Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa ada artikel ilmiah yang dikutip ratusan bahkan ribuan kali, sementara ada yang nyaris tak pernah disebut lagi? Apakah karena kualitasnya? Atau karena keberuntungan, koneksi, dan waktu publikasi?
Sekelompok ilmuwan dari bidang fisika dan ilmu informasi mencoba menjawab pertanyaan itu dengan cara yang tidak biasa: menggunakan hukum fisika untuk memahami pertumbuhan kutipan ilmiah.
Penelitian terbaru berjudul “The Physics of Citation Growth”, diterbitkan di Journal of Data and Information Science tahun 2025, memandang dunia akademik seperti sebuah ekosistem dinamis, dimana ide, seperti partikel, bergerak, bertumbuh, dan saling berinteraksi. Dan seperti halnya gas atau cairan dalam fisika, perilaku massa artikel ilmiah ternyata juga bisa dijelaskan dengan rumus.
Baca juga artikel tentang: Ilmuwan Temukan Bukti Kuat Kehidupan Di Planet K2-18b
Kutipan sebagai Fenomena Fisika Sosial
Dalam dunia akademik, citation atau kutipan adalah “mata uang” pengetahuan. Semakin sering karya ilmiah dikutip, semakin besar pengaruhnya terhadap perkembangan bidang tersebut. Namun, pertumbuhan kutipan bukanlah sesuatu yang acak. Ia mengikuti pola, seperti halnya fenomena alam dari pertumbuhan populasi hingga penyebaran panas dalam suatu sistem.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Alan J. Giacomin mencoba memahami bagaimana kutipan berkembang dari waktu ke waktu dengan pendekatan yang disebut “fisika sitasi” (physics of citation growth). Mereka menganalisis data bibliometrik dari tiga jurnal ternama dalam bidang fluida, sebuah langkah yang menarik, karena bidang ini dikenal memiliki komunitas riset besar, dengan ribuan publikasi setiap tahun.
Tujuan mereka bukan hanya menghitung berapa banyak kutipan yang diterima suatu artikel, tetapi memahami hukum pertumbuhan kutipan, bagaimana ia muncul, bertumbuh, melambat, lalu akhirnya mencapai titik jenuh, mirip dengan fenomena alami yang mengikuti hukum pertumbuhan logistik atau eksponensial.
Bagaimana Kutipan “Tumbuh”?
Kutipan, menurut penelitian ini, tumbuh layaknya organisme hidup. Pada tahun-tahun awal setelah diterbitkan, sebagian besar artikel hanya mendapat sedikit perhatian. Namun, begitu satu artikel mulai dikenal atau digunakan oleh peneliti lain, kutipannya bisa meningkat dengan cepat, seperti efek bola salju.
Dalam istilah fisika, ini disebut “positive feedback” atau umpan balik positif. Semakin sering sebuah artikel dikutip, semakin besar peluang artikel itu untuk dikutip lagi, karena makin banyak orang yang melihatnya dalam referensi jurnal lain.
Namun, seperti sistem energi dalam fisika, tidak ada yang bertumbuh tanpa batas. Setelah beberapa tahun, jumlah kutipan biasanya melambat dan akhirnya stabil. Fenomena ini disebut “saturasi”, di mana artikel tersebut sudah mencapai batas maksimumnya dalam hal relevansi atau eksposur di komunitas ilmiah.
Kutipan dan Gaya Hidup Jurnal
Menariknya, tim peneliti menemukan bahwa setiap jurnal memiliki “karakteristik pertumbuhan” kutipan yang berbeda, tergantung pada:
- Frekuensi publikasi.
Jurnal yang lebih sering menerbitkan artikel (misalnya bulanan) cenderung memiliki pola kutipan yang lebih dinamis, karena interaksi antarpeneliti terjadi lebih cepat. - Bidang keilmuan.
Beberapa bidang sains, seperti bioteknologi atau kecerdasan buatan, berkembang pesat dan menghasilkan banyak kutipan dalam waktu singkat. Sementara bidang lain seperti matematika teoretis atau fisika murni bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mendapat perhatian luas. - Keterhubungan sosial ilmuwan.
Artikel yang ditulis oleh kolaborator internasional atau peneliti dari institusi besar biasanya lebih cepat dikenal, bukan semata karena kualitas, tapi karena jangkauan jaringan mereka lebih luas.
