Bunga telang semakin sering muncul dalam kehidupan sehari hari, mulai dari minuman berwarna biru cerah hingga bahan alami dalam kuliner modern. Banyak orang tertarik pada tampilannya yang unik, tetapi sedikit yang menyadari bahwa bunga telang menyimpan potensi kesehatan yang besar. Penelitian ilmiah terbaru menunjukkan bahwa bunga telang bukan sekadar pewarna alami, melainkan sumber senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan minuman fungsional masa depan.
Bunga telang atau Clitoria ternatea L merupakan tanaman tropis yang tumbuh subur di Asia Tenggara. Selama bertahun tahun, masyarakat tradisional memanfaatkan bunga ini sebagai minuman herbal, pewarna makanan alami, dan ramuan kesehatan. Warna biru khasnya berasal dari senyawa antosianin, sejenis pigmen alami yang juga dikenal memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Antioksidan berperan penting dalam melindungi tubuh dari radikal bebas yang dapat merusak sel dan memicu berbagai penyakit kronis.
Baca juga artikel tentang: Menyelamatkan Phewa, Menyelamatkan Sumber Kehidupan di Nepal
Seiring berkembangnya ilmu pangan, para peneliti mulai mengkaji bunga telang dengan pendekatan ilmiah yang lebih mendalam. Salah satu studi terbaru yang diterbitkan pada tahun 2025 meneliti bagaimana cara pengolahan memengaruhi kandungan senyawa bioaktif dalam minuman bunga telang. Penelitian ini juga menambahkan kemangi ungu sebagai bahan pendamping untuk meningkatkan nilai fungsional minuman.
Kemangi ungu atau Ocimum basilicum L dikenal sebagai tanaman aromatik yang kaya senyawa fenolik, flavonoid, dan polifenol. Kombinasi bunga telang dan kemangi ungu menghasilkan minuman dengan profil senyawa bioaktif yang lebih kaya dibandingkan penggunaan bunga telang saja. Para peneliti ingin mengetahui apakah perpaduan dua tanaman tropis ini mampu meningkatkan manfaat kesehatan sekaligus mempertahankan rasa dan tampilan yang disukai konsumen.
Penelitian tersebut membandingkan dua metode ekstraksi yang berbeda. Metode pertama menggunakan infus, yaitu cara tradisional yang mirip dengan menyeduh teh. Metode kedua menggunakan ultrasound assisted extraction, sebuah teknologi modern yang memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk membantu melepaskan senyawa aktif dari jaringan tanaman. Gelombang ultrasonik menciptakan getaran mikro yang dapat merusak dinding sel tanaman sehingga senyawa bioaktif lebih mudah larut ke dalam air.
Kedua metode ini diuji dalam dua durasi waktu, yaitu tiga menit dan tujuh menit. Peneliti kemudian mengukur beberapa parameter penting untuk menilai kualitas minuman. Parameter tersebut meliputi total phenolic content yang menunjukkan jumlah senyawa fenolik, total antioxidant capacity yang menggambarkan kemampuan antioksidan, serta total monomeric anthocyanin yang menunjukkan kadar antosianin aktif dalam minuman.
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang cukup jelas antara metode tradisional dan metode berbasis teknologi. Metode ultrasound menghasilkan minuman dengan kandungan senyawa fenolik dan kapasitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan metode infus. Waktu ekstraksi yang lebih lama juga cenderung meningkatkan jumlah senyawa bioaktif yang terekstraksi. Penambahan kemangi ungu memberikan kontribusi positif pada semua parameter yang diukur, baik pada metode infus maupun ultrasound.
Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi pengolahan memiliki peran penting dalam menentukan kualitas minuman berbasis bahan alami. Cara pengolahan yang tepat dapat membantu memaksimalkan manfaat kesehatan tanpa harus menambahkan bahan kimia sintetis. Hal ini menjadi penting di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap produk alami dan berkelanjutan.
Selain aspek kimia, penelitian ini juga menilai karakteristik warna minuman. Warna menjadi faktor penting dalam penerimaan konsumen karena penampilan sering kali menjadi kesan pertama sebelum seseorang mencicipi minuman. Minuman bunga telang dikenal dengan warna biru cerah yang unik, sementara penambahan kemangi ungu memberikan nuansa warna yang lebih kompleks dan menarik. Metode ekstraksi yang berbeda memengaruhi intensitas dan stabilitas warna, yang berkaitan langsung dengan kandungan antosianin.
Peneliti juga mengevaluasi karakteristik sensorik seperti rasa, aroma, dan penerimaan keseluruhan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa minuman bunga telang yang diperkaya kemangi ungu tetap memiliki rasa yang dapat diterima dengan baik. Artinya, peningkatan nilai kesehatan tidak mengorbankan kenikmatan saat dikonsumsi. Hal ini menjadi kabar baik bagi pengembangan produk minuman fungsional yang sering kali menghadapi tantangan rasa pahit atau aroma yang kurang disukai.
Penelitian ini memberikan gambaran bahwa tanaman lokal tropis memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah. Dengan pendekatan ilmiah yang tepat, bahan tradisional dapat diolah menjadi produk modern yang sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini. Bunga telang dan kemangi ungu menjadi contoh bagaimana kekayaan hayati dapat diolah secara inovatif tanpa kehilangan identitas alaminya.
Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, minuman fungsional berbasis bunga telang berpotensi menjadi alternatif minuman sehat yang rendah bahan tambahan sintetis. Kandungan antioksidan dan senyawa bioaktifnya dapat mendukung gaya hidup sehat jika dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan seimbang. Dari sisi industri, penelitian ini membuka peluang pengembangan produk minuman alami dengan daya tarik visual yang kuat dan manfaat kesehatan yang terukur secara ilmiah.
Bunga telang kini tidak lagi hanya dipandang sebagai tanaman hias atau bahan minuman tradisional. Sains modern menunjukkan bahwa tanaman ini memiliki peran penting dalam inovasi pangan masa depan. Dengan memadukan pengetahuan tradisional dan teknologi modern, minuman berbasis bunga telang dapat berkembang menjadi produk fungsional yang aman, menarik, dan bermanfaat. Penelitian ini menjadi langkah awal menuju pemanfaatan sumber daya alam secara lebih cerdas dan berkelanjutan demi kesehatan manusia.
Baca juga artikel tentang: Dari Jagung Jadi Plastik: Revolusi Material Ramah Lingkungan
REFERENSI:
Malçok, Senanur Durgut dkk. 2025. Investigation of the Bioactive Properties and In vitro Bioaccessibility of Functional Butterfly Pea Flower (Clitoria ternatea L.) Beverages Produced by Ultrasound-Assisted Extraction and Infusion Methods. Turkish Journal of Agriculture-Food Science and Technology 13 (5), 1196-1206.

