Orangutan ‘Ngoding’ Suara? Ilmuwan Temukan Pola Bahasa Bertingkat di Alam Liar

Sebuah penelitian revolusioner dari University of Warwick menemukan bahwa orangutan liar memiliki cara berkomunikasi yang jauh lebih kompleks daripada yang […]

Sebuah penelitian revolusioner dari University of Warwick menemukan bahwa orangutan liar memiliki cara berkomunikasi yang jauh lebih kompleks daripada yang selama ini diperkirakan. Para peneliti menemukan bahwa suara yang dihasilkan oleh orangutan memiliki struktur berlapis—suatu bentuk komunikasi rekursif yang sebelumnya dianggap hanya dimiliki oleh manusia. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa asal-usul bahasa manusia bisa jadi jauh lebih tua dari yang kita bayangkan.

Apa Itu Rekursi dalam Bahasa?

Untuk memahami penemuan ini, mari kita mulai dengan definisi rekursi dalam konteks bahasa. Rekursi merupakan kemampuan untuk mengulang dan menyisipkan unsur bahasa secara bertingkat dalam satu kalimat atau gagasan, sehingga menghasilkan struktur yang kompleks. Misalnya, dalam kalimat:

“Ini adalah anjing yang mengejar kucing yang membunuh tikus yang memakan keju.”

Kalimat ini mengandung struktur rekursif karena elemen-elemennya saling tersusun: “mengejar kucing”, “membunuh tikus”, dan “memakan keju”. Kalimat seperti ini memungkinkan kita menyampaikan banyak informasi secara ringkas namun jelas. Inilah salah satu ciri khas dari bahasa manusia.

Selama ini, para ilmuwan percaya bahwa hanya manusia yang mampu menggunakan rekursi dalam bahasa. Tapi hasil studi terbaru dari Warwick menantang pandangan tersebut.

Penelitian Tentang Panggilan Alarm Orangutan

Tim peneliti dari University of Warwick dipimpin oleh Dr. Chiara De Gregorio, bersama dengan Adriano Lameira dan Marco Gamba, mempelajari panggilan alarm dari orangutan Sumatera betina liar. Dalam studi ini, mereka menemukan bahwa suara yang dihasilkan oleh orangutan terstruktur dalam tiga lapisan rekursif.

Berikut ini adalah struktur vokal tiga tingkat yang ditemukan pada orangutan:

  1. Lapisan pertama: Orangutan mengeluarkan suara-suara tunggal.
  2. Lapisan kedua: Suara-suara tunggal tersebut digabung menjadi satuan kecil atau kelompok.
  3. Lapisan ketiga: Kelompok suara tadi digabung lagi menjadi satuan yang lebih besar, membentuk pola yang berulang dengan ritme tertentu.
Abstrak grafis

Bayangkan seperti lagu dengan pola ritmis yang berulang dan bertingkat—dari nada, menjadi baris musik, menjadi lagu utuh. Orangutan menunjukkan kemampuan untuk menyusun suara mereka dengan cara yang mirip.

Bukan Sekadar Kebetulan

Para peneliti menegaskan bahwa pola suara ini bukan terjadi secara acak. Orangutan mengubah ritme suara mereka tergantung pada jenis ancaman yang mereka hadapi. Misalnya:

  • Saat menghadapi ancaman nyata seperti harimau, suara alarm mereka menjadi lebih cepat dan mendesak.
  • Saat melihat ancaman palsu, seperti benda asing berbentuk mencurigakan tapi tidak berbahaya (misalnya kain bermotif mencolok), suara mereka menjadi lebih lambat dan tidak beraturan.

Artinya, orangutan tidak hanya membuat suara sembarangan. Mereka menggunakan struktur suara yang kompleks dan bermakna, yang menyesuaikan dengan kondisi lingkungan.

Baca juga: Para Peneliti Mendalami Tentang Bagaimana Anak-Anak Belajar Bahasa

Mengapa Ini Penting?

