Petani sering menghadapi dilema yang terasa sederhana tetapi dampaknya besar. Mereka ingin menanam tanaman yang menghasilkan minyak berkualitas baik, memberi sisa ampas bernilai tinggi untuk pakan ternak, dan tetap menjaga biaya produksi agar masuk akal. Penelitian tentang camelina di wilayah Hadiya, Ethiopia, menunjukkan bahwa tiga hal itu ternyata bisa dikejar bersama melalui pengaturan benih dan pupuk yang lebih cermat.
Camelina sativa bukan tanaman yang terlalu populer di kalangan masyarakat umum, tetapi nilainya cukup menarik. Tanaman ini termasuk penghasil minyak nabati dan setelah bijinya diperas, masih tersisa bahan padat yang dikenal sebagai residual cake atau bungkil. Bungkil ini tidak sekadar limbah. Di dalamnya masih ada protein dan komponen gizi lain yang bisa dimanfaatkan, terutama untuk pakan ternak. Artinya, satu tanaman bisa memberi dua keuntungan sekaligus, yaitu minyak dan hasil samping bernilai ekonomi.
Baca juga artikel tentang: Laut Cerdas, Bumi Berenergi: Revolusi Konversi Gelombang Menuju Energi Bersih
Masalahnya, hasil itu tidak datang begitu saja. Kualitas minyak bisa berubah tergantung cara budidaya. Kandungan gizi bungkil juga bisa naik turun. Karena itu, para peneliti mencoba menjawab pertanyaan yang sangat praktis. Berapa banyak benih sebaiknya ditanam per hektare, dan berapa dosis pupuk NPSB yang paling masuk akal untuk mendapatkan mutu minyak yang baik sekaligus bungkil yang lebih bernilai.
NPSB adalah pupuk campuran yang mengandung nitrogen, fosfor, sulfur, dan boron. Keempat unsur ini penting untuk pertumbuhan tanaman. Nitrogen mendukung pembentukan jaringan tanaman. Fosfor membantu proses energi dan perkembangan akar. Sulfur berperan dalam pembentukan protein. Boron dibutuhkan dalam berbagai proses fisiologis tanaman, termasuk pembungaan dan pembentukan biji. Jadi, kombinasi pupuk ini masuk akal untuk diuji pada tanaman penghasil biji minyak seperti camelina.
Dalam penelitian ini, tim peneliti menguji dua kultivar camelina, yaitu Zeytee 1 dan Syria. Mereka juga membandingkan tiga tingkat kerapatan tanam melalui dosis benih, yaitu 5, 7,5, dan 10 kilogram per hektare. Lalu mereka menambahkan empat tingkat pupuk NPSB, yaitu 0, 50, 100, dan 150 kilogram per hektare. Dengan rancangan seperti ini, peneliti bisa melihat bukan hanya pengaruh masing masing faktor, tetapi juga bagaimana keduanya saling berinteraksi.
Yang dinilai bukan cuma banyaknya hasil panen. Peneliti memeriksa mutu minyak melalui sejumlah parameter kimia, seperti keasaman, densitas, nilai peroksida, bahan mudah menguap, indeks bias, nilai iodin, dan nilai penyabunan. Bagi orang awam, istilah ini mungkin terdengar teknis. Namun intinya sederhana. Semua ukuran itu membantu menggambarkan apakah minyak yang dihasilkan cenderung stabil, baik mutunya, dan cocok untuk dimanfaatkan lebih lanjut.
Salah satu temuan pentingnya adalah bahwa dosis pupuk NPSB yang lebih tinggi, khususnya 150 kilogram per hektare, mampu menurunkan nilai peroksida secara nyata. Nilai peroksida sering dipakai sebagai petunjuk awal terjadinya oksidasi pada minyak. Kalau nilainya terlalu tinggi, minyak lebih mudah tengik dan kualitasnya menurun. Jadi, penurunan nilai peroksida berarti stabilitas minyak membaik. Ini kabar baik, karena kualitas minyak bukan hanya soal jumlah, tetapi juga daya tahan dan mutunya setelah dipanen.

Menariknya, interaksi antara jenis kultivar dan pupuk juga berpengaruh pada kadar minyak. Kultivar Zeytee 1 mencatat kandungan minyak tertinggi, yaitu 39,8 persen, saat diberi 100 kilogram NPSB per hektare. Temuan ini menunjukkan bahwa lebih banyak pupuk tidak selalu berarti lebih banyak minyak. Pada titik tertentu, kombinasi varietas dan dosis pupuk yang pas justru menjadi kunci. Dalam bahasa sederhana, tanaman punya kebutuhan optimum, bukan kebutuhan tanpa batas.
