Pandemi COVID-19 mungkin sudah mereda, tetapi jejaknya masih tertinggal, bukan hanya di paru-paru, melainkan juga di pikiran dan perasaan manusia. Bagi jutaan orang di seluruh dunia, infeksi virus ini bukan sekadar penyakit fisik, tetapi guncangan psikologis besar yang mengubah cara kita berpikir, bekerja, dan berinteraksi.
Sebuah studi terbaru berjudul “Cognitive and Mental Health Improvement Under and Post-COVID-19” yang diterbitkan di Frontiers in Psychology (2025) menggali lebih dalam bagaimana kesehatan mental dan fungsi kognitif manusia berubah selama dan setelah pandemi. Penelitian ini menunjukkan bahwa meski banyak orang telah pulih secara medis, bekas luka psikologis masih terasa, namun di sisi lain, tanda-tanda pemulihan juga mulai terlihat.
Baca juga artikel tentang: Dari Tanaman ke Terapi: Perjalanan Ibogaine dalam Dunia Kesehatan Mental
COVID-19 dan Otak: Ketika Virus Menyentuh Pikiran
Penulis utama, Chong Chen bersama Gabriele Nibbio dan Yuka Kotozaki, memulai dengan fakta penting: infeksi COVID-19 bukan hanya menyerang sistem pernapasan, tapi juga memengaruhi fungsi otak dan mental.
Penelitian di Brasil menunjukkan bahwa sekitar 24% pasien COVID-19 mengalami gejala kognitif setelah sembuh. Gejala ini meliputi kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, dan kelelahan mental yang kini sering disebut sebagai “brain fog”.
Di China, studi terhadap lebih dari 4.800 pasien menemukan bahwa 27% mengalami gejala depresi, dan 25% menderita kecemasan bahkan setelah mereka dinyatakan negatif COVID. Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai “long COVID mental” kondisi di mana efek psikologis dari infeksi tetap bertahan berbulan-bulan.
Mengapa bisa begitu?
COVID-19 memicu peradangan sistemik yang dapat memengaruhi otak, sementara isolasi sosial, kehilangan pekerjaan, dan ketidakpastian hidup memperparah stres emosional. Gabungan faktor biologis dan psikososial inilah yang membuat kesehatan mental banyak orang terguncang.
Lockdown: Perlindungan dari Virus, Tapi Tidak dari Kesepian
Ketika dunia berlindung di rumah, banyak orang merasa aman dari virus, tapi justru terjebak dalam kesepian dan kekhawatiran tanpa ujung.
Penelitian di Prancis yang melibatkan 19.000 responden selama karantina pertama (Maret–Mei 2020) menemukan penurunan besar pada tingkat kesehatan mental masyarakat.
Orang dengan gangguan psikologis sebelumnya atau mereka yang kesulitan mengakses layanan kesehatan lebih rentan mengalami depresi dan stres berat.
Namun, ada juga sisi terang: optimisme dan dukungan sosial terbukti melindungi kesehatan mental. Mereka yang merasa memiliki komunitas yang peduli, atau ikut serta dalam kegiatan kolektif (seperti berbagi makanan, mendukung tenaga kesehatan, atau kampanye solidaritas) cenderung memiliki kesejahteraan emosional yang lebih baik.
Pelajar dan Mahasiswa: Korban Sunyi Pandemi
Pandemi juga menekan dunia pendidikan secara ekstrem. Penelitian oleh Chen dan koleganya di Tiongkok menemukan bahwa mahasiswa yang belajar jarak jauh selama lockdown menunjukkan tingkat stres dan depresi yang lebih tinggi dibanding masa sebelum pandemi.
Banyak dari mereka kesulitan menjaga motivasi, kehilangan rutinitas, dan merasa terisolasi dari teman sebaya. Dengan analisis latent class mixed models, para peneliti mengidentifikasi bahwa mahasiswa dengan hubungan sosial yang buruk atau keluarga yang tidak mendukung lebih rentan mengalami penurunan mental jangka panjang.
Fenomena ini dikenal sebagai “lost motivation syndrome” ketika tekanan akademik berpadu dengan kebosanan dan ketidakpastian, menyebabkan hilangnya semangat belajar.