Temuan ini mengubah cara kita memandang kemampuan komunikasi pada hewan. Sebelumnya, kemampuan rekursi dianggap sebagai sesuatu yang hanya dimiliki manusia. Tapi sekarang kita tahu bahwa orangutan juga bisa melakukannya, dan dengan struktur yang cukup rumit.

Penemuan ini menunjukkan bahwa akar dari salah satu fitur paling khas dalam bahasa manusia—rekursi—sudah ada dalam sejarah evolusi kita sejak jutaan tahun lalu. Dengan kata lain, kemampuan berbahasa dengan struktur kompleks mungkin tidak muncul secara tiba-tiba pada manusia, tetapi berkembang secara bertahap dari nenek moyang kita yang juga dimiliki oleh kerabat dekat seperti orangutan.

Apa Arti Rekursi Bagi Evolusi Bahasa?

Penelitian ini adalah dukungan empiris pertama (berbasis data nyata) yang menunjukkan bahwa kemampuan rekursif bisa saja telah dipilih dan berevolusi secara bertahap sejak nenek moyang primata kita yang paling awal.

Jika benar demikian, maka proses terbentuknya bahasa manusia bukanlah lompatan besar yang mendadak, tetapi proses evolusi panjang yang berakar pada kemampuan komunikasi primitif yang sudah sangat kompleks sejak awal.

Orangutan dan Perkembangan Bahasa Manusia

Orangutan, sebagai salah satu kerabat terdekat manusia dalam pohon evolusi, kini menjadi “jendela masa lalu” yang membantu kita melihat bagaimana bahasa bisa bermula. Dengan menemukan kemampuan rekursi dalam komunikasi orangutan, kita belajar bahwa struktur bahasa tidak harus muncul bersamaan dengan kata-kata atau tulisan, tapi bisa dimulai dari pola ritme dan struktur suara yang berulang dan bermakna.

Kemampuan menyusun pesan dengan kompleksitas seperti ini memberikan kemungkinan bahwa nenek moyang manusia yang hidup jutaan tahun lalu mungkin sudah memiliki sistem komunikasi canggih, meskipun belum berupa bahasa seperti yang kita kenal sekarang.

Masa Depan Penelitian Komunikasi Hewan

Penelitian ini mendorong para ilmuwan untuk melihat komunikasi hewan dari sudut pandang baru. Jika orangutan bisa melakukan rekursi dalam vokalisasi mereka, mungkinkah hewan lain juga memiliki kemampuan serupa yang belum kita sadari?

Selain itu, studi ini membuka peluang untuk meneliti bagaimana struktur suara dapat menjadi dasar perkembangan bahasa, dan bagaimana ritme serta pola berulang dalam komunikasi hewan bisa menjadi asal mula sintaksis dalam bahasa manusia.

Kesimpulan

Penelitian ini menantang pemahaman lama kita tentang apa yang membedakan manusia dari hewan. Temuan bahwa orangutan menggunakan struktur vokal bertingkat dan bermakna menunjukkan bahwa akar bahasa manusia mungkin telah tumbuh jauh sebelum Homo sapiens muncul di Bumi.

Dengan membuka mata kita terhadap kecanggihan komunikasi primata, penelitian ini memperkuat ide bahwa bahasa adalah hasil dari proses evolusi yang panjang, dan bahwa kita bisa belajar banyak dari makhluk-makhluk lain yang hidup berdampingan dengan kita di planet ini.

Referensi:

[1] https://warwick.ac.uk/news/pressreleases/wild_orangutans_show, diakses 22 Mei 2025.

[2] Chiara De Gregorio, Marco Gamba, Adriano R. Lameira. Third‐order self‐embedded vocal motifs in wild orangutans, and the selective evolution of recursionAnnals of the New York Academy of Sciences, 2025; DOI: 10.1111/nyas.15373

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top