https://warstek.com/hook-up-apps-for-married/

2019 Menjadi Tahun Terpanas Kedua Sepanjang Empat Dekade

Tahun 2019 tercatat dalam sejarah sebagai tahun terpanas kedua setelah tahun 2016. Fakta tersebut diungkapkan oleh NASA dan NOAA bersamaan dengan dirilisnya laporan mengenai kondisi iklim global tahun 2019.

Kenaikan Temperatur

Dengan menggunakan metode pemodelan iklim dan analisis statistik, para ilmuwan menemukan bahwa tahun 2019 memiliki nilai anomali suhu udara sebesar 0.95°C di atas rata-rata suhu abad ke-20. Anomali suhu udara adalah perbandingan suhu udara pada periode tertentu terhadap periode normal yang ditetapkan. Angka yang didapatkan melalui riset ini merupakan yang terbesar dalam sejarah pengukuran suhu global sejak tahun 1880 dan hanya terpaut 0.04°C lebih rendah dibandingkan rekor tahun terpanas pada tahun 2016.

Pada skala regional, negara-negara di Eropa Tengah, Asia, Australia, Afrika bagian selatan, Amerika Utara, dan Amerika Selatan bagian timur mengalami kenaikan suhu di atas rata-rata. Meksiko menjalani bulan Agustus paling panasnya pada tahun 2019 dengan nilai anomali suhu udara bulan itu sebesar 3.3°C. Amerika Selatan merasakan tahun 2019 sebagai tahun terpanas kedua dengan nilai anomali sebesar 1.24°C. Suhu udara di Chile menyentuh angka 40°C akibat efek dari gelombang panas yang melanda wilayah tersebut.

Di Perancis, suhu yang terjadi di 9 dari 12 bulan di tahun 2019 berada di atas rata-rata. Benua Afrika juga menobatkan 2019 sebagai tahun terpanas ke-3 dalam 110 tahun terakhir, setelah tahun 2016 dan 2010. Suhu di Israel pada tahun 2019 menyentuh angka 43-45°C. Sementara itu di Australia, suhu rata-rata tahun 2019 merupakan yang terpanas dalam sejarah mereka dengan suhu yang tercatat hingga 40°C.

Bagaimana dengan Indonesia?

Berdasarkan analisis anomali suhu udara rata-rata tahunan yang dilakukan oleh Badan Meterorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), 2019 juga tercatat sebagai tahun terpanas kedua di Indonesia. Dalam hal ini, BMKG mengambil rata-rata suhu suatu provinsi pada rentang waktu tahun 1981 hingga tahun 2010. Berdasarkan analisis tersebut, tahun 2019 memiliki nilai anomali sebesar 0.58°C atau hanya 0.22°C lebih kecil dibandingkan nilai anomali tahun 2016.

Pada laporan yang sama, diketahui pula bahwa 33 dari 34 provinsi di Indonesia memiliki nilai anomali suhu udara positif yang berarti terjadi kenaikan suhu terhadap acuan periode normal. Berdasarkan data tersebut, Provinsi Banten memegang rekor sebagai provinsi dengan nilai anomali suhu udara tertinggi pada tahun 2019 dengan angka 1.03°C. Sementara itu, Provinsi Bali tercatat mengalami anomali suhu udara sebesar -0.10°C. Itu artinya suhu udara rata-rata Bali berada pada angka 0.10°C dibawah rata-rata suhu periode normal.

Beda halnya dengan suhu udara, suhu permukaan laut Indonesia khususnya di pantai selatan Jawa dan Sumatera mengalami penurunan setidaknya 0.5°C pada periode Juni-November. Kondisi ini menyebabkan sulitnya pertumbuhan awan di Indonesia yang turut menjadi penyebab kemarau panjang di pertengahan tahun 2019.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Hal yang menarik dari kasus ini adalah fakta bahwa lima tahun terakhir adalah lima tahun terpanas dalam sejarah. Selain itu, peningkatan temperatur terjadi saat Matahari mencapai siklus minimum terendah dalam 100 tahun terakhir. Ditambah lagi tidak terjadinya El Nino yang sangat kuat di tahun 2019 (El Nino lemah terjadi di awal tahun 2019). Kondisi ini menandakan bahwa alam bukanlah penyebab utama kerusakan di Bumi.

Sejak tahun 1880, suhu udara di permukaan Bumi terus mengalami tren kenaikan hingga 2°C saat ini. Dilansir dari NASA, suhu yang yang diukur pada era pra-industri bahkan lebih panas sekitar 5.5°C daripada zaman es terakhir seiring dengan efek rumah kaca yang semakin parah. Hal tersebut diperparah dengan emisi gas CO2 yang terus meningkat akibat aktivitas perindustrian, penggunaan kendaraan bermotor, kebakaran hutan, dan lain sebagainya.

Jadi, akankah iklim di tahun 2020 ini semakin bersahabat dengan manusia atau justru manusia sendiri yang semakin tidak bersahabat?

Referensi:

  1. NOAA.gov. (2020, Januari). Global Climate Report – Annual 2019. Diakses pada 18 Januari 2019, dari https://www.ncdc.noaa.gov/sotc/global/201913
  2. NASA.gov. (2020, 15 Januari). NASA, NOAA Analyses Reveal 2019 Second Warmest Year on Record. Diakses pada 18 Januari 2020, dari https://www.nasa.gov/press-release/nasa-noaa-analyses-reveal-2019-second-warmest-year-on-record
  3. BMKG.go.id. Ekstrem Perubahan Iklim. Diakses pada 19 Januari 2020, dari https://www.bmkg.go.id/iklim/?p=ekstrem-perubahan-iklim
  4. ScientificAmerican.com. (2020, 15 Januari). Earth Had Its Second Warmest Year in Recorded History in 2019. Diakses pada 19 Januari 2020, dari https://blogs.scientificamerican.com/eye-of-the-storm/earth-had-its-second-warmest-year-in-recorded-history-in-2019

Tan Malaka: Guru sekaligus Tokoh Revolusioner

Tan Malaka: Guru sekaligus Tokoh Revolusioner

Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, Pada 2 Juni 1897. Pandan Gadang adalah sebuah desa yang tersuruk di Bukit barisan, di antara lempit bukit dan sawah hijau yang membentang, juga kicau burung yang berlompatan di buah-buah ranun. Desa Pandang Gandang, serupa banyak desa di Ranah Minang, terhampar di bawah perbukitan hijau.

Lembah di kaki bukit dengan sawah berundak-undak ini melingkupi desa yang dipagari jajaran pohon kelapa. Air yang mengalir di sawah dan di sungai sekitarnya jernih dan dingin.

Tan Malaka seorang yang beruntung karena ayahnya seorang pegawai pertanian Hindia Belanda sehingga ia lebih maju dari warga yang lain. Pada usia 12 tahun ia berkesempatan belajar di Sekolah pendidikan guru yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda yaitu di Sekolah Rajo, Bukit tinggi.

Sejak usia sekolah itu dia mulai menunjukkan kecerdasan sebagaimana yang dikatakan guru Belandanya, G.H Horensma, “Rambutnya hitam-biru yang bagus sekali, bermata hitam kelam seolah-olah memancarkan sesuatu” Tan Malaka lulus pada tahun 1913. Lalu atas rekomendasi guru Belandanya dan berkat pinjaman dana dari para engku di Suliki sebesar Rp 50 per bulan.

Pada usia 17 tahun dia melanjutkan studi ke negeri Belanda untuk sekolah di Rijkskweekschool (Sekolah Pendidikan Guru Pemerintah) di Haarlem. Alam Minangkabau yang subur permai dan bebas tidaklah lengkap membekali anak negerinya tanpa mengaji dan pencak silat. Mengaji dan Pencak silat adalah pembentuk kepribadian dan kepercayaan diri. Tan juga memiliki bekal tersebut.

