Viral Belum Tentu Benar: Studi Ungkap Misinformasi Autisme di TikTok

Beberapa tahun terakhir, TikTok telah berubah dari sekadar aplikasi hiburan menjadi salah satu sumber informasi terbesar di dunia. Mulai dari […]

Beberapa tahun terakhir, TikTok telah berubah dari sekadar aplikasi hiburan menjadi salah satu sumber informasi terbesar di dunia. Mulai dari resep makanan, tips psikologi, hingga isu kesehatan mental, hampir semua topik kini dibahas dalam video berdurasi 60 detik. Termasuk, tentu saja, autisme.

Jika Anda mengetik tagar #Autism di TikTok, Anda akan menemukan miliaran tampilan, ribuan kreator, dan jutaan komentar. Namun sebuah penelitian terbaru mengingatkan kita untuk berhati-hati: tidak semua informasi tentang autisme yang viral di TikTok benar.

Penelitian yang dipublikasikan awal tahun 2025 di Journal of Autism and Developmental Disorders ini dilakukan oleh Diego Aragon-Guevara dan timnya dari Monash University, Australia. Mereka ingin menjawab pertanyaan sederhana tapi penting:

“Seberapa akurat sebenarnya informasi tentang autisme di TikTok dan siapa yang menyebarkannya?”

Hasilnya mengejutkan sekaligus membuka mata tentang bagaimana media sosial membentuk persepsi publik mengenai autisme.

Baca juga artikel tentang: Misteri DNA Terpecahkan: Kode Tak Terlihat yang Mengatur Hidup Kita

TikTok: Ruang Baru untuk Bicara Autisme

Dalam satu dekade terakhir, autisme semakin sering dibicarakan secara terbuka. Orang tua, terapis, dan individu autistik sendiri mulai berbagi pengalaman mereka secara langsung, membentuk komunitas online global yang sangat aktif. TikTok, dengan formatnya yang cepat dan visual, menjadi tempat favorit bagi banyak orang untuk belajar atau setidaknya merasa didengar.

Studi ini menemukan bahwa video dengan tagar #Autism telah ditonton lebih dari 11,5 miliar kali di seluruh dunia. Jumlah yang luar biasa ini menunjukkan bahwa minat publik terhadap topik autisme sedang berada di puncaknya.

Namun, kepopuleran tidak selalu sejalan dengan kebenaran. Dan di sinilah penelitian ini menemukan masalah besar.

Antara Fakta, Salah Kaprah, dan “Overgeneralisasi”

Tim peneliti menganalisis 133 video paling populer di TikTok yang menyajikan informasi tentang autisme. Mereka tidak hanya menghitung jumlah “likes” dan tayangan, tetapi juga melakukan pemeriksaan fakta ilmiah terhadap isi video. Setiap video dikategorikan ke dalam tiga kelompok:

  1. Akurat – sesuai dengan pengetahuan ilmiah terkini.
  2. Tidak akurat – berisi klaim keliru atau menyesatkan.
  3. Overgeneralisasi – tidak sepenuhnya salah, tapi menyederhanakan hal kompleks secara berlebihan.

Hasilnya cukup mencengangkan:

  • Hanya 27% video yang tergolong akurat.
  • Sekitar 41% berisi informasi yang salah.
  • Dan 32% sisanya dianggap terlalu menyederhanakan (overgeneralisasi).

Dengan kata lain, hampir tiga dari empat video tentang autisme di TikTok tidak benar-benar dapat dipercaya.

Masalahnya Bukan Hanya Salah Informasi, Tapi Siapa yang Menyampaikannya

Penelitian ini juga menemukan pola menarik:
Video yang dibuat oleh profesional kesehatan seperti dokter, psikolog, atau terapis cenderung lebih akurat. Namun, jumlah video dari kelompok ini jauh lebih sedikit dibanding video buatan pengguna umum atau influencer.

Lebih dari itu, tingkat keterlibatan (engagement), seperti jumlah “likes” dan komentar tidak berbeda jauh antara video yang akurat dan yang tidak. Artinya, algoritma TikTok tidak membedakan antara kebenaran dan kesalahan. Yang penting bagi sistem adalah seberapa menarik video tersebut, bukan seberapa benar isinya.

Hal ini berarti konten yang emosional, dramatis, atau mudah dicerna sering kali lebih disukai, meskipun tidak sepenuhnya benar. Misalnya, video yang menggambarkan autisme dengan cara romantis (“semua autistik itu jenius”) atau sebaliknya, dengan cara menakut-nakuti (“vaksin menyebabkan autisme”) bisa dengan cepat viral, tanpa ada konteks ilmiah yang kuat.

