Darimanakah Debu Antariksa itu, Kenapa Bisa Sebanyak itu?

Diluar angkasa memang begitu banyak sekali benda-benda yang melayang entah berantah diantara bintang-bintang, salah satunya adalah debu luar angkasa. Apa sih debu antariksa itu? Debu antariksa itu adalah partikel-partikel kecil yang sangat padat. Partikel-partikel tersebut mengapung di antariksa diantara bintang-bintang. Debu Antariksa biasa disebut debu Kosmik.

blank
Ini merupakan partikel debu antarplanet yang berpori kondrit.

Nah, debu-debu tersebut sangat berbeda lho dengan debu-debu yang ada di Bumi, kenapa bisa begitu? Ternyata debu-debu antariksa itu mirip asap yang terdiri atas partikel-partikel kecil. Untuk ukuran partikelnya itu berbeda-beda. Ada yang sekecil molekul, ada pula yang berupa butiran dengan ukuran sekitar 0,1 mm.

Didalam Tata Surya, debu antarplanet dapat menyebabkan cahaya zodiak dimana hal itu sering muncul setelah senja atau menjelang fajar. Debu yang ada di Tata Surya meliputi debu komet, debu Asteroid, debu dari sabuk kuiper, dan debu antarbintang yang melintasi Tata Surya. Diketahui sudah ada ribuan ton debu kosmik yang diperkirakan jatuh ke permukaan Bumi setiap tahunnya. Nah, sebagian besar butiran-butiran debu tersebut memiliki massa berkisar antara 10−16 kg (0,1 pg) dan 10−4 kg (100 mg).

Dari Manakah Debu-debu Antariksa itu?

Diantara kita pastinya bingung dari manakah asal debu-debu antariksa tersebut. Debu-debu antariksa ternyata berasal dari berbagai bintang. Ketika bintang itu meledak, debu-debu bakalan terlempar tanpa tujuan. Debu-debu tersebut lalu didaur ulang didalam awan-awan gas dan mengapung diantara bintang-bintang. Nah, ketika bintang-bintang baru akan terbentuk, debu-debu itu bakalan diserap oleh bintang baru itu. Sehingga debu-debu antariksa tersebut ikut membentuk lahirnya bintang-bintang baru.

Selain itu faktanya planet Bumi juga awalnya terbentuk dari debu-debu antariksa juga, kok bisa? Menurut Immanuel Kent, inti massa yang di tengah memiliki suhu yang tinggi dan berpijar membentuk matahari. Sedangkan inti massa di tepinya mengalami pendinginan dan menjadi planet.

Terbentuknya planet Bumi ini hampir mirip dengan teori Nebula yang dicetuskan oleh Immanuel Kant dan Simon De Laplace dimana mereka mengungkapkan bahwa pada mulanya Tata Surya kita terbentuk oleh gas.

Teori Nebula Itu Seperti Apa Sih ?

Pada dasarnya sih teori Immanuel dan Laplace itu hampir mirip diantara keduanya. Nah, seperti apakah teori keduanya? Yuk simak

1. Teori Immanuel Kant

Didalam teorinya dijelaskan pada mulanya terdapat massa kabut gas yang cukup panas dan luas yang berbentuk tipis. Kabut gas tersebut berputar lambat secara sentripetal atau kearah dalam. Setelah beberapa waktu massa jenis kabut gas tersebut menjadi semakin tinggi sehingga terbentuk inti massa dibeberapa tempat. Inti massa yang berada ditengah memiliki suhu yang tinggi dan berpijar yang kemudian akan membentuk matahari. Sedangkan inti massa dibagian tepi mengalami pendinginan yang bakal menjadi planet termasuk planet Bumi.

2. Teori Simon De Laplace

Didalam teorinya itu sedikit berbeda dengan teori Immanuel. Pada mulanya terdapat bola kabut gas yang besar dan panas. Bola gas berputar cepat secara sentrifugal atau ke arah luar.  Karena perputaran tersebut, maka terlemparlah sebagian materi bola gas ke daerah-daerah disekitarnya. Materi yang terlepas tersebut nantinya bakal memadat dan mendingin untuk membentuk planet. sedangkan bola gas awal tetap panas dan berpijar membentuk matahari.

Memang kedua teori ini memang sedikit masuk akal kalau menurut pandangan penulis. Hal itu dikarenakan debu-debu antariksa berperan penting dalam proses pembentukan bintang dan planet disekitarnya. Dan prosesnya pun hampir mirip dengan teori Nebula, entah teori Immanuel Kant maupun teori Simon De Laplace. Hal ini juga menjadi alasan kenapa begitu banyak debu antariksa yang entah berantah. Terima kasih dan semoga bermanfaat. Menurut kalian Bagaimana?

Sumber :

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 5 / 5. Banyaknya vote: 1

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Rachmat Arief Murditanto
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *