Pengendalian nyamuk masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di dunia, terutama di wilayah tropis. Nyamuk tidak hanya mengganggu kenyamanan hidup, tetapi juga menjadi pembawa penyakit berbahaya seperti demam berdarah, malaria, zika, dan chikungunya. Untuk menekan penyebaran penyakit tersebut, manusia mengandalkan insektisida selama puluhan tahun. Namun, penggunaan insektisida yang terus menerus memunculkan masalah baru yang serius, yaitu resistensi nyamuk terhadap bahan kimia pembasmi.
Para ilmuwan dan petugas kesehatan perlu mengetahui apakah insektisida masih efektif atau sudah mulai kehilangan daya bunuhnya. Di sinilah uji resistensi berperan penting. Salah satu metode yang paling banyak digunakan di dunia adalah CDC bottle bioassay. Metode ini sederhana, relatif murah, dan dapat dilakukan di laboratorium maupun di lapangan dengan peralatan terbatas.
Baca juga artikel tentang: Jangan-jangan Gorengan yang Anda Beli Mengandung Plastik
CDC bottle bioassay bekerja dengan cara melapisi bagian dalam botol kaca dengan insektisida. Nyamuk hidup kemudian dimasukkan ke dalam botol tersebut, lalu peneliti mengamati berapa banyak nyamuk yang mati atau lumpuh dalam rentang waktu tertentu. Jika nyamuk mati dengan cepat, insektisida dianggap masih efektif. Jika banyak nyamuk bertahan hidup, itu menandakan adanya resistensi.
Namun, muncul pertanyaan penting. Apakah hasil uji botol ini benar benar mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada tahun 2025 mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan membandingkan hasil CDC bottle bioassay menggunakan berbagai jenis insektisida dengan hasil uji lapangan secara langsung.
Penelitian ini fokus pada nyamuk Culex, yang dikenal sebagai vektor penyakit seperti West Nile Virus dan Japanese Encephalitis. Para peneliti menguji dua populasi nyamuk yang berbeda dengan beberapa jenis insektisida, baik yang masih murni secara kimia maupun yang sudah diformulasikan secara komersial. Selain itu, mereka juga melakukan uji lapangan menggunakan kandang sentinel, yaitu kandang berisi nyamuk yang diletakkan di area penyemprotan untuk melihat tingkat kematian nyamuk dalam kondisi nyata.

Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang cukup menarik. CDC bottle bioassay sering mendeteksi adanya resistensi terhadap insektisida tertentu, terutama deltametrin dan malathion. Namun, ketika insektisida yang sama digunakan di lapangan dalam bentuk produk komersial, tingkat kematian nyamuk justru sangat tinggi. Dalam beberapa kasus, insektisida mampu membunuh lebih dari 97 persen nyamuk di lapangan, meskipun uji botol sebelumnya menunjukkan adanya resistensi.
Perbedaan ini membuka wawasan penting. Insektisida yang digunakan di lapangan biasanya tidak hanya mengandung bahan aktif utama. Produsen menambahkan zat lain yang disebut bahan tambahan atau formulasi. Bahan ini membantu insektisida menempel lebih baik pada tubuh nyamuk, menembus lapisan pelindung serangga, atau meningkatkan stabilitas bahan aktif. CDC bottle bioassay yang hanya menggunakan bahan aktif murni sering kali tidak menangkap efek tambahan tersebut.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya waktu pengamatan dalam uji botol. Uji standar biasanya dilakukan dalam waktu singkat, misalnya 30 atau 60 menit. Namun, para peneliti menemukan bahwa memperpanjang waktu pengamatan hingga 120 atau 180 menit memberikan hasil yang lebih mendekati kondisi lapangan. Nyamuk yang tampak bertahan di menit awal sering kali mati setelah paparan yang lebih lama.
Temuan ini membawa implikasi besar bagi program pengendalian nyamuk. Jika petugas hanya mengandalkan hasil uji botol standar tanpa mempertimbangkan jenis formulasi dan durasi pengamatan, mereka bisa salah menilai efektivitas insektisida. Insektisida yang sebenarnya masih ampuh bisa dianggap tidak berguna, sehingga diganti dengan bahan lain yang lebih mahal atau lebih berisiko terhadap lingkungan.
Di sisi lain, penelitian ini tidak berarti bahwa CDC bottle bioassay tidak berguna. Justru sebaliknya, metode ini tetap sangat penting sebagai alat pemantauan dini. Uji botol mampu mendeteksi perubahan kecil dalam sensitivitas nyamuk sebelum kegagalan pengendalian terjadi di lapangan. Dengan kata lain, uji ini berfungsi sebagai sistem peringatan awal.
Para peneliti menyarankan agar hasil CDC bottle bioassay selalu ditafsirkan bersama dengan data lapangan. Selain itu, penggunaan insektisida dalam bentuk formulasi komersial sebaiknya menjadi standar dalam uji laboratorium, bukan hanya bahan aktif murni. Pendekatan ini akan menghasilkan gambaran yang lebih realistis tentang efektivitas insektisida.
Penelitian ini juga mengingatkan kita bahwa resistensi serangga bukanlah fenomena hitam putih. Nyamuk tidak serta merta kebal atau tidak kebal. Ada spektrum respons yang luas, dipengaruhi oleh dosis, waktu paparan, lingkungan, dan komposisi kimia insektisida. Oleh karena itu, pengendalian nyamuk memerlukan pendekatan ilmiah yang fleksibel dan berbasis data.
Bagi masyarakat umum, temuan ini menegaskan bahwa pengendalian nyamuk tidak sesederhana menyemprot racun. Ada riset panjang di balik setiap keputusan penggunaan insektisida. Kesalahan strategi bisa berdampak langsung pada meningkatnya risiko penyakit menular.
Para ilmuwan berharap dapat mengembangkan metode uji yang lebih akurat dan mudah diterapkan di berbagai negara. Kombinasi antara uji botol, uji lapangan, dan pemantauan jAS lingkungan akan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan resistensi insektisida. Dengan pendekatan ini, upaya pengendalian nyamuk dapat tetap efektif, aman, dan berkelanjutan bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
Baca juga artikel tentang: Dari Jagung Jadi Plastik: Revolusi Material Ramah Lingkungan
REFERENSI:
Dritz, Deborah A dkk. 2025. Evaluating the metrics of insecticide resistance and efficacy: Comparison of the CDC bottle bioassay with formulated and technical-grade insecticide and a sentinel cage field trial. Tropical Medicine and Infectious Disease 10 (8), 219.