Mengapa Banyak Orang Tertarik?

Mengapa video tentang autisme begitu menarik bagi publik, meskipun tidak selalu akurat? Para peneliti berpendapat ada beberapa alasan:

  1. Autisme masih diselimuti banyak mitos.
    Banyak orang mencari jawaban cepat, dan TikTok menyediakan itu dalam bentuk video satu menit yang ringkas dan menarik.
  2. Cerita pribadi lebih menggugah daripada data ilmiah.
    Pengalaman nyata dari seseorang dengan autisme sering terasa lebih “otentik” dibandingkan penjelasan dokter.
    Masalahnya, pengalaman individu tidak selalu berlaku untuk semua orang.
  3. Kurangnya sumber terpercaya yang mudah diakses.
    Tidak semua orang tahu ke mana harus mencari informasi valid tentang autisme.
    Situs ilmiah terasa “berat”, sedangkan TikTok tampak ringan dan bersahabat.

Antara Edukasi dan Empati

Menariknya, peneliti tidak menyalahkan pengguna TikTok sepenuhnya. Banyak kreator konten yang sebenarnya berniat baik, mereka ingin berbagi pengalaman, mengurangi stigma, atau membantu orang lain memahami diri mereka. Masalahnya, niat baik tidak selalu sejalan dengan akurasi ilmiah.

Karena itu, tim peneliti menekankan pentingnya keterlibatan aktif dari tenaga profesional. Psikolog, dokter, dan organisasi autisme perlu hadir di ruang digital seperti TikTok, bukan untuk “menggurui,” tapi untuk berdialog dan menjembatani sains dengan kehidupan nyata.

Seperti yang dikatakan peneliti utama Diego Aragon-Guevara:

“Informasi tentang autisme di TikTok menjangkau jutaan orang, tapi banyak yang tidak sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
Kita perlu membantu masyarakat membedakan antara pengalaman pribadi dan fakta sains.”

Sains di Dunia yang Viral

Fenomena ini menggambarkan dilema besar di era digital: sains dan media sosial hidup di dua kecepatan yang berbeda. Sains bergerak pelan, hati-hati, dan penuh bukti. TikTok bergerak cepat, emosional, dan berbasis algoritma.

Ketika keduanya bertemu, sering kali muncul ketegangan antara keakuratan dan keterjangkauan.

Namun, alih-alih menolak media sosial, peneliti justru melihat potensi besar di dalamnya. TikTok telah membantu banyak orang autistik menemukan komunitas, merasa diterima, dan memahami dirinya sendiri, hal yang dulunya sulit dilakukan di dunia offline.

Yang dibutuhkan bukan menutup akses, tapi membangun ekosistem informasi yang lebih sehat.

Apa yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Pengguna?

Peneliti merekomendasikan beberapa langkah sederhana agar kita tidak mudah tersesat di lautan konten TikTok:

  1. Periksa sumber. Apakah video itu dibuat oleh profesional kesehatan, organisasi autisme, atau hanya akun pribadi?
  2. Jangan berhenti di satu video. Cari beberapa sumber untuk membandingkan informasi.
  3. Waspadai klaim ekstrem. Kalimat seperti “autisme bisa disembuhkan” atau “semua autistik itu jenius” biasanya merupakan tanda misinformasi.
  4. Gunakan rasa ingin tahu, bukan ketakutan. Sains tentang autisme masih berkembang, dan tidak semua pertanyaan punya jawaban pasti, tapi itu bukan alasan untuk percaya sembarangan.

TikTok telah membuka pintu bagi jutaan orang untuk belajar tentang autisme, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, seperti dua sisi mata uang, keterbukaan itu juga membawa risiko misinformasi.

Riset ini bukan sekadar kritik terhadap media sosial, tetapi seruan bagi kita semua (ilmuwan, tenaga kesehatan, orang tua, dan pengguna internet) untuk lebih sadar terhadap apa yang kita tonton dan bagikan.

Karena di balik setiap video berdurasi satu menit, ada kemungkinan besar bahwa pengetahuan atau kesalahpahaman sedang viral bersama.

Baca juga artikel tentang: Pengembangan Bahasa dan Literasi di antara Anak-anak Penderita Autism Spectrum Disorder (ASD)

REFERENSI:

Aragon-Guevara, Diego dkk. 2025. The reach and accuracy of information on autism on TikTok. Journal of autism and developmental disorders 55 (6), 1953-1958.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top