Apakah Bisa Mengganti Makanan Pokok Nasi dengan Makanan Lainnya?

Bagikan Artikel ini di:

Siapa yang tidak butuh pangan? Semua orang pasti butuh pangan, dengan tujuan yang berbeda-beda seperti pemenuhan akan zat  gizi, energi, rasa kenyang atau puas, bahkan melalui makanan pun mampu meningkatkan status sosial seseorang.

Indonesia dengan predikatnya sebagai negara agraris yaitu negeri yang kaya akan sumber daya alamnya, dengan kekayaan yang dimiliki ini harapannya mampu memenuhi kebutuhan primer masyarakatnya yaitu kebutuhan akan pangan.

Sebagai negara agraris, Indonesia menghasilkan beberapa komoditas contohnya aneka tanaman sumber karbohidrat seperti golongan serealia (padi, jagung, sorgum), golongan umbi-umbian (singkong, ubi jalar, garut, gembili, ganyong, dan umbi-umbi lainnya), dan tanaman pohon seperti sagu.

Melihat bahwa Indonesia sebagai negara agraris, seharusnya ketersediaan pangan di Indonesia terpenuhi, bukan?

Namun, kenyataannya masyarakat Indonesia beranggapan bahwa beras adalah satu-satunya makanan pokok yang dapat dikonsumsi .

Menoleh pada tahun 1960-an pola makan masyarakat sangat bervariasi dengan kata lain tidak hanya mengkonsumsi beras saja walaupun konsumsi beras saat itu termasuk yang tertinggi persentasenya dibandingkan makanan pokok yang lain yaitu sebesar 53,5%, singkong 23,2%, jagung 18,9%, dan kentang 4,4%.

Semakin meningkatnya taraf hidup dari masyarakat, konsumsi beras terus mengalami kenaikan yang drastis dibandingkan dengan makanan pokok yang lain.

Melihat dari kebiasaan atau pola makan masyarakat Indonesia, ternyata bentuk fisik beras atau nasi adalah yang paling sesuai dengan budaya makan kita.

Karena kebanyakan dari mereka beranggapan apabila makan nasi status sosialnya akan lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang makan dengan selain nasi dan juga anggapan kalau belum makan nasi belum makan, atau pendapat kalau makanan lainnya seperti umbi-umbian bukanlah makanan pokok tetapi cemilan atau makanan selingan.

Padahal Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang pangan mengamanatkan bahwa penyelenggaraan pangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil, merata, dan berkelanjutan berdasarkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan [1].

Apabila dilihat dari sudut ilmu pangan, yang mana ilmu pangan merupakan adalah disiplin ilmu yang menerapkan gabungan dari ilmu biologi, fisika, dan kimia yang nantinya digunakan untuk mempelajari sifat dari suatu bahan pangan, termasuk penyebab kerusakan atau penurunan kualitas pangan serta mempelajari tentang pemrosesan pangan, sehingga dapat memberikan nilai tambah pada produk pangan tersebut.

Adapun keuntungan dari mempelajari ilmu pangan, yaitu kita dapat mendesain proses, penyimpanan, dan pengemasan produk pangan sesuai dengan sifat biologis, fisik, dan kimianya sehingga tidak menurukan nilai mutu dari produk pangan tersebut.

Bila ditelusuri, sampai sekarang program penganekaragaman pangan belum menunjukan hasil atau dampak yang menggembirakan. Terlihat dari konsumsi beras yang masih tinggi di Indonesia.

Karena, kita masih belum bisa menyediakan kekayaan hayati terutama sumber karbohidrat lain selain beras dengan bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat di Indonesia. Oleh karena itu, bentuk kontribusi ilmu pangan dalam membangun Indonesia dalam memperkuat penganekaragaman pangan di negeri sendiri.

Penganekaragaman pangan dianggap sebagai jalan keluar terbaik dalam memecahkan permasalahan ini. Penganekaragaman pangan merupakan salah satu bentuk pembelajaran dari ilmu pangan dalam meningkatkan ketersediaan pangan. Adanya penganekaragaman pangan, diharapkan masyarakat mampu mengembangkan komoditas lokal.