Bagaimana dengan bungkil atau residual cake yang tersisa setelah minyak diambil. Di sinilah penelitian ini menjadi sangat relevan untuk pertanian terpadu. Peneliti menemukan bahwa komposisi bungkil membaik ketika dosis NPSB dan tingkat benih ditingkatkan, terutama pada kandungan protein dan serat. Ini penting karena bungkil sering dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Jika kadar proteinnya naik, nilainya sebagai bahan pakan juga meningkat. Jadi, petani tidak hanya menjual minyak, tetapi juga mendapat hasil samping yang lebih berguna dan lebih bernilai.
Kultivar Syria memberikan hasil yang sangat menarik dalam konteks ini. Pada dosis benih 10 kilogram per hektare dan 150 kilogram NPSB per hektare, kultivar ini menghasilkan cake yield dan kandungan protein tertinggi. Artinya, jika tujuan petani lebih condong ke hasil samping berupa bungkil berkualitas tinggi, kombinasi ini tampak sangat menjanjikan. Ini penting karena kebutuhan petani tidak selalu sama. Ada yang lebih fokus pada minyak, ada yang juga memikirkan pakan ternak, dan ada yang ingin keseimbangan keduanya.
Penelitian ini juga menambahkan analisis anggaran parsial. Ini bagian yang sangat penting karena teknologi pertanian yang bagus di laboratorium belum tentu masuk akal di lapangan. Dari analisis ekonomi, kombinasi Syria pada 10 kilogram benih per hektare dengan 150 kilogram NPSB per hektare muncul sebagai perlakuan yang paling menguntungkan. Hasil ini memperlihatkan bahwa pendekatan budidaya yang tepat bukan hanya meningkatkan mutu biologis dan kimia, tetapi juga memberi keuntungan finansial yang lebih baik bagi petani kecil.
Dari sudut pandang yang lebih luas, penelitian ini memberi pelajaran penting tentang cara kita memandang hasil pertanian. Sering kali kita hanya fokus pada produk utama, dalam hal ini minyak. Padahal hasil samping seperti bungkil juga punya nilai ekonomi besar. Dalam sistem pertanian modern yang makin menekankan efisiensi dan keberlanjutan, cara berpikir seperti ini menjadi sangat penting. Setiap bagian dari panen sebaiknya dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Penelitian ini juga mengingatkan bahwa budidaya tanaman bukan sekadar urusan menanam lalu memanen. Detail seperti varietas, jumlah benih, dan dosis pupuk dapat mengubah kualitas hasil secara nyata. Bagi petani kecil, keputusan seperti ini sangat menentukan. Dosis yang terlalu rendah bisa membuat hasil kurang maksimal. Dosis yang terlalu tinggi bisa memboroskan biaya. Karena itu, informasi ilmiah yang spesifik seperti ini sangat berguna sebagai panduan praktis.
Tentu, hasil penelitian di satu wilayah tidak selalu bisa dipindahkan mentah mentah ke semua tempat. Kondisi tanah, iklim, curah hujan, dan praktik budidaya lokal bisa memengaruhi hasil akhir. Namun nilai utama penelitian ini tetap kuat. Ia menunjukkan bahwa pendekatan budidaya yang terintegrasi dapat meningkatkan kualitas minyak, memperbaiki mutu bungkil, dan menaikkan keuntungan petani secara bersamaan.
Di tengah tantangan pangan, pakan, dan efisiensi lahan, camelina terlihat sebagai tanaman yang layak diperhatikan lebih serius. Ia menawarkan potensi ganda, bahkan mungkin potensi ekonomi berlapis. Minyaknya bernilai, sisa bungkilnya berguna, dan pengelolaannya bisa dioptimalkan melalui keputusan agronomi yang cukup sederhana. Penelitian dari Hadiya ini memberi pesan yang jelas. Pertanian yang cerdas tidak selalu berarti teknologi rumit. Kadang, kemajuan justru datang dari kemampuan mengatur benih dan pupuk dengan lebih tepat.
Pada akhirnya, studi ini bukan hanya soal camelina. Ini juga tentang cara sains membantu pertanian menjadi lebih presisi, lebih hemat, dan lebih menguntungkan. Ketika petani tahu kombinasi mana yang paling efektif untuk mutu minyak, kualitas bungkil, dan hasil ekonomi, mereka bisa membuat keputusan yang lebih baik. Dan ketika keputusan kecil di lahan menghasilkan manfaat berlapis, sains benar benar bekerja untuk kehidupan sehari hari.
Baca juga artikel tentang: Mesin Cahaya Tertua di Bumi: Bagaimana Cyanobacteria Mengonversi Cahaya Menjadi Energi
REFERENSI:
Manore, Daniel dkk. 2026. Enhancement of oil physicochemical properties and residual cake feed quality in camelina cultivars, through seeding and blended NPSB fertilizer rates in Hadiya zone central Ethiopia. Journal of Agriculture and Food Research 26, 102708.

