuk memacu hasil pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan yang aman dan ramah lingkungan namun untuk saat ini masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut

Referensi

 

 

Anda merasa artikel ini bermanfaat? Mari bantu Warstek untuk bisa bermanfaat lebih besar dengan cara memberikan donasi.

Model Bisnis Pertanian di Era Disruptive

Sistem pertanian di Indonesia masih dikategorikan sebagai sistem pertanian tradisional. Petani membeli dan memakai bibit, pestisida, dan pupuk dari toko yang mudah dijangkau walaupun dengan persediaan yang terbatas, modal yang digunakan untuk membangun bisnis pertanian berasal dari dana pribadi atau dana pinjaman bank, dan pengetahuan petani dalam bercocok tanam didasarkan pada pengalaman karena banyak petani yang hanya mengantongi ijazah SMP. Terkadang pengetahuan bercocoktanam didapatkan melalui penyuluhan Dinas Pertanian. Hasil panen pertanian dijual kepada makelar dengan harga yang jauh lebih rendah dari pasaran atau bagi petani yang sudah modern maka mereka membentuk koperasi Pertanian.

Pertanian bukanlah bidang yang menarik bagi angkatan kerja baru. Pada akhir tahun lalu penduduk yang bekerja di sektor ini tinggal sekitar 32,9 persen dari 114,8 juta penduduk yang bekerja. Padahal, sepuluh tahun sebelumnya mereka yang bekerja di sektor pertanian masih sekitar 44 persen dari 94 juta penduduk yang bekerja. Hal ini berpotensi mempengaruhi produktivitas hasil pertanian di Indonesia dan meningkatkan lahan gundul yang tidak termanfaatkan.

Di era kemajuan teknologi, kita mengenal istilah baru yaitu disruption atau inovasi baru yang mampu menciptakan pasar baru. Dengan menggunakan bisnis model baru, maka kehadiran disrupters mampu mengganggu pelaku bisnis incumbent yang memiliki pasar stabil. Disrupters memulai membuat bisnis model untuk memenuhi demand pasar low end atau konsumen yang belum terlayani, kemudian melakukan migrasi ke pasar mainstream. Sistem ini tentu saja mengganggu pasar, mengganggu pemain lama, dan merebut pelanggan dalam waktu relatif singkat. Pemain lama yang telah lebih dulu hadir (incumbent), sering kali tidak dapat mengantisipasi karena gagal berinovasi dengan perkembangan teknologi dan gagal memahami selera teknologi pelanggan yang pasti telah berubah.

Era disruptive erat kaitannya dengan penggunaan strategi yang bernama Blue Ocean Strategy, suatu gagasan inovatif tentang menciptakan ruang pasar tanpa pesaing. Pola pikir Blue Ocean Strategy mendorong pelaku bisnis untuk memasuki sebuah arena pasar baru yang selama ini seolah diabaikan oleh para pesaing padahal sangat potensial. Ini sangat kontradikitif dengan strategi bisnis yang telah digunakan sekian lama yang oleh W Chan Kim dan rekannya disebut dengan Red Ocean Strategy. Suatu kemampuan mengalahkan pesaing adalah hal yang terpenting dalam Red Ocean Strategy, dimana kompetitor biasanya memberikan tawaran fitur produk yang seragam, sama, dan semua saling memperebutkan pasar yang juga sama.

Teknologi disruptive telah membentuk model-model bisnis baru dan mengubah cara perusahaan beroperasi. Hal tersebut menjadikan kompetisi pasar semakin ketat. Beberapa model bisnis pertanian yang diperkenalkan di era disruptive dan dipakai oleh startup yaitu :

1. Free and Paid Knowledge Model, memberikan layanan/informasi gratis dimana penyedia platform mendapat keuntungan dari iklan dan menjual database akun customer. Contohnya Pantau Harga, 8Village (informasi cuaca, curah hujan, tingkat kebutuhan konsumen, tingkat harga jual dan biaya-biaya yang perlu dikeluarkan untuk bercocok tanam), Karsa (informasi pertanian kepada para petani, produsen produk pertanian, serta pemerintah), dll.

2. The Marketplace Model, penyediaan pasar digital yang menyatukan pembeli dan penjual langsung. Penyedia platform mendapat keuntungan dari penempatan product pada halaman pertama dan juga persentase keuntungan (komisi). Contohnya mempertemukan penjual peralatan pertanian kepada pembeli (petani) seperti Eragano, mempertemukan hasil panen petani dengan end customer seperti happy fresh, limakilo, Kecipir, Sikumis, dll.

3. Crowd Funding, mengumpulkan pendanaan investasi kepada publik dan mengelola dana tersebut untuk bisnis pertanian. Seperti Igrow dan Crowde.

4. Auto Analisa, dimana Investor/petani/pemilik lahan dapat membaca laporan produktivitas hasil pertanian menggunakan big data analytic seperti Ci Agriculture.

Namun meskipun startup pertanian mulai menjamur di Indonesia, ada beberapa tindakan strategis yang tidak dapat mereka lakukan kecuali bekerjasama dengan pemerintah. Dalam upaya meningkatkan pertanian di Indonesia, pemerintah dapat berperan sebagai:

1. Membuat kebijakan yang mendukung agribisnis sebagai Leading Sector, yaitu integrasi dengan Industri terkait seperti pembibitan, agro-otomotif, agro-kimia dan industri hilir pengolahan hasil panen.

2. Mengembangkan universitas berbasis riset pertanian dalam upaya meningkatkan produktivitas lahan dan bibit unggul serta teknologi tepat guna yang lebih ramah lingkungan dan biaya.

3. Menyediakan sarana penampungan hasil panen dan teknologi pengawetan yang ramah pada kesehatan. Hal ini telah dilakukan oleh sistem pertanian di Korea yang memiliki lumbung padi yang besar namun waktu kadaluarsa beras mencapai 3 tahun. Tentu saja hal tersebut menyebabkan harga jual ke end customer masih terjangkau [Anton Sugiarto].