Di negeri penjajah itu dia menyerap ideologi yang menjadi titik perjuangannya sampai akhir hayat. Tan malaka mendahului Sekolah ke Belanda daripada Mohammad Hatta, Nazir Datuk Pamoentjak, Sutan Sjahrir, Abdul Rivai, Asaat, Ibrahim Taher, Zaharin Zain dan Abdul Muis.

Di Belanda, Watak Tan Malaka terbentuk: membaca, belajar dan menderita. Di sana dia menutupi kekurangan uang dengan mengajar bahasa melayu, sambil berusaha menyelesaikan sekolah, dan berjuang melawan sakit bronkitis, yang bermula hanya karena tidak memiliki baju hangat pada musim dingin. Dia bahkan pernah mencalonkan diri untuk Tweede Kamer (parlemen) Belanda mewakili negeri jajahan.

Tan Malaka lalu berkenalan dengan teori revolusioner, sosialisme, dan Marxisme-Komunisme melalui berbagai buku dan brosur. Bahkan dia sempat diminta Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) mewakili Indische Vereeniging dalam kongres pemuda Indonesia dan Pelajar Indologie di Kota Deventeer. Melalui interaksi dengan mahasiswa Indonesia dan Belanda, dia semakin yakin bahwa melalui jalan revolusi, Indonesia harus bebas dari penjajahan Belanda. Keyakinan itu dia pegang secara konsisten. Itulah masa awal dalam pengembangan politiknya.

Selama belajar di Belanda, Tan Malaka kerap sakit akibat makanan dan iklim Belanda yang tak cocok, serta menderita pleuritus. Memang sulit untuk membayangkan bahwa dalam keadaan serba terbatas dia melanglang buana membentuk serta membangun ideologi dalam perjalanan panjang dari Belanda, Jerman, Rusia, kemudian naik kereta api Trans-Siberia Melalui gurun es hingga Vladivostok di Timur, terus bolak-balik ke Amoy, Shanghai, Manila, Canton, Bangkok, Singapura, Semenanjung Malaya, dan Burma.

Di kota-kota itu, sembari membangun kekuatan anti-penjajahan, dia melahirkan percikan pemikiran Melalui buku, brosur, di antara bayang-bayang intelijen Inggris, Amerika, dan Belanda. Sepuluh tahun pada akhir kehidupannya benar-benar dia sumbangkan untuk tanah air, membangun kekuatan perlawanan rakyat melawan Jepang dan Belanda, Meskipun berakhir di ujung peluru bangsa yang diperjuangkannya.

Pada November 1919, setelah kecamuk Perang Dunia I usai, Tan Malaka pulang ke Indonesia. Lalu dia menjadi guru di Sekolah yang didirikan oleh perusahaan perkebunan Eropa. Di sana dia mengajar anak-anak kuli kontrak di perkebunan tembakau milik orang Jerman dan Swiss di Deli, dekat Medan, Sumatera Utara. Gajinya setaraf dengan gaji seorang guru Belanda.

Di lingkungan perkebunan itu semangat radikalnya tumbuh ketika dia menyaksikan ketimpangan sosial antara kaum buruh dan tuan tanah. Karena tidak tahan melihat penindasan yang diderita oleh para kuli perkebunan yang didatangkan dari Jawa, Tan Malaka minta berhenti dan pindah ke Semarang. Perjuangannya kemudian tidak hanya dalam usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan.

Tan segera aktif menyelenggarakan pendidikan cuma-cuma kepada anak-anak rakyat jelata, menulis pamfllet-pamflet, dan mendorong berbagai pemogokan. Peranan Tan Malaka sebagai agiator komunis menjadi mencolok bagi polisi rahasia Hindia Belanda.

Dengan keputusan gubernur jenderal, dia dikenakan hukuman pembuangan. Tan Malaka memilih Belanda sebagai tempat pengasingannya pada Maret 1922. Dari sana dia ke Moskow dan mengikuti program pendidikan partai komunis. Kisah Tan di Moskow dimulai pada Oktober 1922 setibanya dia dari Jerman. Kamar Tan di salah satu bekas hotel di Moskow, menjadi tempat singgah para pemuda dan pelajar. Ketika Komunis Internasional (Komintern) sibuk mempersiapkan kongres ke empat, Tan yang melapor sebagai wakil Indonesia diajak ikur rapat-rapat persiapan. Tapi dia hadir sebagai penasihat, bukan anggota yang punya hak suara. Tan Malaka lalu menghadiri Kongres Komintern di Moskow pada November 1922. Di sana dia bertemu dengan tokoh-tokoh komunis tingkat dunia yaitu Vladimir Illich Lenin, Joseph Stalin, dan Leon Trotsky.

Kongres Komintern IV berlangsung pada 5 November – 5 Desember 1922. Di sini Tan juga bertemu dengan para pemimpin revolusi Asia, termasuk Ho Chi Minh dari Vietnam.Tan beruntung, semua wakil Asia mendapat kesempatan bicara lima menit. Giliran Tan jatuh pada hari ketujuh. Di sanalah, dalam bahasa jerman patah-patah, dia menyampaikan gagasan revolusioer tentang kerja sama antara komunis dan islam.

Menurut Tan Malaka, Komunis tak boleh mengabaikan kenyataan bahwa saat itu ada 250 juta Muslim di dunia. Pan-Islamisme sedang berjuang melawan Imperialisme, perjuangan yang sama dengan gerakan komunisme. Menurut dia, gerakan itu perlu mereka dukung. Namun dia tahu keputusan ada di tangan petinggi-petinggi partai yaitu para Bolshevik tua.

Gagasan Tan soal koalisi komunisme dan Pan-Islamisme mendapat dukungan penuh dari delegasi Asia. Tapi kenyataan itu tak terlalu disukai oleh Karl Radek, pemimpin Komintern yang membawahkan urusan Asia. Setelah kongres usai dan para utusan kembali ke negeri masing-masing. Tan bingung harus ke mana. Dia tak ingin kembali ke Belanda. Tan sempat meminta Komintern menyekolahkan dia, tapi ditolak.

Untuk mengisi waktu luang, Radek meminta Tan Malaka menulis sebuah buku. Bahan-bahan untuk menulis dipesankan dari Belanda. Tan dibebaskan menuliskan apa saja, yang penting tentang Indonesia. Buku itu akhirnya terbit pada 1924 dengan judul Indonezija; ejo mesto na proboezdajoesjtsjemsja Vostoke (Indonesia dan tempatnya di Timur yang sedang bangkit). Pemerintah Rusia mencetak lagi buku itu sebanyak 5.000 eksemplar pada 1925. Tapi Tan tak sempat menunggu kelahiran buku yang dia tulis dalam bahasa Rusia itu. Karena pada akhir 1923 dia sudah berada di Canton, Cina, sebagai wakil Komintern untuk Asia Timur.

Setelah itu Tan Malaka melakukan pengembaraan selama 20 tahun, dikejar-kejar polisi rahasia di Manila, Hong kong, Bangkok, Singapura, dan kota-kota lainnya sebelum dia kembali ke Tanah Air pada 1942 setelah militer Jepang menguasai Asia Tenggara. Selama periode pelariannya itu dia menulis buku dan diterbitkannya di Canton pada 1924 yaitu Naar Repoebliek Indonesia ( Menuju Republik Indonesia) dalam bahasa Belanda dan Melayu yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ratusan jilid buku tersebut lantas diselundupkan ke Hindia Belanda dan diterima oleh para tokoh pergerakan, termasuk Soekarno. Buku itulah yang menjadi bukti bahwa Tan Malaka adalah pencetus gagasan Indonesia Merdeka jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945.

Dengan Menuju Republik Indonesia maka untuk pertama kalinya konsep “Republik Indonesia” dicanangkan. Gagasan Tan ini disampaikan Sembilan tahun sebelum Soekarno menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933). Juga jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928). Bahkan buku Massa Actie (1926) yang ditulis Tan Malaka dari tanah pelarian pun kemudian menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia.

Dalam usia 27 tahun, Tan Malaka sudah mencanangkan kemerdekaan Indonesia dan ada kejelasan perihal bagaimana bentuk Negara Indonesia yang merdeka kelak, yakni Republik.

Sejarah mengatakan Tan Malaka merupakan sosok revolusioner yang gerah berdiplomasi, namun konsepsinya tentang kemerdekaan terasa utuh, bulat dan cemerlang. Dia bahkan menjadi contoh terbaik tentang gagasan politik yang senantiasa membawanya dalam lingkaran kekalahan demi kekalahan. Buku-buku yang ditulis Tan malaka paling monumental ialah Madilog (1943), Massa Actie (1926), Gerpolek (1948) dan Dari pendjara ke Pendjara (1970).

 

Referensi:

Susilo, Taufik Adi. 2016. TAN MALAKA: Biografi Singkat (1897 – 1949). Jogjakarta.Garasi

Siringmakar 25: “Menjadi Penulis Sains Populer Jaman Now”

Siringmakar 25: “Menjadi Penulis Sains Populer Jaman Now”

Pemateri: Nur Abdillah Siddiq
Moderator: Wayan Dadang

 

Diskusi

Saya merasa bahwa menulis karya tulis, riset dan lainnya masih kurang. Hasil tulisan kita hanya akan dibaca oleh komunitas akademik, sangat jarang masyarakat awam akan membaca tulisan-tulisan akademis tersebut. Oleh karena itu, diperlukan tulisan model baru bernama Artikel Sains Populer yang menjembatani antara dunia akademisi dan dunia masyarakat. Motivasi utama tersebutlah yang menjadi gagasan bersama Kak Abdul Halim sebagai rekan satu tim riset yang bersama merasa resah dengan keadaan banyaknya penelitian baru yang dilaporkan dalam bentuk paper (artikel) namun tidak bisa sampai ke masyarakat karena kendala bahasa yang ilmiah.

Kami membayangkan bagaimana seandainya hasil penelitian terbaru tentang dunia pertanian dibaca oleh petani, penelitian terbaru di dunia peternakan, dibaca oleh peternak. Bayangkan. Bagaimana kira-kira kesejahteraan mereka akan bertambah?. Hingga hari ini, Alhamdulillah, website Warstek Indonesia sudah menerbitkan 1.225 artikel.

Artikel yang Ditulis oleh Pemateri [Nur Abdillah Siddiq, 2019]

Saya sendiri sudah menerbitkan 178 artikel. Berikut beberapa tulisan saya. Namun, saya juga tidak ingin fokus di dunia sains populer saja seperti Editorial Sains Kompas, Mongabay, dll. Saya juga tetap menulis paper untuk komunitas keilmuan saya, karena sejatinya sumber ‘shahih’-nya dari sana, artikel jurnal dan artikel konferensi. Dan nggak seru kalau hanya bisa mengutip artikel saja tapi tidak bisa menulisnya. Berikut adalah situs Scopus saya, Alhamdulillah bulan lalu baru saja menerbitkan artikel jurnal ketiga di Jurnal Photonic Sensors. Saya akan terus aktif dalam penulisan artikel ilmiah, dan berikut adalah konferensi ilmiah yang akan saya ikuti di tanggal 28 September 2019 mendatang.

Undangan Presentasi Ilmiah untuk Pemateri di MISEIC 2019 [Nur Abdillah Siddiq, 2019]

Jadi intinya, saya mencoba untuk dapat seimbang antara menulis artikel ilmiah dan artikel sains populer, dan itu bisa.

Pengalaman Keilmiahan Pemateri sebagai Founder Warstek [Nur Abdillah Siddiq, 2019]

Kalimat berikut mungkin sering teman-teman baca dan dengar, tapi mungkin kurang diresapi maknanya. Pak Pramoedya Ananta Toer,novel beliau keren-keren, saya baca yang judulnya ‘Gadis Pantai’,  dan merasa kagum. Tidak heran dan berlebihan jika beliau masuk calon nominasi peraih Nobel Sastra. Bagi teman-teman yang belum baca, silahkan baca ya. Ada cukup banyak novel beliau, berisi tentang kehidupan dan budaya Jawa.

GAMBAR YANG TENTANG MOTIF+AKSI TIDAK TERSIMPAN, MOHON DIUNGGAHKAN.

Dan memang benar, orang-orang yang menulis hidupnya akan abadi. Lihat saja Einstein dengan karya tulisnya tentang Relativitas. Kira-kira sekalipun Einstein jenius, tapi tidak menulis, nah bakalan dikenal nggak oleh kita sekarang?.

Di foto ini juga ada manuskrip dari MAHABHARATA. Film yang biasanya diputar di ANTV itu manuskripnya dibuat 824 tahun Sebelum Masehi, lho. Delapan ratus dua puluh empat tahun sebelum Yesus atau Nabi Isa as. lahir. Adakah teman-teman disini yang punya cita-cita hidup abadi?, hehe. Kalau ada, maka menulislah.

Menulis adalah Bekerja untuk Keabadian [Nur Abdillah Siddiq, 2019]

Motif dan aksi kedua, menulis adalah satu metode belajar yang cukup efektif. Pernah nggak merasa bingung akan suatu materi, namun setelah dituliskan dalam bahasa kita sendiri, diurai dalam bentuk tulisan, kita menjadi lebih paham?. Nah, itulah The Power of Writing. Saya mendorong rekan-rekan kontributor Warstek untuk menuliskan artikel dengan topik yang ingin dikuasai, jangan malah topiknya melebar kemana-mana. Misalnya, kak Wayan, beliau ingin menjadi orang Indonesia pertama yang menjadi Grand Master Artificial Intelligent (AI), makanya saya dorong untuk menulis tentang topik-topik AI saja, sambil menyelam, minum air, mungkin begitu istilahnya ya,hehe. Dan terbukti sekarang sudah ada lebih dari 30 artikel di warstek.com tentang Artificial Intelligent yang ditulis oleh kak Wayan.

Baik, selanjutnya adalah dibahas materi pertama, yaitu Motivasi Menulis.

Mental 1. Penulis bukan hanya menulis.

Penulis harus mendalami psikologi manusia, harus mampu masuk ke otak pembaca dan menyalurkan ide-ide atau informasi agar diterima oleh pembaca sesuai dengan kelompok kemampuannya. Oleh karena itu, saya sering merevisi tulisan rekan-rekan kontributor agar minimal anak SMA bisa paham dengan materinya. Perbanyak menggunaan perumpamaan atau metafora, dan ternyata ada beberapa kontributor Warstek yang jauh lebih handal dibanding saya dalam mendalami psikologi manusia, terutama bagaimana menyulut curiosity, inspiration dan wonder sekaligus. Salah satunya adalah tulisan Mas Wahyu Norrudin, menurut saya keren banget.

Mental 2. Menulis adalah proses berkelanjutan dan terus-menerus.

Diistilahkan dengan “Jam Terbang”, maka semakin banyak dan semakin sering menulis maka akan semakin “Bernas” tulisannya. Coba kalau teman-teman bongkar meja belajar, terus baca-baca tentang karya tulis, artikel atau apapun itu yang pernah dibuat 4 tahun lalu, merasa konyol kan?, hehe. Saya merasa begitu, ternyata tulisan saya waktu masih mahasiswa baru sangat datar dan jelek. Pertanyaannya, jika teman-teman tidak memulai untuk menulis, lantas kapan akan belajarnya?.

Mental 3. Siap dan suka mempelajari hal-hal baru.

Analisis  kedalaman suatu tulisan membutuhkan banyak perspektif dan sudut pandang, satu artikel jurnal Internasional membutuhkan minimal 20 referensi, nah ini pula yang membedakan Warstek.com dengan Tribunnews atau Sains Kompas serta media-media mainstream sejenis, setiap artikel di Warstek.com wajib mencantumkan referensi, apakah hasil wawancara pribadi, buku, paper, majalah, website lain, dll. Berkaitan dengan hal ini, paper saya pernah di-reject karena diminta memperkaya referensi, padahal sudah ada 30 referensi, tapi kata editor nya masih kurang untuk dapat tayang di IEEE Sensors Journal.

Mental 4. Tidak mudah menyerah.

Akan terjadi penolakan, tulisannya diremehkan bahkan diejek, namun tidak akan menyerah untuk terus menulis. Kalau yang pernah nonton filmnya Raditya Dika yang kambing jantan kalau nggak salah, akan paham tentang makna tidak mudah menyerah ini. Radit ditolak hampir di banyak penerbit, bukunya diejek habis-habisan. Tapi Radit tidak menyerah dan jadilah Radit yang seperti sekarang, atau kisahnya penulis Harry Potter, beliau juga mengalami penolakan oleh penerbit lho, atau novel Laskar Pelangi itu juga selalu ditolak lho oleh  penerbit. Tetaplah bertindak, jangan menyerah!

Mental 5. Disiplin dan menghargai waktu.

Menulis membutuhkan proses dan waktu yang tidak sedikit, apalagi terdapat deadline. Waktu menjadi sangatlah berharga, ini sudah jelas ya, jangan menulis mendekati deadline.

Dan mental terakhir, Mental 6. Menjadi penulis bukanlah tujuan akhir.

Menulis dapat menjadi awal kehidupan yang lebih baik. Berbagai profesi seperti ilmuwan, dosen, hingga presiden membutuhkan keterampilan menulis yang mumpuni. Yang cukup fenomenal adalah Presiden Mesir, Alm. Mursi. Beliau presiden, tapi juga banyak menerbitkan research paper.

Tulisan Ilmiah Alm. Presiden Morsi [Nur Abdillah Siddiq, 2019]

Baik, materi pertama motivasi sudah, materi kedua tentang mental seorang penulis sudah. Terakhir, struktur artikel.

Berkaitan dengan struktur Artikel, pertama kita harus melihat struktur yang dipersyaratkan oleh penerbit, jika memang tidak disebutkan secara eksplisit, maka kita harus merangkum struktur dari tulisan-tulisan artikel yang sudah terbit sebelumnya. Misalkan jika teman-teman ingin mengirim opini di Jawa Pos, Kompas, dll, teman-teman tidak bisa ‘seenaknya’ sendiri membuat struktur artikel kalau ingin artikel teman-teman dimuat, yang ada bisa ditebak: DITOLAK. Jadi tips pertama adalah Cek apakah ada format atau struktur yang dipersyarakatkan oleh penerbit. Jika ada maka diikuti, jika tidak ada maka silahkan baca artikel-artikel yang telah terbit sebelumnya. Di Warstek.com, strukturnya seperti artikel kebanyakan, ada: judul, pendahuluan, tubuh, penutup, dan penjelas, ditambah dengan referensi. Wajib ada referensinya 😀

Seperti ini contohnya:

Diawali dengan tentunya ada judul dan pendahuluan,

R. Andika Putra Dwijayanto, 2018

kemudian sebelum masuk ke tubuh artikel, ada fakta awal dan penghubung,

R. Andika Putra Dwijayanto, 2018

masih paragraf penghubung, dengan ditambahkan data-data,

R. Andika Putra Dwijayanto, 2018

kemudian baru tubuh atau inti artikel,

R. Andika Putra Dwijayanto, 2018

Tubuh/ inti artikel – bagian 1,

R. Andika Putra Dwijayanto, 2018

Tubuh/ inti artikel – bagian 2,

R. Andika Putra Dwijayanto, 2018

dan terakhir, ada penutup dan penjelas,

 

R. Andika Putra Dwijayanto, 2018
R. Andika Putra Dwijayanto, 2018

Tidak lupa, ciri khas Warstek.com, ada referensi yang tersambung dengan isi artikel (penulisan kutipannya bisa menggunakan metode Harvard atau Vancouver).

Tidak lupa pula, ada struktur yang tidak tertulis, yakni penyampaian materi yang susah harus dilengkapi dengan perumpamaan-perumpamaan atau ilustrasi, baik gambar atau video, agar artikel menjadi lebih mudah dipahami, minimal anak SMA bisa memahami tulisan kita.

 

Tanya-Jawab (Q&A)

 

  1. Septian Ulan Dini. Q.: Bagaimana pendapat kakak tentang “overload information disorder” menjadi topik yang banyak dibicarakan di bidang psikologi dan ilmu pendidikan?.
    A. Wah, iya. Memang “overload information disorder” menjadi topik yang banyak dibicarakan di bidang psikologi dan ilmu pendidikan. Dan hal ini menjadi tantangan baru bagi generasi kita (milenial) dan generasi setelah kita (Z). Information overload juga disebut ‘Polusi Informasi’, disebabkan oleh terlalu banyaknya informasi yang seseorang ketahui. Nah, berkaitan dengan publikasi artikel sains populer yang diterima masyarakat, saya rasa justru artikel sains populer dapat membantu masyarakat memerangi kondisi Information Overload.
    Pertama, ada banyak sekali research paper yang membahas topik Information Overload, didalam juga berisi sebab akibat kausalitas dari Information Overlod, cara pencegahannya, dll.
    Kedua, Information Overload disebabkan oleh informasi yang tidak relevan dengan diri kita (misal, sesuatu yang ingin kita pelajari) seperti informasi gosip, talk show, info hoax, dll. Nah, budaya membaca artikel sains populer bisa mengalihkan masyarakat alih-alih membaca gosip, menjadi membaca sains populer.Ketiga, menulis artikel sains populer membantu memanfaatkan waktu seseorang secara lebih baik. Bayangkan jika seseorang tidak disibukkan dengan menulis artikel, maka ada kecenderungan orang tersebut hanya scroll media sosial, gabut dan terpapar informasi yang sangat kompleks dan tidak berhubungan sama sekali, berbeda jika halnya waktu yang digunakan untuk menulis artikel yang sudah punya topik sendiri, akan lebih terarah informasinya.
  2. Luthfi P. Q1. Bagaimana kiat-kiat untuk mencari tema yang menarik untuk dibaca?. Perlukah kita menghindari tema-tema sulit dan baru ditemukan?. A1. Kalau saya sering mendorong seseorang untuk memilih topik atau tema yang ingin dia kuasai, bukan yang telah dia kuasai. Kalau kita sendiri sudah tertarik untuk membaca artikel yang ditulis sendiri, maka orang lain juga akan tertarik. Kalau memang topik yang ingin dikuasai adalah topik yang baru ditemukan dan sulit semisal kecerdasan buatan, go for it, tidak perlu menghindari.

    Q2. Apabila kita menyusun artikel sains populer bukan dari karya kita, seberapa banyak referensi yang perlu dicantumkan dalam artikel kita?. A2. Tidak ada patokannya, bisa satu hingga dua puluh referensi. Saya pernah menerima artikel 700 kata di Warstek, tapi referensi yang digunakan ada 20 lebih. Referensi ada untuk mendukung gagasan kita, bahwa gagasan kita memiliki landasan ilmiah.

    Q3. Bagaimanakah cara penyampaian dalam artikel kita agar tidak terkesan menggurui?. A3. Setahu saya, istilah “terkesan menggurui” tidak ada dalam bahasa tulisan, adanya dalam bahasa lisan. Karena menggurui lebih ke ‘nada-nada’ menggurui.

  3. Remilda Agustina. Q1. Bagaimana caranya istiqomah dalam menulis?, kadang ada rasa bosan, lelah, pegal. Mengingat motivasi kadang tidak mempan. Bagaimana caranya, kak?. A1. Caranya dengan ini, kak.

    Menulis dengan meluangkan waktu. Ada quote yang sangat menohok dan sangat benar:Kalau rekan-rekan masih belum bisa istiqomah,berarti menulis belum menjadi prioritas.Salah satu kisah menulis yang menginspirasi datang dari dosen saya, Pak Agus Purwanto. Beliau dosen Fisika dan masih dapat menulis buku yang cakupan topiknya menurut saya cukup luas, dari topik bahasa Arab (Arab gundul), Ayat-ayat Semesta yang tebalnya hampir 500 halaman. Saya bertanya ke mahasiswa Fisika yang berada dibawah bimbingan beliau: “Apa rahasia beliau bisa sangat produktif begitu?”, si Mahasiswa menerangkan jika Pak Agus Pur meluangkan waktu minimal 1 jam untuk menulis setiap harinya, seperti kita meluangkan waktu untuk makan, mandi, ibadah, begitu pula Pak Agus Pur meluangkan waktu untuk menulis.
    Q2. Bagaimana membagi waktu untuk menulis di sela kesibukan kuliah, yang mana kita harus belajar, sibuk organisasi, sibuk urusan akhirat?, lalu bagaimana membagi waktu untuk menulis, kak?. A2. Ini menyambung pertanyaan yang pertama, Jadi setelah kita memprioritaskan menulis dan meluangkan waktu untuk menulis setiap harinya, kemudian kita dilanda kesibukan, maka yang perlu dikorbankan adalah ‘waktu tidur’ kita. Jika biasanya kita tidur jam 22.00 dan bangun pagi jam 04.00, maka kurangi tidurnya, misal tidur jam 22.00, maka bangun lebih awal jam 03.00 pagi. Ini berat, sangat berat. Saya pun masih terbata-bata dalam proses ini.
  4. Teuku Rizki. Q.: Bagaimana cara meningkatkan motivasi dan skill dalam menulis artikel sains?, terlebih saya adalah mahasiswa baru yang belum mempunyai pengalaman dalam menulis artikel. A. Bagian motivasi sudah saya sampaikan ya, kak. Kalau belum mempunyai pengalaman, ayo buat pengalaman!. Yuk, ikut kompetisi artikel sains populer Warstek.

  5. Naufal Farras. Q1.: Bagaimana cara supaya susunan kalimat dalam tulisan kita mudah dipahami oleh orang lain?, karena terkadang ketika menulis, penulis sendiri paham dengan apa yang ditulisnya, tetapi pembaca awam terkadang sulit untuk memahami tulisan tersebut. A1. Kita harus menurunkan ego, harus dapat memposisikan diri dengan menanyakan pada diri sendiri, “Kalau anak SMA yang membaca ini kira-kira paham tidak ya?”. Kalau kita punya adik atau kakak, mintalah mereka untuk membaca dan menanggapi. Kalau saya pribadi, saya meminta pendapat ke istri saya, paham tidak dia dengan tulisan artike sains populer saya, kebetulan istri saya background-nya Pendidikan Bahasa, jadi lebih sering dikoreksi juga penggunaan diksi dan lain-lainnya.
    Q2. Bagaimana tips untuk menggiring pembaca supaya ingin membaca tulisan hingga habis?, apakah akhir paragraf/ kalimat sifatnya ‘menggantung’ atau ada tips lainnya?. A2. Tulisan menarik menjadi masalah di platform-platform berbasis website, pembaca tidak membaca artikel sampai selesai. Kalau dari saya, artikel tulisan kita sebisa mungkin runtut dan mengalir, seperti yang telah saya sampaikan di bagian materi tentang struktur tulisan. Kalau menggantung malah terkesan baca suatu tulisan yang ‘click bait’.
  6. Ahmad Albar. Q1. Bagaimana mengatasi rasa tidak percaya diri dalam menulis sains?, saya sudah memulai untuk membuat suatu artikel yang belum pernah saya kirim sama sekali karena begitu melihat tulisan-tulisan yang sudah terbit menimbulkan keraguan pada tulisan saya sendiri dan berpikir jika tulisan saya tidak berbobot. Dan juga, biasanya inginnya diri sendiri untuk dapat menyelesaikan tulisan pada hari itu juga, karena seringkali di hari selanjutnya ide tulisan sebelumnya sudah hilang. Dan terakhir, saya tinggal di Indonesia bagian Timur, dimana akses untuk penelitian dan lainnya itu sulit. Sekalipun ada, pasti harganya tidak murah, jadi ketika kita punya ide yah hanya bisa di pendam, untuk dieksekusi tidak mudah, mau ikut karya tulis ilmiah kan harus melalui pembuktian dulu dan takutnya ide kita malah di ambil orang lain. Oh Iya, sedikit melenceng, bagaimana kakak menghabiskan waktu bersama keluarga dan rekan-rekan?, karena saya lihat banyak menulis nih. A1. Ketika down membaca tulisan orang lain, analisis tulisan tersebut, bagian mana yang membuat tulisan orang lain tersebut lebih menarik dari punya kita. Misalkan, analisis cara/metode penyampaiannya, data-datanya, kesimpulannya, dll. Terapkan hal-hal tersebut ke artikel kita, metode populernya adalah ATM (Amati, Tiru, Modifikasi), bukan ATP (Amati, Tiru, Plek). Nah, menulis dalam sekali duduk itu salah satu mental yang harus diubah. Masak mau menulis 1 buku dalam 1 kali duduk?, Nggak mungkin kan?. Hehe. Santai saja dalam menulis, dinikmati prosesnya, oleh karena itu saya sering merekomendasikan agar menulis tidak mendekati deadline. Kalau menulis mendekati deadline, itulah yang terjadi, menulis dalam 1 kali. Kalau ide berubah kok kayaknya malah jadi tulisan baru, bukan merevisi tulisan yang kemarin. Sekarang akses ke referensi itu sangat mudah kak, ada google scholar, portal garuda, dll. Kalau kesulitan ingin dapet artikel jurnal berbayar dengan gratis, bisa langsung PM kepada kami, nanti kami bantu aksesnya. Menghabiskan waktu seperti waktu untuk keluarga pada umumnya kak, malah saya masih merasa jauh dibawah rekan-rekan saya yang sudah menerbitkan buku, dll. Saya belum menerbitkan buku sama sekali, selain menerbitkan buku nikah, hehe.

Penutup

Kalau teman-teman ingin tetap termotivasi dalam menulis, silahkan add friend akun-akun Facebook berikut (kalau masih main Facebook), saya sangat merekomendasikan untuk add friend Pak Hendra Hermawan.


“Jauh lebih baik tulisan yang biasa saja dibandingkan gagasan yang luar biasa tapi tidak dituliskan”.

Wawancara Eksklusif dengan Irmandy Wicaksono – Lulusan S3 MIT dengan Full Research Scholarship

Wawancara Eksklusif dengan Irmandy Wicaksono – Lulusan S3 MIT dengan Full Research Scholarship

Dibalik banyaknya acara TV yang tidak mendidik, banyaknya video trending di YouTube yang kurang bahkan tidak berfaedah, dan orang “tanda petik” yang viral dan terkenal, kita sebagai generasi penerus Indonesia tidak boleh ikut terwarnai, ikut arus, apalagi ikut-ikutan. Sebenarnya ada banyak sosok inspiratif dan prestatif yang jarang diliput TV maupun trending di Youtube, serta jauh dari kata viral. Namun sosok prestatif dan inspiratif tersebut bisa kita jadikan role model atau panutan. Salah satunya adalah kak Irmandi Wicaksono. Irwandi adalah pemuda Indonesia, bersekolah di SMA Lab School Jakarta, kemudian melanjutkan S1 ke Universitas Southampton Inggris, S2 di ETH Zurich, dan S3 di MIT Cambridge Amerika*. Emejing nggak tuh prestasinya?

Momen wisuda Irmandy Wicaksono dari S3 Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada 9 Juni 2019 . Sumber: Instagram @irmandyw
Tampilan Google Scholar Irmandy Wicaksono yang memuat berbagai artikel jurnal yang telah ia buat. Sumber: Google Scholar
Di MIT, Irmandy Wicaksono menggeluti bidang fabric and soft wearable electronic. Sumber: Instagram @MITMediaLab

Nah, tim Warstek berhasil mewawancarai kak Mandy (panggilan akrabnya) dan berikut ini adalah hasilnya:

  1. Sebelumnya Warstek ingin tahu sekilas tentang biodata kak Irmandy seperti lahir dimana, tempat tinggal di Indonesia dimana, dan sekolahnya di Indonesia dimana sebelum berkarir di luar negeri.