Garda Terdepan yang Nyaris Tumbang
Kelompok lain yang sangat terdampak adalah tenaga kesehatan. Mereka tidak hanya menghadapi risiko infeksi, tetapi juga kelelahan fisik dan emosional akibat jam kerja panjang dan beban moral yang berat.
Dalam studi Vega-Fernández dan koleganya di Chile, 98% guru dan tenaga medis melaporkan mengalami gangguan muskuloskeletal akibat stres dan kerja berlebih. Depresi, kelelahan ekstrem, dan gangguan tidur menjadi gejala umum di kalangan petugas medis yang bertugas di rumah sakit penuh pasien COVID-19.
Bahkan setelah pandemi mereda, banyak di antara mereka masih berjuang menghadapi trauma kerja, rasa cemas berlebihan ketika melihat gejala penyakit, atau ketakutan bahwa wabah serupa akan terjadi lagi.
Tanda-Tanda Pemulihan: Harapan Setelah Gelombang Gelap
Meski begitu, penelitian ini juga menemukan indikasi positif bahwa kesehatan mental masyarakat mulai membaik setelah pandemi mereda. Seiring pelonggaran pembatasan dan membaiknya interaksi sosial, banyak orang mulai mengalami peningkatan suasana hati dan kemampuan kognitif.
Di China, misalnya, survei pada awal 2023 menemukan hanya lima individu dari ribuan responden yang masih menunjukkan kecemasan ekstrem terhadap COVID-19, jauh menurun dibanding puncak pandemi. Namun, masih banyak yang mengaku mengalami “over-concern”, yaitu kekhawatiran berlebihan tentang kemungkinan tertular atau kehilangan orang yang dicintai.
Studi lain terhadap 2.000 profesional medis setelah kebijakan pelonggaran menunjukkan bahwa lebih dari setengahnya merasa kondisi emosional mereka mulai pulih. Mereka mulai berolahraga, kembali ke kegiatan sosial, dan merasa lebih termotivasi untuk bekerja.
Resiliensi dan Dukungan Sosial: Vaksin untuk Kesehatan Mental
Salah satu kesimpulan utama dari tinjauan ini adalah bahwa resiliensi (daya lenting psikologis) dan dukungan sosial berperan seperti “vaksin mental”. Orang yang memiliki hubungan sosial yang kuat, keluarga yang mendukung, teman yang peduli, atau komunitas yang aktif lebih mampu menghadapi tekanan psikologis.
Selain itu, partisipasi dalam kegiatan bermakna seperti relawan, olahraga, atau ibadah kolektif terbukti mempercepat pemulihan emosional. Masyarakat yang memandang pandemi bukan hanya sebagai bencana, tetapi juga sebagai kesempatan untuk menumbuhkan solidaritas, menunjukkan tingkat stres yang lebih rendah.
Menuju Dunia Pascapandemi yang Lebih Sadar Mental
Pandemi COVID-19 adalah ujian besar bagi dunia, bukan hanya dari sisi kesehatan fisik, tetapi juga mental dan sosial. Namun seperti badai yang meninggalkan pelangi, masa sulit ini juga membuka kesadaran baru: bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan tubuh.
Peneliti Chong Chen dan rekan-rekannya menekankan bahwa dunia perlu belajar dari pengalaman ini, membangun sistem dukungan psikologis yang kuat di rumah sakit, sekolah, dan tempat kerja. Sebab, walau virus mungkin sudah terkendali, dampak emosionalnya belum sepenuhnya hilang.
Kita semua punya peran dalam proses pemulihan ini: dengan mendengarkan, peduli, dan menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi. Karena pada akhirnya, pemulihan sejati bukan hanya ketika tubuh sembuh, tapi juga ketika pikiran tenang, dan hati kembali percaya.
Baca juga artikel tentang: Perbedaan Respons Stres antara Pria dan Wanita: Temuan yang Bisa Mengubah Pengobatan Gangguan Mental
REFERENSI:
Chen, Chong dkk. 2025. Cognitive and Mental Health Improvement Under and Post-COVID-19. Frontiers in psychology 16, 1565941.

