Mengenal Tumbuhan Beracun Alami

blank
Yellow Oleander (Thevetia peruviana)

Setiap organisme hidup (tumbuhan dan hewan) memiliki kemampuan untuk mengeluarkan zat beracun yang diproduksi didalam tubuhnya dan zat beracun tersebut dikenal denga toksin.

Pada umumnya, toksin yang yang dihasilkan organisme hidup tersebut digunakan dalam keadaan yang membahayakannya. Namun, ada juga organisme yang memang memiliki dan memproduksi senyawa toksin tersebut meskipun ketika tidak berada dalam keadaan bahaya.

Tumbuhan menjadi salah satu organisme yang mampu memproduksi senyawa toksin, bahkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan racun oleh manusia. Hal ini disebabkan senyawa toksin dalam tumbuhan mengandung zat kimia yang mampu menyebabkan rasa sakit bahkan kematian jika terjadi kontak langsung dengan manusia atau hewan baik dihirup atau dimakan dengan kadar yang berlebihan.

Kadar racun alami dalam tumbuhan memang terbilang cukup rendah, akan tetapi terdapat beberapa jenis tumbuhan yang memiliki kadar racun yang tinggi sehingga membutuhkan keterampilan khusus ketika akan mengolahnya.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) menyatakan bahwa terdapat beberapa tumbuhan yang memiliki toksin atau zat racun alami didalamnya seperti singkong, bayam, kentang, rebung, biji buah-buahan (pir, plum, apel, dan ceri), seledri, dan tomat hijau.

Sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hendrik et al. (2021) diketemukan terdapat delapan jenis tumbuhan beracun yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia khususnya di kecamatan Fatuleu Tengah, kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur dan dimanfaatkan oleh masyarakat suku Dawan sebagai bahan racun untuk pestisida alami, membunuh ikan di sungai untuk kebutuhan pangan, membunuh serangga vektor penyakit, dan digunakan untuk menyerang musuh. Diantara tumbuhan beracun tersebut adalah kacang arbila, akar tuba, ubi kayu, sengon, ceremai, ginje, kecubung, dan biduri.

Mengenal Tumbuhan Beracun Alami

Beberapa tumbuhan beracun alami yang akan dibahas diantaranya:

a). Singkong, memiliki kandungan senyawa beracun linamarin dan lotaustralin (termasuk golongan dari glikosida sianorgenik). Biasanya singkong tipe pahit yang memiliki kandungan racun tersebut dalam dosis tinggi. Mengkonsumsi singkong yang dimasak kurang matang atau mentah dapat menyebabkan gangguan kesehatan sebab terjadi proses perubahan senyawa racun dalam singkong menjadi senyawa hidrogen sianida (HCN). Beberapa gejala keracunan yang ditimbulkan adalah penyempitan kerongkongan, sakit kepala, mual, muntah, bahkan dapat menimbulkan kematian. Agar terhindar dari racun singkong tersebut maka dalam proses pengolahannya harus dilakukan dengan baik dan benar serta tidak boleh dikonsumsi melebihi 1 mg perkilogram berat badan perhari. Tumbuhan lain yang memiliki racun yang sama dengan singkong diantaranya biji buah-buahan (pir, plum, apel, dan ceri), dan rebung.

blank
Struktur kimia linamarin dan lotaustralin pada singkong

b). Sengon (P. falcataria L.), pada bagian kulit pohonnya terdapat racun yang dapat digunakan sebagai pestisida. Ekstrak kulit pohon sengon mengandung beberapa senyawa aktif sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida seperti saponin, triterpenoid, flavonoid, sterol, tanin, alkaloid, anthraquinon, dan fenol. Tidak hanya sebagai pestisida, beberapa senyawa aktif tersebut berfungsi juga dalam membuat pohon sengon menjadi lebih resisten terhadap penyakit gall rust.

blank
Pohon sengon yang resisten terhadap serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur

c). Kentang, mengandung racun solanin dan chaconine (termasuk golongan glikoalkaloid). Kadar racun yang tinggi terdapat dalam kentang yang berwarna hijau, secara fisik telah rusak dan membusuk, serta bertunas. Gejala keracunan yang ditimbulkan adalah mulut seperti terbakar, mual, muntah, rasa pahit, dan sakit kepala. Tumbuhan lain yang memiliki kandungan racun berupa glikoalkaloid adalah tomat hijau.

blank
Struktur kimia solanin

d). Biduri, dalam getahnya mengandung racun sebab mengandung glikosida, flavonol, calotroposides, uscharidin, frugoside, dan calotropin. Getah biduri biasa dimanfaatkan sebagai bahan racun pada panah suku di Afrika. Meskipun getah biduri mengandung racun, namun berdasarkan uji toksisitasnya terhadap sel kanker dianggap berhasil.

e). Bayam dan seledri, mengandung senyawa racun asam oksalat dan psoralen (termasuk golongan kumarin). Kandungan asam oksalat dalam bayam dapat menyebabkan defisiensi nutrisi (kondisi dimana tubuh manusia tidak mendapatkan unsur pembangun seperti nutrisi, mineral, dan vitamin sehingga kondisi seperti ini dapat membahayakan tubuh manusia), dan batu ginjal jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak. Kemudian kandungan psoralen dalam seledri dapat menimbulkan sensitivitas kulit ketika terpapar sinar matahari. Sehingga untuk menghindari efek keracunan dari kedua tumbuhan tersebut adalah dengan tidak mengkonsumsi terlalu berlebihan serta jangan dikonsumsi dalam keadaan mentah.

Demikian beberapa bahasan pengenalan tumbuhan yang memiliki kandungan toksin atau racun alami yang diproduksi didalamnya.

Referensi:

  • Hendrik, A.C., Pinat, A.I., dan Ballo, A (2021). Studi Etnobotani Jenis-Jenis Tumbuhan Beracun pada Suku Dawan Kecamatan Fatuleu Tengah Kabupaten Kupang. Jurnal Penelitian Kehutanan Faloak, 5(1), 31-46.
  • BPOM (2006). Racun Alami pada Tanaman Pangan. Diakses pada tanggal 1 Agustus 2021. <https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/157/RACUN-ALAMI-PADA-TANAMAN-PANGAN.html>

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Siti Rahmawati
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *