Wisuda Ini Milik Orang Tuaku

Ditulis oleh Efi Riana – Institut Pertanian Bogor “Mama tak membantu apapun, tahu-tahu kamu sudah jadi sarjana,” air mata mama tumpah […]

Ditulis oleh Efi Riana – Institut Pertanian Bogor

“Mama tak membantu apapun, tahu-tahu kamu sudah jadi sarjana,” air mata mama tumpah menyambutku di luar gedung selesai prosesi wisuda. Aku pun tak kuasa menahan air mata seraya memeluk mama.”Tidak ma, ini semua terjadi justru karena doa dan dukungan mama. Terima kasih ma…”

Kulihat bapak pun berkaca-kaca berdiri di samping mama. Alhamdulillah, akhirnya aku wisuda setelah proses yang tak mudah dan tak sebentar.

Namaku Efi Riana. Gelarku Sarjana Statistika. Aku masuk kuliah Agustus 2010, mulai mengerjakan skripsi Januari 2014, baru dinyatakan lulus secara sah November 2016, lalu akhrinya diwisuda Februari 2017. Bagaimana bisa terjadi? Berikut sekelumit kisahku.

Sudah menjadi fenomena umum bahwa godaan mahasiswa Statistika adalah dapat dipekerjakan bahkan sebelum lulus. Aku salah satunya. Sebagai mahasiswa yang hidup dari beasiswa, kesempatan magang di jeda kuliah tentu menggiurkan. Apalagi sudah tak ada kuliah, ‘hanya’ tinggal menyelesaikan skripsi. Selain itu, judul skripsi sudah di tangan. Aku pasti bisa! Lagi pula aku hanya akan magang selama tiga bulan. Namun, qadarullah. Takdir Allah berkata lain. Kabar duka datang dari rumah, kakak iparku meninggal dunia, meninggalkan kakak perempuanku dan putra mereka, ditambah kakakku tengah berbadan dua. Belum lagi jatah beasiswaku akan segera purna, sudah tiga tahun menyokong kehidupanku. Rencana magang yang sebelumnya hanya tiga bulan ku rubah, aku bertahan bekerja bukan sebagai mahasiswa magang.

Meski sudah mengantongi topik skripsi, sudah memiliki dosen pembimbing, mengerjakan skripsi dibarengi bekerja bukanlah hal mudah. Nyatanya, skripsi tidak bisa dan tidak boleh dianggap remeh, sekedar, atau hanya. Aku salah telah menyepelekan skripsi dan menundanya membuatku harus membayar keterlambatan hingga dua tahun. Mengerjakan skripsi harus fokus karena membutuhkan pemahaman dan perhatian. Namun saat itu, prioritasku terpecah. Ku putuskan untuk bertahan hidup terlebih dahulu.

Rentang selama dua tahun menghilang setidaknya aku tak benar-benar hilang dan kosong. Aku melakukan beberapa hal dan pekerjaan. Bekerja sebagai Knowledge Specialist, bergabung dengan grup teater jepang, menjadi fasilitator pesantren alam, dan tergabung pada beberapa projek dosen sebagai asisten peneliti. Lagi-lagi ini bukan suatu kebanggaan, mungkin semacam pembelaan diri, karena faktanya kewajibanku belum terbayar. Namun setidaknya ini adalah caraku memperkaya pengalaman dan kompetensi diri. Aku sudah tertinggal cukup jauh jika harus mengikuti orbit yang sama dengan teman-teman kelasku.

Dalam rentang dua tahun sebenarnya aku beberapa kali kembali ke kampus, tapi masih dengan pekerjaan sampingan. Beberapa kali pihak komisi pendidikan departemen juga memanggilku beserta mahasiswa yang belum selesai lainnya. Dan kesempatan itu selalu ku manfaatkan untuk memberikan kemajuan atas perkembangan skripsiku. Namun apa daya, lagi-lagi desakan finansial membuatku merubah prioritas. Hingga akhirnya batas waktuku sebagai mahasiswa tinggal menghitung bulan. Mungkin inilah namanya the power of kepepet. Motivasiku bertambah. Jika aku melebihi batas waktu, kampus berhak mendrop-outku. Itu artinya sia-sia sudah perjuanganku agar kuliah dan menjalani kuliah sebelumnya dan tentu saja akan mengecewakan kedua orang tua. Aku pun berazzam untuk menyelesaikan skripsiku.

Alhamdulillah kondisi finansial keluargaku membaik bahkan sesekali orang tua mampu mengirimiku uang saku. Aku tak perlu lagi berkerja sampingan. Meskipun berat, dosen yang selama ini memberiku pekerjaan memutuskan kerjasamanya, tapi beliau berbaik hati tetap memberiku santuan. Tak bisa ku sebut gaji, karena untuk projek terbaru aku belum benar-benar bekerja untuknya. Selain itu, terpaksa aku harus berganti dosen pembimbing. Alhamdulillah dosen pembimbingku yang sebelumnya tetap mendukungku dan memberikan saran dan masukan untuk skripsiku.

Topik skripsi terbaruku tidak sama dengan topik pertama yang ingin kususun dua tahun lalu. Setidaknya aku sudah empat kali ganti topik. Bahkan untuk topik sebelumnya aku sampai nangis tersedu-sedu karena ditolak saat sidang komisi dengan alasan sudah kadarluarsa. Bagus jika dan hanya jika ku kerjakan dua tahun lalu.

Untuk topik terbaruku, aku mencurahkan segalanya. Meski topik ini usulan dari dosen pembimbing dan aku memiliki batas waktu, aku tak mau asal-asalan. Meski di ujung waktu, aku tetap ingin memberikan yang terbaik. Ketika dosen memintaku pagi-pagi datang ke kantornya di Jakarta sementara aku di Bogor, memintaku bimbingan mendadak dengan pemberitahuan bada subuh bahkan bimbingan di hari Sabtu, ku jalani semua. Semua mahasiswa telah mengalaminya, aku saja yang baru mengalami dan luar biasa kebaikan dosenku telah mau membimbingku sedemikian rupa. Aku bertahan.

Topik skripsiku berkaitan tentang survei perjalanan. Belum ada literatur di Indonesia dan melibatkan sekitar satu juta data koordinat lintang dan bujur yang harus dikerjakan secara online. Sebagai mahasiswa yang mengandalkan wifi kampus, tak jarang aku begadang hingga subuh di kampus. Alhamdulillah dalam pengerjaannya aku dibantu beberapa adik kelas. Ada yang membantu dibagian cleaning data, pengolahan, bahkan analisis data. Alhamdulillah.

Pihak departemen banyak memudahkanku. Rangkaian administrasi sebagai mahasiswa yang mengerjakan skripsi bisa disesuaikan dan disederhanakan hingga akhirnya setelah rangkaian sidang komisi, kolokium, seminar, mengerjakan banyak kali revisi dan perbaikan, jadwal sidang skripsiku di tangan. Ku telpon mama dan bapak, meminta restu karena akhirnya anaknya akan sidang skripsi. Dan bahagia membuncah saat dosen pembimbing dan penguji menyatakan kelulusanku! Alhamdulillah! Allahu akbar!

Tentu bukanlah suatu kebanggaan menyelesaikan strata-1 dalam kurun waktu lebih dari 6 tahun, tapi setidaknya aku tak pernah menyerah dan berhasil merampungkannya sampai garis finish. Alhamdulillah. Terkadang malu terbesit, di saat kebanyakan teman seangkatanku sudah lulus sekitar 2 tahun yang lalu, sudah gonta-ganti pekerjaan, sedang S2, bahkan sudah ada yang menikah dan punya anak, aku masih harus mondar-mandir di kampus mengurusi skripsiku: bertemu dosen, mencari literatur, dan tentu saja penelitian! Namun, semua itu ku tepis. Aku akan senantiasa berjuang mempersembahkannya untuk mama dan bapak.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *