Berbagi Peran Kontrasepsi dengan Pasangan Melalui Vasektomi

Print Friendly, PDF & Email

Ditulis Oleh: Dian Erika

Melati, teman saya, mengeluhkan bahwa beberapa bulan belakangan ia mengalami perdarahan walaupun ia tidak sedang datang bulan. Beberapa bulan ini ia memang menggunakan alat kontrasepsi IUD. Tapi sepertinya ia tidak cocok dengan metode kontrasepsi tersebut dan mengalami efek samping yang mengganggu aktivitas sehari-harinya. “Selain pendarahan, aku jadi sering sakit kepala dan gampang capek. Aku sudah ke dokter(obgyn), tapi ya balik gini lagi.” keluhnya. Padahal sehari-hari ia harus membantu suaminya mengurus dua cabang toko usaha mereka, juga mengurus kedua buah hatinya yang masih balita. Ia memang sudah tidak ingin menambah anak, dan ini sudah kali kedua dia berganti alat kontrasepsi.

Entah sudah berapa kali saya menerima cerita yang kurang lebih sama, teman-teman perempuan saya yang mengeluhkan efek alat kontrasepsi yang mereka gunakan. Dari penelitian tentang efek samping penggunaan kontrasepsi hormonal di wilayah kerja Puskesmas Buhu Kabupaten Gorontalo yang dilakukan oleh Edwina R. Monayo, dosen jurusan keperawatan di Universitas Negeri Gorontalo pada tahun 2020 dapat dirangkum bahwa perempuan yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal(baik pil, suntik, maupun implant) mengalami efek samping antara lain kenaikan berat badan, cemas/mood tidak stabil, pusing/sakit kepala, mual, pembesaran payudara, gangguan menstruasi (berupa ketidakteraturan periode siklus haid, perdarahan, dan haid terhenti), flek hitam/cloasma pada wajah, jerawat, penurunan libido/gairah seksual, dan infeksi (pada KB implant).

Perempuan seringkali terbebani oleh tugas domestik dan sudah menanggung beban reproduksi seperti dismenorrhea(nyeri haid), menstruasi, hamil, sakitnya melahirkan, serta beratnya pengasuhan anak. Alangkah lebih baik jika kita dapat berbagi peran kontrasepsi ini dengan pasangan. Apalagi jika mengingat efek KB hormonal yang dialami perempuan, yang dapat mempengaruhi kepercayaan diri atau bahkan mungkin kesehatan mentalnya. Namun Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2017 disebutkan bahwa capaian pengguna kontrasepsi pria hanya sekitar 7,5 persen dibandingkan wanita. Lebih lanjut 3,12 persen laki-laki Indonesia menggunakan alat kontrasepsi kondom. Hanya 0,2 persen yang melakukan vasektomi untuk program perencanaan keluarga. Penggunaan metode vasektomi untuk KB pada pria  masih rendah, mungkin disebabkan oleh pengetahuan yang masih kurang dan terbatas.

Jadi apa itu vasektomi? Vasektomi berbeda dengan kebiri. Secara definisi, vasektomi adalah memotong atau mengikat vas deferens(saluran sperma) yang bertujuan menghalangi sperma bercampur dengan semen yang dikeluarkan saat pria melakukan hubungan seksualSetelah tindakan vasektomi, sel sperma masih berproduksi, namun akan rusak dan mati, lalu diserap kembali oleh tubuh.

Vasektomi termasuk tindakan operasi ringan dan hanya membutuhkan bius lokal. Prosedur ini dapat dilakukan oleh dokter bedah umum atau dokter spesialis urologi di klinik maupun rumah sakit. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan prosedur vasektomi sekitar 15 menit. Terdapat dua teknik bedah yang dapat dilakukan, yaitu teknik konvensional dan teknik tanpa pisau bedah(no-scalpel vasectomy). Dalam prosedur vasektomi menggunakan teknik konvensional, kedua saluran sperma dipotong dan ujung masing-masing saluran dijahit atau ditutup menggunakan diathermy (alat perekat dengan pemanasan suhu tinggi). Kemudian, sayatan akan dijahit dengan benang yang dapat diserap kulit. Sedangkan pada vasektomi dengan teknik tanpa pisau bedah/tanpa pemotongan saluran sperma, dokter akan memasukkan jarum kauter ke dalam saluran sperma. Lalu jarum dialiri listrik sambil perlahan-lahan ditarik ke luar. Tujuannya adalah agar permukaan dalam saluran sperma mengalami luka bakar yang kemudian akan menyumbat saluran sperma.

Vasektomi dikategorikan sebagai kontrasepsi permanen. Namun dilansir dari detikhealth anggapan itu dibantah oleh dokter Muhammad Tri Tjahjana, MPH, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Sumatera Selatan. Menurutnya, saluran sperma bisa disambung lagi. Operasi penyambungan saluran sperma atau rekalanisasi memiliki peluang keberhasilan hingga 99,9 persen. Hanya saja memang untuk mengembalikan kesuburan seperti sedia kala, ada beberapa faktor yang mempengaruhi sehingga hasilnya bisa berbeda-beda pada setiap individu. Antara lain lamanya menjadi peserta KB vasektomi, usia(apakah laki-laki sudah memasuki masa andropouse—menopause pada priaatau belum), gizi, dan pakaian. Oleh sebab itu biasanya dokter memberikan indikasi vasektomi hanya kepada pasien yang tidak berkeinginan memiliki anak lagi.

Vasektomi memiliki beberapa keuntungan, seperti 99 persen efektif untuk mencegah kehamilan, efek jangka panjang bagi kesehatan yang jarang terjadi, waktu operasi cepat, dan biaya terjangkau. Mulyani dan Rinawati dalam bukunya berjudul Keluarga Berencana dan Alat Kontrasepsi juga mengungkapkan bahwa keuntungan lain dari vasektomi yaitu komplikasi yang dijumpai sedikit dan ringan. Prosedur ini juga tidak memengaruhi kadar hormon, gairah seks atau mengganggu aktivitas seksual. Terbukti dengan penelitian yang telah dilakukan mahasiswa kedokteran Universitas Sam Ratulangi, yaitu Fitri, Wantouw, dan Lydia pada tahun 2013 tentang pengaruh vasektomi terhadap fungsi seksual pria pada 67 pria yang menggunakan vasektomi di Kota Manado. Hasilnya dikatakan bahwa kontrasepsi vasektomi tidak berpengaruh pada fungsi seksual pria. Jadi anggapan bahwa vasektomi akan memengaruhi libido sama sekali tidak benar. Berhubungan intim pun akan makin nyaman tanpa rasa was-was.

Isu kesetaraan gender memang sangat memengaruhi keberhasilan program KB. Stereotip bahwa KB identik dengan urusan perempuan adalah anggapan yang keliru, karena KB juga menjadi urusan lakilaki. Oleh karena itu perempuan dapat berinisiatif, berdiskusi, dan berbagi peran penggunaan kontrasepsi ini dengan pasangan. Meningkatkan keikutsertaan KB pria berarti mengubah pengetahuan sikap dan perilaku dari sebelumnya tidak atau belum mendukung KB pria menjadi mendukung dan mempraktekkan sebagai peserta. Mereka yang tadinya menganggap KB adalah urusan perempuan harus mengubah pemikirannya ke arah pemikiran bahwa KB adalah urusan serta tanggung jawab suami dan istri.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Warung Sains Teknologi
Cari artikel lain: Baca artikel lain:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.