Salah satu bentuk kontribusi yang diberikan oleh ilmu pangan yang berkolaborasi dengan teknologi serta sumber daya alam lokal dalam penganekaragaman pangan terutama untuk meningkatkan konsumsi produk non-beras yang rendah dan menekan konsumsi beras yang tinggi, yaitu dengan pengembangan beras analog. Beras analog merupakan beras tiruan yang terbuat dari produk non-beras yang memiliki sifat-sifat mirip dengan beras asli.

Faleh SB, P Hariyadi, S Budijanto, dan D Syah, peneliti dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor menjelaskan tentang proses ekstruksi panas dalam pembuatan beras analog dari tepung jagung, pati jagung, dan gliserol monostearat. Penelitian tersebut adalah salah satu contoh, bahwa produk non-beras yaitu jagung dapat dimanfaatkan sebagai beras analog[2].

Apabila penganekaragaman pangan dapat berjalan dengan baik, diharapkan permasalahan terutama terkait dengan konsumsi beras yang tinggi dan penghargaan masyarakat terhadap beras yang terlalu tinggi dapat menurun. dengan adanya peningkatan produktivitas komoditas lokal, pastinya akan memberikan kebahagian dan semangat kepada para petani untuk terus menanam komoditas lokal tersebut dan diharapkan komoditas-komoditas lokal ini juga memiliki potensi untuk ekspor.

Ketika ketersediaan pangan stabil, maka mampu menciptakan lingkungan masyarakat yang kondusif. Karena tanpa adanya ketersediaan pangan, tidak mungkin tersedia sumberdaya manusia yang berkualitas yang dibutuhkan sebagai motor penggerak pembangunan di Indonesia. Dengan demikian, tujuan dari ketersediaan pangan seperti meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pangan bermutu dan aman, meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku uasaha pangan, serta penganekaragaman komoditas lokal akan tercapai.

Selain itu, pemanfaatan akan sumberdaya lokal mampu menurunkan harga jual yang tinggi dipasaran sehingga seluruh elemen masyarakat dapat menjangkau pangan ini serta ketersediaan pangan yang stabil.

Mengingat penduduk Indonesia yang bertambah setiap tahunnya, penting adanya kontrol terhadap ketersediaan pangan ini. Diharapkan dengan adanya diversifikasi pangan, mampu menstabilkan ketersediaan pangan.

Ketika ketersediaan pangan stabil ataupun terpenuhi, maka mampu menciptakan lingkungan masyarakat yang kondusif. Karena tanpa adanya ketersediaan pangan, tidak mungkin tersedia sumberdaya manusia yang berkualitas yang dibutuhkan sebagai motor penggerak pembangunan di Indonesia. Dengan demikian, tujuan dari ketersediaan pangan seperti meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pangan bermutu dan aman, meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku uasaha pangan, serta penganekaragaman komoditas lokal akan tercapai.

Referensi:

[1] ——. 2012. Undang-Undang Republik Indonesia Nmor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5360.

[2] Faleh SB, Purwiyatno H, Slamet B, dan Dahrul Syah. 2017. Kristalinitas dan Kekerasan Beras Analog yang Digunakan dari Proses Ekstruksi Panas Tepung Jagung. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan. Vol 28(1): 46-54.

Bagikan Artikel ini di:

Hobi Menyimpan Struk Belanja Ternyata Berbahaya Bagi Kesehatan

Bagikan Artikel ini di:

Seringkali kita menjumpai masyarakat atau bahkan kita sendiri yang senang menyimpan struk belanja di dompet dalam jangka waktu yang lama hingga menumpuk bahkan tulisan dikertasnya pun memudar. Sebaiknya hal ini sudah seharusnya dihentikan, karena ternyata menyimpan struk belanja terlalu lama bisa membahayakan kesehatan tubuh, salah satunya adalah bisa menyebabkan kanker. Hmm, bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Struk belanja

Penelitian yang terbit di tahun 2014 pada jurnal PloS one menemukan bahwa struk pembayaran mengandung kadar bisphenol A (BPA) yang tinggi. Dalam penelitian yang menjadi objek penelitian adalah kertas struk pembayaran di Amerika, namun diduga di negara lain pun tidak jauh berbeda [3].

Dalam penelitian ini, disebutkan bahwa struk belanja bahkan bisa memicu datangnya autism, obesitas, hingga gangguan reproduksi. Hal ini disebabkan oleh adanya bahan kimia berbahaya berupa BPA dan BPS yang bisa memberikan dampak buruk bagi hormon, sistem metabolism tubuh, dan berbagai sistem lainnya. Metode penelitiannya adalah 207 sampel struk belanja yang berasal dari berbagai tempat layaknya restoran, supermarket, dan minimarket dikumpulkan di uji laboratorium. Ternyata struk tersebut  memiliki kandungan berbahaya BPA (bisphenol A) dan BPS (bisphenol S), kandungan yang biasanya lebih sering ditemukan di benda dengan bahan plastik. Kedua bahan kimia ini bisa langsung memberikan efek buruk bagi kesehatan begitu kita menyentuhnya, baik BPA ataupun BPS bisa memicu beberapa datangnya penyakit layaknya asma, kanker, hingga diabetes [4].

“Konsumen terpapar BPA saat penjual menyerahkan kuitansi.” Kata Ilmuwan senior Dr. Anila Jacob seperti dikutip dari AOL News. Struk ini menumpuk di dompet, atau tas belanja dan bercampur dengan makanan. Ketika di tangan, slip kertas termal itu dengan mudah dapat mencemari jari-jari, kemudian ke mulut atau kulit [1].

Zat kimia yang menyerupai hormon estrogen pada perempuan ini diketahui dapat menimbulkan risiko terhadap kesehatan, terutama untuk anak-anak muda. Jika seseorang memegang kertas struk pembayaran selama 10 detik, maka akan memindahkan 2,5 mikrogram BPA dari kertas ke jari. Sedangkan jika menggosoknya akan meningkatkan jumlah BPA yang berpindah ke jari sekitar 15 kali lipat [1].

Peneliti mengungkapkan sejak BPA ditemukan pada lapisan tepung dalam kertas termal, ilmuwan telah menemukan pula kandungan BPA di dalam objek-objek lainnya. BPA masih banyak digunakan dalam botol air plastik, kaleng minuman ringan, kasus telepon seluler dan juga computer [3].

Sementara peneliti dari Washington Toxics Coalition and Safer Chemicals menemukan bahan kimia pada 21-22 kertas tagihan yang diuji, meskipun kandungannya dalam tingkat yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan struk pembayaran. Lebih dari 130 penelitian selama decade terakhir menunjukkan tingkat BPA yang tinggi berhubungan terhadap masalah kesehatan serius, termasuk kanker payudara, obesitas dan pubertas dini [1].

Pada November 2010, Uni Eropa telah memberikan larangan penggunaan BPA dalam botol susu bayi. Karena hasil studi dari hewan uji menunjukkan zat tersebut mempengaruhi perkembangan saraf dan perilaku tikus laboratorium jika terpapar BPA saat masih di kandungan atau di awal kehidupannya. Sedangkan negara pertama yang melarang pemakaian BPA adalah Kanada [1].

Namun, hal ini berbeda dengan Indonesia, karena menurut Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr. Imran Agus Nurali mengatakan “Memang ada informasi kertas print dari ATM itu mengandung bisphenol A (BPA) yang mungkin berdampak buruk pada kesehatan.” Namun ia menambahkan perlu adanya informasi dari hasil kajian tentang bagaimana struk ATM berdampak pada kesehatan manusia.

“Uji klinis yang tidak mudah saya rasa, ini peranan lembaga penelitian atau akademisi untuk memfasilitasi. Mudah-mudahan dampaknya nanti ke kebijakan pemerintah terkait penggunaan plastik.” Katanya [2].

Untuk mengantisipasi, organisasi di bidang lingkungan dan kesehatan Safer Chemical, Healthy Families pun menyerukan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memegang atau menyimpan struk belanja karena adanya hal ini. Para pakar bahkan menyebutkan bahwa ada baiknya sebelum kita berbelanja atau melakukan hal-hal lain yang berpotensi membuat kita akan menerima struk belanja, sebaiknya tidak menggunakan hand and body lotion  karena akan membuat kulit kita lebih cepat menyerap bahan kimia berbahaya dari struk tersebut. Selain itu, segeralah mencuci tangan setelah memegang struk tersebut untuk mengeceknya [4].

Daftar Pustaka

[1] Awas Bahaya Struk Belanja yang Wajib Kamu Waspadai. [https://www.bernas.id/55905-awas-bahaya-struk-belanja-yang-wajib-kamu-waspadai.html] Diakses pada 21 Maret 2019.

[2]Bahaya Struk ATM Perlu Dikaji. [http://www.depkes.go.id/article/view/19011700001/bahaya-struk-atm-perlu-dikaji.html] Diakses pada 21 Maret 2019.

[3] Hormann, A.M., Vom Saal, F.S., Nagel, S.C., Stahlhut, R.W., Moyer, C.L., Ellersieck, M.R., Welshons, W.V., Toutain, P.L. and Taylor, J.A., 2014. Holding thermal receipt paper and eating food after using hand sanitizer results in high serum bioactive and urine total levels of bisphenol A (BPA). PloS one9(10), p.e110509.

[4] Kebiasaan Menyimpan Struk Belanja Ternyata Bisa Berbahaya Lho. [https://doktersehat.com/kebiasaan-menyimpan-struk-belanja-ternyata-bisa-berbahaya-lho/] Diakses pada 21 Maret 2019.

Bagikan Artikel ini di:

Kecelakaan Chernobyl Adalah Bukti Energi Nuklir Itu Selamat, Bukan Sebaliknya

Bagikan Artikel ini di:

Tidak ada argumen yang lebih sering digunakan untuk menolak energi nuklir selain kecelakaan Chernobyl. Kecelakaan PLTN yang terjadi pada tahun 1986 ini menjadi senjata utama bagi kaum anti-nuklir untuk menunjukkan betapa bahayanya energi nuklir bagi kehidupan manusia. Kata “radiasi” pun seolah menjadi momok yang mengerikan bagi publik.

Gambar 1. PLTN Chernobyl, Unit 1 paling dekat, Unit 4 paling jauh (sumber: ANS Nuclear Cafe)

Patut diakui bahwa kecelakaan PLTN Chernobyl adalah kecelakaan parah, dan tidak ada yang berharap kecelakaan sejenis itu terulang lagi. Tapi menjadikan kecelakaan PLTN Chernobyl sebagai bukti bahayanya energi nuklir adalah sama sekali tidak beralasan. Sebaliknya, justru kecelakaan PLTN Chernobyl adalah bukti bahwa energi nuklir itu sangat selamat.

Ada beberapa alasan yang melandasinya. Pertama. PLTN Chernobyl menggunakan desain reaktor yang secara alamiah buruk, yakni RBMK (reaktor bolshoy moshchnosty kanalny/reaktor kanal daya tinggi). Berbeda dengan reaktor nuklir pada umumnya, RBMK menggunakan moderator netron dan pendingin terpisah; moderator berupa grafit dan pendingin air [1]. Tujuan penggunaan pendingin dan moderator terpisah adalah supaya bahan bakar dapat diganti ketika reaktor beroperasi. Hal ini sangat penting karena Uni Soviet kala itu menggunakan PLTN tipe RBMK untuk memproduksi bahan baku senjata nuklir.

Gambar 2. Desain skematik RBMK (sumber: WNA)

Masalahnya, penggunaan moderator grafit dan pendingin air membuat reaktor memiliki masalah yang melekat; reaktivitas void RBMK bernilai sangat positif. Artinya, ketika terjadi kehampaan (void) dalam reaktor, misalkan karena air pendingin menguap terlalu banyak, daya reaktor akan naik alih-alih turun [1]. Sementara, pada reaktor lain, daya reaktor akan turun ketika terjadi void dalam reaktor (reaktivitas void negatif) [2]. Bahkan para insinyur nuklir Soviet pun sudah paham masalah ini, tapi kemudian diabaikan oleh pemerintah [3]. Hal ini, ditambah dengan berbagai cacat lain pada desainnya, berkontribusi dalam menyebabkan kecelakaan PLTN Chernobyl.

Tidak ada reaktor nuklir yang menggunakan teknologi RBMK di luar bekas negara Uni Soviet. Tipe reaktor nuklir yang paling banyak digunakan saat ini, LWR (light water reactor) memiliki reaktivitas void negatif. Cacat alamiah desain tidak akan ditemukan di LWR yang mendominasi lebih dari 80% reaktor nuklir di dunia. Bahkan, sisa-sisa RBMK di Rusia sudah dimodifikasi agar lebih selamat.

Baca juga: Keunggulan PLTN Terapung Untuk Indonesia

Kedua, dengan berbagai cacat alamiah tersebut, sebenarnya PLTN Chernobyl Unit 4 tidak akan mengalami kecelakaan tersebut seandainya operator dan supervisor tidak melanggar berlapis-lapis protokol keselamatan. Pada saat itu, reaktor dioperasikan dalam kondisi yang tidak mungkin tercapai dalam kondisi operasional. Seluruh sistem keselamatan dimatikan tetapi reaktor dioperasikan dalam keadaan sangat berbahaya, bahkan dilarang oleh peraturan Uni Soviet sendiri [4].

Faktor terbesar kecelakaan PLTN Chernobyl Unit 4 adalah human error. Karena sekalipun teknologi yang digunakan sangat cacat, kecelakaan itu tidak akan terjadi jika operator dan supervisor tidak bertindak ceroboh.

Ketiga, ledakan uap dan hidrogen yang terjadi menyebabkan 5% material nuklir terhambur dari dalam reaktor ke lingkungan. Api yang menyambar grafit moderator menyebabkan kebakaran yang membawa debu radioaktif ke berbagai bagian Eropa. Namun, total kematian yang disebabkan oleh kecelakaan ini hanya ± 60 orang. Operator dan supervisor tewas dalam ledakan, 28 orang pemadam kebakaran/likuidator tewas akibat acute radiation sickness (ARS), sementara sisanya karena mengidap kanker tiroid akibat meminum susu yang terkontaminasi I-131 dan tidak bisa terselamatkan [5].

Sempat diproyeksikan bahwa akan ada sekitar 4000 kematian susulan sebagai akibat paparan radiasi dari kecelakaan tersebut. Namun, laporan UNSCEAR tahun 2008 menegasikan proyeksi itu, mengatakannya sebagai, “Tidak bisa dibedakan dengan kematian biasa…” [5] Sehingga, angka kematian di atas bisa dikatakan final.

Dibandingkan dengan 300 ribu orang tewas tiap tahunnya di Cina akibat polusi PLTU batubara [6], angka kematian akibat kecelakaan PLTN Chernobyl Unit 4 ini tentu sangatlah sedikit.

Baca juga: Mengenal Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Nuklir Desain Anak Negeri

Keempat, PLTN Chernobyl yang mengalami kecelakaan hanya Unit 4. Sementara, Unit 1-3 tidak terdampak. Pasca kecelakaan, PLTN Chernobyl Unit 1-3 masih tetap dioperasikan, sebelum unit terakhir ditutup permanen pada tahun 2000 [1]. Hal ini menarik, karena kecelakaan PLTN terparah yang mungkin terjadi pun ternyata tidak memengaruhi unit-unit yang berada di sekitarnya!

Kelima, kota Pripyat dan Chernobyl nyatanya tidak menjadi sejenis nuclear wasteland. Memang kedua kota itu ditinggalkan dan tidak banyak yang manusia tinggal di sekitar sana, tapi alih-alih menjadi lahan tandus, hewan-hewan dan tumbuhan tumbuh dan berkembangbiak dengan subur [7]. Bahkan kedua kota itu menjadi destinasi wisata sejak 2011, dan baik-baik saja untuk dikunjungi. Apakah keberadaan manusia justru berdampak lebih negatif pada alam Chernobyl dibandingkan kecelakaan PLTN?

Orang-orang yang hidup di Chernobyl (tepi zona ekslusi), di tahun 2018 ada sekitar 150 orang yang hidup di zona tersebut, Sumber: BBC

Keenam, level radiasi di kawasan Chernobyl dan negara sekitarnya relatif rendah. Pengukuran dosis radiasi yang dilakukan UNSCEAR menunjukkan bahwa, pada rentang tahun 1986-2005, di daerah yang paling terkontaminasi, dosis yang diterima penduduk rerata sekitar 2,4 mSv di Belarusia, 1,1 mSv di Rusia dan 1,2 mSv di Ukraina. Sebagai perbandingan, rerata dosis radiasi tahunan di bumi adalah 2,4 mSv/tahun. Selain itu, beberapa daerah memiliki radiasi latar jauh lebih tinggi dari angka ini, misalnya Kerala, India (70 mSv/tahun) dan Ramsar, Iran (400 mSv/tahun) [8,9].

Gambar 3. Pengukuran radiasi di stadion olahraga 4 km dari reaktor Chernobyl pada tahun 2008. Dosis radiasi terukur 2,8 µSv/jam, atau 2,5 mSv/tahun (sumber: Jaworowski, 2009)

Kecelakaan nuklir terparah sekalipun tidak menyebabkan paparan radiasi eksternal fatal pada masyarakat.

Baca juga: Seberapa Besar Radiasi Yang Dilepaskan PLTN Ke Lingkungan?

Ketujuh, kecelakaan PLTN Chernobyl adalah satu-satunya kecelakaan PLTN yang menyebabkan korban jiwa selama sejarah operasionalnya, dengan jumlah korban minimal. Bahkan sekalipun mempertimbangkan angka “4000 kematian tambahan” yang sudah dikoreksi oleh UNSCEAR, tingkat kematian yang disebabkan nuklir masih yang paling rendah dibandingkan moda energi lainnya seperti ditunjukkan oleh gambar berikut[10]

Gambar 4. Jumlah kematian per TWh energi (diolah dari Nextbigfuture)

Demikianlah tujuh alasan mengapa kecelakaan PLTN Chernobyl justru menunjukkan bahwa energi nuklir merupakan energi yang selamat, bahkan paling selamat dibanding moda energi lainnya. Secara praktis, kecelakaan dengan level setara dengan PLTN Chernobyl Unit 4 tidak mungkin terjadi lagi. Padahal, untuk menyamai level bahaya yang diakibatkan PLTU batubara, kecelakaan selevel Chernobyl perlu terjadi 4 kali setiap jam. Ya, 4 Chernobyl tiap jam atau 1 Chernobyl tiap 15 menit harus terjadi agar dampak energi nuklir seburuk energi batubara. Mungkinkah hal itu terjadi, sementara 400 GWe PLTN dalam operasi saat ini masih beroperasi baik-baik saja?

Referensi:

  1. World Nuclear Association. Chernobyl Accident 1986. (http://www.world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/safety-of-plants/chernobyl-accident.aspx). Diakses 28 Februari 2019.
  2. Max Carbon. 2006. Nuclear Power, Villain or Victim? Our Most Misunderstood Source of Electricity. Madison: Pebble Beach Publisher.
  3. Douglas E. Hardtmayer. Five Things You Probably Didn’t Know About Chernobyl. (http://ansnuclearcafe.org/2018/04/26/five-things-you-probably-didnt-know-about-chernobyl/). Diakses 11 Maret 2019.
  4. Bernard L Cohen. 1990. The Nuclear Energy Option. Pittsburgh: Plenum Press.
  5. United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation. 2011. Sources and Effects of Ionizing Radiation Volume II Annex D. New York: UNSCEAR.
  6. James Conca. Pollution Kills More People Than Anything Else. (https://www.forbes.com/sites/jamesconca/2017/11/07/pollution-kills-more-people-than-anything-else/#7b8446451a35). Diakses 28 Februari 2019.
  7. G. Deryabina et al. 2015. “Long-term census data reveal abundant wildlife populations at Chernobyl”.Current Biology, vol. 25, pp. 824-826.
  8. Geoff Russell. What can we learn from Kerala? (https://bravenewclimate.com/2015/01/24/what-can-we-learn-from-kerala/). Diakses 11 Maret 2019.
  9. Zbigniew Jaworowski. 2010. “Observations on Chernobyl After 25 Years of Radiophobia”. 21st Century Science & Technology, Summer 2010, pp 30-45.
  10. Brian Wang. Update of Death per Terawatt hour by Energy Source. (https://www.nextbigfuture.com/2016/06/update-of-death-per-terawatt-hour-by.html). Diakses 28 Februari 2019.
Bagikan Artikel ini di: