Kita sering mendengar pepatah bahwa “ikuti kata hati, bukan kata pikiran.” Namun, bagi ilmuwan, hubungan antara hati (jantung) dan pikiran (otak) ternyata jauh lebih nyata daripada sekadar kiasan romantis. Sains modern kini menunjukkan bahwa komunikasi antara otak dan jantung bukan hanya memengaruhi emosi, tetapi juga bisa menentukan hidup dan mati.
Inilah neurokardiologi klinis, cabang ilmu baru yang menjembatani neurosains (ilmu tentang sistem saraf) dan kardiologi (ilmu tentang jantung). Riset terbaru yang diterbitkan di The Journal of Physiology (2025) menyoroti bagaimana memahami “dialog” antara otak dan jantung dapat membuka jalan bagi terapi baru untuk penyakit kardiovaskular.
Baca juga artikel tentang: Mengungkap Perasaan Sedih dari Pandangan Neurosains, Psikologi, dan Fisiologi
Sistem Saraf Otonom: Pengatur Ritme Kehidupan
Setiap detak jantung kita tidak hanya dikendalikan oleh otot jantung, tetapi juga oleh jaringan saraf yang disebut sistem saraf otonom (autonomic nervous system, ANS). Sistem ini bekerja otomatis tanpa kita sadari mengatur denyut jantung, tekanan darah, pencernaan, bahkan suhu tubuh.
ANS terbagi menjadi dua “tim” utama:
- Sistem simpatik, yang mempercepat detak jantung saat kita cemas, marah, atau berlari.
- Sistem parasimpatik, yang menenangkan jantung saat kita rileks atau tidur.
Kedua sistem ini harus bekerja dalam keseimbangan yang halus. Saat salah satunya terlalu dominan. Misalnya, sistem simpatik yang terus aktif akibat stres kronis, tekanan darah naik, ritme jantung menjadi tidak teratur, dan risiko serangan jantung pun meningkat.
Ketika Komunikasi Otak–Jantung Terganggu
Studi-studi selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa gangguan pada sistem saraf otonom memainkan peran penting dalam banyak penyakit jantung, termasuk gagal jantung, aritmia (denyut jantung tak beraturan), dan tekanan darah tinggi kronis.
Pada pasien gagal jantung, misalnya, otak sering “salah membaca” sinyal dari jantung, seolah tubuh masih kekurangan darah, padahal tidak. Akibatnya, otak memerintahkan sistem simpatik untuk bekerja lebih keras, mempercepat jantung, mempersempit pembuluh darah yang justru memperburuk kondisi pasien.
Inilah mengapa ilmuwan kini menyadari bahwa mengobati penyakit jantung tidak cukup dengan memperbaiki organ jantung saja. Kita juga harus memperbaiki komunikasi saraf antara otak dan jantung.
Neurokardiologi: Menyatukan Dua Dunia yang Lama Terpisah
Bidang neurokardiologi klinis berusaha memahami anatomi dan fisiologi saraf yang mengatur jantung. Para ilmuwan mempelajari peta saraf jantung, jaringan kompleks neuron yang membungkus jantung dan berinteraksi langsung dengan pusat saraf di batang otak.
Kajian ini menunjukkan bahwa jantung sebenarnya memiliki semacam “otak mini” sendiri, sering disebut intrinsic cardiac nervous system (ICNS). Sistem ini mampu memproses informasi lokal dan mengatur detak jantung secara mandiri, tetapi tetap terhubung erat dengan otak melalui saraf vagus dan saraf tulang belakang.
Hubungan dua arah ini menjelaskan fenomena seperti “heart-brain axis” sumbu biologis yang menjelaskan bagaimana stres psikologis dapat memicu serangan jantung, atau sebaliknya, bagaimana penyakit jantung dapat menyebabkan gangguan suasana hati seperti depresi.