Dari analisis data bibliometrik tiga jurnal fluida besar, Giacomin dan tim menemukan bahwa pertumbuhan kutipan tahunan dapat dimodelkan seperti aliran energi dalam sistem tertutup, di mana “input” berasal dari pembaca baru, dan “output” adalah hilangnya perhatian terhadap artikel lama seiring waktu.
Hukum Fisika di Dunia Akademik
Mungkin terdengar aneh fisika dan sitasi? Tapi ternyata banyak konsep yang bisa diterapkan.
Misalnya, hukum distribusi daya (power law) yang biasa digunakan untuk menjelaskan fenomena alam seperti gempa bumi atau pergerakan saham, juga muncul dalam pola kutipan ilmiah. Sebagian kecil artikel mendapat ribuan kutipan (seperti “gempa besar” dalam dunia akademik), sementara sebagian besar hanya mendapat sedikit (seperti gempa kecil yang sering tapi tak terasa).
Fenomena ini menunjukkan adanya ketimpangan alamiah dalam sistem pengetahuan, bukan karena semua artikel tidak penting, tetapi karena sistem sitasi cenderung memperkuat apa yang sudah populer. Dalam istilah fisika sosial, ini mirip dengan “preferential attachment”, yaitu kecenderungan partikel atau entitas untuk bergabung dengan yang sudah besar.
Ketika Fisika Bertemu Sosiologi Ilmu
Riset ini bukan hanya soal angka kutipan, tapi juga tentang bagaimana ide menyebar seperti energi. Dalam sains, ide-ide baru kadang memerlukan “medium” yang baik untuk bergerak bisa berupa jurnal yang bereputasi tinggi, atau komunitas riset yang aktif berdiskusi. Tanpa medium itu, bahkan ide brilian bisa menguap begitu saja.
Dengan menggabungkan pendekatan fisika dan bibliometrika, para peneliti berharap bisa memprediksi dinamika kutipan di masa depan, membantu editor jurnal, lembaga penelitian, dan bahkan penulis memahami bagaimana membuat pengetahuan mereka lebih “hidup” di ekosistem ilmiah global.
Lebih dari Sekadar Angka
Kutipan sering dianggap sebagai ukuran kualitas, tetapi riset ini mengingatkan kita bahwa kutipan juga merupakan hasil interaksi sosial dan temporal. Artikel yang bagus tapi terbit di waktu yang salah bisa terabaikan. Sebaliknya, artikel yang mengangkat topik hangat bisa melonjak hanya karena berada di “gelombang tren” yang tepat.
Dengan memahami “fisika” di balik pertumbuhan sitasi, kita belajar bahwa pengetahuan bukan hanya soal isi, tapi juga momentum dan konteks.
Apa Artinya untuk Dunia Ilmiah?
Hasil penelitian ini memiliki implikasi luas:
- Bagi peneliti, memahami dinamika kutipan bisa membantu mereka memilih strategi publikasi yang lebih efektif misalnya memilih jurnal dengan waktu sirkulasi cepat atau kolaborasi lintas disiplin.
- Bagi pengelola jurnal, model ini bisa membantu memperkirakan potensi dampak artikel dan merancang kebijakan editorial yang lebih adaptif.
- Bagi masyarakat, riset ini menunjukkan bahwa sains itu hidup bukan kumpulan data statis, tapi ekosistem ide yang tumbuh, berinteraksi, dan terkadang melupakan sebagian dirinya sendiri.
Mungkin Giacomin dan timnya tidak bermaksud mem-romantisasi kutipan, tapi riset mereka memberi kita pandangan baru: setiap ide ilmiah adalah energi yang sedang mencari tempat untuk berpijar. Sebagian ide menguap cepat, sebagian lagi menyebar luas dan mengubah dunia.
Sama seperti dalam fisika, pengetahuan juga tunduk pada hukum alam bahwa energi tak pernah hilang, hanya berpindah bentuk.
Dan dalam dunia akademik, energi itu berpindah dari satu pikiran ke pikiran lain, dalam bentuk yang sederhana namun berkuasa: sebuah kutipan.
Baca juga artikel tentang: Anders’ Earthrise: Dari Simbol Perdamaian ke Laboratorium Eksplorasi Antariksa
REFERENSI:
Giacomin, Alan J dkk. 2025. The physics of citation growth. Journal of Data and Information Science.