Halo Warstek, nama saya Irmandy Wicaksono, kelahiran 1993 di Birmingham, Inggris. Saya sekarang Research Assistant di MIT, Cambridge, Amerika. Keluarga saya menetap di Jakarta. Sebelum berkuliah dan berkarir di luar negeri, saya bersekolah di SMA Labschool Jakarta. Profil lengkapnya dapat dibaca di LinkedIn Irmandy Wicaksono.

Kak Mandy sebagai bagian dari tim MIT Media Lab, salah satu laboratorium dan kelompok riset terbaik di dunia. Sumber: Instagram @irmandyw
  1. Apa cita-cita kak Irmandy semenjak kecil? Dan siapa orang yang paling berperan untuk mendorong kak Irmandy merealisasikan cita-cita tersebut?

Sejak kecil saya menyukai berbagai hal, jadi cita-cita saya selalu tidak tentu. Tetapi, dulu saya sangat gemar belajar fisika dan matematika. Saya juga suka mengkoleksi gadget baru. Sebagai penggemar musik, saya ingat betul rasa kebahagiaan saya saat saya menerima iPod pertama saya. Selain itu, saya banyak menghabiskan waktu menonton dan main game superheroes dan sci-fi yang memperlihatkan dampak inovasi teknologi untuk masa depan. Karena ini semua, saya mempunyai cita-cita untuk menjadi technologist atau engineer agar bisa menciptakan teknologi-teknologi terbaru yang dapat memberikan dampak besar dan baik dalam kehidupan manusia. Juga dapat merealisasikan sci-fi atau dunia masa depan yang suka saya impikan saat saya masih kecil.

Lembaran chip yang difabrikasi oleh kak Mandy di MIT Media Lab. Sumber: Instagram @irmandyw

Selain orang tua saya yang selalu mendukung saya, orang yang paling berperan secara tidak langsung adalah guru-guru saya dulu. Saya selalu ingat pesan mereka, yaitu untuk selalu mencoba keluar dari comfort zone dan terus mencari tantangan. Pesan ini memotivasi saya untuk merantau berkuliah di luar negeri untuk menimba ilmu, berkarya, dan membawa nama bangsa di tempat-tempat yang terbaik.

Selama berkuliah di Amerika, kak Mandy juga aktif mengenalkan budaya Indonesia pada dunia, keren banget kan guys? Sumber: Instagram @irmandyw
  1. Warstek lihat bahwa kak Irmandy mengenyam S1 di Universitas Southampton, Inggris kemudian dilanjutkan mengenyam Pendidikan (master) di kampusnya Albert Einstein (ETH Zurich, Swiss), dan sekarang menjadi graduate researcher di MIT, Amerika, apa sih kak rahasianya bisa se-“wow” itu? Dan apakah itu dengan beasiswa atau mandiri?

Kalau dipikirkan, sebenarnya tidak ada rahasianya. Yang terpenting adalah pastikan hal yang kamu lakukan benar-benar apa yang kamu peduli dan sukai, dan cobalah dengan keras untuk tekuni hal itu. Setiap orang memiliki keunikannya sendiri dan jalannya masing-masing. Jika belum menemukan apa yang kamu ingin lakukan, selalu berani untuk melakukan hal yang baru dan mencari kesempatan. Saya yakin bila kamu terus berjuang, suatu saat, kamu akan menemui lingkungan dan orang-orang yang benar-benar positif dan seirama dengan pola pikir dan budaya kerja kamu. Di sini, teman, kolega, dan profesor di lingkungan ETH maupun MIT selalu menginspirasi saya untuk melakukan riset yang tidak konvensional dan membantu saya untuk merealisasikan ide-ide saya yang berhubungan dengan human-machine interfaces.

Jujur kadang saya masih tidak percaya dan saya selalu bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk studi dan riset di institusi-institusi ini. Sebelumnya saya mendapat Zepler scholarship selama tiga tahun untuk S1. Kemudian karena mendapatkan funding yang signifikan dari pemerintah, biaya kuliah di ETH Zurich bisa dibilang affordable, lebih murah dari kebanyakan top-tier university di Indonesia. Jadi, waktu itu hanya menanggung biaya hidup disana. Saat ini, alhamdulilah saya diberikan full research scholarship dari MIT selama S3. Di MIT dan beberapa graduate-level universitas di Amerika, universitas tersebut biasanya menanggung biaya hidup dan kuliah jika kamu diterima masuk dan disetujui oleh Professor di universitas yang terkait untuk mengenyam S3. Oleh karena itu, disamping menjadi Ph.D. student, saya juga bekerja menjadi research assistant di MIT.

Kak Mandy berfoto bersama salah satu karya seni MIT yang bernama The Alchemist. Sumber: Instagram @irmandyw
  1. Kadang di Indonesia ada istilah study oriented atau mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang) bagi yg fokus di akademis, bagaimana kultur di luar negeri dan bagaimana opini kak Irmandy tentang itu?

Kehidupan kampus di sini memang vibrant, disiapkan untuk semua kalangan mahasiswa. Kulturnya bebas, disamping pelajaran kelas, banyak student groups dan event di kampus seperti seminar, conference, workshop, talks, maupun hackhaton. Organisasi dan kegiatan-kegiatan ini menurut saya sangatlah penting untuk mempersiapkan kehidupan kita setelah kuliah. Dari mengikuti kegiatan ini, kita bisa mendapat pengalaman baru, menambah koneksi dengan orang-orang industri dan akademia atau venture capitalist, mungkin kita juga bisa bertemu dengan orang-orang yang akan bekerja dengan kita di masa depan. Karena kehidupan akademik MIT sangatlah demanding, sangat disarankan juga disini untuk membuat study circles sendiri, karena bisa belajar, berdiskusi, dan saling mengingatkan dengan satu sama lain tentang problem sets, exams, etc.

Kalau untuk saya sendiri, karena fokus saya di riset dan teaching, setiap harinya saya tidak hanya kerja di lab dan mengajar kelas, tetapi saya harus sering berdiskusi dengan banyak orang, dari Professor, kolega-kolega, sampai industri sponsor. Saya juga secara teratur mengikuti seminar, workshop, dan konferensi di dalam dan luar kampus. Time-management sangatlah penting, agar kita bisa tetap melakukan hobi kita di waktu luang, dan mendapatkan keseimbangan antara kehidupan kampus dan personal life, antara karir dan self-growth.

Menyeimbangkan aktivitas kuliah dan self growth termasuk salah satu rahasia kak Mandy. Sumber: Instagram @irmandyw
  1. Warstek pertama tahu kak Irmandy dari IG MIT Media Lab, kak Irmandy sedang riset fabric and soft wearable electronic, bisa dijelaskan mengapa kak Irmandy tertarik untuk meneliti hal tersebut? Kira-kira nanti produk pamungkas dari riset tersebut apa kak?

Ketertarikan saya dengan wearable electronics dimulai saat saya mengambil kelas micro dan nanotechnology di S1 Universitas Southampton. Karena kemajuan di bidang material science dan fabrication technology ini, diperkirakan bahwa elektronik kedepannya akan tertanam di mana-mana, sesuai dengan konsep “Internet of Things”. Oleh karena itu, saya mulai mengeksplorasi tentang subyek human-machine interfaces. Bagaimana di masa depan manusia akan berhubungan dengan komputer yang akan berada di berbagai tempat, dari kulit, pakaian, lingkungan, sampai luar angkasa. Waktu S1, saya juga pernah bekerja sebagai Technology Intern di Studio XO, sebuah fashion technology lab di London. Kliennya adalah Lady Gaga, dan saya mendapat kesempatan untuk bekerja dengan fashion designers dan industrial engineers untuk membuat kostum robotik [1] yang dipakainya saat iTunes festival 2013.

Setelah itu, saya memutuskan untuk mengambil Master degree in Electrical Engineering and Information Technology, khususnya di bidang Wearable Computing di ETH Zurich dan sekarang di MIT Media Lab. Mulailah di sini passion saya untuk menyatukan elektronik dengan berbagai media. Saya sangat tertarik untuk mengubah electronic devices saat ini yang kebanyakan rigid agar menjadi soft, flexible, dan stretchable supaya bisa diintegrasikan ke tekstil atau tubuh kita. Aplikasinya banyak, salah satu contohnya adalah proyek saya yang bernama FabricKeyboard [2]. Kalau saat ini, fokus saya adalah wearable electronics untuk biomedical applications. Bagaimana bila alat-alat kesehatan di rumah sakit yang bulky, ribet karena banyak kabel dan tidak nyaman bisa diubah bentuknya menjadi miniatur, tipis, dan nyaman dipakai layaknya stiker atau kain. Dengan ini, future medical monitoring dan treatment akan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, tanpa harus langsung ke rumah sakit.

Salah satu produk dari riset kak Mandy dalam bidang fabric and soft wearable electronic. Sumber: Instagram @irmandyw
  1. Banyak mahasiswa Indonesia yang juga ingin studi lanjut di luar negeri kak, apakah ada saran bagi mereka?

Saran saya adalah rencanakan dari awal mungkin. Cobalah terus untuk apply dan jangan takut gagal. Carilah program-program dan universitas yang cocok dengan passion kamu dan persiapkan juga source of funding, apakah dari beasiswa, grants, atau research assistantship. Untuk yang ingin mengambil doctoral research, melalangbuanalah ke konferensi dunia, buatlah banyak koneksi dengan researcher luar negeri dan belajarlah dari pengalaman mereka. Lebih baik lagi kalau profesor yang akan menjadi supervisor kamu sudah tahu kenal dari awal, misalnya, dengan bertemu di konferensi, mensitasi paper mereka, atau mengikuti exchange program universitas untuk intern riset di grup profesor tersebut, karena ini akan menambah kesempatan kamu untuk diterima.

Kak Mandy bersama mahasiswa asal Indonesia lainnya yang berkuliah di Amerika, ada Pak Jusuf Kalla ikut berfoto. Sumber: Instagram @irmandyw

Di samping kompetensi, salah satu syarat dari admission, dan yang kadang-kadang dilihat lebih adalah personal statement. Yang saya pelajari dari pengalaman saya adalah universitas di sini tidak hanya melihat skill dan accompIlishment kamu, tetapi mereka ingin melihat juga keunikan dari para kandidat, apakah dirimu dan background kamu tambahan yang bagus untuk meragamkan komunitas dan ekosistem mereka, dan apakah visi dan misi kamu sesuai dengan prinsip mereka. Usahakanlah agar cerita di esai ini, entah pengalaman atau opini kamu tentang suatu hal menggambarkan persona atau karakter diri kamu yang menarik dan stand-out dari applicant lainnya.

  1. Pertanyaan yang agak susah nih, apakah kak Irmandy nantinya akan berkarir di luar negeri apa di Indonesia?

Saya tidak ada preferensi untuk berkarir di luar negeri atau di Indonesia. Selama ini hidup saya nomaden, karena saya sangat suka untuk mencari pengalaman yang baru. Beberapa tahun yang akan datang, kemungkinan besar saya masih bolak-balik Indonesia dan Amerika. Yang pasti, suatu saat nanti saya akan kembali ke tanah air dan mendirikan sesuatu yang baru untuk Indonesia.

Meskipun karirnya fokus di dunia akademik, kak Mandy juga tidak canggung dalam dunia industri. Sumber: Instagram @MITMediaLab

Referensi dalam wawancara:

[1] Pakhchyan, S. 2013. Lady Gaga’s Bubble Machine Dress

[2] Miller, M. 2017. MIT’s Experimental Keyboard Is Unlike Any Instrument You’ve Seen (Or Heard)

Bagaimana apakah Sahabat Warstek termotivasi? Hmm. Kira-kira siapa sosok inspiratif lainnya yang akan Warstek wawancarai nih? Sampaikan namanya di kolom komentar ya gaes, juga pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan pada orang tersebut.


*FYI, Albert Einstein adalah alumni dari ETH Zurich tahun 1900 dan istrinya (Mileva Maric) juga alumni dari ETH Zurich, sedangkan MIT adalah kampus yang menempati peringkat 1 terbaik di dunia secara 8 tahun berturut-turut, termasuk di tahun 2019. Ranking tersebut dirilis pada 19 Juni 2019 oleh Quacquarelli Symonds (QS). QS merupakan perusahaan di bidang pendidikan yang membantu puluhan juta calon mahasiswa membuat pilihan universitas yang tepat. Peringkat universitas terbaik yang dirilis oleh QS termasuk salah satu sistem pemeringkatan yang populer di masyarakat dunia, disamping ada sistem perangkingan lainnya seperti CWUR, Webometrics, Times Higher Education (THE), dll.

Berikut ini adalah 5 kampus terbaik dunia versi QS World University Ranking:

Diakses pada 22 Juni 2019. Sumber: QS World University Ranking

 

Dye Sensitized Solar Cell dan Tokoh Penemunya (M. Gratzel)

Dye Sensitized Solar Cell dan Tokoh Penemunya (M. Gratzel)

Sudah pernah terfikirkan belum kalau letak Indonesia yang dilalui garis khatulistiwa merupakan anugrah dan karunia dari Tuhan yang tidak ternilai harganya?

Iya Indonesia sangat beruntung dilalui garis khatulistiwa, itu artinya Indonesia dilalui oleh matahari dalam setiap harinya, meskipun terkadang mendung dikala musim hujan.  Wilayah Indonesia akan selalu disinari matahari selama 10 sampai dengan 12 jam dalam sehari (Djoko Adi Widodo, 2009).  Berdasarkan data jadul, Ditjen Listrik dan Pengembangan Energi pada tahun 1997, kapasitas terpasang listrik tenaga surya di Indonesia mencapai 0,88 MW dari potensi yang tersedia 1,2 x 10^9 MW (1.200.000.000 MW), berapa persennya ya? 0,000000073 % saja yang baru dioptimalkan pada tahun 97.

Pada saat penulis kerja praktek di Pertamina Geothermal Energy Kamojang Unit IV, daya yang dihasilkan dari pembangkit unit IV adalah 60 MW. Kasarannya, berarti potensi panas bumi di Indonesia setara dengan 20.000.000 unit IV PGE Kamojang. Banyak banget kan, ada 20.000.000 pembangkit.

Kerja Praktek PGE Kamojang Unit IV

Sedangkan kapasitas solar sel? Rata-rata di Indonesia, 4,5 kWh per meter persegi  (Djoko Adi Widodo, 2009). Sehingga untuk menghasilkan 60 MW dibutuhkan 115×115 m persegi, dua kali lapangan bola! Itu baru potensi se Indonesia, bagaimana dengan potensi sedunia??

Potensi Cahaya Matahari Se Dunia
Potensi Cahaya Matahari Se Dunia (paper/jurnal tersedia di lampiran)

Uda tahu kan betapa besarnya potensi cahaya matahari, yang gratis, dan insyaAllah terus menerus ada?

Sekarang cara memanfaatnya bagaimana? Cara memanfaatkannya adalah dengan menggunakan Solar Sel.

Diantara banyaknya tipe solar sel, ada solar sel generasi pertama, kedua, dan ketiga. Generasi ketigalah yang relatif mudah dan murah dalam pembuatannya, yang bernama Dye Sensitized Solar Cell disingkat dengan DSSC, atau dalam bahasa Indonesianya adalah “Sel Surya Pewarna Tersentisasi (SSPT)”. Biasanya, solar cell konvensional (Generasi pertama dan kedua)  terbuat dari silikon. Jenis solar cell tersebut harganya mahal karena proses pembuatan yang sulit, rumit, dan jumlah bahan baku dialam yang sangat terbatas. Keadaan ini mendorong para peneliti untuk menemukan bahan baru sebagai penganti silikon yang harganya murah dan mudah didapatkan. Pada tahun 1991 ditemukan penganti solar cell silikon yang mudah pembuatannya dan biayanya murah  yaitu  ya dye sensitized solar cell oleh M. Grätzel dan O’Regan . Solar Sel seperti apakah DSSC itu? dan dimana letak keistimewannya? Yuk lihat video berikut.

Video diatas adalah video yang penulis buat dalam rangka Tugas Akhir 🙂 Menarik sekali bukan??

Dye sensitized solar cell terdiri dari molekul dye (pewarna) yang dapat berasal dari kulit manggis, dsb, semikonduktor oksida (fotoanoda) yang memiliki bandgap lebar seperti TiO2, ZnO, dll, dan kaca transparent conducting oxide (TCO) atau kaca yang memiliki hambatan disalah satu sisinya, dan elektrolit yang berasal dari Iodin. Efisiensinya bisa mencapai 16% lho untuk pewarna anorganik, dan pewarna organik mencapai 12.4% (Scientific Accomplishments and Leadership Profile M. Gratzel, 2011).

DSSC yang penulis buat bisa mencapai hampir 1 Volt lho, ini videonya.

Pengen tahu cara buatnya? ini linknya.

Membuat DSSC dengan Pewarna Manggis

Membuat DSSC dengan Pewarna Jahe Merah

DSSC dapat disetarakan dengan proses fotosintesis karena pewarna difungsikan sebagai pengumpul cahaya untuk memproduksi elektron tereksitasi (sebagai klorofil), kemudian fotoanoda menggantikan peranan karbon dioksida sebagai akseptor elektron, iodide/triiodide menggantikan air dan oksigen sebagai donor elektron, produksi oksidasi dan struktur multilayer (terdiri dari banyak lapisan fotoanoda) untuk menaikkan absorbsi cahaya dan efisiensi pengumpulan elektron.

Berikut video mekanisme kerja dari DSSC

Penjelasan secara ilmiahnya adalah sebagai berikut (kalau tidak mengerti, tinggal ketikkan kata yang tidak mengerti di Google)

Mekanisme Kimia DSSC
Mekanisme Kimia DSSC

Skema proses fotoelektrokimia pada DSSC ditunjukkan pada gambar diatas. Elektron akan tereksitasi dari tingkat Highest Occupied Molecular Orbital (HOMO) ke tingkat Lowest Unoccupied Molecular Orbital (LUMO) ketika molekul dye menyerap sejumlah foton dengan energi yang sesuai. Kemudian dye yang tereksitasi (D*) menginjeksi sebuah elektron ke pita konduksi semikonduktor (Ec) TiO2 yang tingkat energinya sedikit lebih rendah dari tingkat LUMO. Elektron tersebut bergerak melalui partikel TiO2 ke arah kaca Transparent Conductive Oxide (TCO). Kemudian elektron ditransfer melalui sirkuit eksternal ke counter elektroda. Selanjutnya elektron kembali memasuki sel dan mengurangi donor yang teroksidasi (I) dalam larutan elektrolit. Dye yang teroksidasi (D+) menerima elektron dari donor tereduksi (I3) dan dapat kembali lagi menjadi molekul awal (D).

Dengan berkembangnya DSSC, berkembang pula bidang lain seperti interfacial electron transfer dynamics,interfacing molecules and electrodes, charge transport in nanostructuredmaterials, materials and dye synthesis, dan lain sebagainya. Apa itu? Cek google jika penasaran 🙂

Prof. M. Gratzel

Dengan berkembangnya banyak bidang baru, maka penemu DSSC yang bernama Prof. Michael Gratzel dinobatkan dan masuk sebagai 50 saintis dunia ternama oleh Scientific American Magazine pada tahun 2005. Selain karyanya yang sangat luar biasa keren, sejak 1992, sudah  ada lebih dari 900 paper penelitian, 60 buku, 50 paten hingga 2011 (Scientific Accomplishments and Leadership Profile M. Gratzel, 2011). Dan karya-karyanya tersebut, telah dikutip sebanyak 82.661 kutipan! Menyebabkan Prof. M. Gratzel termasuk dalam 10 kimiawan dunia yang paling banyak dikutip karyanya.

Berikut video M. Gratzel menyampaikan materi tentang DSSC

Ini prestasi-prestasi yang telah beliau capai karena karya-karyawanya, data stop hingga 2011 (Scientific Accomplishments and Leadership Profile M. Gratzel, 2011).

2011- Wilhelm Exner Medal,Gewerbe Verband Oestereich, Vienna Austria.
2011 -Gutenberg Research Award University of Mainz, Germany
2011 -Paul Karrer Medal University of Zurich, Switzerland
2010 -Galileo Galilei Award, Padova Italy,
2010 -Millenium Technology Grand Prize, Technology Academy Finland.
2010 -City of Florence Award of the Italian Chemical Society
2009 -Balzan Prize, Balzan Foundation, Milano, Zurich.
2009 -Galvani Medal of the Italian Chemical Society.
2008 -Harvey Prize in Science and Technology, The Technion Haifa, Israel
2007 -First International Prize, Japan Society of Coordination Chemistry
2007 -Kroll endowed Chair, University of Cornell, Itaca,,USA, offered.
2006 -World Technology Award in MaterialsSan Francisco, USA
2005 -Gerischer Prize of the Electrochemical Society, Berlin, Germany
2005 -Winner, Scientific American Top 50, ranked amongst 50 leading scientists worldwide
2003-ENI-Italgas Price in Science and Environment
2002 -IBC International Award in Supramolecular Chemistry and Technology
2002 -Venture2002 McKinsey Award, Zurich, Switzerland
2001 -Havinga Lecture, Award and Medal, Leiden, The Netherlands
2001 -Faraday Medal of the Royal Society of Chemistry, United Kingdom
2000 -European Grand Prize of Innovation and Technology
1998 -Eurel Price of theEuropean Society of Electrical Engineers
1998 -Venture 98 McKinsey Award, Zurich Switzerland
1997-Calveras Award in Photovoltaics, Denver USA
1993 -Best Publication Award The American Society of Mechanical Engineers.
1992 -Grand Award,US Popular Science Magazine

Ada yang kurang dari sekian banyak prestasi yang telah diperoleh, yakni prestasi meraih penghargaan Nobel. Penghargaan Nobel dianugrahkan setiap tahun kepada mereka yang telah melakukan penelitian yang luar biasa, menemukan teknik atau peralatan yang baru atau telah melakukan kontribusi luar biasa ke masyarakat. Hal ini saat ini dianggap sebagai penghargaan tertinggi bagi mereka yang mempunyai jasa besar terhadap dunia. Kalau menurut salah satu dosen penulis, “Kalau kita telusuri riwayat para peraih nobel tidak ada yang bekerja meneliti berharap mendapatkannya. Semata ikhlas & passion.”.

Prof. M. Gratzel telah berkali-kali diprediksi sebagai peraih Nobel pada tahun 2011 dan 2012.

Prediksi Peraih Nobel Kimia Tahun 2011

Prediksi Peraih Nobel Kimia Tahun 2012

Namun ternyata prediksi tersebut masih gagal, peraih nobel kimia pada tahun 2011 adalah Dan Shechtman dengan karya “for the discovery of quasicrystals”. Dan pada tahun 2012 adalah Robert J. Lefkowitz and Brian K. Kobilka “for studies of G-protein-coupled receptors”.

Dan di tahun 2015, tahun yang dinobatkan sebagai The International Year of Light, penulis memprediksi bahwa peraih nobel bidang kimia adalah Prof. Michael Gratzel. Saat nya memperkenalkan kepada masyarakat dunia tentang energi terbarukan yang berasal dari sinar matahari !

Lampiran

Djoko Adi Widodo, 2009

Scientific Accomplishments and Leadership Profile M. Gratzel, 2011

Potensi energi matahari se dunia