Dari Neurosains ke Terapi Jantung Baru
Jurnal Clinical Neurocardiology 2024 Update menyoroti bagaimana pengetahuan tentang saraf otonom kini digunakan untuk menciptakan terapi kardiovaskular berbasis neuromodulasi. Istilah neuromodulasi berarti mengubah aktivitas saraf secara terkontrol, baik dengan listrik, gelombang, maupun obat.
Beberapa contoh terobosannya:
- Stimulasi saraf vagus untuk menurunkan tekanan darah dan mengurangi peradangan pada pasien gagal jantung.
- Denervasi renal (ginjal), prosedur yang menonaktifkan saraf simpatik tertentu untuk mengontrol hipertensi berat.
- Biofeedback dan terapi neuroadaptif, yang melatih pasien mengatur ritme jantung lewat teknik relaksasi dan pengendalian napas.
Pendekatan-pendekatan ini bukan hanya memperbaiki fungsi jantung, tapi juga membantu menyeimbangkan sistem saraf, menurunkan stres, dan memperbaiki kualitas hidup pasien.
Mengukur dan Memprediksi Risiko Lewat Tes Saraf
Selain terapi, neurokardiologi juga membawa perubahan besar dalam diagnosis dan prediksi risiko penyakit jantung.
Kini, dokter bisa menilai kesehatan sistem saraf otonom melalui autonomic testing, seperti:
- Variabilitas detak jantung (HRV) seberapa fleksibel detak jantung merespons stres atau istirahat. HRV rendah sering dikaitkan dengan risiko kematian jantung mendadak.
- Refleks baroreseptor, yang mengukur kemampuan tubuh menyesuaikan tekanan darah.
Dengan memadukan data fisiologis dan algoritma pembelajaran mesin (AI), ilmuwan kini mulai mengembangkan model prediktif untuk mendeteksi risiko jantung lebih awal, bahkan sebelum gejalanya muncul.
Menatap Masa Depan: Saat Neurosains Menjadi Obat untuk Jantung
Sejak dekade terakhir, pemahaman kita tentang hubungan otak dan jantung berkembang pesat. Namun, masih banyak misteri tersisa. Misalnya, bagaimana perbedaan individu dalam respons saraf dapat menjelaskan mengapa sebagian orang lebih rentan terhadap stres jantung daripada yang lain.
Riset ke depan diarahkan untuk:
- Menjelajahi neuroanatomi dan neurofisiologi jantung manusia secara lebih rinci.
- Mengembangkan alat neuromodulasi yang lebih presisi.
- Memformulasikan strategi terapi yang dipersonalisasi, sesuai dengan pola saraf unik setiap pasien.
Jika dulu terapi jantung fokus pada obat dan pembedahan, kini muncul paradigma baru: memperbaiki sistem saraf sebagai kunci menyembuhkan jantung.
Neurokardiologi menunjukkan bahwa kesehatan jantung bukan hanya soal otot dan pembuluh darah, tetapi juga tentang jaringan komunikasi yang menghubungkan tubuh dan pikiran.
Otak dan jantung tidak bekerja secara terpisah. Keduanya berdialog terus-menerus, dalam bahasa sinyal listrik dan kimia yang rumit namun indah.
Dengan menggabungkan pengetahuan neurosains dan kardiologi, ilmuwan kini mulai mengubah cara kita mencegah, mendiagnosis, dan mengobati penyakit jantung. Mungkin, di masa depan, perawatan jantung tidak lagi hanya tentang menormalkan tekanan darah atau memperbaiki arteri, tetapi tentang memulihkan harmoni antara otak dan jantung, dua organ yang bersama-sama menjaga ritme kehidupan manusia.
Baca juga artikel tentang: Bagaimana Cara Neurosains mengubah Mindset Manusia?
REFERENSI:
Ajijola, Olujimi A dkk. 2025. Clinical neurocardiology: defining the value of neuroscience‐based cardiovascular therapeutics–2024 update. The Journal of physiology 603 (7), 1781-1839.

