Tatanama Senyawa Kimia (Materi Lengkap Kelas X Beserta Contohnya)

blank

Pernahkah sahabat Warstek membeli sebuah benda yang memiliki nama yang beraneka ragam? Misalkan, kalian membeli benda bernama soda api?  Soda api dapat ditemukan pada banyak toko material. Soda api memiliki nama lain di masyarakat dengan sebutan soda kaustik. Bahkan, banyak nama lain yang dapat kita temukan. Kasus ini tidak hanya terjadi pada zat yang bernama soda api saja, juga pada benda lainnya. Bayangkan berapa banyak bahasa yang ada di dunia ini, pastinya akan semakin beragam pula istilah untuk sebuah benda. Pada artikel ini, penulis akan membahas bagaimana penyebutan nama untuk zat kimia.

Zat kimia di dunia ini keberadaannya sangat banyak dan beragam sehingga menyulitkan banyak orang. Mengingat pada awal perkembangan kimia, zat kimia masih dinamakan dengan nama penemunya, ciri fisik atau kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini pasti menyulitkan banyak pembelajar sebab  nama ilmuwan sering ditemukan sama. Ada juga zat kimia yang memiliki ciri fisik dan kegunaan hampir sama. Ilmuwan akhirnya bersepakat bahwa harus ada aturan nama yang seragam untuk senyawa agar menghindari kekacauan penyebutan nama senyawa. Akhirnya, IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry), sebuah lembaga himpunan kimia internasional menyepakati untuk membuat aturan atau tatanama senyawa kimia.

blank

Gambar 1. Prof. Effendy, Ph.D, orang Indonesia yang tercatat di Cambridge Structural Database (CSD) di Cambridge Crystallographic Data Centre bersama peneliti dunia lain dengan minimal penemuan 501 senyawa baru. Prof. Effendy diketahui menemukan 735 senyawa baru. Apabila hasil temuannya tersebut diberi nama sesuai namanya, bayangkan “Effendy-1, Effendy-2 sampai 735” (Sumber: http://kimia.fmipa.um.ac.id)

1. Tata Senyawa Ionik

Pada materi ikatan kimia dan larutan elektrolit, kita daipat mengetahui bahwa senyawa ionik tersusun atas kation (ion positif) dan anion (ion negatif). Karena terdapat atom yang dapat membentuk bermacam ion, hasilnya memberikan hasil penamaan yang berbeda juga. Effendy (2016) membedakan senyawa ionik menjadi dua tipe yaitu tipe 1 dan tipe 2 berdasarkan jumlah kemungkinan terbentuknya muatan ion (kation). Pada tipe 1, ion yang hanya memiliki satu macam saja, misalkan Na+, K+, Ca2+, Mg2+ dan lain sebagainya. Ion-ion tersebut hanya memiliki satu jenis kation saja. Berbeda dengan tipe 2, yang dapat membentuk lebih dari satu jenis, misalkan atom Fe yang dapat terbentuk dua macam ion yaitu Fe2+ dan Fe3+

blank

A. Penamaan Kation

Tabel 1. Penamaan kation tradisional dan sistematik

TradisionalSistematik/StockKation
Ion FeroIon Besi(II)Fe2+
Ion FeriIon Besi(III)Fe3+
Ion KuproIon Tembaga(I)Cu+
Ion KupriIon Tembaga(II)Cu2+

Perlu diperhatikan pada tatanama yang menggunakan aturan sistematik, dalam menuliskan muatan ionnya tidak perlu menggunakan spasi, jadi ditulis “kation(muatan)”.

B. Penamaan Anion

Tabel 2. Penamaan anion

Sistematik dan TradisionalAnion
Ion OksidaO2-
Ion SulfidaS2-
Ion SelenidaSe2-
Ion TeluridaTe2-
Ion FluoridaF
Ion KloridaCl
Ion BromidaBr
Ion IodidaI

Ada beberapa anion yang memiliki ikatan dengan oksigen, disebut anion okso. Jika sebuah anion okso dapat membentuk dua macam kemungkinan, maka anion okso dengan jumlah oksigen yang lebih sedikit diberikan dengan akhiran nama “-it”. Sebaliknya, anion okso dengan jumlah oksigen yang lebih banyak diberikan dengan akhiran nama “-at”.

Tabel 3. Penamaan Anion Okso 2 jenis

blank
Sistematik dan TradisionalAnion Okso
Ion SulfitSO32-
Ion SulfatSO42-
Ion FosfitPO33-
Ion FosfatPO43-

Selain, dapat membentuk dua macam kemungkinan, anion okso juga ada yang dapat membentuk menjadi empat macam anion okso. Misalkan, pada anion okso golongan halogen yang dapat membentuk empat macam anion okso. Untuk anion dengan jumlah oksigen satu, diberikan nama awalan “hipo” dan diakhiri dengan “-it”. Untuk anion dengan jumlah oksigen dua, diberikan nama akhiran “-it”.  Untuk anion dengan jumlah oksigen tiga, diberikan nama akhiran “-at”. Untuk anion dengan jumlah oksigen empat, diberikan nama awalan “per” dan diakhiri dengan “-at”.

Tabel 4. Penamaan Anion Okso 4 jenis

Sistematik dan TradisionalAnion Okso
Ion hipokloritClO
Ion kloritClO2
Ion kloratClO3
Ion perkloratClO4

Ada juga di alam ini, anion okso yang hanya memiliki satu jenis, diberikan nama akhiran “-at”. Misalkan CO32- diberikan nama ion karbonat.

C. Penamaan Alternatif Anion Okso

IUPAC memberikan alternatif yang lebih memudahkan dalam penyebutan anion okso dengan susunan:

“Jumlah atom oksigen + Okso + nama unsur + akhiran -at + (muatan)”

Jumlah atom yang dimaksudkan yaitu menggunakan bahasa Yunani yaitu mono (1), di (2), tri (3), tetra (4), penta (5), heksa (6), hepta (7), okta (8), nona (9) dan deka (10). Penulis contohkan kepada sahabat warstek, yaitu ion karbonat (CO32-), jika dijadikan penamaan alternatif anion okso, maka menjadi “ion trioksokarbonat(2-)”.

D. Penamaan Senyawa Ionik

Dalam penamaan senyawa ionik, kita tidak perlu menyebutkan jumlah ion atau anion. Misalkan FeCl2 bernama Besi(II) Fluorida bukan Besi(II) diklorida.

Baca juga:

2. Tata Senyawa Molekuler

Senyawa pada sub bab ini merupakan senyawa jenis kovalen (nonlogam berikatan dengan nonlogam). Senyawa yang paling sederhana yakni senyawa biner (memiliki dua jenis atom).  Berbeda dengan penamaan pada senyawa ionik, pada senyawa kovalen ini diberikan penyebutan jumlah atom (mono, di, tri, tetra, dst.). Misalkan senyawa biner N2O5, memiliki dua jenis atom N dan O.  Senyawa N2O5 memiliki nama dinitrogen pentoksida. Perlu diperhatikan juga, ada senyawa kovalen yang memiliki nama yang berbeda tergantung fasenya, contohnya HCl. Pada fase gas, HCl (g) dinamakan hidrogen klorida, pada fase larutan HCl (aq), berubah nama menjadi asam klorida. Menurut teori asam-basa arhenius ion H+ merupakan salah satu indikasi senyawa asam.

Referensi

  • Effendy. (2016). Ilmu Kimia, Untuk siswa SMA dan MA KelasX Jilid 1 B. Indonesian Academic Publishing
  • Jespersen, N. D., Brady, J. E., & Hyslop, A. (2012). Chemistry: The molecular nature of matter. Wiley Global Education.
  • Raymond, C. (2010). Chemistry. 10th.McGraw-Hill Education
  • Silberberg, M. (2012). Principles of general chemistry. McGraw-Hill Education
  • http://kimia.fmipa.um.ac.id/id/effendy-sang-penemu-730-senyawa-baru/, diakses pada 07 Maret 2021, pukul 21.40 WIB
Budiman Prastyo
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar